top social

Jumat, 22 Januari 2016

Modernitas dan Keterasingan Manusia

Modernitas dan Keterasingan Manusia


== Penghujung Januari==
Hasil gambar untuk meme manusia modernMendefinisikan kata modernitas, sama sulitnya mendefinisikan zaman dimana modernitas berdiri. Modernitas adalah semacam sejarah perkembangan manusia yang selalu dinamis. Modernitas adalah term yang akan selalu berubah, mengikuti liuk tubuh zaman. Menafsirkan modernitas secara leksikal, sama gagalnya dengan memahami modernitas itu sendiri. Maka, mendefinisikan modernitas adalah mendefinisikan kegagalan-kegagalan definisi perkembangan manusia dengan laju zamannya. Kita sedang berada dan membahas segala kegagalan itu. Untuk menahan kegagalan lebih lanjut, term modernitas sering kita batasi pembahasannya kedalam perkembangan teknologi yang diusung manusia. Simplifikasi yang mungkin saja tidak mewakili.

Gambaran modernitas selalu dipersepsikan dan diwakili oleh perkembangan teknologi, padahal nyatanya tidak sepenuhnya benar. Modernitas juga mencakup gaya hidup dan sesuatu yang lebih dari itu. Bahkan dalam modernitas, mungkin saja ideologi masuk didalamnya. Saya tak yakin soal ini. Namun ketika mendapati Republik Rakyat Tiongkok menjadi produsen kelas wahid, menjadi kapitalis kelas dunia dan pada saat yang sama mengklaim diri sebagai Negara komunis, menjadikan saya berfikir. Apa batasan antara ideologi-ideologi dunia itu dengan tindakan-tindakan mereka dalam dunia modern ini?.

Tulisan ini juga bukan berpretensi, membenarkan atau menggugat Karl Marx dan Freidrich Engels dengan segala pemikirannya yang mendunia itu. Walaupun Marx pernah menyiratkan hal yang sama, tentang keterasingan manusia dan modernitas. Mungkin secara jujur harus diakui, tulisan ini mengandung influence dari maksud Marx tersebut.

Mungkin penemuan manusia terbesar dalam sejarah kebudayaannya adalah bahasa. Darinyalah banyak hal menyusul ditemukan. Peradaban manusia terus berkembang dan silih berganti. Dari zaman megalitikum sampai kita temui zaman facebook ini. Perkembangan peradaban diyakini bukan hanya sebagai upaya adaptasi guna mempertahankan hidup, tapi juga dikenal sebagai modernisasi. Yang entah harus kita artikan apa?. Mungkin saja kemajuan, tapi kemajuan dari apa? Bukankah besok bisa saja hal yang hari ini dianggap maju, menjadi usang. Ataukah, sesederhana mengartikan kemajuan dari hal-hal yang usang sebelumnya?. Apologi yang kerap disuguhkan tentang modernisasi adalah, upaya mempermudah hidup manusia.

Dalam benak kita, apologi ini sering kita telan mentah-mentah. Kita anggap ini adalah jawaban paling logis dan realistis. Sulit memang mempertanyakan apakah modernisasi merupakan watak bawaan dari zaman, atau justru “noda dan penyakit” sebuah zaman. Mengingat hari ini modernisasi bukan persoalan alat, teknologi atau gadget an sich. Modernitas hari ini berkembang sampai pada batas pola dan gaya hidup hingga etika. Perkembangan ini bagi sebahagian orang, adalah perkembangan yang menggembirakan dan rasional serta dinamis. Namun bagi sebagian yang lain adalah sesuatu yang juga meresahkan, membingungkan dan bukan hanya penuh paradoks, namun juga menimbulkan masalah-masalah baru yang bahkan cenderung liar.

Salah satu isu penting modernitas, adalah isu kesetaraan perempuan. Peran perempuan yang seringkali dibahasakan sebagai gerakan gender, acap juga menghadirkan paradoks ketika berkaitan dengan peran dan arti penting perempuan. Paradoks ini berkaitan dengan tatanan etika dan wet-wet keluarga, misalnya. Etika dan wet-wet sosial yang harus menyesuaikan ataukah sebaliknya?. Sering juga kita mendengar tentang etika manusia modern. Yang sebenarnya bukan hanya akan menjadi gersang jika jauh dari spiritualisme, namun juga terancam sebagai etika yang tak berakar jika hanya berdasarkan pada laju zaman. Bukankah zaman adalah sesuatu yang dinamis?. Belum lagi pertanyaan tentang sisi kemanusiaannya. Bukankah kemanusiaan adalah etika tertinggi?.

