top social

Rabu, 14 Februari 2018

Melacak Jejak di Yerusalem, Kota Suci Tiga Agama


Yerusalem, kota suci tiga agama Abrahamaik ini tiba-tiba terkenal. Memang sudah sering terjadi kerusuhan disana. Namun kali ini gelombang kerusuhan dan protes semakin gencar. Bukan tanpa sebab, ini adalah efek dari pengakuan presiden Amerika Donald Trump, bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Keputusan ini kemudian akan ditindak lanjuti dengan memindahkan kantor konsulat mereka ke Yerusalem. Ini tentu memicu konflik, alih-alih menyelesaikan konflik berkepanjangan antara Palestina dan bangsa penjajah Israel.

Klaim Israel, bahwa mereka adalah penduduk asal, pemilik sah, dan klaim teologis mereka, bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka menjadikan konflik ini seakan konflik agama belaka. Padahal lebih dari itu, konflik ini telah menjadi konflik antar bangsa dan terlebih menjadi semacam genosida dan kejahatan kemanusiaan yang dilegalisasi. Lalu bagaimana?

Sejarah panjang manusia, beberapa pendapat menyatakan terdiri dari dua fase besar. Fase pertama adalah fase Adam alaihissalam. Bapak para manusia. Adam yang berasal dari surga, diturunkan ke dunia sebagai konsekwensi dari perbuatannya melanggar pantangan, memakan buah khuldi. Pada fase ini, sampai keturunan Idris bagi sebagian pendapat menyatakan bahwa sampai Nabi Idris mereka adalah nabi yang wajib diimani. Bukan sampai pada tingkatan rasul. Karena masih sedikitnya umat dan beberapa alasan lainnya.

Fase kedua kehidupan manusia, sebagian pendapat menyebutkan dimulai semenjak nabi Nuh. Nabi Nuh ini terkenal dengan bahteranya. Nuh alaihissalam sendiri berdakwah kisaran 950 tahun untuk umatnya yang membangkang dan menjauh dari ajaran utama agama bapak-bapak mereka. Untuk alasan inilah sebagian pendapat, kenapa di Alquran hanya ada surat Nuh, bukan surat Adam. Kesudahan umat Nuh ini sudah mafhum bagi kita, bahwa umat Nuh kemudian dihancurkan dengan banjir bandang besar. Banjir ini kemudian menyisakan umat yang kemudian melahirkan beberapa generasi berikutnya. Beberapa tafsir menjelaskan bahwa umat yang tersisa atau dibawa Nuh dalam bahteranya berjumlah 80 orang. Wallahu a’lam. Diantara mereka adalah Sham bin Nuh. Atau dikenal dengan Shem. Bangsa dari keturunan ini kemudian dikenal sebagai bangsa Semitik. Dalam sejarah manusia modern dan purba, semitik ini dalam kategorisasi bahasa menyangkut beberapa wilayah dari Afrika, Asia Barat sampai semenanjung Arab. Diantara bangsa ini adalah bangsa Aad, kaum yang juga diceritakan dalam Alquran.
Kaum Aad ini suatu saat diberikan adzab yang pedih, sehingga menghabiskan mereka. Sehingga kerap disebut sebagai bangsa Arab ba’idah. Bangsa Arab jauh yang tidak lagi bisa ditemui kecuali melalui cerita-cerita yang dikemukakan dalam sejarah yang bersumber dari Alquran, misalnya. Namun adzab itu sejatinya tidak menghabiskan mereka semua. Ada segolongan kaum yang beriman dibawah komando nabiyullah Hud alaihissalam yang berhasil selamat. Hud ini juga disebut sebagai Eber, Ibir atau Nibir. Dan kepadanyalah disandarkan julukan bangsa Ibrani kemudian. Bangsa keturunan Ibir, seperti yang kerap kita ketahui, dengar dan baca sekarang.

Atas petunjuk Ibir atau nabiyullah Hud inilah kemudian mereka “hijrah” ke utara. Dalam perjalanannya, gelombang perpindahan ini kemudian terpisah menjadi dua golongan. Pertama, mereka kemudian kea rah Mesir. Kelak dikenal sebagai bangsa pengembara, penggembala yang sempat melakukan perebutan kekuasaan dan bahkan sempat menganeksasi Mesir. Bangsa itu kita kenal sebagai suku Hyksos, yang sempat mendirikan dinasti Hyksos di Mesir.

Kedua, dari mereka kemudian ada yang meneruskan perjalanan hingga ke Mesopotamia, atau yang kita kenal sebagai Irak hari ini. Dari keturunan Aad yang di Mesopotamia inilah kemudian kita kenal dilahirkan seorang nabi besar, nabi yang menjadi pengikat tiga agama besar dunia, yakni Abraham atau Ibrahim alaihissalam. Seorang nabi, rasul dan bapak agama-agama samawi. Nabi Ibrahim dipercaya lahir di daerah Kaldan, atau Kutsa. Sebelah selatan Irak. Di bantaran sungai indah Eufrat.

