top social

Jumat, 22 September 2017

Ngaji Online; Jejak Digital Para Santri

Ngaji Online, adalah sebuah pengajian yang ditangkan secara langsung melalui media-media sosial yang sedang kekinian. Ngaji online sedang marak-maraknya pada bulan Ramadhan tahun ini, dimana beberapa pesantren dan lembaga mengadakan dan menyiarkan secara langsung pengajian yang rutin ada di pesantren dan lembaga-lembaga tersebut. Tak kurang NUtizen misalnya menyiarkan pengajian-pengajian dari beberapa kyai terkemuka, atau cendekiawan muda NU, Ulil Abshar Abdallah, serta beberapa tokoh NU terkemuka seperti KH. Musthofa Bisri mengadakan pengajian secara online. Hal yang jarang ditemui di tahun-tahun lalu. Sepertinya ini adalah bentuk jawaban atas beberapa pengajian online yang kerap “menyerang” amaliyah dan sistem serta keyakinan kaum pesantren, kalau tidak dibilang sebagai bentuk kesadaran.

Kesadaran yang dimaksud adalah kesadaran tentang penting penggunaan teknologi dalam berdakwah. Karena teknologi, terutama teknologi informasi dipercaya lebih efektif dalam melakukan diseminasi atau sebaran informasi ke publik, serta lebih cepat dan mudah diakses. Kesadaran ini tidak didapati pada tahun-tahun sebelumnya. Kaum pesantren, sebelumnya bertindak pasif dan cenderung hanya bersikap “defensif”, itu pun dengan kesederhanaan dan keterbatasan mereka. Paling jauh, fitnah atau “serangan” terhadap mereka hanya akan direspon melalui mimbar khutbah atau podium pengajian di jamaah masing-masing. Mereka seakan tidak mau peduli dan acuh ketika terus-terusan menjadi bahan serangan dan di­-bully­ habis-habisan. Namun sepertinya “kesabaran” dan kesadaran datang jua. Kaum pesantren akahirnya menyadari, bahwa diam dan membiarkan diri mereka menjadi objek serangan jahat dan hoax, pun menambah panjang daftar masalah bangsa. Terutama masalah berkembangnya faham radikal, ekstrem yang berpontensi menjadi teror dan duri bagi kerukunan dan pluralitas bangsa.

Kesadaran lain yang muncul kemudian adalah bahwa dakwah, sudah harus menggunakan media yang mudah diakses dan efektif. Dakwah, yang berarti ajakan, harus berada pada “frekuensi” yang sama dengan objek yang dituju. Kesamaan frekuensi itu tentu mengandung banyak makna. Mulai dari kesamaan frekuensi bahasa, bahasa yang bisa dan mudah difahami oleh kebanyakan obyek dakwah. Termasuk kesamaan dan kesesuaian tema, pokok pembahasan yang dibicarakan dengan objek dakwah. Tema dan pokok pembahasan yang berbeda harus diberikan pada objek yang berbeda pula. Dan selanjutnya adalah kesamaan “frekuensi” dalam saluran atau media dakwah. Jika sekarang yang banyak diakses adalah dunia media sosial, maka disanalah dakwah harus banyak dikembangkan. Kalau tidak, bisa dipastikan dakwah tidak akan tepat sasaran dan efektif.

Meruyaknya sosial media, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Path dan lain sebagainya, memang harus diantisipasi oleh dunia pesantren. Karena kemudahan akses pada sosial media, telah dimanfaatkan dengan sangat maksimal oleh beberapa golongan yang kerap menyerang amaliyah kaum pesantren, kyai dan pesantren itu sendiri. Mungkin bagi sebagian pihak pesantren, ini tidak menggugah sama sekali. Bagi kelompok ini, perjuangan mereka dalam segala aspek kehidupan, memang tidak untuk menangguk pujian, sanjungan. Perjuangan kaum pesantren, bagi kelompok ini, lebih dari sanjungan dan pujian makhluk, karena tujuan utama mereka adalah, mengabdi pada kemanusiaan, selain tentu pengabdian dan penghambaan mereka kepasa Sang Pencipta.