Modernitas dengan berbagai kekurangannya memang layak dihargai kehadirannya. Ia bisa menjadi pahlawan, namun juga musuh sekaligus. Ia bisa jadi penyelamat manusia, namun juga menjauhkan kita dari kemanusiaan kita. Atau pernahkah membayangkan bahwa modernitas adalah anak yang dilahirkan dari rahim ideologi tertentu? Kapitalisme, misalnya. Dan tentu akan membawa serta ideologi asalnya dalam segala perkembangan dan gerak langkahnya. Atau semacam pertanyaan, benarkah kita butuh hidup dengan tetek bengek modernitas, ataukah modernitas yang butuh kita “hidupi”?.  Modernitas itu pembebasan kita akan kebutuhan hidup, ataukah malah penjajahan berbentuk lain dari dunia kekinian?. Zaman, dunia ataukah manusia yang mendesain modernitas? Ataukah justru modernitas yang mendesain kehidupan manusia.
Hasil gambar untuk meme manusia modern
Beberapa kejanggalan dan paradoks akan kita temui dalam beberapa jawaban yang bisa diberikan. Jika modernitas membantu manusia, bagaimana ia juga sering mengakibatkan efek sedemikian buruk bagi manusia. Jika manusia yang mengkontrol modernitas, sejauh mana manusia dapat membatasi dan mengendalikan gerak laju perkembangan modernitas?.

Dalam dunia realitas, kita fahami sepenuhnya bahwa laju modernitas sudah sedemikian masuk kedalam relung kehidupan kita. Alat komunikasi misalnya, yang perkembangannya bahkan melaju hampir sulit untuk diperkirakan. Kemajuan alat komunikasi, sudah mencapai tingkatan yang “hampir” sempurna. Bagaimana tidak?. Komunikasi dua arah sekarang sudah bisa dilakukan dengan real time, bahkan bertatap muka, bukan hanya suara. Teknologi komunikasi teleconference bahkan memungkinkan rapat yang harus menghadirkan banyak orang, hari ini dapat dilakukan bahkan dengan banyak orang dibanyak tempat. Tentu dalam sudut pandang progresifitas, ini sangat menggembirakan. Membantu dalam produktifitas dan kinerja beberapa orang. Itu setidaknya yang orang modern katakan.

Perkembangan alat komunikasi ini berkelindan dengan kemajuan teknologi lain. Sebut saja internet, yang telah banyak merubah kehidupan manusia. Belum lagi perkembangan teknologi sertaannya seperti media sosial dan semacamnya. Dimulai dari perluasan area pertemanan, jaringan sampai perubahan cara hidup. Jika zaman dahulu, manusia hanya akan meniru gaya hidup sesuai karakter dilingkungannya, bahkan hari ini kita bisa hidup dengan berbagai gaya hidup yang sama sekali tidak kita kenali asalnya. Sekelas warung kopi, yang dulu identik sebagai tempat berkumpul, bercanda, dan sebagai lahan berkumpul orang-orang pinggiran yang hidup berasahaja. Kini telah menjadi etalase show of force perkembangan gadget. Mereka bukan hanya saling pamer gadget terbaru, bahkan lebih ironis. Beberapa orang yang mengadakan pertemuan diwarung kopi pinggir jalan, sekian lama akan membisu bahkan pada waktu yang sedemikian lama. Sampai akhirnya mereka membubarkan diri. Mereka bukan tidak berkomunikasi, tapi lebih dari itu. Mereka sedang bercanda didunia lain, dunia cyber, dunia maya, dari facebook, instagram sampai path dan twitter. Mereka bercengkraman, bercanda dan bersenda gurau disana. Namun kehilangan dunia nyata mereka, ataukah dalam modernitas itulah dunia nyata?.

Dunia transportasi juga tak luput dari sentuhan modernitas. Transportasi yang dulu mengandalkan hewan, telah digantikan dengan putaran puluhan roda gila yang menggantikan kuda, unta, keledai dan sapi yang seterusnya kita beri nama kendaraan. Kendaraan-kendaraan ini bukan lagi membutuhkan asupan makanan berupa sayuran atau rumput, tapi yang kita kenal sebagai “bahan bakar”. Perkembangannya juga tidak bisa dikatakan lambat. Entah pertumbuhan mana yang lebih cepat, telekomunikasi atau transportasi?. Tapi satu yang pasti hari ini keduanya menjadi kebutuhan pokok, dalam arti manusia modern. Berbeda dengan manusia dulu yang “hanya” untuk silaturrahim atau berkunjung kerumah saudara rela mengendarai kuda bahkan tak jarang yang berjalan kaki berkilometer bahkan berpuluh kilometer. Manusia modern, dalam sudut pandang ini akan kelihatan lebih manja. Bahkan untuk membeli kebutuhan primer seperti makanan saja, mereka rela untuk menahan lapar sekiranya tak ada kendaraan. Atau malah melakukan pemesanan makan dengan cara pesan antar yang lazim dipakai orang modern.

