top social

Kamis, 21 Januari 2016

Martabak Terang, Telur Bulan

Martabak Terang, Telur Bulan
(Diantara Kelindan Bahasa dan Persepsi)

Hasil gambar untuk terang bulan
Pernahkan anda temukan tulisan yang jika kita baca menjadi lucu. Seperti Tambal Sedia, Ban Pulsa. Atau Toilet Sedia, Umum Mie Goreng. Tulisan itu acap kita baca  Tambal Ban, Sedia Pulsa dan Toilet Umum, Sedia Mie Goreng. Lalu apa masalahnya?. Persepsi. Itulah ide tulisan ini dibuat, bagaimana kita menyingkap persoalan persepsi yang selalu mengikuti pada setiap bahasa dan makna.

Aksara Latin akan kita baca dari kiri kekanan, sedangkan aksara Arab dibaca dari kanan kekiri. Diluar itu, aksara China biasa dibaca dari atas kebawah. Lantas bagaimana kita baca aksara latin yang ada dipinggir-pinggir jalan dari atas kebawah?.  Karena kita tahu begitulah cara kita membaca tulisan itu agar bermakna. Tentu tulisan digerobak penjual martabak akan sulit dimaknai. Martabak Terang, Telur Bulan, jika kita tak benar-benar faham maksudnya dari awal.
Hasil gambar untuk tulisan lucu dipinggir jalan
Bahasa dan makna selalu berkelindan dengan persepsi. Bahasa sebagai media berkomunikasi memang harus dihasilkan dari dan menghasilkan persepsi. Baik untuk komunikan atau komunikator. Persepsi itu dihasilkan sesuai pengetahuan komunikan dan komunikator. Jika saya mengatakan kursi, persepsi yang saya sampaikan kepada orang yang saya ajak bicara, tentu tempat duduk. Urusan tempat duduk itu terbuat dari plastik atau kayu itu tergantung persepsi yang saya bangun berdasarkan lokasi dimana saya berdiri. Jika dilokasi acara hanya ada kursi plastik dan saya minta diambilkan kursi tentu maksud saya kursi plastik yang dekat. Bukan kursi kayu yang jauh berada dirumah teman yang saya ajak bicara. Jika pun ternyata dia mengambilkan kursi kayu yang dirumahnya, ini jelas salah persepsi. Dan itu acap terjadi.

Manakala kita membaca surat kabar atau menonton televisi, kita selalu didorong untuk menggunakan persepsi. Banyak kata yang masuk dalam stereotype thinking, seperti teroris, radikal, liberal, ekstremis dan berbagai kata lain yang sering kita temui. Itulah kekuatan media massa.

Jika kita mendengar kata teroris misalnya, kita akan membayangkan orang dengan jenggot panjang, berjubah, berkopyah, mirip dengan gambaran kita akan penampila Osama bin Laden. Atau kata radikal akan kita fahami sebagai orang yang keras, suka membuat onar, sering melakukan perbuatan yang menjurus pada kekerasan dengan tendensi keyakinan tertentu. Inilah persepsi. Dan seperti yang pernah dikatakan Benedict Anderson, bahwa kosakata selalu melahirkan kuasakata. Dan kuasakata adalah persepsi yang dilahirkan dari apa yang telah “disuntikkan” oleh media kedalam otak kita. Halus dan tanpa kita sadari.

Setiap hal yang kita cerna dari media massa selalu melahirkan persepsi-persepsi bersama yang sering kemudian disebut sebagai “public perception atau persepsi publik”. Persepsi publik ini bukan tanpa akibat, beberapa persepsi publik yang salah dan kadung diyakini menyebabkan beberapa hal yang menjurus pada kekerasan fisik. Maka media yang bernama bahasa bisa menjadi modal dari kekerasan dan kerusuhan sosial atau sebaliknya. Konsep persepsi yang kita peroleh dari dunia nyata yang tersimpan dalam memori kita, yang acap disebut parole bukannya berdiri sendiri. Selain ia adalah konsep atas “pengetahuan inderawi” kita, ia juga perwakilan dari ideologi kita. Sampai kemudian ketika kita mendeskripsikan dan menjelaskannya dalam bentuk bahasa atau langue, kita pun akan menggunakan diksi yang juga tak netral dari ideologi kita.

