top social

Selasa, 12 Januari 2016

UNTUNG CHINA BUKAN ARAB SAUDI

UNTUNG CHINA BUKAN ARAB SAUDI


== Medio Januari 2016 ==


Hasil gambar untuk China
"Dalam satu tampilannya, Agnez Monica atau masyhur dipanggil AgnezMo mengenakan pakaian dengan tulisan aksara Arab, berbunyi "mutahiddah". Kurang lebih bermakna "united, persatuan". Ramai pula netizen mengecam hal itu. Bagaimana penyanyi non-muslim mengenakan pakaian agak terbuka dan bertulis aksara Arab pula. Tak kurang beberapa netizen mengecamnya sebagai penistaan agama, Islam tentunya"

Kejadian seperti ini, acapkali muncul, manakali oknum, baik perusahaan, instansi maupun perseorangan bersinggungan dengan aksara Arab. Klaim yang muncul kemudian, pastilah penistaan dan penodaan agama. Lalu, apakah Islam itu Arab? Ataukah Arab memang mutlak hak milik Islam.

Merunut sejarah, sebelum kedatangan Islam di jazirah Arab, agama-agama samawi telah lebih dulu hadir disana. Sebut saja, Yahudi dan Nasrani. Pun kepercayaan animisme-dinamisme, Majusi misalnya. Makanya, muncul pula agama-agama itu dalam penyebutan di al Qur'an, sebagai kitab suci agama Islam. Sekedar mengingatkan, tak sedikit Nasrani, Yahudi dan Majusi disebut dalam kitab suci agama Islam. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa agama-agama itu telah lebih dulu "hidup" dalam peradaban Arab.

Pemaksaan pemaknaan bahwa Islam itu Arab dan sebaliknya, adalah salah satu bentuk kegagalan dalam memahami sejarah Islam itu sendiri. Para islamis simbolik, acap memaksakan pemahaman yang salah bahwa apapun Arab adalah Islam. Islam mau tidak mau memang harus diakui berasal dari jazirah arab, Muhammad SAW yang agung jelas-jelas berasal dari sana. Tapi kitapun tak perlu ingkar, bahwa disana juga telah berdiri agama Yahudi, Majusi dan Nasrani sebelumnya. Selain bahwa disana juga ada Abu Jahal, Abu Lahab dan musuh-musuh Rasulullah yang lain.

Jika kita runut, para islamis simbolik selalu juga meributkan hal-hal yang artifisial seperti pakaian dan sejenisnya dalam soal keberagamaan. Jubah dan sekelasnya selalu menimbulkan keributan yang tak berujung, dari mulai tuduhan dan perdebatan soal isybal dan seterusnya. Perlu diingat, tak hanya Rasulullah saja di Arab yang mengenakan jubah, Abu Lahab pun mengenakannya. Teringat guyonan segar Gus Dur, orang yang sedemikian simbolik dan arabis begitu, buku porno bertulis Arab pun akan "dicium" dan "dimulyakan" seperti kitab-kitab keilmuan.

Maka, memperdebatkan pakaian AgnezMo adalah sebuah kesia-siaan lain yang dilakukan oleh kita sebagai umat beragama. Banyak hal yang harusnya membuat kita lebih ribut daripada tulisan Arab dipakaian AgnezMo. Tentang produktifitas umat Islam, misalnya. 

Menyinggung produktifitas, kita tentu harus menyinggung negara komunis China. Negara yang diperjuangkan Mao dan Zhou Enlai ini berkembang menjadi negara produsen kelas wahid didunia. Negara dengan ideologi komunis yang berkembang menjadi "kapitalis" dalam produksi. Dalam hal ini, umat Islam perlu sekali belajar kenegeri tirai bambu tersebut. Bahwa komitmen, produktifitas, efisiensi dan efektifitas serta ethos kerja adalah sesuatu yang sesungguhnya ada dalam "ruh" ajaran Islam.Sebagai pembanding, epicentrum munculnya agama Islam, Arab Saudi jelas kalah jauh dalam produktifitas dengan negara China. 

Namun, kemudian muncul anekdot dari perbandingan produktifitas tersebut. Jika kita lihat produk China yang terkenal murah meriah tersebut, disana selalu terpampang sekurangnya satu dua aksara China. Dari mulai Handphone, TV, Kulkas sampai kain, celdam dan toilet. Bayangkan saja andai barang-barang seperti celdam dan toilet tersebut produksi Arab Saudi. Kita pasti disibukkan dengan kegaduhan perkara penistaan agama. Wong dudukan toilet kok bertulis Arab, haram dan munkar itu! Penistaan agama itu!

Wallahul muafiq ilaa husnit taufiq wa aqwamit thorieq...

Hasil gambar untuk China


0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...