top social

Sabtu, 16 Januari 2016

Pesona Lampu Menara Masjid dan Lusuhnya Keberagamaan Kita


Januari 2016 
Hasil gambar untuk pembangunan menara masjid
        Dalam perjalanan pulang dari tugas sehari-hari, tetiba dikagetkan dengan perubahan cuaca. Hujan mengguyur tanpa permisi terlebih dahulu. Dengan tergopoh, saya harus mencari tempat berlindung dari hujan deras yang datang tanpa diundang. Dengan bergegas, saya melajukan kendaraan ke masjid. Yah, masjid memang tempat yang saya rasa paling nyaman dan selalu siap menyambut manusia-manusia yang bersedia menghampiri. Tak kurang kita acapkali mencari masjid untuk sekedar mampir, melepas lelah, bahkan terkadang untuk menyelesaikan hajat.
Hasil gambar untuk tempat wudhu masjid yang kotor
Terkait satu hal ini, saya teringat salah satu guru ngaji saya dahulu kala. Pesan yang terngiang sampai saat ini,“Jangan pernah menggunakan air masjid tanpa melaksanakan ibadah didalamnya. Bisa-bisa dihukumi ghosob”. Makanya saya selalu sempatkan masuk masjid, sekedar berniat iktikaf, atau sholat tahiyatul masjid setelah menggunakan air masjid. Sekedar mensiasati hukum agaknya.

Didalam masjid, saya merasa ada yang aneh. Entah apa?. Selidik punya selidik ternyata masjid ini dalam masa pembangunan menaranya. Tapi apa yang salah?. Ini dia, masjid ini masih bangunan tua dan bahkan tempat wudhunya pun “kurang mumpuni”. Perasaan saya adalah, bagaimana mungkin dibangun menara dengan penampakan yang sedemikian megah, sementara masjidnya dibiarkan lusuh. Bahkan tempat mengambil wudhu saja masih “sebegininya”. Sebagai Muslim saya tergelitik. Bukankah kebutuhan ketenteraman dan ketenangan serta kenyamanan beribadah didalam masjid lebih penting?. Bukankah kebutuhan bersuci, berwudhu lebih penting. Karena walaupun “sekedar” ritual wudhu, ia terkategori maa la yatimu al wajibu ilaa bihi, fahuwa wajib. Sesuatu yang menjadi syarat sahnya kewajiban, berhukum wajib pula. Pertanyaan saya semakin banyak dan berkelindan datang bersama ramainya suara hujan diluar.

Tak terasa waktu sholat pun tiba. Adzan dikumandangkan. Sedikit demi sedikit jamaah datang. Dan tetap “sedikit” sampai sholat jamaah diselenggarakan. Inikah gambaran Islam masa kini?

Menara masjid itulah gambaran keadaan bagaimana lusuhnya keberagamaan kita hari ini. Kerlap-kerlip lampu masjid itulah gambaran bagaimana dakwah Islam kita hari ini. Megah, menarik, berwarna-warni namun tetap saja ia bukan substansi, tetap saja ia artifisial, dan tetap saja ia menara, walaupun disandarkan pada masjid. Ia sama sekali bukan masjid, ia tetap menara.

Keberagamaan kita seringkali seperti menara itu. Megah namun tetap tak substansial. Kita sering beragama bukan guna mencapai tujuan, namun guna bersolek dengan berbagai caranya. Kemunduran Islam seringkali muncul dalam gerakan-gerakan kita yang bertujuan “memajukan” Islam. Majlis dzikir dan ilmu berkembang pesat, didukung dengan parade-parade dan promosi yang tak kalah gencar dengan promosi produk-produk profit. Akhirnya relevanlan pertanyaan Gus Mus, agama itu wasilah atau ghoyah? Perantara atau tujuan?.

Kemunduran umat Islam belakangan seringkali kita timpahkan kepada kelompok selain “kita”. Mulai dari freemason, zionis dan tak kalah agama lain. Padahal menurut pengembara Muslim dari Inggris, Zia’uddin Sardar, kemunduran kita seringkali justru berasal dari internal Islam sendiri. Mulai dari bagaimana kita berselisih dalam soal furu’iyah yang tak penting, debat “terjadwal” tahunan, dari hukum merayakan tahun baru Masehi di bulan Januari, valentine di bulan Februari sampai hukum mengucapkan selamat Natal di Desember. Tenaga kita terkuras, setiap saat untuk beradu argumen. Sementara dipihak lain sedang mempersiapkan perkembangan ekonomi dan sains serta teknologi informasi.