Ibrahim yang diangkat menjadi rasul, kemudian menyatakan dakwahnya dan harus menerima kenyataan bahwa dakwahnya diabaikan, dimusuhi dan dirinya disiksa. Tragedi hukuman pembakaran dirinya, oleh bangsanya atas perintah raja Namrudz bin Kana’an. Selamat dari upaya pembunuhan itu, bersama istrinya Sarah, Ibrahim lantas hijrah ke Syam, tepatnya daerah Haran. Di tempat ini, Ibrahim pun mengalami hal yang sama dalam dakwahnya. Sehingga harus beringsut pergi kembali ke tanah Kana’an, atau kita kenal sebagai Palestina.

Kana’an yang mengalami cobaan paceklik hebat, memaksa Ibrahim untuk angkat kaki. Sehingga beliau menuju ke Mesir. Fir’aun, julukan raja Mesir ketika masa ini dipercaya dipegang oleh Sanusart I atau Sanusart II. Di Mesir ini, istri Nabi Ibrahim sempat hampir diminta paksa untuk dinikahi oleh sang raja. Namun atas kuasa Allah, hal tersebut tidak sampai terjadi. Malah kemudian Ibrahim diberi hadiah Siti Hajar, menurut sebagian sejarah budak raja, namun sebagian lagi menganggap Hajar adalah anak raja.

Lama tak mempunyai anak, Sarah menyarankan Ibrahim untuk menikahi Hajar. Benar saja, Ibrahim lantas dikaruniai anak yang sangat dicintainya dari Rahim Hajar, bernama Ismail. Namun kemudian, Sarah pun melahirkan anak dari Ibrahim, yang bernama Ishak. Ismail seperti kerap kita kenang dalam cerita sebab ‘Idul Qurban, kemudian oleh Ibrahim dibawa ke sebuah lembah tandus dekat Baitullah di Mekkah. Dari keturunan Ismail yang menikah dengan suku Jurhum, kelak lahirlah bangsa-bangsa Arab musta’ribah keturunan Ismail, sampai pada sayyid Adnan, sampai pada sayyid Fihr yang dikenal sebagai Quraisy, dan pada akhirnya kelak lahir Abdullah. Ayah seorang nabi besar, yakni Muhammad Shalallahu alaihi wa alihi wa ashabihi. Ismail ini pada kitab Perjanjian Lama kerap diceritakan lahir ketika Ibrahim berusia 86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim berusia 100 tahun.

Sementara itu dari Ishak-lah keturunan-keturunan nabi-nabi Israel diturunkan. Dalam pohon sejarahnya, Ishaq mempunyai beberapa anak. Ish dan Ya’qub diantaranya. Dari Ish, kita mengenal keturunannya dari jalur ini adalah nabi Ayyub dan nabiyullah Dzulkfili. Sedangkan dari Ya’qub-lah gelar Israel dinisbatkan. Tentang julukan Israel, julukan bagi Ya’qub bisa kita lacak dalam Alquran ketika menjelaskan tentang makanan yang halal-haram bagi Bani Israel. Dalam surat Ali Imran ayat 93. Tentang arti Israel, sebagian mengatakan Isra adalah budak atau tawanan, sedang el dari kata elohim, atau Tuhan. Yang berarti hamba atau budak Tuhan. Ada pula yang mengatakan nama itu diambil karena Ya’qub suka berdakwah dengan berpindah-pindah di malam hari.

Ya’qub atau Israel dikenal mempunyai 12 anak. Dari sinilah kita ketahui awal mula 12 suku Bani Israel. Diantara anaknya tentu kita mengingat kisah Yusuf alaihissalam. Yusuf ini dalam ceritanya hendak dibunuh oleh saudara-saudaranya. Hal ini dipicu karena kasih saying Ya’qub yang berlebih kepada Yusuf dan Bunyamin, saudara kandung Yusuf. Ketika strategi pembunuhan hendak dilaksanakan, seseorang saudaranya, yang oleh sebagian pendapat diyakini adalah Yahuda menolak rencana itu. Namun menyarankan agar Yusuf cukup “disingkirkan” dengan  dimasukkan ke dalam sumur agar tetap hidup.
Dibagian genealogi, dari keturunan Bunyamin saudara kandung Yusuf, kelak akan lahir nabiyullah Yunus alaihissalam. Sementara dari keturunan Imran akan lahir nabi besar kaum Israel, yakni Musa dengan saudaranya Harun. Dan dari Harun ini kelak lahir nabi Ilyas dan Ilyasa’. Sementara itu dari keturunan Yahuda, saudara tiri lain Yusuf, akan lahir kelak raja dan nabi Bani Israel, yakni Daud. Ayah dari Sulaiman, raja terbesar suku Israel yang juga darinya akan muncul keturunannya kelak Zakaria,Yahya dan tentu Isa.

Seperti ceritera yang kerap dituturkan dan diceritakan, bahwa kelak Yusuf akan dijual di Mesir, menjadi budak dan kemudian sampai akhirnya dipenjara karena sesuatu hal. Tapi pada akhirnya kemudian berhasil menduduki jabatan sebagai bendahara negara Mesir. Jabatan yang cukup prestisius. Disisi lain keluarganya terancam kelaparan akibat paceklik yang melanda. Maka Israel atau nabiyullah Ya’qub kemudian mengajak keluarganya hijrah dari Kana’an atau Palestina ke Mesir.

