top social

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2016

Rakyat Adalah Kita

Hasil gambar untuk pemimpin yang adilSuatu ketika, datang seorang laki-laki sambil berkata kepada sayyidina Ali, Sang Pintu Ilmu yang juga menantu dan keponakan terkasih manusia mulia Nabi Muhammad SAW. Saat itu Imam Ali menjabat sebagai presiden, pemimpin umat muslim, khalifah. Laki-laki itu berkata, “Hai Ali, kenapa pemerintahanmu tidak bisa setenteram, seaman dan senyaman pemerintahan Abu Bakar dan yang lainnya?”. Memanglah zaman pemerintahan Imam Ali, penuh gejolak, zaman malaise, meminjam istilah Soekarno. Zaman ini penuh dengan intrik dan pemberontakan. Paling terkenal tentu perang Jamal. Perang antara sayyidatina Aisyah yang notabene isteri Rasulullah, dengan Imam Ali, khalifah yang juga menantu Rasulullah. Perang ini dalam beberapa literature sejarah diinisiasi diantaranya oleh sahabat Thalhah dan Zubair, yang menyodorkan kepada Sayyidah Aisyah. Dan tentu karena Aisyah pulalah perang ini terjadi, magnetnya tentu Sayyidah Aisyah, tanpa Aisyah belum tentu perang ini terlaksana, begitu pandangan beberapa sejarawan.
Kembali pada pertanyaan lelaki itu, Imam Ali menjawab, “Iya, berbeda. Karena pada saat Abu Bakar menjabat khalifah, orang-orang seperti akulah yang menjadi rakyatnya. Sedangkan ketika aku menjabat khalifah, orang-orang sepertimulah yang menjadi rakyatku”. Jawaban ini tegas, lugas dan tentu penuh sindiran berarti bagi kita yang selalu berteriak demi dan atas nama rakyat dipanggung orasi.
Hasil gambar untuk pemimpin yang adilSejarah mencatat, ketika sayyidina Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, presiden, pemimpin kaum muslim sepeninggal Rasulullah, Imam Ali tak lantas berbaiat kepada Abu Bakar, banyak sejarawan menduga-duga, menganalisis dan meraba-raba alas an Ali. Namun acap juga lepas dari pengamatan sejarah, ketika kabar sahabat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah sampai ditelinga Abu Sufyan, yang juga senasab dengan Rasulullah dan Imam Ali, Abu Sufyan mendatangi Ali dan menawarkan untuk merebut kekuasaan dari Abu Bakar. Alas an Abu Sufyan, bahwa Ali-lah yang lebih berhak, Ali adalah keponakan Rasulullah, sahabat terdekat, orang yang menggantikan Rasulullah dalam pembaringan ketika Rasulullah harus meninggalkan kediaman untuk berhijrah. Ali adalah Sang Pintu Ilmu, sahabat rasulullah paling cerdas, orang yang zuhud, wirai. Dan terpenting dari itu semua, sesuai tradisi arab yang kerap membanggakan keturunan, Ali adalah Bani Hasyim, keturunan dari klan Quraisy yang agung dan paling berkuasa. Dan Quraisy, terutama Bani Hasyim adalah keturunan mulia, maka taka da yang lebih pantas dari Ali. Begitu setidaknya pendapat Abu Sufyan.
Saat itu, Abu Sufyan menawarkan bantuan bukan dengan basa-basi. Abu Sufyan menawarkan bantuan finansial, infrastruktur, termasuk kuda dan peralatan perang dan tentu pasukan.