Tengoklah bagaimana kita memupuk dakwah kita dalam balutan entertainment, sehingga memunculkan ustadz-ustadz selebritis. Kemasan dakwah kini semakin modern, bahkan cenderung menghibur, dan tak kurang menyerempet konyol. Dakwah yang mengikuti zaman adalah keharusan, agar tetap bisa diikuti masyarakat dizamannya. Masalah muncul kemudian tatkala dakwah tersebut dikomersialisasikan selayaknya hiburan an sich. Dan kemunculan ustadz-ustadz yang tidak cukup cakap serta qualified namun kerap mengumbar “fatwa”. Mereka tidak saja meresahkan,  namun dengan kemasan media sosial yang gencar, sudah mengarah pada perpecahan umat. Sebut saja seorang “ustadz baru” yang muncul di televisi sebagai anchor berita yang dikemas dan dikhususkan membahas tentang agama Islam. Dengan gampang “ustadz baru” tersebut menyesatkan, membid’ahkan amalan-amalan yang sudah jamak dilakukan masyarakat.

Celakanya, generasi muda kita acap belajar keislaman dari internet yang tidak bisa diverifikasi validitasnya. Disamping kemudian menurunnya kepercayaan publik terhadap figur tokoh agama akibat komersialisasi dakwah dan cekaknya “langkah” beberapa pemuka agama yang berkelindan dengan kekuasaan. Maka, muncullah cara-cara instan untuk memahami agama yang lebih menghibur dan digemari. Sedangkan, lembaga-lembaga pendidikan Islam yang qualified seperti pesantren cenderung hanya tergugu dan “gagap” menghadapi perkembangan teknologi informasi yang tak terbendung. Respons sebagian lembaga ini terkadang malah terlihat wagu. Mendirikan sekolah-sekolah kejuruan terkait teknologi informasi, namun siswanya bahkan tergagap dan jauh dari kata serius dan cenderung bersifat proyektual dan bukan konseptual. Walau tak menampik respons sebagian lembaga pesantren cukup mumpuni.

Banyak akan kita temui, bagaimana mahasiswa-mahasiswa yang sejak awal awam soal agama tiba-tiba fasih menghalalkan darah muslim lain, mengkafirkan, mengharamkan dan membid’ahkan amalan-amalan jumhur ulama hanya dari kajian di serambi masjid-masjid kampus. Atau malah dari kajian-kajian di forum-forum internet. Mereka mudah mengatakan hadits ini dhoif, palsu dan tak layak.Bahkan mengkritik ulama-ulama sekaliber Ibnu Hajar, Al Ghozali dan sebagainya dengan serampangan. Mereka sama sekali menolak sanad keilmuan dalam Islam, Karena bagi mereka bahan kajian di internet dan kemajuan teknologi sudah cukup guna memahami Islam.

Marilah kita tengok bagaimana sulitnya para siswa lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Pesantren tersebut mengkaji hadist, misalnya. Mereka harus belajar tata gramatikal Bahasa Arab, Nahw dan Shorf, Balaghoh dan Mantiq. Agar dapat memahami kata perkata dan susunan gramatika bahasa dengan benar. Mereka harus mengkaji kandungan hadits, Mustholah al Hadits, Naqd al Hadits, Fiqh al Hadits. Membanding kandungan-kandungan hadits tersebut dengan al Qur’an atau hadits yang berkedudukan lebih tinggi. Mempelajari verifikasi dan falsifikasi transmisi hadits, al Jarh wa Ta’dil. Sampai meneliti personality tiap orang yang mentransmisikan hadits, Rijal al Hadits.