Mungkin ini hanya sekelumit keresahan akan dunia modern. Namun terlebih dari itu, manusia modern acap terlepas dari watak kemanusiaannya. Ia kerap terbuai dengan “kenyamanan” yang tersedia. Kenyamanan yang bukan hanya menimbulkan masalah, namun juga mencerabut watak kemanusiaannya dalam arti yang baik. Perkembangan alat transportasi yang menghadirkan kendaraan dengan batas-batas kecepatan yang maksimal, akan menegasikan “kaum-kaum” yang tak mampu menggapainya. Disamping akan menimbulkan arogansi yang biasanya muncul dari pemacu kendaraan-kendaraan “kelas atas”. Berapa kali misalnya, kita melihat ada perempuan yang menuntun sepeda bututnya, atau bapak-bapak yang tua renta dipinggir jalan dan kita abai atas mereka, dikarenakan laju kendaraan kita yang “terlalu” cepat?. Berapa kali kita abai bahwa ditrotoar, dipinggir jalan sana, berapa orang yang kakinya tidak bisa digerakkan, kendaraannya mogok dan lain sebagainya. Kita akan abai, pada lingkungan yang kita lewati disekitar kita, dan seakan itu bukan bagian dari kehidupan kita. Kehidupan kita, hanya akan berada dijok sepeda motor atau mobil yang kita kendarai.

Itulah kenapa diawal tulisan ini mempersoalkan modernitas yang hanya berkaca pada perkembangan teknologi, bukan pada ranah yang lain. Naif rasanya menangkap modernitas hanya sebatas kemajuan teknologi belaka. Modernitas telah berkembang menjadi entitas lain, yang bukan hanya menimbulkan persoalan-persoalan baru. Namun, manusia juga sering tidak bisa mengenali modernitas itu sendiri. Jika modernitas itu zaman, maka Mesopotamia, Byzantium dan beberapa peradaban yang ada jelas modern pada zamannya. Begitu juga zaman facebook ini, akan usang pada suatu hari nanti dan disebut sebagai zaman “baheula” yang ketinggalan zaman. Lalu mahluk apa modernitas itu?.

Dengan menyebut kedua alat penemuan terbaru manusia diatas, telekomunikasi dan transportasi. Setidaknya kita melihat sejarah keduanya. Bahwa perkembangan modernitas kadang “unpredictable”, hampir seperti dunia fiksi. Bukan tidak mungkin alat teleporter akan segera ditemukan dan transportasi modern kita hari ini dianggap manual dan ketinggalan zaman.

Hasil gambar untuk meme manusia modernMasalah keseharian kita juga seringkali muncul dari alat yang sebenarnya bertujuan membantu kehidupan kita. Sosial media, telefon, internet, dan tetek bengek lainnya, selain membantu kehidupan manusia, kadang juga menjadi beban tambahan. Bahkan masalah baru yang sebenarnya tidak penting. Beberapa manusia akan merasakan stress dan terbebani yang luar biasa, jika pulsa atau paket internet dari gadgetnya habis. Atau malah ketika ketinggalan dan kehilangan gadgetnya. Beberapa dari kita bahkan memilih memperhatikan gadget kita lebih banyak dari dunia realita kita. Lebih banyak berkutat didunia yang “tak nyata” ketimbang didunia nyata. Tentang beban baru dari alat yang luar biasa ini, saya dapatkan dari cerita seorang kawan, yang harus juga memberikan jatah pulsa untuk seluruh keluarganya. Sebagian dari kita bahkan akan dilanda kecemasan berlebihan dikarenakan kehabisan daya baterai dan lupa membawa charger atau powerbank. Daripada kecemasan ketika melihat seseorang perempuan yang kendaraannya mogok ditengah malam dijalan yang sepi. Kita terlalu kesulitan untuk membayangkan, jika perempuan yang malang itu adalah saudari, ibu atau kita sendiri. Kita telah dikejar laju waktu. Manusia modern, selalu penuh dengan agenda, baik agenda yang bersifat pribadi sampai agenda yang lain. Laju waktu manusia modern, seakan tak mencukupi dengan adanya 24 jam sehari semalam.

Hal paling nyata yang dihasilkan oleh modernitas adalah keresahan, ambiguitas dan paradoks-paradoks baru. Selain tentu beban psikologis manusia modern yang luar biasa. Maka wajarlah dikatakan, penyakit paling mematikan dalam dunia modern adalah stress berkepanjangan penikmatnya. Tapi ingat, ketika anda bisa membaca tulisan ini, anda adalah bagian dari modernitas. Bagian tak terpisah dari dunia modern. Dan anda adalah manusia modern itu sendiri. Selamat menikmati!



Wallahul muwafiq ila khoiril huda wa aqwamith thorieq….
Wassalam…

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...