Untuk menyaring itu semua, ada yang secara serius dalam keilmuan menekuni analisis wacana, analisis media sampai analisis framing. Analisis-analisis seperti ini, diperlukan untuk sekedar “menelanjangi” bagaimana media dapat menjadi racun dalam sebuah kehidupan sosial dan juga sebaliknya. Maka dalam dunia modern muncullah postulat, “siapa menguasai media, ia menguasai dunia”. Coba saja kita lihat bagaimana Hollywood memoles kekalahan memalukan negara sekelas Amerika Serikat ketika menghadapi Vietkong, hanya dengan film Ramboo.

Kembali pada persepsi, persepsi bukanlah barang yang tetiba muncul. Ia selalu muncul akibat gesekan-gesekan inderawi manusia, akal budi dan realita. Ia tak dapat hidup dan mengada begitu saja. Semisal, kita mendengar kalimat, kursi kepresidenan Amerika Serikat. Kita akan mempersonifikasikan kata itu dengan kursi yang pernah kita lihat dan presiden Amerika Serikat. Padahal senyatanya maksud dari kalimat itu ialah kekuasaan pemerintahan disana. Ini tak lebih karena kita selalu diperintah, dijajah dan dikendalikan oleh persepsi. Dan persepsi kita tak pernah lebih dari sekedar pengetahuan yang pernah kita lalui. Manusia acap tak pernah bisa menjadi beda dan keluar dari “persepsi” zamannya. Maka dizaman dahulu, bisa dikira bagaimana orang yang mencitakan untuk terbang atau berbicara dengan orang yang jauh ketika belum ditemukan pesawat dan telefon. Jelas mereka dikira berkhayal dan gila.

Dalam hal membelokkan persepsi, media massa selalu punya pilihan. Diantaranya diksi. Setiap media massa, bisa memilih persepsinya dan diksi selalu mewakili itu semua. Bahasa adalah sebuah anugerah yang luar biasa bagi manusia, ia adalah pembeda manusia dengan hewan kebanyakan. Namun ia juga “kutukan” yang tak pernah putus. Bahasa adalah upaya manusia mendeskripsikan dan melakukan objektifikasi atas sekitarnya. Namun, bahasa adalah “penjajah” yang tak pernah melepaskan manusia. Kita tidak bisa menggunakan bahasa sesuka kita, agar dapat dipahami kita harus menggunakan bahasa kebanyakan. Celakanya bahasa tersebut, tak lepas dari persepsi yang dibangun sebelumnya oleh lingkungan, terutama oleh kelompok dominan. Bahasa sebagai upaya mendefinisikan konseptualisasi atas realitas selalu mengalami “pembelokan” arti, ketika sudah tercampur dengan “ideologi”. Bahasa bukan lagi sekedar upaya objektivikasi realitas, tapi juga penyampai ideologi secara tak langsung.

Bahasa, kata, kalimat atau proposi bukanlah sesuatu yang benar-benar ada begitu saja dan netral. Ada metanarasi, ada ideology terselubung dibaliknya. Dan media massa punya kekuatan sebagai untuk mempengaruhi, mengubah dan memperluas makna asosiatif setiap makna dari bahasa, kata, kalimat dan proposi. Kata wanita dan perempuan yang merujuk pada objek yang sama jelas memiliki makna asosiatif masing-masing yang berbeda. Dari makna kesopanan, sampai makna secara “ideologis”. Seperti halnya makna digagahi, diperkosa, dinodai dan lainnya. Diksi inilah yang seringkali tanpa sadar membentuk persepsi yang berbeda.