Di Mesir inilah, Bani Israel atau anak turun Ya’qub berketurunan. Pada masa itu, kekuasaan sedang berada di tangan suku Hyksos. Suku yang secara genealogi masih bersambung jauh dengan mereka. Dibawah kuasa suku Hyksos ini Bani Israel berkembang dan menikmati kehidupan yang aman, tentram dan makmur. Sampai kemudian Mesir dapat direbut kembali oleh para penduduk asli Mesir.

Masalah kemudian muncul, ketika Bani Israel ini merasa nyaman dalam naungan Hyksos dan menjadi begitu dominan dalam masyarakat. Dan hal tersebut jelas tidak menyenangkan bagi penguasa baru Mesir, yakni pendidik Mesir asli. Mereka juga merasa Bani Israel ini terlalu dekat dengan dinasti Hyksos. Dinasti yang telah lama menjajah mereka. Penguasa baru Mesir ini, dalam beberapa sejarah kerap disebut berusaha menghilangkan jejak peninggalan dinasti Hyksos. Dan dalam usaha itu, tentu Bani Israel termasuk kaum yang harus dieliminasi pengaruhnya. Maka, kehidupan yang tenang itu berubah menjadi petaka.

Kesulitan paling dahsyat melanda mereka adalah ketika Firaun Mesir dijabat oleh Ramses II. Apalagi setelah terjadi drama, beberapa kali Bani Israel mencoba melakukan manuver untuk melakukan pemberontakan pada dinasti XIX yang berasal dari kaum asli Mesir tersebut. Akumulasi dari semua itu, maka Bani Israel menjadi warga negara kelas dua, bahkan diperbudak. Dalam kegetiran ini, Allah mengutus seorang pembebas bagi mereka yakni nabiyullah Musa alaihissalam.

Musa dalam cerita Alquran, sebenarnys justru pernah menjadi anak angkat dari sang Firaun sendiri. Ketika itu, keturunan bani Israel diperbudak oleh Firaun dan rakyatnya. Bahkan anak-anak laki-laki bani Israel pun banyak dibunuh, sedangkan perempuan-perempuan Bani Israel dijadikan budak nafsu. Hal karena adanya pertanda dari cenayang kerajaan, atau dukun-dukun resmi kerajaan bahwa kelak Firaun akan dikalahkan oleh seorang anak lelaki dari Bani Israel. Sebagai tambahan informasi, bahwa pada masa ini, dukun mempunyai kedudukan yang sangat tinggi. Sistem kepercayaan Mesir memungkinkan para peramal, cenayang dan dukun mempunyai kedudukan yang tinggi. Ini sebenarnya juga berpengaruh pada kepercayaan Bani Israel.

Nasib Bani Israel di Mesir memang miris, mereka dipekerjakan untuk proyek-proyek mercusuar Firaun. Bahkan menurut beberapa pendapat proyek Piramida dikerjakan oleh budak dari Bani Israel. Maka misi Musa untuk menyelamatkan bangsanya, bukan hanya persoalan benturan kepercayaan, namun juga persoalan ekonomi. Bani Israel di satu sisi merupakan asset, menurut Firaun, sehingga mereka bisa melakukan pembangunan dengan biaya murah. Selain bahwa Firaun juga akan sulit untuk menegaskan eksistensi dirinya, yang kadung mengaku sebagai “tuhan”, jika Musa berhasil melawannya dengan menyelamatkan Bani Israel.

Tapi Bani Israel ini adalah bangsa pengeluh. Misi Musa, selain dipersulit oleh represi dan gangguan dari Firaun dan bangsa Mesir. Misi itu juga harus melampaui tantangan internal berupa kemalasan, sikap fatalistik kaum Bani Israel dan tentu, tentangan dari kaum Bani Israel sendiri. Persiapan eksodus besar-besaran yang digagas nabi Musa atas petunjuk Allah ini jelas menjadi terhambat.  Sampai pada cerita Musa harus bertarung dengan para penyihir Firaun dan menang. Hingga akhirnya eksodus itu pun terjadi dalam kejaran Firaun Ramses II. Dan seperti kita ketahui, ketika terdesak di Laut Merah, Musa pun meminta agar Laut itu dipecah guna membaeri jalan bagi pelarian Bani Israel.

Sampailah mereka pada tempat tujuan, tanah yang dijanjikan, Kana’an, Palestina sekarang. Tapi ini bukan tanpa resiko, mereka kembali di sebuah tempat untuk mempertahankan hidup, setelah lama “terlena” dalam perbudakan di Mesir. Terbiasa dengan “kenyamanan”, maka ketika Musa mengajak mereka untuk melakukan penaklukan Kana’an, mereka menolak. Bahkan dalam Alquran dengan jelas menyuguhkan sebuah dialog yang menunjukkan, bagaimana lemah dan “manja”nya. Melihat Musa yang “sakti” dengan kemampuan membelah Laut Merah. Mereka malah meminta agar Musa sendiri yang berperang, sedangkan mereka akan menunggu kabar kemenangan Musa. Sebuah pemikiran picik.

Dan perlu kita kemukakan, bahwa maksud “tanah yang dijanjikan”, tentu berkaitan dengan zaman itu, pun dengan syarat perjuangan untuk merebutnya dengan perjuangan yang tentu berdarah. Jika itu menjadi sebuah konsideran mereka, untuk menuntut tanah Palestina sekarang.