Tawaran ini disambut dengan keras oleh imam Ali. Bahkan tak segan, dalam beberapa riwayat menyebutkan, imam Ali menyambut tawaran itu dengan menyebut Abu Sufyan sebagai aduwwallah (musuh Allah). Ali mengatakan, “Hai musuh Allah, dulu kau memusuhi nabi-Nya, dan sekarang kau hendak menghancurkan umatnya dengan adu domba”. Begitu keras jawaban Ali atas tawaran tersebut. Bahkan beberapa sejarawan menyebut, karena tawaran itu pula yang mendorong imam Ali untuk mempertimbangkan baiat kepada Abu Bakar. Dan setelah wafatnya Sayyidah Fathimah, istri sang kekasih hati yang juga puteri terkasih Rasulullah, imam Ali berbaiat kepada Abu Bakar. Sebagian sejarawan mempertimbangkan, karena menjaga dan menghormati sang istri-lah yang menghalangi imam Ali berbaiat kepada sahabat Abu Bakar as Shidiq.
Demikian sejarah mencatat bagaimana perkataan agung dari imam besar umat, sayyidina Ali. Begitulah pandangannya tentang bagaimana rakyat.
Kekinian, fatwa itu bisa kita rasakan. Bagaimana sejatinya peran rakyat juga begitu pentingnya. Bukan hanya dalam rangka untuk menegakkan keadilan, namun juga untuk memperbaiki tatanan. Tatanan ternyata tidak hanya butuh terhadap pemimpin yang baik, namun juga rakyat yang baik.
Hasil gambar untuk pemimpin yang adilSejarah mencatat, bagaimana imam-imam besar, alih-alih memberontak dan mencibir, mereka justeru mengingatkan kesalahan dan ketak adilah penguasa dengan jantan dan gagah berani. Imam Abu Hanifah, misalnya. Memilih mengingatkan penguasa dengan keras, walau akhirnya harus meringkuk dipenjara. Begitupula imam Malik. Para imam ini, alih-alih menggunakan pengaruhnya untuk membuat gerakan makar, mereka memilih mengingatkan dengan baik, mendebat dengan baik (wajadilhum billati hiya ahsan). Bukan hanya baik, tapi dengan cara terbaik. Mereka memilih dipenjara daripada menggunakan pengaruhnya untuk mempengaruhi pengikutnya berbuat makar. Bagi mereka menasehi pemimpin dan berbuat makar adalah dua hal yang terpisah dan berbeda.
Itu mungkin yang dicontohkan almarhum, almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid. Sang presiden nyentrik, yang rela meninggalkan kekuasaan daripada terjadi bentrok berdarah. Dengan celana kolornya, seakan Gus Dur, begitu dia karib dipanggil, mengejek kita-kita yang sering mati-matian mempertahankan sesuatu yang tak dibawa mati.
Tapi, para imam itu, bukanlah penakut, bukan pula sosok yang apatis. Tercatat imam Malik menulis Muwatho’ dalam penjara karena kerasnya kritik terhadap penguasa ketika itu. Ulama-ulama zaman dahulu begitu lugasnya melakukan kritik, namun jarang melakukan makar, fitnah dan ujaran kebencian lainnya. Walaupun mereka kerap mengucap kata keras, kritik pedas terhadap penguasa. Kritik mereka didasarkan pada rasa saying terhadap bukan hanya rakyat, namun juga penguasa. Kritik keras itu dilandasi kesadaran, bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, dan mengingatkan atas amanah itu adalah kewajiban. Bukan hal lain.
Hari ini, kita lihat bagaimana kita mudah menemukan kritik terhadap penguasa, yang bukan menyasar pada kebijakan. Namun seringkali mencibir, soal remeh temeh, bahkan soal penampilan dan fisik. Tidak selesai sampai disana, fitnah yang dalam bahasa kekiniannya disebut hoax juga kerap kita jumpa. Sehingga di dunia social media, misalnya, sulit membedakan antara berita yang benar dan sekedar hoax.
Masyarakat kita sepenuhnya kurang sadar, bahwa pemimpin adalah cermin rakyatnya. Diluar itu, bahwa fitnahan terhadap penguasa tentu besar efeknya. Semisal berita karangan tentang harga suatu barang yang dikabarkan akan dinaikkan oleh pemerintah atau penguasa. Jikalau berita itu sampai menyebar dan menimbulkan kepanikan karena barang tersebut merupakan kebutuhan dasar masyarakat, bisa jadi akan menimbulkan penimbunan, melonjaknya permintaan (demand) dan pada akhirnya menaikkan harga dan perdagangan liar.