Adalah kaum muda pesantren, yang nampak resah dengan fenomena ini. Bukan tanpa alasan, kaum muda ini memahami apa yang terjadi pada generasinya, generasi millenial. Generasi millenial yang kerap menjadi sasaran utama berita-berita bohong, hoax dan berita yang memojokkan ajaran, kyai dan pesantren itu sendiri, kerap tak memperoleh asupan informasi yang berimbang. Dan pada akhirnya mereka dengan gegabah, melakukan justifikasi, penghakiman pada ajaran pesantren, kyai dan pesantren itu sendiri sebagai sarang bid’ah, khurafat dan ajaran-ajaran yang salah, misalnya. Maka, pesantren butuh dan penting untuk mengklarifikasi, bukan demi nama baik saja, atau sekedar pujian dan sanjungan. Ini terlebih pada upaya yang jauh lebih mulia, yakni mendasarkan pemahamanan keagamaan yang lebih moderat, lebih benar dan jauh dari hujatan dan cacian bagi generasi muda, generasi millenial.

Kaum muda millenial yang akrab dengan sosial media, manakala terus disuguhi dengan berita hoax, berita bohong dan informasi yang salah tentang Islam, terutama tentang amalam, kyai dan pesantren itu sendiri. Maka, bisa dipastikan pemahamannya tentang Islam akan cenderung radikal, keras dan ekstrem, dan tentu ini akan menjadi masalah kemasyarakatan, dan tentu masalah kebangsaan kemudian. Oleh karena itu, pesantren, bagi kaum muda pesantren, harus lebih progressif dalam berdakwah. Pilihannya, tentu diantaranya memperbanyak berdakwah di lingkup yang banyak sebaran anak muda, media sosial. Kaum muda ini pun kemudian tidak tinggal diam dan terus bergerak untuk menguasai atau setidaknya mewarnai berita dan konten di jejaring media sosial.

Pada Ramadhan beberapa waktu yang lalu, semangat anak muda itu sudah lebih memperlihatkan hasil dari tahun sebelumnya.  Pengajian dari beberapa gus dan kyai terkenal sudah membanjiri medan digital tanah air. Jika pada waktu sebelumnya masyarakat bingung mencari referensi dan pengajian yang cocok, yang santun dan penuh rahmat. Kini, masyarakat mulai bingung pengajian mana yang “ditelan” duluan. Tapi jelas ini merupakan kemajuan, dan lebih baik. Karena konten negatif, bukan hanya soal pornografi dan pornoaksi, namun juga konten “pengajian” yang keras, cenderung radikal, mudah menyalahkan, tuding sana-sini, menjadi semacam keprihatinan tersendiri.

Perayaan besar “turun gunungnya” para gus dan kyai didunia daring tersebut tentu saja menggembirakan. Pertama kali, kyai sepuh yang paling dekat dengan dunia digital, tentu KH. Musthofa Bisri atau karib disebut Gus Mus. Beliau sudah mengawali dengan memberi teladan, berupa seringnya beliau mengunggah status sampai video dan foto dengan caption yang bukan saja islami, namun juga menyejukkan dan menuntun kita yang kerap tersesat di belantara dunia nyata dan maya.

Gus Mus memang sudah lebih dikenal sebagai kyai yang paling “online”, tentu tidak luput dari latar belakang beliau yang juga budayawan yang mempunyai pergaulan lintas batas. Namun, tentu Gus Mus saja tidak cukup. Sedangkan konten negatif yang selalu memojokkan nilai, amaliyah kaum pesantren bak sapuan ombak, sedemikian besar dan massifnya. Menyadari itu, banyak kaum muda pesantren yang tergerak. Diantaranya adalah pimpinan media NU Online, Savic Ali, yang kemudian bersama kawan-kawannya, Hamzah Sahal diantaranya, membentuk Nutizen. Nutizen ini bahkan mempunyai nilai lebih, karena mudah diakses dan diunduh di gawai (handphone) berbasis Android dan IoS. Ini tentu lebih muda diakses dan akrab bagi generasi millenial. Nutizen, merupakan aplikasi yang mudah diunduh oleh para pengguna handphone.

Di Nutizen pula, bisa kita dapati pengajian-pengajian dengan berbagai macam varian. Mulai dari yang seperti tanya jawab, diskusi, atau seperti yang biasa dilakukan kaum pesantren dengan mengaji kitab kuning. Sampai pada yang bersifat ceramah, seperti ceramah seorang muballigh dan kyai kondang, KH. Anwar Zahid. Kyai Anwar Zahid, cukup terkenal dengan gaya ceramah yang ceplas-ceplos, mudah difahami dan humoris. Ini tentu menjadi oase bagi kaum muslim, yang ingin belajar Islam, namun tak kehilangan sisi “kemanusiaan”-nya, ditengah dakwah-dakwah model keras yang mengajarkan permusuhan, caci maki dan celaan.