Dalam Alquran juga diterangkan, bagaimana rentannya keimanan mereka, padahal mereka telah diselamatkan. Ketika Musa berkhalwat, menyendiri, untuk menerima Taurat selama 40 hari saja. Ketika kepemimpinan spiritual Bani Israel diserahkan pada nabiyullah Harun, saudara dari Musa alaihimasalam, mereka pun dapat terperdaya oleh Samiri. Yang membuat sesembahan dengan patung anak sapi, bahkan Samiri sempat mengatakan, bahwa Musa telah lalai dengan mencari-cari Tuhan, padahal tuhannya ada disana. Yakni patung sapi. Pun beberapa kali diceritakan, kaum Bani Israel meminta kepada Musa agar dibuatkan gambaran Tuhan, seperti yang sering mereka temui pada kaum Mesir, yang menyembah patung-patung mereka.

Dan karena mereka yang mengabaikan perintah Tuhan melalui Musa. Maka Bani Israel dikutuk untuk tidak mendapatkan tempat. Mereka stateless, tidak mempunyai negara. Mereka juga tak dapat masuk ke Kana’an, hingga Musa wafat, meninggalkan mereka.
Barulah setelah berganti generasi, generasi-generasi baru itu kemudian mempunyai visi yang cukup untuk menaklukan Kana’an, dibawah komando Yusya’ bin Nuh. Beberapa pendapat menyatakan Yusya’ atau Joshua ini adalah murid dari Musa yang menemani beliau ketika harus mencari hamba Allah yang bernama nabiyullah Haidir alaihissalam, atau Balya bin Malkan. Yusya’ bin Nuh ini juga pahlawan Bani Israel yang luar biasa. Memimpin pasukan dengan jumlah yang lebih sedikit dan kemampuan yang pas-pasan namun mampu menaklukkan kota Jericho awalnya. Hingga kemudia terus merangsek menaklukkan kota Ramallah dan berusaha mencapai Al Quds, ibu kota kaum Yabus yang ada di Kana’an. Pada saat penaklukkan kota Al Quds itulah, disebutkan dalam sebuah hadits, Allah sempat menahan laju matahari untuk memberi kesempatan lebih panjang bagi Yusya’ bin Nuh.

Setelah pendudukan itu, Bani Israel dipimpin oleh para hakim yang berkuasa dengan wilayah semacam protektorat. Hakim-hakim itu terhubung dengan kesukuan mereka, dengan wilayah tertentu. Hingga munculnya Thalut yang menjadi panglima perang mereka. Setelah penaklukan yang gilang gemilang dengan mengalahkan Jalut atau Goliath, maka setelah itu Bani Israel dipimpin oleh Daud, seorang nabi dan raja Bani Israel. Daud adalah seorang yang cerdas, hingga kerajaan Bani Israel itu menjadi sangat kuat. Pada awalnya kerajaan ini beribukita di Hebron atau el Khalil, namun kemudian dipindah ke Yerussalem. Diantara misi dari Daud selain memerintah, adalah mengembalikan akidah bangsa Israel. Sedangkan Hebron atau el Khalil sebagai ibu kota pertama sendiri mempunyai posisi khusus, disanalah Khalilullah Ibrahim dengan anaknya Ishak dan Ya’kub atau Israel alaihimsalam bermukim.

Pada masa pemerintah Daud inilah terjadi perluasan kekuasaan yang merembet hingga sungai Eufrat dan sebagian wilayah Mesir. Kekuasaan Daud itu lantas diwariskan kepada Sulaiman alaihissalam. Seorang nabi dan raja besar, yang dalam Alquran bahkan kerajaan itu tak pernah akan diberikan kepada orang sesudahnya. Pada masa kekuasaan Sulaiman inilah, dibangun sebuah bangunan untuk beribadah di Yerussalem. Bagi orang Yahudi, bangunan itu kemudian dikenang sebagai kuil Sulaiman, Solomon Temple atau Beit Solomon. Kemudian hari, kuil Sulaiman inilah yang menjadi masalah besar, dalam rangka perebutan kekuasaan di Yerussalem.
Pasca wafatnya Sulaiman, Bani Israel bukannya tambah maju. Kebiasaan bebal mereka kembali kambuh. Ternyata kebiasaan mereka berbuat aniaya kembali terjadi, bangsa Israel ini kemudian terpecah. Dimulai dari diwarisinya kerajaan oleh salah seorang putra Sulaiman, Rehabeam. Beberapa orang yang mewakili 10 suku dari 12 suku Israel mendatanginya dibawah koordinasi Jeroboam. Mereka menuntut tingginya pajak peninggalan Sulaiman. Dan seperti akan menjadi “kebiasaan” para nabi, pasca Rasulullah pun pemberontakan pertama yang muncul adalah golongan penolak zakat. Golongan yang kemudian berhasil ditumpas oleh Abu Bakar as Shidiq, radhiyallah anhu. 