Kita seakan lupa akan pentingnya menjadi rakyat yang baik, dann hanya menuntut pemimpin yang baik. Alih-alih memperbaiki kualitas diri untuk membangun diri dan lingkungan sekitar terdekat. Sebagian kita sibuk berkomentar atas dan kepada penguasa atau pemerintahnya. Atau lebih dari itu, sebagian dari kita terbiasa nyinyir dan sinis terhadap pemerintahnya.
Kebiasaan nyinyir ini, bahkan kadang menjadi kebiasaan (habit), yang kemudian menjadi lucu. Sebagian bahkan menjadikannya lahan pekerjaan, sebagai buzzer bayaran misalnya. Lucu, karena kemudian tidak aka nada yang positif dari sebuah hal. Ketika harga dinaikkan, akan disambut dengan nyinyir, tak pro rakyat. Ketika harga diturunkan, akan pula disambut dengan nyinyir yang anggap tak konsisten. Maka, pemerintahan model apapun, dihadapan rakyat seperti ini, jelas tak ideal, dan takkan pernah ideal. Celakanya, kadang orang seperti ini juga tak layak menjadi pemimpin, bahkan pada sekup pemerintahan terendah sekalipun. Secara guyon kita bisa mengatakan, bahwa komentator seperti ini, bak komentator bola, yang bahkan takkan bisa membuat gol ke gawang yang tak ada penjaganya. Ironis.
Lupa atas pentingnya menjadi rakyat yang baik itu ditambah dengan beberapa kalimat, yang seakan bijak namun menyesatkan. Seperti, seribu macan yang dipimpin kambing akan mengembik, seribu kambing yang dipimpin macan akan mengaum. Postulat seperti ini jelas mengganggu akal sehat dan menafikan bagaimana pentingnya peningkatan sumberdaya manusia masyarakat kebanyakan. Bagiamana mungkin seribu macan mau dipimpin kambing?. Jelaslah itu macan-macan bodoh nan ompong. Atau bagaimana seribu kambing merasa nyaman dipimpin macan, yang setiap saat siap menerkamnya. Dan kita menggantikan itu dengan bunyi-bunyian, semacam mengaum dan mengembik?. Rakyat-rakyat yang baik, adil, berpengetahuan luas dan bijak hanya akan memilih pemimpin yang baik. Dan sebaliknya. Jangan karena tak suka, kita menafikan proses berfikir dan ikhtiyar kebanyakan orang.
Hal tak kalah penting adalah bagaimana membangun ketaatan dan upaya untuk ditaati. Bagi penguasa, berbuat adil, bijak, berperikemanusiaan dan arif adalah wajib. Jika tidak yang ada hanya nirketaatan. Bagi rakyat, upaya untuk bersuara lantang menuntut keadilan, kebijaksanaan dan kebijakan yang pro rakyat adalah kewajiban dan hak sekaligus. Namun cara dan etika tetaplah penting, setidaknya bisa kita ucapkan, kun imaaman mutho’an, aw ma’muman muthi’an. Jadilah imam yang ditaati, atau makmum yang taat. Bukankah sholat jamaah mengajarkan itu, kita boleh mengingatkan imam yang salah, dengan cara yang terbaik.
Melihat karut marutnya dunia model seperti ini, kemudia kita harus mengingat pentingnya civic education. Pendidikan untuk menjadi warga Negara yang baik. Bukan hanya soal hafal sila persila dasar negara, namun juga etika bernegara, etika menjadi pemimpin dan rakyat. Tentu dengan mengacu pada jawaban Imam Ali diatas, kita bisa bermuhasabah, sangat penting mempunyai pemimpin yang baik dan adil. Namun juga penting menjadi rakyat yang adil dan beradab.
Allahu A’lam.

