Ngaji
Online, adalah sebuah pengajian yang ditangkan secara
langsung melalui media-media sosial yang sedang kekinian. Ngaji online sedang marak-maraknya pada bulan Ramadhan tahun ini,
dimana beberapa pesantren dan lembaga mengadakan dan menyiarkan secara langsung
pengajian yang rutin ada di pesantren dan lembaga-lembaga tersebut. Tak kurang
NUtizen misalnya menyiarkan pengajian-pengajian dari beberapa kyai terkemuka,
atau cendekiawan muda NU, Ulil Abshar Abdallah, serta beberapa tokoh NU
terkemuka seperti KH. Musthofa Bisri mengadakan pengajian secara online. Hal yang jarang ditemui di
tahun-tahun lalu. Sepertinya ini adalah bentuk jawaban atas beberapa pengajian online yang kerap “menyerang” amaliyah
dan sistem serta keyakinan kaum pesantren, kalau tidak dibilang sebagai bentuk
kesadaran.
Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran tentang
penting penggunaan teknologi dalam berdakwah. Karena teknologi, terutama
teknologi informasi dipercaya lebih efektif dalam melakukan diseminasi atau
sebaran informasi ke publik, serta lebih cepat dan mudah diakses. Kesadaran ini
tidak didapati pada tahun-tahun sebelumnya. Kaum pesantren, sebelumnya bertindak
pasif dan cenderung hanya bersikap “defensif”, itu pun dengan kesederhanaan dan
keterbatasan mereka. Paling jauh, fitnah atau “serangan” terhadap mereka hanya
akan direspon melalui mimbar khutbah atau podium pengajian di jamaah
masing-masing. Mereka seakan tidak mau peduli dan acuh ketika terus-terusan
menjadi bahan serangan dan di-bully habis-habisan.
Namun sepertinya “kesabaran” dan kesadaran datang jua. Kaum pesantren akahirnya
menyadari, bahwa diam dan membiarkan diri mereka menjadi objek serangan jahat
dan hoax, pun menambah panjang daftar
masalah bangsa. Terutama masalah berkembangnya faham radikal, ekstrem yang
berpontensi menjadi teror dan duri bagi kerukunan dan pluralitas bangsa.
Kesadaran lain yang muncul kemudian adalah bahwa
dakwah, sudah harus menggunakan media yang mudah diakses dan efektif. Dakwah,
yang berarti ajakan, harus berada pada “frekuensi” yang sama dengan objek yang
dituju. Kesamaan frekuensi itu tentu mengandung banyak makna. Mulai dari
kesamaan frekuensi bahasa, bahasa yang bisa dan mudah difahami oleh kebanyakan
obyek dakwah. Termasuk kesamaan dan kesesuaian tema, pokok pembahasan yang
dibicarakan dengan objek dakwah. Tema dan pokok pembahasan yang berbeda harus
diberikan pada objek yang berbeda pula. Dan selanjutnya adalah kesamaan
“frekuensi” dalam saluran atau media dakwah. Jika sekarang yang banyak diakses
adalah dunia media sosial, maka disanalah dakwah harus banyak dikembangkan.
Kalau tidak, bisa dipastikan dakwah tidak akan tepat sasaran dan efektif.
Meruyaknya sosial media, seperti Facebook, Twitter,
Youtube, Instagram, Path dan lain sebagainya, memang harus diantisipasi oleh
dunia pesantren. Karena kemudahan akses pada sosial media, telah dimanfaatkan
dengan sangat maksimal oleh beberapa golongan yang kerap menyerang amaliyah
kaum pesantren, kyai dan pesantren itu sendiri. Mungkin bagi sebagian pihak
pesantren, ini tidak menggugah sama sekali. Bagi kelompok ini, perjuangan
mereka dalam segala aspek kehidupan, memang tidak untuk menangguk pujian,
sanjungan. Perjuangan kaum pesantren, bagi kelompok ini, lebih dari sanjungan
dan pujian makhluk, karena tujuan utama mereka adalah, mengabdi pada
kemanusiaan, selain tentu pengabdian dan penghambaan mereka kepasa Sang
Pencipta.
Adalah kaum muda pesantren, yang nampak resah dengan
fenomena ini. Bukan tanpa alasan, kaum muda ini memahami apa yang terjadi pada
generasinya, generasi millenial. Generasi millenial yang kerap menjadi sasaran
utama berita-berita bohong, hoax dan berita yang memojokkan ajaran, kyai dan
pesantren itu sendiri, kerap tak memperoleh asupan informasi yang berimbang.
