top social

Tampilkan postingan dengan label Literal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literal. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Agustus 2016

Biasa dan Luar Biasa

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata luar biasa? Sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang biasa, diluar nalar, lebih dari yang biasa atau yang lain?. Demikianlah memang seharusnya. Namun hal tersebut akan berubah, seiring dengan maraknya beberapa berita kebaikan yang menjadi luar biasa.

Luar biasa menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tidak seperti yang biasa; tidak sama dengan yang lain; istimewa. Sedangkan biasa adalah, lazim; umum. Artinya sesuatu yang luar biasa, adalah sesutau yang tak lazim, tak umum, tak seperti biasa dan istimewa.

Maka kata luar biasa, tidak bisa disematkan pada sesuatu yang seharusnya biasa terjadi. Lalu bagaimana kata itu sekarang kerap kita pakai?
Seladi, Polisi jujur di Malang yang memilih hidup dalam jalan sunyi kejujuran dengan pekerjaan sambilan menjadi pemulung acap disebut luar biasa. Luar biasa karena ia memilih hidup seadanya, jujur dan terkesan “miskin”. Alih-alih mengagungkan kemewahan, Seladi malah mungkin tidak pernah peduli dengan kemewahan tersebut. 

Dengan tanpa mengurangi penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya pada beliau. Tulisan ini mencoba menelisik bagaimana kehidupan kita “tercemar” dengan berbagai “limbah” materialisme, hingga ke”biasa”an kita akan kejujuran, kompetisi yang sehat serta kebaikan seakan terkubur oleh masa.

Kejujuran dan kebaikan, harusnya menjadi pondasi dasar pelayanan masyarakat, seperti pekerjaan Pak Seladi, polisi misalnya. Tidak bisa tidak, polisi dan pegawai Negara lain yang dibayar oleh rakyat melalui uang pajak, harusnya bekerja penuh kejujuran. Karena pelayanan masyarakat, sebenarnya tidak pernah didapat dengan gratis.

Masalahnya adalah, jika kita mengakui bahwa kejujuran adalah keluar biasaan, maka kita seakan menyetujui bahwa ketidak jujuran adalah hal yang biasa terjadi. Menjadi masalah jika kemudian kita, sebagai warga Negara dan sebagai sebuah bangsa mendiamkan hal-hal terkait ketidak jujuran tersebut hidup.

Bagaimana bisa kita memasrahkan kehidupan berbangsa kita pada ketidak jujuran, ketidak adilan dan ketidak benaran?.

Dus, kita butuh Seladi-seladi yang terbiasa dengan kejujuran dan kita harus segera bertindak, entah melalui pendidikan, perbaikan system dan lain sebagainya agar ke”luar biasa”an yang bersifat negatif tidak semakin menjadi biasa.

Selasa, 12 Januari 2016

UNTUNG CHINA BUKAN ARAB SAUDI

UNTUNG CHINA BUKAN ARAB SAUDI


== Medio Januari 2016 ==


Hasil gambar untuk China
"Dalam satu tampilannya, Agnez Monica atau masyhur dipanggil AgnezMo mengenakan pakaian dengan tulisan aksara Arab, berbunyi "mutahiddah". Kurang lebih bermakna "united, persatuan". Ramai pula netizen mengecam hal itu. Bagaimana penyanyi non-muslim mengenakan pakaian agak terbuka dan bertulis aksara Arab pula. Tak kurang beberapa netizen mengecamnya sebagai penistaan agama, Islam tentunya"

Kejadian seperti ini, acapkali muncul, manakali oknum, baik perusahaan, instansi maupun perseorangan bersinggungan dengan aksara Arab. Klaim yang muncul kemudian, pastilah penistaan dan penodaan agama. Lalu, apakah Islam itu Arab? Ataukah Arab memang mutlak hak milik Islam.

Merunut sejarah, sebelum kedatangan Islam di jazirah Arab, agama-agama samawi telah lebih dulu hadir disana. Sebut saja, Yahudi dan Nasrani. Pun kepercayaan animisme-dinamisme, Majusi misalnya. Makanya, muncul pula agama-agama itu dalam penyebutan di al Qur'an, sebagai kitab suci agama Islam. Sekedar mengingatkan, tak sedikit Nasrani, Yahudi dan Majusi disebut dalam kitab suci agama Islam. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa agama-agama itu telah lebih dulu "hidup" dalam peradaban Arab.

Pemaksaan pemaknaan bahwa Islam itu Arab dan sebaliknya, adalah salah satu bentuk kegagalan dalam memahami sejarah Islam itu sendiri. Para islamis simbolik, acap memaksakan pemahaman yang salah bahwa apapun Arab adalah Islam. Islam mau tidak mau memang harus diakui berasal dari jazirah arab, Muhammad SAW yang agung jelas-jelas berasal dari sana. Tapi kitapun tak perlu ingkar, bahwa disana juga telah berdiri agama Yahudi, Majusi dan Nasrani sebelumnya. Selain bahwa disana juga ada Abu Jahal, Abu Lahab dan musuh-musuh Rasulullah yang lain.

Jika kita runut, para islamis simbolik selalu juga meributkan hal-hal yang artifisial seperti pakaian dan sejenisnya dalam soal keberagamaan. Jubah dan sekelasnya selalu menimbulkan keributan yang tak berujung, dari mulai tuduhan dan perdebatan soal isybal dan seterusnya. Perlu diingat, tak hanya Rasulullah saja di Arab yang mengenakan jubah, Abu Lahab pun mengenakannya. Teringat guyonan segar Gus Dur, orang yang sedemikian simbolik dan arabis begitu, buku porno bertulis Arab pun akan "dicium" dan "dimulyakan" seperti kitab-kitab keilmuan.

Maka, memperdebatkan pakaian AgnezMo adalah sebuah kesia-siaan lain yang dilakukan oleh kita sebagai umat beragama. Banyak hal yang harusnya membuat kita lebih ribut daripada tulisan Arab dipakaian AgnezMo. Tentang produktifitas umat Islam, misalnya. 

Menyinggung produktifitas, kita tentu harus menyinggung negara komunis China. Negara yang diperjuangkan Mao dan Zhou Enlai ini berkembang menjadi negara produsen kelas wahid didunia. Negara dengan ideologi komunis yang berkembang menjadi "kapitalis" dalam produksi. Dalam hal ini, umat Islam perlu sekali belajar kenegeri tirai bambu tersebut. Bahwa komitmen, produktifitas, efisiensi dan efektifitas serta ethos kerja adalah sesuatu yang sesungguhnya ada dalam "ruh" ajaran Islam.Sebagai pembanding, epicentrum munculnya agama Islam, Arab Saudi jelas kalah jauh dalam produktifitas dengan negara China. 

Namun, kemudian muncul anekdot dari perbandingan produktifitas tersebut. Jika kita lihat produk China yang terkenal murah meriah tersebut, disana selalu terpampang sekurangnya satu dua aksara China. Dari mulai Handphone, TV, Kulkas sampai kain, celdam dan toilet. Bayangkan saja andai barang-barang seperti celdam dan toilet tersebut produksi Arab Saudi. Kita pasti disibukkan dengan kegaduhan perkara penistaan agama. Wong dudukan toilet kok bertulis Arab, haram dan munkar itu! Penistaan agama itu!

Wallahul muafiq ilaa husnit taufiq wa aqwamit thorieq...

Hasil gambar untuk China