Senin, 21 Maret 2016

Cerita Garam dan Pancasila; Muhasabah Kebhinekaan

Sahdan di sebuah negeri antah berantah, hiduplah seorang raja dengan 5 putra putrinya. Dalam sebuah perbincangan, sang raja ingin menguji kecintaan anak-anaknya kepada dirinya.
Hasil gambar untuk toleransi beragama
Raja       : “Wahai putra sulungku, seberapa besar kau mencintaiku?”
Putra 1  : “Duhai ayah aku mencintaimu, sebesar gunung terbesar dimuka bumi ini”.
Raja       : “Putri keduaku, seberapa kau mencintai ayahmu ini?”
Putri 2   : “Aku mencintaimu ayah, sedalam Samudera Hindia”.
Raja       : “Lalu kau, putra ketigaku, seberapa kau mencintai aku?”
Putra 3  : “Ayahku terkasih, aku mencintaimu sebanyak buih gelombang lautan”.
Raja       : “Sedang kau, putra keempatku, seberapa kau mencintai ayahmu ini?”
Putra     : “Aku mencintaimu, duhai ayahku terkasih, seluas jagat raya ini”.

Giliran pada putrid kelima. Putri kelima ini, terkenal sebagai sosok yang lugu, polos, namun berbudi luhur. Hanya saja, dia kurang pandai menjadi “penjilat”, sedang ia hidup didunia “para penjilat”.

Raja       : “Giliranmu, wahai putrid bungsu. Kali ini, jawablah dengan jujur. Jangan kau kecewakan aku. Seberapa
    besar kau mencintai ayahmu ini?”
Putri 5   : “Aku mencintaimu ayah, lebih dari garam, tepung gandum dan gula”. Ujarnya mantap.

Seketika itu, ruangan menjadi riuh. Gelak tawa tak dapat lagi ditahan. Para hulubalang, patih dan panglima, tak kuasa menahan tawa. Sedangkan cercaan dan olok, meluncur dengan sempurna dari para putra dan putri raja. Tentu kepada si bungsu. Merah padam muka sang raja, dan karena saking kecewa dan marahnya, sang putri bungsu diusir.

Alkisah, putri di buang ditengah hutan dan dipertemukan dengan seorang seorang pangeran yang tampan dan baik hati, anak dari seorang raja besar. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Bukan karena putri terlalu cantik, namunlebih karena kepolosan, ketulusan dan kejujurannya dalam tingkah dan perbuatan.

Singkat cerita, kerajaan sang raja ayah dari putrid itu kalah perang dan akhirnya diinvasi oleh negara lain. Dalam sebuah jamuan pernyataan ketundukan kepada kerajaan pemenang perang, disuguhkanlah berbagai macam makanan dan minuman. Namun sang raja heran, semua suguhan yang dihidangkan terasa hambar. Makanan itu tak ada satupun yang terasa lezat, walau berpenampilan menggiurkan. Pun minumannya, tak ada yang berasa manis. Semuanya hambar, tanpa cita rasa sama sekali.

Di penguhujung jamuan, sang raja bertanya kepada sang maharaja, pemenang perang. “Wahai maharaja, kau begitu muda dan tampan. Begitu berkuasa. Tapi kenapa makananmu semua terasa hambar?. Bukankah kau raja diraja, pemenang sekian perang dan penguasa sekian banyak wilayah?”. Sang Maharaja berdiri, tersenyum dan menjawab dengan santun, “Ketahuilah raja, bahwa kehebatanku yang kau sebutkan tadi, berasal dari cinta kasih dan dukungan istriku tercinta. Dia adalah orang yang jujur, lugu dan polos. Dan karena dialah aku menjadi seperti yang kau sebutkan tadi”, ujar sang maharaja. “Apa maksudmu maharaja?”, Tanya sang raja penasaran. “Semua makanan dan minuman tadi memang tak ada yang memakai tepung gandum, tidak juga dimasak dengan garam. Sedang semua minuman dilarang memakai gula”, jelas sang maharaja. “Kenapa demikian?”, kejar sang raja. “Dahulu istriku pernah diuji oleh ayahnya tentang kecintaannya kepada sang ayah. Dan istriku menjawab bahwa cintanya lebih dari cintanya kepada garam, tepung gandum dan gula. Tapi ayahnya marah. Karena itu dianggap menghina dan akhirnya diusir. Dan karena itulah dia memutuskan untuk tidak memakan ketiga bahan makanan tadi. Untuk menghormatinya, maka semua wilayah kekuasaanku dilarang memakai tiga bahan masakan tadi”, ujar sang maharaja panjang lebar.

Hasil gambar untuk nyepi sholat gerhanaRaja terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, keempat anaknya lari meninggalkannya ketika dia diambang kekalahan. Sedangkan anak yang diusirnya, menahan kecintaan kepadanya dengan penuh siksa. Parahnya lagi, cinta yang dilukainya memberi dampak kehidupan yang luar biasa besar. Bagaimana para rakyat harus terbiasa makan hambar nan keras, karena garam, tepung gandum dan gula dilarang. Sang raja sadar, perumpamaan yang dipakai anak bungsunya sedemikian hebat, namun tak terjangkau oleh rendahnya akal dan tingginya emosi. Ego telah menguasai dirinya, akibat dari hujaman pujian yang semuanya tak lagi berarti. Nyatanya dia tak butuh gunung, samudera, jagat raya dan buih lautan. Hari ini dia benar-benar tersiksa karena garam, tepung gandum dan gula. Tiga hal besar yang terlupa disyukurinya dan terlupa manfaatnya, akibat terlalu menganggap hal itu biasa dan sama sekali tak berguna.