Dan pada akhirnya mereka dengan gegabah, melakukan justifikasi, penghakiman
pada ajaran pesantren, kyai dan pesantren itu sendiri sebagai sarang bid’ah,
khurafat dan ajaran-ajaran yang salah, misalnya. Maka, pesantren butuh dan
penting untuk mengklarifikasi, bukan demi nama baik saja, atau sekedar pujian
dan sanjungan. Ini terlebih pada upaya yang jauh lebih mulia, yakni mendasarkan
pemahamanan keagamaan yang lebih moderat, lebih benar dan jauh dari hujatan dan
cacian bagi generasi muda, generasi millenial.
Kaum muda millenial yang akrab dengan sosial media,
manakala terus disuguhi dengan berita hoax, berita bohong dan informasi yang
salah tentang Islam, terutama tentang amalam, kyai dan pesantren itu sendiri.
Maka, bisa dipastikan pemahamannya tentang Islam akan cenderung radikal, keras
dan ekstrem, dan tentu ini akan menjadi masalah kemasyarakatan, dan tentu
masalah kebangsaan kemudian. Oleh karena itu, pesantren, bagi kaum muda
pesantren, harus lebih progressif dalam berdakwah. Pilihannya, tentu
diantaranya memperbanyak berdakwah di lingkup yang banyak sebaran anak muda,
media sosial. Kaum muda ini pun kemudian tidak tinggal diam dan terus bergerak
untuk menguasai atau setidaknya mewarnai berita dan konten di jejaring media
sosial.
Pada Ramadhan beberapa waktu yang lalu, semangat anak
muda itu sudah lebih memperlihatkan hasil dari tahun sebelumnya. Pengajian dari beberapa gus dan kyai terkenal
sudah membanjiri medan digital tanah air. Jika pada waktu sebelumnya masyarakat
bingung mencari referensi dan pengajian yang cocok, yang santun dan penuh
rahmat. Kini, masyarakat mulai bingung pengajian mana yang “ditelan” duluan.
Tapi jelas ini merupakan kemajuan, dan lebih baik. Karena konten negatif, bukan
hanya soal pornografi dan pornoaksi, namun juga konten “pengajian” yang keras,
cenderung radikal, mudah menyalahkan, tuding sana-sini, menjadi semacam
keprihatinan tersendiri.
Perayaan besar “turun gunungnya” para gus dan kyai didunia
daring tersebut tentu saja menggembirakan. Pertama kali, kyai sepuh yang paling dekat dengan dunia
digital, tentu KH. Musthofa Bisri atau karib disebut Gus Mus. Beliau sudah
mengawali dengan memberi teladan, berupa seringnya beliau mengunggah status
sampai video dan foto dengan caption yang
bukan saja islami, namun juga menyejukkan dan menuntun kita yang kerap tersesat
di belantara dunia nyata dan maya.
Gus Mus memang sudah lebih dikenal sebagai kyai yang
paling “online”, tentu tidak luput
dari latar belakang beliau yang juga budayawan yang mempunyai pergaulan lintas
batas. Namun, tentu Gus Mus saja tidak cukup. Sedangkan konten negatif yang
selalu memojokkan nilai, amaliyah kaum pesantren bak sapuan ombak, sedemikian
besar dan massifnya. Menyadari itu, banyak kaum muda pesantren yang tergerak.
Diantaranya adalah pimpinan media NU Online, Savic Ali, yang kemudian bersama
kawan-kawannya, Hamzah Sahal diantaranya, membentuk Nutizen. Nutizen ini bahkan
mempunyai nilai lebih, karena mudah diakses dan diunduh di gawai (handphone) berbasis Android dan IoS. Ini
tentu lebih muda diakses dan akrab bagi generasi millenial. Nutizen, merupakan
aplikasi yang mudah diunduh oleh para pengguna handphone.
Di Nutizen pula, bisa kita dapati pengajian-pengajian
dengan berbagai macam varian. Mulai dari yang seperti tanya jawab, diskusi,
atau seperti yang biasa dilakukan kaum pesantren dengan mengaji kitab kuning.
Sampai pada yang bersifat ceramah, seperti ceramah seorang muballigh dan kyai
kondang, KH. Anwar Zahid. Kyai Anwar Zahid, cukup terkenal dengan gaya ceramah
yang ceplas-ceplos, mudah difahami dan humoris. Ini tentu menjadi oase bagi
kaum muslim, yang ingin belajar Islam, namun tak kehilangan sisi
“kemanusiaan”-nya, ditengah dakwah-dakwah model keras yang mengajarkan
permusuhan, caci maki dan celaan.