Tentu kita boleh berbangga, kaum pesantren boleh sedikit bernafas lega. Namun tentu masih sangat kurang, dan jauh dari ideal. Jika saja dibandingkan, antara akun dan gerakan penyebar Islam nan damai, santun dan penuh rahmat, dengan akun dan gerakan Islam yang penuh amarah, caci maki, bahkan acap mem-bid’ah-kan ajaran, keyakinan dan amaliyah kaum pesantren. Untuk itu kaum pesantren juga harus segera bangkit. Diam tentu bukan cara yang bijak dan tidak selamanya diam adalah emas.

Pada bulan Ramadhan 2017, muncullah beberapa kyai dan gus (julukan untuk putra kyai), yang mengaji secara daring, online. Ada yang menyiarkannya secara langsung atau live adapula yang merekam dan mengunggahnya kemudian. Lebih menarik, karena kajian kitabnya, pun sangat variatif. Seorang kyai asal Jogjakarta, misalnya, mengkaji kitab karangan Jalaluddin Rumi dan kitab karangan Ibnu Arabi. Ini merupakan hal yang tak lumrah. Jika biasanya yang dikaji adalah kitab-kitab sufi pun, kitab  karangan Jalaluddin Rumi jarang jadi pilihan. Jika biasanya di pesantren, kitab tasawwuf yang banyak dipelajari, adalah kitab-kitab karangan Imam al Ghozali, seperti Minhajul Abidin atau magnum opus-nya, Ihya Ulumuddin. Tentu hal ini menjadi menarik, seorang kyai pesantren mbalah kitab karangan Ar Rumi dan Ibnu Arabi. Ibnu Arabi, misalnya terkenal dengan konsep Wihdatul Wujud. Tidak sedikit ulama yang menjatuhkan vonis sesat dan kafir padanya. Ulama kelahiran Andalusiyah, Spanyol ini merupakan seorang sufi falsafi yang terkenal. Ibnu Arabi di Indonesia mempengaruhi pemikiran Hamzah Fansuri, Syamsuddin as Sumatrani, dan Abdus Shomad al Falimbani.

Keberanian Kyai Kuswaidi Syafiie, mem-balah (istilah untuk membaca dan mengajarkan kitab didepan para santri dalam dunia pesantren.red) kitab karangan ar Rumi dan Ibnu Arabi, tentu tidak serta merta harus kita curigai sebagai sebuah hal yang melenceng dari adat dan berpotensi “menyesatkan”, namun harus kita apresiasi sebagai bentuk lompatan dan kreatifitas serta inovasi. Pengkajian kitab yang tak biasa ini, selain menarik kaum muda yang sedang gandrung dengan berbagai macam “penggunaan logika”, juga merupakan benteng untuk menangkal pemikiran-pemikiran yang rasionalistis an sich, yang sering justru menyesatkan pikiran kaum muda. Kenapa demikian?. Ketika kyai mengkaji kitab-kitab yang dapat memenuhi hausnya kaum muda pada penggunaan rasionalitas, seperti yang kerap dihadapi kaum muda. Namun selain membaca dan menjelaskan, kyai juga dapat secara langsung membatasi dan mengetengahkan kritik atas pemikiran-pemikiran yang dianggap keluar dari koridor akidah dan syariah. Dengan begitu, ketika santri lulus, dan bergaul diluar, baik dalam rangka meneruskan pendidikan, di perguruan tinggi misalnya, akan dapat membentengi diri dan akidahnya. Dengan penjelasan dari kyai secara langsung, santri tidak akan gagap, ketika berhadapan dengan pemikiran-pemikiran baru yang berkembang didunia luar, yang penuh dinamika dan dapat mencederai akidah.

Namun, tidak semua kyai dan gus mengambil cara itu. Adapula yang memilih cara mengkaji kitab seperti biasanya, dengan menguatkan penjelasannya sesuai perkembangan zaman. Langkah ini diambil, tentu dengan keyakinan, walau dengan mengkaji kitab pesantren seperti biasanya, namun dengan penjelasan dan sudut pandang berbeda akan juga memberikan pemahaman dan sudut pandang yang berbeda. Di lain pihak, dengan mengkaji kitab-kitab khas pesantren, justru santri akan bertambah percaya diri dengan keyakinan, sistem dan pesantren itu sendiri. Selain tentu akan bertambah kuatnya keimanan dan akidah santri. Hal itu, seperti yang dilakukan oleh seorang gus, Ulil Abshar Abdalla.