Sebagai catatan, di Eropa zaman pertengahan, garam merupakan komoditas perdagangan yang menjanjikan dan mahal. Sering juga garam disebut sebagai emas putih, karena begitu mahalnya. Maka tak heran zaman itu, banyak pekerja yang rela dibayar dengan garam. Karena itulah dalam bahasa Inggris honor dikatakan sebagai salary berasal dari bahasa Inggris salt yang berarti garam.

Cerita dongeng agak panjang diatas, terlebih menggambarkan bagaimana kehidupan berbangsa kita hari ini. Banyak yang menjadikan nasionalisme, patriotisme, dan demokrasi sebagai tak lebih dari ucapan seorang “tukang obat”. Penuh janji, terlalu muluk namun sulit dipercaya. Pancasila sebagai dasar negara misalnya, banyak yang meyakini keberadaannya mampu menjadi “pengikat” bangsa sebesar Indonesia ini. Dan bahkan hampir menjadikannya berhala tanpa makna. Ada pula sekelompok orang yang bersifat hipokrit atasnya, bersuara membela namun dalam waktu yang sama juga mengingkarinya. Dalam pembahasan agama, mereka seperti munafiq atau kafir zindiq. Atau mungkin berada diantara kedua term ini.

Terbaru, seorang artis dangdut, dengan slengekan tanpa rasa bersalah menghina lambang-lambang yang ada di Pancasila. Seakan tak menghargai bagaimana para founding father kita dahulu berjibaku, berusaha dengan keras menemukan sebuah nilai dan filosofi yang dapat mengikat negara sebesar Indonesia. Yang bukan hanya karena luasnya, bermacam letaknya, namun juga bermacam sukunya. Nilai pengikat itu penting, karena Indonesia merupakan negara yang unik. Walau Jawa dominan, namun nyatanya orang Jawa sadar mereka butuh orang Batak, Sunda, Dayak, Papua dan bermacam suku lain. Bukan hanya butuh dalam artian sebagai penyokong, namun terlebih butuh sebagai saudara seperjuangan dan butuh sebagai saudara sepenanggungan dalam kerangka bernegara.

Guyonan yang tak lagi lucu itu mengindikasikan, bahwa banyak generasi bangsa, public figure sekalipun, yang tak memahami, atau tak mau lagi memahami bagaimana sakralnya Pancasila, yang merupakan penemuan terbesar Indonesia sebagai bangsa. Menilik bagaimana konflik Kurdi di Turki, Aborigin di Australia, atau Rohingya di Myanmar. Suku-suku itu terasing, terlibat konfik berkepanjangan, mengalami bukan hanya diskriminasi. Tapi sudah pada tahap kejahatan kemanusiaan akibat tak adanya tali pemersatu pada sebuah bangsa. Kita sudahhampir menjadi bangsa yang pelupa. Lupa bahwa kita dapat hidup tenang, tidur nyenyak dan berjoget riang di semua panggung hiburan, adalah karena ikatan kuat kita sebagai bangsa. Sang aktris yang konon lulusan sekolah dasar itu, mungkin tak sadar, bahwa rupiah yang diraupnya dengan berjoget di Papua, Kalimantan, Sumatera dan banyak pulau lain dengan tanpa rasa was-was, adalah sedikit banyak jasa Pancasila.
Ini menandakan bangsa ini sudah kering akan penghargaan pada hal-hal yang vital. Banyak hal-hal vital sudah dianggap bukan lagi hal yang dibutuhkan, karena desakan modernitas. Mereka tidak lagi menghargai nilai dan prinsip, karena keduanya abstrak. Inilah puncak desakan materialisme. Bahkan tak sedikit, anak muda yang anggap nilai-nilai luhur bangsa seperti pancasila, tak lagi penting, karena bukan hal yang “keren”. Dampak dari modernitas yang diikuti dengan membuta.

Namun, disisi lain ada juga yang menjadikan Pancasila sebagai berhala. Menjadikan Pancasila sebagai lambang organisasi, paguyuban dan lain sebagainya, namun tak jua mengamalkan Pancasila. Tak manusiawi, tak adil, tak beradab dan sama sekali abai terhadap persatuan bangsa. Pada sisi ini, Pancasila disalah fahami, bahkan telah mengalami distorsi dan peyorasi makna sedemikian rupa. Bukan lagi nilai, namun sebatas semboyan, lambang dan slogan.