Tentu kita boleh berbangga, kaum pesantren boleh
sedikit bernafas lega. Namun tentu masih sangat kurang, dan jauh dari ideal.
Jika saja dibandingkan, antara akun dan gerakan penyebar Islam nan damai,
santun dan penuh rahmat, dengan akun dan gerakan Islam yang penuh amarah, caci
maki, bahkan acap mem-bid’ah-kan ajaran,
keyakinan dan amaliyah kaum pesantren. Untuk itu kaum pesantren juga harus
segera bangkit. Diam tentu bukan cara yang bijak dan tidak selamanya diam
adalah emas.
Pada bulan Ramadhan 2017, muncullah beberapa kyai dan
gus (julukan untuk putra kyai), yang mengaji secara daring, online. Ada yang menyiarkannya secara
langsung atau live adapula yang
merekam dan mengunggahnya kemudian. Lebih menarik, karena kajian kitabnya, pun
sangat variatif. Seorang kyai asal Jogjakarta, misalnya, mengkaji kitab
karangan Jalaluddin Rumi dan kitab karangan Ibnu Arabi. Ini merupakan hal yang
tak lumrah. Jika biasanya yang dikaji adalah kitab-kitab sufi pun, kitab karangan Jalaluddin Rumi jarang jadi pilihan. Jika
biasanya di pesantren, kitab tasawwuf yang banyak dipelajari, adalah kitab-kitab
karangan Imam al Ghozali, seperti Minhajul Abidin atau magnum opus-nya, Ihya
Ulumuddin. Tentu hal ini menjadi menarik, seorang kyai pesantren mbalah kitab karangan Ar Rumi dan Ibnu
Arabi. Ibnu Arabi, misalnya terkenal dengan konsep Wihdatul Wujud. Tidak sedikit
ulama yang menjatuhkan vonis sesat dan kafir padanya. Ulama kelahiran
Andalusiyah, Spanyol ini merupakan seorang sufi falsafi yang terkenal. Ibnu
Arabi di Indonesia mempengaruhi pemikiran Hamzah Fansuri, Syamsuddin as
Sumatrani, dan Abdus Shomad al Falimbani.
Keberanian Kyai Kuswaidi Syafiie, mem-balah (istilah untuk membaca dan
mengajarkan kitab didepan para santri dalam dunia pesantren.red) kitab karangan
ar Rumi dan Ibnu Arabi, tentu tidak serta merta harus kita curigai sebagai
sebuah hal yang melenceng dari adat dan berpotensi “menyesatkan”, namun harus
kita apresiasi sebagai bentuk lompatan dan kreatifitas serta inovasi.
Pengkajian kitab yang tak biasa ini, selain menarik kaum muda yang sedang
gandrung dengan berbagai macam “penggunaan logika”, juga merupakan benteng
untuk menangkal pemikiran-pemikiran yang rasionalistis an sich, yang sering justru menyesatkan pikiran kaum muda. Kenapa
demikian?. Ketika kyai mengkaji kitab-kitab yang dapat memenuhi hausnya kaum
muda pada penggunaan rasionalitas, seperti yang kerap dihadapi kaum muda. Namun
selain membaca dan menjelaskan, kyai juga dapat secara langsung membatasi dan
mengetengahkan kritik atas pemikiran-pemikiran yang dianggap keluar dari
koridor akidah dan syariah. Dengan begitu, ketika santri lulus, dan bergaul
diluar, baik dalam rangka meneruskan pendidikan, di perguruan tinggi misalnya,
akan dapat membentengi diri dan akidahnya. Dengan penjelasan dari kyai secara
langsung, santri tidak akan gagap, ketika berhadapan dengan pemikiran-pemikiran
baru yang berkembang didunia luar, yang penuh dinamika dan dapat mencederai
akidah.
Namun, tidak semua kyai dan gus mengambil cara itu.
Adapula yang memilih cara mengkaji kitab seperti biasanya, dengan menguatkan
penjelasannya sesuai perkembangan zaman. Langkah ini diambil, tentu dengan
keyakinan, walau dengan mengkaji kitab pesantren seperti biasanya, namun dengan
penjelasan dan sudut pandang berbeda akan juga memberikan pemahaman dan sudut
pandang yang berbeda. Di lain pihak, dengan mengkaji kitab-kitab khas
pesantren, justru santri akan bertambah percaya diri dengan keyakinan, sistem
dan pesantren itu sendiri. Selain tentu akan bertambah kuatnya keimanan dan
akidah santri. Hal itu, seperti yang dilakukan oleh seorang gus, Ulil Abshar
Abdalla.