Begitupula makna radical, radicalism dan sejenisnya. Dalam pelajaran awal-awal kuliah di semester awal, kita sering disuguhi kata-kata, “berfikir secara dan radikal dan holistic. Sebagai salah satu ciri berfikir filosofis –-biasanya untuk menggambarkan cara berfikir filosofis dalam mata kuliah pengantar filsafat--. Berfikir radikal adalah upaya berfikir yang mendalam dan “dekat” dengan perubahan yang besar, begitu singkatnya. Namun hari ini, radicalism lebih dikenal sebagai cara berfikir yang sama sekali tidak mendalam, cekak, kasar, dan amat dekat dengan kekerasan.

Radicalism yang muncul belakangan ini, acap diasosiasikan kepada gerakan-gerakan Islam yang intoleran dan dekat dengan kekerasan. Kata ini dimunculkan kemudian, justru untuk mengidentifikasi gerakan Islam yang seringkali mengganggu “kenyamanan” dunia barat. Disamping dianggap mengganggu “nama baik” Islam dimata dunia dengan kegiatan-kegiatan terorismenya. Disinilah sikap kritis dibutuhkan bagi konsumen media massa. Jika kata radikalisme dipakai pada gerakan-gerakan yang menjurus pada kekerasan berbasis ideologi dan agama tertentu, maka harusnya radikalisme tidak disuarakan “hanya” lantang kepada gerakan-gerakan Islam.

Gerakan-gerakan radikal bisa kita kenali disemua agama dan ideology. Hindu di India mengenal gerakan Bajrang Dal atau Rashtriya Svayam Sevak (RSS) yang membunuh Mahatma Ghandi atau gerakan Sri Rama Sene dan Tamil Eelam yang tak kalah “radikal’. Atau gerakan agama Sikh radikal di India Selatan. Kita juga mengenal Ashin Wirathu, bikhu Budha radikal yang memimpin gerakan-gerakan radikal, dengan membunuh, menyiksa bahkan membakar rumah kaum muslim minoritas Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar. Jika radikalisme dikaitkan dengan ideologi atau kesukuan, ada IRA di Irlandia Utara atau Ku Klux Klan di Amerika Serikat, yang kerap berbuat aniaya kepada warga kulit hitam dan suku Kurdi di Irak serta banyak contoh lainnya.

Tanpa kita sadari, kita akan mendapatkan ritme bahwa kekerasan dan radikalisme ini senyatanya selalu terkait dengan kuasa dominasi. Antara kelompok mayoritas dan minoritas. Selalu terkait dengan penindasan dan upaya-upaya pembebasan atasnya. RSS misalnya, karena merasa mayoritas dan terganggu atas kampanye “gerakan ahimsa” yang moderat oleh Mahatma Gandhi, maka ia melakukan kekerasan. Ashin Wirathu, berani melakukan gerakan kekerasan seperti karena merasa sebagai mayoritas harus menjaga “kebesaran” agamanya. Seperti halnya Ku Klux Klan, yang merasa bahwa Amerika hanya layak untuk kulit putih, sedangkan kulit hitam dan kulit berwarna adalah ras yang tak pantas.

Dari hal-hal diatas, bisa kita fahami bahwa ideologi kekerasan seringkali muncul berdasarkan makna dominasi dan atau upaya defensif. Ideology kekerasan bisa jadi tafsir atas sebuah ideology dan faham keagamaan tertentu, tapi bukan ideology dan keagamaan itu sendiri. Ideology kekerasan adalah ideology kekerasan itu sendiri. Semua agama selalu mengajarkan kedamaian dan persahabatan dan persamaan dalam kemanusiaan. Islam dengan ajaran rahmatan lil ‘alaminnya, atau akhlak terpuji sebagai modal interaksi sosialnya. Kristen dengan ajaran kasihnya, atau budha dengan ajaran darmanya. Tak sekalipun akan kita temui ajaran kekerasan dalam ajaran agama-agama tersebut. Namun tafsir atas agama tersebut, jelas bukan agama itu sendiri.