Kejadian penghinaan Pancasila sebagai lambang dan nilai bernegara yang dilecehkan oleh sang artis itu pun berujung pada ranah hukum. Beberapa pihak yang merasa telah terjadi penghinaan terhadap lambang negara pun meradang, namun puncaknya, salah satu senator melaporkan sang artis ke kepolisian. Dengan dalih menghina lambang negara. Disinilah paradoks itu dimulai.

Pertama, Pancasila sebenarnya tidak sekali saja “dihina”. Beberapa pihak malah menyebutnya berhala, produk sesat, dan sistem kafir. Hal ini merujuk pada sekian gelintir yang mempunyai mimpi mendirikan khilafah islamiyah. Anehnya, beberapa pihak dari golongan ini, diundang secara rutin memberikan ceramah di televisi resmi pemerintah. Bagaimana mungkin, pemerintah mengundang secara rutin, orang yang ingin merobohkan sistem bernegara kita dan acap mejadikan Pancasila sebagai olok-olok produk sesat?. Dan bagaimana pula, tidak ada seorang pun yang berinisiatif melaporkannya?. Maka, sebagai pendulum, kejadian pelaporan sang artis, hendaknya menjadi pemicu laporan-laporan lain atas “penghinaan” kepada lambang negara. Agar tak juga terjadi, orang “menyusu” kepada negara yang nilainya dia anggap kafir dan bighot.

Kedua, sebenarnya terjadi paradoks yang luar biasa, manakala sang senator yang melaporkan artis itu, setelah terjadinya pelaporan malah memposting tweet yang menyinggung SARA. Kicauan dimaksud adalah bagaimana sang senator anggap bahwa diperbolehkannya non-muslim sebagai pemimpin di wilayah mayoritas muslim merupakan agenda liberal. Entah liberal itu entitas mana, namun jelas, cuitan bernada SARA ini merupakan kegiatan yang abai pada nilai Pancasila dan abai pada kebhinekaan. Kebhinekaan yang telah lama ada, bersemayam, dan memberi rasa aman dan nyaman pada kita. Termasuk telah memberi peluang pada sang senator menikmati kursi empuk di Senayan.

Lupa nilai yang dilakukan secara kolektif, dari pelbagai tingkatan sosial, pendidikan dan dari berbagai profesi ini, jelas mengancam keberlangsungan rasa aman sebagai bangsa. Maka, tulisan ini bermaksud menjadi setidaknya pengingat kepada penulis, bahwa ego dan keakuan, serta sifat takabur, ujub dan tinggi hatilah setidaknya musuh utama manusia. Benarlah apa yang disabdakan Rasulullah SAW, bahwa perang terbesar dan terberat manusia adalah memerangi hawa nafsunya sendiri, termasuk egoismenya sendiri.

Jelaslah bahwa istilah mayoritas dan minoritas serta kategorisasi lain, seperti muslim dan non-muslim, nyata ada dan perlu. Namun bukan sebagai sebuah senjata untuk pencitraan belaka, ia adalah ruh kehidupan yang bernama rahmat. Kita jelas berbeda untuk saling belajar dan mengenal, yang pada akhirnya akan ada rasa saling menghormati. Mayoritas, bukanlah sebuah keadaan yang memperkenankan kita untuk jumawa dan menjadi dholim. Namun, adalah sebuah ujian agar kita mawas diri dan adil. Pun begitu ketika berada pada posisi minoritas, kita tidak harus menjadi keras dan anggap mayoritas sebagai musuh.

Di Jawa, tak harus pendirian gereja yang sah secara hukum, digagalkan, diancam dan dirusak. Pun begitu ketika di Papua, pendirian Masjid tak harus diintervensi dan dimusuhi serta digagalkan. Karena jika hanya logika mayoritas dan minoritas yang dipakai pembenar dan timbangan atas klaim kebenaran, maka semakin jauh kita akan melangkah pada ketidak beradaban. Janganlah berteriak ketika terjadi pelarangan pendirian Masjid di Papua, namun secara bersamaan kita menolak pendirian Gereja yang sah ditempat lain. Semogalah Allah SWT menjaga keadilan dan menjadikan kita orang-orang adil dan pengawal keadilan-Nya.

Wallahul muwafiq ila shirotil mustaqim wa sabilil qowim….