Terjadi perselisihan hingga akhirnya kerajaan itu terbagi dua. Dua suku dibawah kekuasaan Rehabeam, beribukota di Yerussalem. Mereka ini di wilayah selatan, yang kelak lebih dikenal sebagai suku Judea atau Judah atau Judeah. Kerajaan ini dinisbatkan pada Yahuda, seorang keturunan Ya’kub alias Israel yang keturunannya terbanyak. Juga merupakan pohon nasab yang menurunkan Daud atau David dan selanjutnya Sulaiman.
Sementara itu sepuluh suku yang menolak pajak peninggalan Sulaiman, kemudian mendirikan sebuah kerajaan yang beribukota di  Samaria. Kerajaan ini lebih dikenal sebagai kerajaan Samiria. Dipimpin oleh Jeroboam I. Jeroboam sendiri sebagian berpendapat adalah pemberontak masa Sulaiman yang dibuang dan diasingkan ke wilayah Mesir.
Kemalangan mereka tak berhenti, kerajaan Samiria ini kemudian diserang oleh kerajaan Asyur atau Assyiria pada 721 SM. Dibawah kepemimpinan Shalmaneser V dan dilanjutkan oleh Sargon II kerajaan Samiria ini dihancur leburkan. Para anak kecil pun banyak dibunuh. Mereka diusir, diperbudak, diasingkan dan dibuang ke wilayah Khurasan yang masa modern ini kita kenal dengan Iran bagian timur dan Afghanistan bagian barat. Praktis pengusiran dan pembunuhan menghilangkan jejak 10 suku Israel itu.

Sekedar menjadi penanda saja. Bangsa Judea, adalah bangsa yang sangat menjaga kemurnian darah Israel mereka, ini berbeda dengan bangsa Samiria yang kemudian banyak melakukan pernikahan campuran.

Kerajaan Assyirian ini pun kemudian diserang oleh kerajaan Babilonia. Dan bukan hanya itu, Babilonia pun akhirnya merangsek ke kerajaan Judea di selatan. Judean takluk, Yerussalem diluluh lantakkan, hancur berkeping-keping. Beit Solomon atau kuil Sulaiman dihancurkan. Taurat dibakar, dan yang lebih miris para penduduknya diusir. Inilah awal diaspora Yahudi, sebutan bagi Bani Israel oleh bangsa Babilonia yang merujuk pada kepercayaan mereka.
Sebutan Yahudi itu merujuk pada keturunan Yahuda, suku terbesar dan juga praktik kepercayaan mereka. Sehingga hari ini, Yahudi dikenal sebagai agama seorang tanpa merujuk apakah yang bersangkutan adalah keturunan Israel atau Ya’kub atau bukan. Yahudi pasca serbuan Babilonia harus terpencar. Sementara 10 suku yang lainnya dinyatakan hilang, walau beberapa tradisi di beberapa tempat merujuk pada suku-suku itu. Seperti suku Chazar di Rusia, Pasthuns di Afghanistan-Pakistan, Kashmir di India, Bene-Menashe di India-Myanmar, dan beberapa tempat lain.

Yahudi yang terusir dari Judea itu kemudian berdiaspora, berpencar, berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain, terlunta-lunta. Melalui Nebukhadnezar, raja Babilonia, kaum Yahudi atau Israel menjadi pecundang. Tapi ini tak lain adalah buah dari kesalahan, dosa yang menghasilkan adzab dan peringatan dari Allah. Sebagaimana nabi Jeremiah mengatakan kepada Nebukhadnezar, bahwa hasil kemenangan Babilonia bukanlah atas kekuatan mereka. Namun, itu tak lain adalah hasil dari kesalahan dan dosa-dosa kaum Israel sendiri, yang berpecah belah, mengingkari ajaran para rasul Allah bahkan mereka membunuh para rasul dan nabi yang diutus Allah kepada mereka.

Para Yahudi itu dipenjara di Babilonia, sebagian bermigrasi ke wilayah penaklukan Babilonia. Tapi, mereka tak punya hak untuk hidup di Kana’an atau Palestina. Dan tak pula mereka mempunyai hak hidup di Yerussalem. Sampai kemudian kerajaan Persia datang menguasai kerajaan Babilonia. Persia dibawah kuasa maharaja Cyrus Agung (550-530 SM), berhasil menguasai Yerussalem. Maka, kaum Bani Israel atau Yahudi pun dibebaskan dan mereka diperbolehkan kembali ke Palestina dan membangun kembali Yerussalem.

Rekonstruksi Yerussalem besar-besaran, termasuk didalamnya adalah Beit Solomon atau kuil Sulaiman. Tempat kaum Yahudi menyembah Tuhannya, Yahweh. Yang dalam kategori tauhid sebagaimana ajaran Ibrahim atau Abraham, Ishak, Ya’qub atau Israel, atau Musa dan Harun, Daud dan kemudia Sulaiman, jelasnya haruslah menyembah Allah Subhananu wa Ta’ala.
Rekonstruksi Yerussalem dan Beit Solomon sendiri dibawah pengawasan dua orang sholeh. Yakni nabi Nehima dan Ezra. Ezra sendiri adalah seorang yang sangat dihormati, selain karena kesholehan juga kecerdasannya. Dalam Alquran, Ezra ini bahkan sering didudukkan hampir sama dengan kedudukan Isa bagi orang Nasrani, yakni anak Tuhan. Ezra dalam Alquran disebut dengan sebutan Uzair. Namun tentu tak semua Yahudi hendak pulang, ada yang sudah merasa tenang dan nyaman di tempat baru mereka.