Islam adalah agama yang dibawa rasulullah SAW, yang kita ketahui dengan transmisi informasi dari sahabat, tabiin, tabi’ tabiin dan sampai ulama-ulama salaf yang akhirnya sampai pada kita. Tentu ada penafsiran sesuai dengan perkembangan zaman. Makanya kemudian muncullah Ushul Fiqh, untuk membatasi bagaimana hukum Islam dikembangkan. Sanad keilmuan ini dibutuhkan guna mereduksi noise dalam penyampaian faham keagamaan kita. Begitu agungnya nilai agama kita, sehingga harus dijaga dan tak mentolerir “kesalahan” sedikitpun. Untuk menjamin bahwa “agama kita” tetap bersumber dari “mata air” yang agung, rasulullah SAW. Bukan agama “google” dan sejenisnya yang bisa saja direduksi dengan sengaja guna kepentingan tertentu.

Masalah agama ini kemudian justru muncul dari penafsiran serampangan yang baru-baru ini “mendadak” muncul--untuk menghindari penyebutan bahwa ini proyek semata--. Terorisme dan pertikaian sektarian. Berebut klaim kebenaran dan “surga” menyebabkan Islam terbelah dengan sangat dramatik. Pertempuran antar negara, antar suku bahkan  dalam sebuah negara.

Masalah yang tak kalah pelik adalah kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam. Dalam hal ekonomi dan pendidikan, Islam justru jauh tertinggal. Padahal dahulu Islam adalah agama terdepan dan tersukses, bahkan ketika eropa dalam cengkeraman kegelapan, dark age. Jika dahulu gereja menjadi bagian dari kemunduran, keterbelakangan dan kegelapan di Eropa, sebelum akhirnya bangkit di era renaissance, maka kaum Islam harusnya belajar dari sejarah ini. Bahwa agama, agamawan dan lembaga-lembaga agama, dapat menjadi sebab kemunduran atau pionir pembebasan umatnya.

Selanjutnya, adalah ulah beberapa pihak yang gemar berfikir retrospektif semata. Mereka berfikir dengan mengembalikan romatisisme sejarah semacam mata uang tunggal Islam (dinar, dirham) dan kekhalifahan Islam adalah jawaban masalah keumatan. Padahal pemikiran retrospektif semacam ini, bukan hanya tidak akan menemukan momentumnya. Namun akan cenderung menarik kita pada parade-parade romantisisme belaka.

Solusi begitu banyak masalah tentu tak simple. Banyak yang harus terus dibenahi, banyak pihak yang harus berbenah. Hal yang besar dan sulit, tapi bukan hal yang mustahil. Upgrading lembaga-lembaga keagamaan yang ada dan sebenarnya qualified seperti pesantren, tidak bisa dilakukan dengan cepat dan sekedarnya saja. Menguasai media, tentu juga tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi harus dimulai. Mengentaskan kemiskinan umat dengan kemandirian, tentulah harus dimulai dengan konsep ekonomi yang bukan hanya islami, namun juga reliable dan applicable. Harus kita temui ahli teknologi informasi, ahli ekonomi, ahli sains yang juga memiliki kedalaman ilmu agama. Seperti kita pernah temui Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina dan lainnya dimasa lalu.

Itulah sekelumit masalah umat Islam yang mulia ini, dari sekian banyak masalah yang ada. Maka gemerlap menara dengan lampunya itulah perumpamaan jelas umat kita. Sementara kita sibuk membangun hal-hal yang artifisial dan kosmetis. Acap kita kehilangan ruh dan substansi Islam itu sendiri. Sementara kita membangun entertainment untuk berdakwah, efek yang muncul kadang tak terduga. Seorang “pelawak” dan artis sekejap menjadi ustadz dan dipanuti. Sementara seorang ulama, terjerumus menjadi “pelawak” dan artis yang glamour. Sementara kita bangun menara dengan gemerlap lampunya, kita lupa membangun bagian dalam masjidnya, tempat wudhunya. Dan terutama terlewat mengisi masjid dengan sholat berjamaah dan kegiatan pemberdayaan umat lainnya. Menara tetaplah menara, ia bukan masjid, bukan tempat sholat dan berjamaah. Namun semoga, pembangunan menara menandakan kita membangun syiar agama kita nan mulia. Sehingga Islam dapat menjadi wasilah kita untuk menghadap rasulullah dan Allah SWT dengan tegak dan bangganya.

Ah… diluar mendung sudah berangsur hilang, saatnya bergegas. Karena makanan dirumah sudah terbayang menggoda, sementara perut sudah mulai demikian berontaknya…

Wa ilaa Allah turjaul umur…

Wabillahi taufiq…

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...