Menantu Gus Mus ini mengkaji kitab Imam al Ghozali, namun dengan bahasa-bahasa dan penjelasan yang ilmiah dan kekinian. Karena penjelasan dan gaya bahasa yang cenderung “intelek” itu,  pengikut pengajian yang disiarkan langsung sepanjang bulan Ramadhan itu pun membludak. Tak sedikit kalangan akademisi, para doktor, professor bahkan dar luar negeri mengikuti kajian itu secara langsung. Peminatnya pun tak tanggung-tanggung, mencapai ribuan. Yang tak kalah mengagetkan adalah alasan Gus Ulil mengkaji kitab Ihya Ulumuddin, yakni untuk mengambil barokah (seeking blessing) pengarang kitab Ihya’ ini. Sesuatu yang sulit diprediksi, mengingat label liberal yang sempat disandang oleh beliau. Ini juga berarti bahwa, pengampuh-pengampuh pengajian online inipun, masih sangat kental dengan paradigma dan budaya pesantren, konsep barokah misalnya.

Kyai muda atau Gus lain yang melakukan siaran pengajian secara daring adalah Agus Abdul Ghofur Maimoen, atau Gus Ghofur. Gus Ghofur adalah putra dari kyai terkenal al allamah KH. Maimoen Zubair, pengasuh pondok pesantren Al Anwar, Sarang. Kyai Maimoen yang terkenal alim ini merupakan ulama yang sangat qualified dan acap menjadi rujukan para kyai-kyai Indonesia, bahkan dunia. Gus Ghofur pun demikian adanya, beliau adalah seorang doktor muda alumnus universitas tertua dunia di Mesir, Al Azhar University. Bukan hanya sekedar doktor, Gus Ghofur lulus dari Al Azhar dengan predikat summa cumlaude,sesuatu yang sulit dan jarang dicapai oleh orang non-Arab di Al Azhar. Dan pada Ramadhan tahun2017 Masehi beliau juga mengadakan pengajian daring. Sebuah hal yang bukan hanya menggembirakan, namun juga patut diapresiasi setinggi-tingginya.

Tak ketinggalan KH. Yusuf Chudlori, dari Tegalrejo, Magelang pun juga menyiarkan pengajian daring. Dan tentu ini memberikan warna yang menarik. Karena seperti kita ketahui, bahwa pada era ini banyak anak muda dan masyarakat luas yang menyandarkan kebutuhannya akan informasi pada mesin pencari daring, seperti google. Celakanya, jika kita mengakses google untuk mendapati keterangan tentang permasalahan agama, yang menjamur disana adalah keterangan dari situs maupun pengajian yang cenderung radikal, keras, rigid dan atau bercorak takfiri khas wahabi.

Hal ini tentu patut menjadi keprihatinan kita bersama, terutama kaum pesantren. Ini adalah tantangan sekaligus peluang. Tantangan dan peluang dakwah. Jika saja kita mengaca pada strategi dakwah walisongo yang berbasis pada kebudayaan, maka seharusnyalah dakwah kita berjalan dinamis. Termasuk diantaranya adalah masuk pada budaya kaum millenial, yakni dakwah di media sosial. Karena disamping secara psikologis kaum millenial adalah sosok-sosok yang masih labil, kaum millenial ini adalah generasi penerus perjuangan bangsa dan agama. Tentu tidak bisa kita bayangkan, jika generasi sedemikian telah dirasuki dan diracuni dengan Islam yang berwajah garang, keras dan mudah mengkafirkan sesama muslim.

Jika dakwah kaum pesantren selama ini berkisar dari satu madrasah ke madrasah, atau dari satuu mimbar khutbah ke mimbar yang lain. Tentu semua itu tetap patut dilestarikan. Dengan catatatan, bahwa kita juga harus mengayahi dan meng-cover medan dakwah yang lain yakni media sosial dan media daring. Jika di sebuah mimbar misalnya, kita bisa berbicara dengan seribu orang. Nyata bahwa di media sosial, kita bisa berdakwah dengan lebih luas. Bahkan mungkin lebih luas dari yang bisa kita perkirakan.


Semogalah, semakin banyak para kyai dan gus yang sadar dan mau berperan serta, berdakwah di media sosial. Agar media sosial kita, tak lagi dikuasai oleh kaum takfiri, kaum yang berdakwah dengan kekerasan dan makian serta celaan. 


Pernah diterbitkan dalam Majalah Al Fikrah sebagai editorial

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...