Perpindahan kekuasaan pun terjadi, ketika Alexander The Great dari Macedonia atau Yunani menguasai Israel. Upaya hellenisasi pun berjalan. Bahasa Yunani pun dijadikan bahasa resmi. Untuk itulah kenapa bahasa Ibrani Modern atau Ibrani baru banyak mengandung unsur bahasa Yunani, Persia dan tentu, Latin Romawi yang datang selanjutnya.

Memang, Romawi kemudian menaklukkan Yunani dan Yerussalem. Maka secara otomatis, Yerussalem dikuasai oleh imperium Romawi. Dan pada masa ini, untuk meluruskan akidah kaum Yahudi atau Israel, maka Allah kembali mengutus nabinya, yakni nabiyullah Isa alahissalam. Selain untuk meluruskan akidah, Isa juga sama dengan Musa yang berusaha membebaskan Israel dari cengkeraman Romawi. Oleh Romawi, gerakan Isa ini dianggap sebagai gerakan subversif. Sebuah gerakan yang melawan negara Romawi dengan hukuman terberatnya, yakni disiksa hingga mati di tiang salib.

Pun sama dengan Musa, gerakan Isa yang bertujuan membebaskan kaum Israel itu tak sepenuhnya bersambut. Entah karena kebebalan dan kebodohan serta terutama kemalasan mereka. Namun sebagian sejarah juga menyatakan bahwa tidak diterimanya ajaran Isa itu diantaranya adalah, bahwa pengikut awal musa terbanyak justru berasal dari kaum nelayan miskin Samiria. Sedangkan bagi kaum Yahudi Judea, mereka ini hanyalah kelompok masyarakat yang bahkan dianggap najis.

Sampai kemudian Isa meninggalkan mereka. Yahudi ternyata kemudian memberontak kepada Romawi. Dan oleh sebab itu, mereka mengalami kembali pengusiran dari Yerussalem. Yerussalem dihancurkan kembali oleh Romawi. Mereka dilarang kembali ke tanah Kanaan. Dan berdiaspora kembali. Sementara Yerussalem dibumi hanguskan atas perintah Titus, sang raja Romawi (65-75 M). Walaupun masihlah tersisa sekelompok kecil orang Yahudi di Yerussalem.
Oleh Romawi, ibu kota kemudian dipindahkan ke Konstantinopel. Yang naifnya kemudian, agama yang diajarkan oleh Isa yang dianggap subversif awalnya oleh Romawi, malah dijadikan agama resmi Romawi. Maka, Yerussalem oleh Nasrani juga merupakan kiblat suci agama mereka. Karena Isa yang lahir di Betlehem dan banyak berdiam di Nazaret (Nashiriyah), banyak menyebarkan ajaran agamanya dengan berbagai mukjizatnya di Yerussalem.

Di Yerussalem pula berdiri, gereja Makam Suci atau al Kanisiyah al Qadisiyah yang dibangun secara megah oleh Helena Augusta atau Sain Helena (250-330 M). Seorang ratu Romawi yang saleh dan taat. Ibunda dari raja Constantine The Great, pendiri kota Konstantinopel.
Pada saat Umar menjadi pemimpin besar kaum Muslim dan berhasil menaklukkan Palestina. Adalah Uskup Agung Palestina, Sophronius yang menyatakan penyerahan kota ke tangan kaum Muslim. Berbeda dengan penguasa sebelumnya, Yahudi pada saat itu beserta Nasrani tetap dilindungi dan dihargai.

Dalam dunia modern, ketika berbicara tentang Yahudi dan hubungannya dengan Palestina, kita akan mendengar juga tentang Zionisme. Banyak dihubungkan kemudian yang banyak dirugikan oleh Zionisme ini adalah kaum Muslim. Akibat pencaplokan wilayah Palestina oleh negara Israel modern bentukan Inggris.

Zionisme, berasal dari kata ‘zion’ kata yang merupakan sinonim dari atau sebutan lain kota Yerussalem. Kata ini kemudian mendapat tempat khusus bagi kaum Yahudi yang terusir dari negaranya sejak zaman Babilonia yang menghancurkan Yerussalem pertama kali. Zion juga terdapat dalam kitab Mazmur:

Di tepi sungai-sungai Babilon
Disana kita duduk dan menangis
Ketika kita teringat Zion
(Mazmur 137;1)

Kata zionisme ini kemudian muncul dalam pelbagai karya kesusasteraan dan bahasan ilmiah, baik yang merupakan karya keagamaan maupun dalam skup sekuler. Istilah ini secara modern muncul pada akhir abad ke 19, yang menjadi berarti tujuan kembalinya bangsa Yahudi ke Erez Israel (Palestina). Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina dan mendirikan sebuah sekolah Yahudi pada tahun 1835. Sekolah itu kemudian menjadi sekolah pertama dengan silabus asing diwilayah kekuasaan Turki Ustmani. Proyek ini didanai seorang milyuner Yahudi berkebangsaan Inggris Sir Moshe Monteveury.