Menantu Gus Mus ini mengkaji kitab Imam al Ghozali,
namun dengan bahasa-bahasa dan penjelasan yang ilmiah dan kekinian. Karena
penjelasan dan gaya bahasa yang cenderung “intelek” itu, pengikut pengajian yang disiarkan langsung
sepanjang bulan Ramadhan itu pun membludak. Tak sedikit kalangan akademisi,
para doktor, professor bahkan dar luar negeri mengikuti kajian itu secara
langsung. Peminatnya pun tak tanggung-tanggung, mencapai ribuan. Yang tak kalah
mengagetkan adalah alasan Gus Ulil mengkaji kitab Ihya Ulumuddin, yakni untuk
mengambil barokah (seeking blessing) pengarang
kitab Ihya’ ini. Sesuatu yang sulit diprediksi, mengingat label liberal yang
sempat disandang oleh beliau. Ini juga berarti bahwa, pengampuh-pengampuh
pengajian online inipun, masih sangat kental dengan paradigma dan budaya
pesantren, konsep barokah misalnya.
Kyai muda atau Gus lain yang melakukan siaran pengajian
secara daring adalah Agus Abdul Ghofur Maimoen, atau Gus Ghofur. Gus Ghofur
adalah putra dari kyai terkenal al
allamah KH. Maimoen Zubair, pengasuh pondok pesantren Al Anwar, Sarang.
Kyai Maimoen yang terkenal alim ini merupakan ulama yang sangat qualified dan acap menjadi rujukan para
kyai-kyai Indonesia, bahkan dunia. Gus Ghofur pun demikian adanya, beliau
adalah seorang doktor muda alumnus universitas tertua dunia di Mesir, Al Azhar
University. Bukan hanya sekedar doktor, Gus Ghofur lulus dari Al Azhar dengan
predikat summa cumlaude,sesuatu yang sulit dan jarang dicapai oleh orang
non-Arab di Al Azhar. Dan pada Ramadhan tahun2017 Masehi beliau juga mengadakan
pengajian daring. Sebuah hal yang bukan hanya menggembirakan, namun juga patut
diapresiasi setinggi-tingginya.
Tak ketinggalan KH. Yusuf Chudlori, dari Tegalrejo,
Magelang pun juga menyiarkan pengajian daring. Dan tentu ini memberikan warna
yang menarik. Karena seperti kita ketahui, bahwa pada era ini banyak anak muda
dan masyarakat luas yang menyandarkan kebutuhannya akan informasi pada mesin
pencari daring, seperti google. Celakanya, jika kita mengakses google untuk
mendapati keterangan tentang permasalahan agama, yang menjamur disana adalah
keterangan dari situs maupun pengajian yang cenderung radikal, keras, rigid dan
atau bercorak takfiri khas wahabi.
Hal ini tentu patut menjadi keprihatinan kita bersama,
terutama kaum pesantren. Ini adalah tantangan sekaligus peluang. Tantangan dan
peluang dakwah. Jika saja kita mengaca pada strategi dakwah walisongo yang
berbasis pada kebudayaan, maka seharusnyalah dakwah kita berjalan dinamis.
Termasuk diantaranya adalah masuk pada budaya kaum millenial, yakni dakwah di
media sosial. Karena disamping secara psikologis kaum millenial adalah
sosok-sosok yang masih labil, kaum millenial ini adalah generasi penerus
perjuangan bangsa dan agama. Tentu tidak bisa kita bayangkan, jika generasi
sedemikian telah dirasuki dan diracuni dengan Islam yang berwajah garang, keras
dan mudah mengkafirkan sesama muslim.
Jika dakwah kaum pesantren selama ini berkisar dari
satu madrasah ke madrasah, atau dari satuu mimbar khutbah ke mimbar yang lain.
Tentu semua itu tetap patut dilestarikan. Dengan catatatan, bahwa kita juga
harus mengayahi dan meng-cover medan
dakwah yang lain yakni media sosial dan media daring. Jika di sebuah mimbar
misalnya, kita bisa berbicara dengan seribu orang. Nyata bahwa di media sosial,
kita bisa berdakwah dengan lebih luas. Bahkan mungkin lebih luas dari yang bisa
kita perkirakan.
Semogalah, semakin banyak para kyai dan gus yang sadar
dan mau berperan serta, berdakwah di media sosial. Agar media sosial kita, tak
lagi dikuasai oleh kaum takfiri, kaum yang berdakwah dengan kekerasan dan
makian serta celaan.
Pernah diterbitkan dalam Majalah Al Fikrah sebagai editorial






0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...