Penafsiran atas agama sebagai upaya objektivikasi realitas juga selalu melewati berbagai persepsi yang sebenarnya sudah hadir terlebih dahulu dalam benak penafsir. Maka penafsiran atas apapun, termasuk agama takkan pernah netral. Dalam benak yang moderat, penafsiran akan muncul dengan santun. Dalam benak yang telah lebih dahulu mengenal ideology kekerasan. Setiap agama akan muncul sebagai penganjur kekerasan.

Lalu, kenapa hanya agama Islam hari ini yang oleh barat dipersonifikasikan sebagai “agama kekerasan”, jika semua agama bisa dimasuki ideologi kekerasan?. Jawabannya tentu akan bermacam-macam. Dari mulai kelompok tertentu yang selalu mengkaitkan Amerika dan Zionisme, atau penggemar teori konspirasi pun, akan selalu menganggap semua hal terkait konspirasi. Kelompok yang gemar menjamahi teori imperialisme, akan terus “nyinyir” dengan mengatakan inilah imperialisme global. Namun dalam analisa dominasi sebagaimana diatas, bisa jadi Islam adalah salah satu kekuatan yang berpretensi mengganggu dominasi barat yang diwakili oleh Amerika. Maka “perang media” dimulai dengan menanamkan persepsi tentang bagaimana berbahayanya Islam radikal.

Apakah Islam radikal adalah setting barat atau justru hasil dari setting social tertindasnya Islam?. Jawabannya, bisa jadi keduanya. Barat yang berusaha mempertahankan kultur dominasi pengetahuan dan superioritasnya diseluruh aspek kehidupan manusia, bisa saja melakukan setting kekerasan dengan memainkan boneka Islam radikal. Pun sebaliknya, bisa jadi Islam radikal adalah “kegagapan” respon atas “kekalahan” Islam atau dalam bahasa lain tertindasnya dunia Islam atas imperialism barat. Tentu ini juga persepsi. Bisa saja tidak keduanya. Bukankah kadang dunia, tidak seperti penampakannya?.

Media massa, adalah aktor pentingnya munculnya segala persepsi tersebut. Kekalahan penguasaan media massa telah menimbulkan dominasi yang sedemikian rupa. Kita tak bisa lagi menolak, bahwa persepsi yang secara langsung atau tidak ditanamkan media telah mengaburkan bagaimana realitas sebenarnya.

Apa yang harus dilakukan, menghadapi sedemikian berat gempuran media dengan segala macam perang persepsinya?. Pertama jelas kecerdasan dalam mengkonsumsi segala macam asupan informasi yang  disodorkan media. Terlebih kemudian media mainstream kita, tak lebih dari alat kapitalis yang hanya mementingkan oplah dan rating semata. Moralitas, nilai dan etika acapkali absen dari benak media mainstream. Kecerdasan yang berarti melek media, harus juga ditanamkan kepada khalayak terutama generasi muda.

Langkah selanjutnya adalah, mencoba membuat media-media alternative. Baik melalui media sosial, blogging ataupun dengan media-media alternatif lainnya. Media alernatif dimaksud juga harus mengedepankan kejujuran dan akurasi dalam berita. Beberapa media alternatif belakangan ini, justru memulai perang propaganda tentang “kejahatan” media mainstream dengan cara yang hampir sama jahatnya. Beberapa berita bohong, rasis, kritik yang tidak pada tempatnya dan hal lainnya. Beberapa berita bohong telah menjadi viral dalam media social, yang berasal dari media-media alternatif ini. Media alternatif yang tak lagi dapat dipercaya, bukan hanya merugikan media alternative lain yang masih memegang kejujuran. Hal ini juga justru mengukuhkan kedudukan media mainstream, jika media alternative tak dapat menyuguhkan sudut pandang lain dengan lebih jujur, maka harapan untuk mengimbangi represi persepsi dari media-media kapilatistik ini justru akan pudar.

Maka persepsilah, yang menjadikan kita dapat membaca dan memaknai kata Martabak Terang, Telur Bulan menjadi martabak Telur dan Terang Bulan. Apakah benar?. Bukankah ini hanya persepsi jua?.


Wabillahi Inayah wa Taufiq...
Wassalam...

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...