Organisasi dan penyebutan kata zionisme untuk melakukan imperialism bukan tanpa tentangan di dalam tubuh kaum Yahudi. Herzl yang sepenuhnya tak faham arti kata zionisme dalam ranah sejarah dan semantic menggunakan kata ini dan pentingnya menggunakan kata ini untuk merujuk gerakan politik merebut kembali Palestina untuk menjadi negara yang murni Yahudi.
Padahal sebelumnya ketika Andalusia sepenuhnya dikuasai oleh kaum Kristen Spanyol dari kerajaan Castilla dan Aragon dibawah kekuasaan Ratu Isabella dan khawatir akan pemberontakan yang mungkin akan dilakukan kaum Yahudi dan Islam. Maka kaum Muslim dan Yahudi dibunuh, diusir atau dikristenkan massal. Kaum Muslim dan Yahudi yang selamat pun lari ke wilayah kekuasaan Turki Ustmani. Ke daerah Bosnia, misalnya. Ini terjadi pada tahun 1492. Bahkan ketika Andalusia masih dikuasai kaum Muslim, Yahudi pun mendapatkan kebebasan sebebas-bebasnya, termasuk dalam dunia intelektual. Itu bisa dilacak dari munculnya intelektual Yahudi seperti, Moses Maimonides dan Ibnu Gabirol.

Pada tahun 1897, di Basle-Swiss digagas oleh bapak zionisme modern Theodore Herzl digelarlah kongres zionisme internasional dengan mengeluarkan beberapa keputusan atau resolusi. Diantara resolusinya dalah pernyataan bahwa umat Yahudi bukanlah sekedar umat beragama namun sebuah kebangsaan. Dan oleh sebab itu mereka bertekad bulat untuk hidup dalam berbangsa dan bernegara yang satu.  Sedemikian itu adalah guna menghindari pemusnahan etnis, seperti yang sudah-sudah dan paling dekat dengan saat itu adalah pemusnahan ras Yahudi yang dilakukan oleh Jerman melalui Hitler.

Hitler adalah mimpi buruk yang terekam erat bagi kaum Yahudi. Memahami “kebiasaan” Yahudi untuk memberontak, Hitler yang masih juga mempunyai darah Yahudi memutuskan untuk mengejar Yahudi, membunuh dan mengirim mereka ke kamp-kamp, dimana mereka dipaksa untuk bekerja dengan siksaan yang tak manusiawo. Bahkan banyak diantara mereka yang dikirim ke sebuah ruangan untuk dibunuh secara massal dengan senjata biologis atau gas beracun. Kejadian ini kerap disebut sebagai holocaust.

Maka, ide zionisme dengan satu negara untuk Yahudi yang kuat, diantaranya adalah untuk menghindari hal yang serupa. Tapi ada yang dilupakan, bahwa sekian kesialan bangsa Yahudi adalah selalu akibat kesalahan mereka sendiri. Kongres Basle sebagai cikal bakal gerakan zionisme politik bukan tanpa halangan, adalah R. Hirsch Hildesheimeir dan Willy Bambus dua orang terkemuka dari organisasi Masyarakat Ezra, yang menyadari bahwa konsep zionisme Herzl adalah politik belaka. Menolak untuk berbicara dalam kongres dan mendukung konsep Herzl.

Diantara yang mendorong gerakan zionisme adalah kepercayaan mesianik. Kepercayaan kaum Yahudi yang meyakini bahwa sang juru selamat hanya akan hadir, jika kaum Israel menempati tanah yang dijanjikan. Diantara yang mendorong ini adalah Rabi Zevi Kalischer dan Judah Al Kalai. Gerakan ini disebut dengan gerakan Hibbat Zion. Doktrin dari gerakan ini secara keagamaan diperngaruhi oleh Kalischer dan Al Kalai. Sedangkan bagi Ha Shahar, seorang penulis Ibrani terkenal justru menekankan pentingnya kebangkitan Yahudi dengan mengarus utamakan kembali bahasa Ibrani.

Praktis gerakan zionisme ini menempatkan Palestina sebagai pusat emigrasi. Namun bukan tanpa tentangan, Ahad Ha-Ahm seorang filosof dan pemikir Zionis justru menyarankan agar Palestina “hanya” dijadikan sebagai pusat ritual spiritual. Namun bukan pusat emigrasi karena beberapa keterbatasan. Yang hampir serupa dengan pendapat itu adalah Leon Pinsker. Bagi Pinsker Judophobia atau gerakan anti Yahudi merupakan fenomena psiko-pathologi. Bagian dari xenophobia atau anti orang asing. Dan selamanya Yahudi tidak akan bisa melakukan asimilasi dengan masyarakat lain yang mayoritas. Namun, solusinya tidak harus kembali pada Palestina walaupun ada hubungan historis-emosional. Namun bisa dimanapun asal bisa mewujudkan satu negara dengan nasionalisme Yahudi. Sebelumnya Inggris memang pernah menjanjikan protektorat Uganda atau daerah di Amerika Latin, sebagai negara baru untuk Yahudi.

Herzl sebenarnya awalnya adalah seorang jurnalis yang percaya bahwa kaum Yahudi harus asimilasi nasional dimanapun berada. Namun kemenangan Karl Lueger Monarkhi sebagai waki kota Mina menyentak pikirannya. Lueger yang mengkampanyekan anti Yahudi mendapat dukungan luas, yang artinya begitu banyak orang yang benci terhadap Yahudi. Mereka menggunakan kata Yahudi, bahkan untuk mengolok dan mengejek. Kemenangan Lueger ini, sebenarnya sudah di veto oleh Kaisar Austria ketika itu. Namun kemenangan Lueger yang berulang tiga kali adalah peristiwa yang luar biasa.

Dari luar gerakan zionisme ini mendapat sokongan diantaranya pasca perjanjian Sykes-Picot yang berniat mencaplok kekuasaan Turki Ustmani, untuk mereka bagi-bagi antar mereka. Perjanjian itu dilakukan oleh para negara persekutuan imperialis (Inggris-Perancis-Rusia). Dan ketika perang dunia I berakhir dengan kemenangan sekutu, maka Inggris mendapatkan kontrol penuh atas Palestina. Pada 1917, menteri luar negeri Inggris yang keturunan Yahudi, Arthur James Balfour melalui deklarasi Balfour mengatakan pada Lord Roschild, seorang pemimpin zionis Inggris. Bahwa akan segera mempercepat pembentukan negara Yahudi di Palestina.

Partai Buruh Inggris pada 1944, dengan terbuka menyatakan akan membiarkan kaum Yahudi masuk secara besar-besaran untuk mendesak kaum Pribumi Arab Palestina keluar dari Palestina. Sedangkan pada 1947 Perserikatan Bangsa-bangsa merekomendasikan akan terbentuknya dua negara; Palestina dan Israel. Dan ini disusul pada 14 Mei 1948, atau sehari sebelum kekuasaan perwalian Inggris habis. Maka Israel memproklamirkan diri sebagai sebuah negara. Dan melakukan agresi militer pada rakyat Palestina yang lemah dan tak bersenjata. Kontan hal ini menyulut pertikaian dan gelombang pengungsi.

Kembali pada konsep Zionisme, Herzl secara tegas menyatakan bahwa negara Yahudi akan membentang dari Sungai Nil dan Eufrat. Ini bisa kita lihat dari bendera Israel hari ini yang menandakan dua garis biru, pertanda Nil dan Eufrat dan bintang Daud. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Rabi Fischman.

Mau tak mau, usaha untuk melakukan perluasan wilayah menuju negara Israel Raya adalah dengan melemahkan negara-negara Muslim di sekitarnya. Maka, bisa jadi orang menganggap Arab Spring adalah gerakan demokratisasi Arab yang menggeliat. Tapi bisa jadi pada satu sisi, kejadian itu telah mengakibatkan lemahnya negara-negara Arab. Lebih dari itu, imperialism dan penghancuran negara-negara Arab oleh negara yang bergabung dengan NATO, bisa dicurigai sebagai gerakan mendukung perluasan wilayah dan pengaruh gerakan zionisme di timur tengah.

Penghancuran Irak yang cukup potensial menjadi musuh berat Israel di kawasan. Lalu Libya. Kekacauan politik di Mesir. Perpecahan di Yaman. Terbaginya negara Sudan menjadi Sudan dan Sudan selatan. Adalah proyek politik untuk melemahkan negara-negara Arab. Ditambah dengan Arab Saudi yang diharapkan menjadi pemimpin regional kawasan Timur Tengah yang malah lebih sibuk membebek pada Amerika Serikat dan sekutunya. Menjadikan proyek zionisme internasional, berkembang dan berjalan dengan baik. Karena Israel tentu dalam bahaya yang luar biasa, jika negara-negara Arab bersatu dan damai. Karena ia akan menjadi negara minoritas. Maka perlu dikembangkan sebuah strategi melemahkan daerah sekitar dan memperkuat kekuasaan Israel. Dan itulah yang juga terjadi hari ini. Termasuk berkembangan Nusrah, ISIS dan sebagainya. Termasuk juga didalmnya penyerangan Suriah.

Untuk mengakhiri tulisan panjang ini, beberapa pertanyaan patut dipertanyakan kembali terkait klaim Israel atas tanah yang dijanjikan. Pertama, jikalaulah kolonialisme dan imperialisme Israel disahkan dan didasarkan pada teori historis belaka. Bukankah mereka harus berfikir untuk melacak negara asli mereka yang sebenarnya. Yaman, Irak, atau Palestina?. Kedua, jika kolonialisme dan imperialisme Israel, disahkan dan didasarkan pada kaidah teologis semata. Maka semua agama mempunyai alasan yang sama untuk melakukan kolonialisasi. Bukankah Islam juga mengenal sebuah ayat yang menyatakan bahwa seluruh bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh, dan kaum yang sholeh itu jelas merujuk pada kaum Muslim. Ketiga, jika diaspora mereka tidak “berhasil” dan mereka terus dimusuhi oleh kaum lain di tempat dan negara barunya. Apakah kaum lain yang bersalah?. Cobalah melihat bagaimana bangsa India, Arab atau China yang tersebar dimanapun. Kenapa mereka bisa diterima oleh bangsa lain?. Lantas yang salah siapa?.


0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...