Dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan atau civic education, kerap dikenal istilah ketahanan nasional. Ketahanan nasional dimaksud diartikan dalam pengertian kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahanan nasional atau Tannas berisi keuletan dan ketangguhan yag mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta pejuangan mencapai tujuan nasionalnya (Sumarsono dkk, 2007:106).
Dalam hal ketahanan pada aspek ekonomi, sistem ekonomi
Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Pancasila menghendaki keadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia. Merujuk pada undang-undang negara juga menjamin
hak-hak warganegara di bidang ekonomi. Secara makro sistem ekonomi didunia tidak
lagi ada yang murni. Kapitalisme menyerap beberapa bagian sosialisme pun
sebaliknya, beberapa negara komunis muncul sebagai wajah baru kapitalis dengan
modifikasi seperlunya, China misalnya.
Pertarungan ideologi kini seakan tak berarti
lagi, warga dunia sama dituntut untuk terbuka dengan ideologi-ideologi liyan. Pertarungan
terkini adalah pertarungan teknologi dan ekonomi. Berlakulah hukum seperti kata
seorang ilmuwan, yang kuatlah yang akan bertahan. Bukan lagi kuat secara fisik,
namun negara dan personal yang kuat secara keilmuan, teknologi dan penguasaan
ekonomi akan eksis. Disisi lain, kaum yang lemah dibidang itu, silahkan undur
diri dari pertarungan dunia.
Diluar itu semua, sebuah kitab klasik berjudul
Fathul Muin karya Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, murid dari Ibnu
hajar al Haitamiy yang kerap dikaji kalangan pesantren, menyatakan sebuah
pernyataan bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah petani, lalu industri kreatif dan
kemudian perdagangan. Hal itu dijelaskan dalam bab yang menerangkan tentang
haji. Entah alasan apa yang melatarbelakangi pernyataan ini maupun kenapa hal
ini disebutkan dalam bab haji. Namun jelas ini mengindikasikan bagaimana petani
begitu mulia dalam pandangan pengarang kitab ini.
Namun, pemerintah Indonesia seakan abai atau
setidaknya kurang peduli pada kenyataan ini. Negara agraris hanya sebatas
slogan dan proyek semata. Pembangunan dibidang ini terbilang tertinggal jauh dibanding
bidang lain. Kesejahteraan petani yang telah memberi “nyawa” pada kehidupan
bagsa ini, seakan tak pernah digubris. Memang, petani bukanlah seperti profesi
lain seperti guru, buruh, perangkat desa yang acap melakukan unjuk rasa didepan
istana presiden. Para petani lebih sering berjuang dalam sepi, menikmati
penindasan dalam kesenyapan. Tegas benar penyiksaan dan absennya negara dalam
kehidupan petani. Sebagai anak petani dan siapapun yang pernah menjadi anak
petani pasti merasakan hal itu.
Pertanian harusnya dibangun dari hulu dan
hilirnya. Dihulu, bibit yang unggul, ketersediaan pupuk dan tetek bengek lainnya
adalah masalah petani yang kerap diabaikan. Petani harus berfikir dan berusaha
sendiri. Kementerian pertanian dan dinas-dinas pertanian, jarang sekali
dirasakan kehadirannya. Bahkan mungkin sejak republik berdiri, petani merasa
mereka tetap harus melanjutkan perjuangan yang belum usai. Dinas pertanian
didaerah-daerah lebih sibuk mengurus kertas-kertas dikantor, alih-alih turun
bersama petani dan melihat persoalan diladang, sawah, kebun dan tambak para
petani. Mereka lebih suka berpakaian necis, daripada berjibaku dalam lumpur
disawah bersama petani yang harusnya mereka layani. Jikalau mereka benar abdi
dan pelayan masyarakat, maka mereka lebih sebagai abdi dan pelayan yang abai.
Kemiskinan adalah hal yang akrab bagi petani. Sementara
mereka harus mencukupi asupan pangan seluruh bangsa, mereka kerap hanya sebagai
“semut pekerja”. Yang impian kesejahteraan, kemandirian dan kekayaan memanglah
hanya impian belaka. Petani adalah profesi yang vital tanpa sertfikasi, maka
petani bukanlah pekerjaan yang professional. Setidaknya begitu menurut para
penguasa negeri ini. Disaat sekian profesi harus tersertifikasi dengan tetek
bengek tunjangan, petani tetaplah petani. Profesi yang kasar, berlumpur dan
dipandang sebelah mata. Seakan penguasa negeri ini tak sadar, bahwa dari
pertanianlah kehidupan mereka tetap berjalan, dari tangan berlumpur itulah
kehidupan mereka dipastikan tetap berjalan, dari tangan-tangan kasar itulah
mereka setiap hari merasakan tidur nyaman dalam kondisi kenyang.
Petani adalah sosok tepat untuk menggambarkan
kesabaran, kesabaran yang kerap dikhotbahkan oleh siapapun. Mulai dari
penyedian bibit unggul, kerap petani harus berusaha sendiri, ketika hama
menyerang, mereka harus melakukan trial
and error. Mencoba dari satu pestisida ke pestisida yang lain, adalah
pekerjaan biasa dan rutin. Ketika tikus, wereng dan beberapa hama menyerbu,
kesabaran dan keuletan petanilah yang menolong diri mereka sendiri. Dinas pertanian
adalah mahluk asing yang tak akan masuk pada dunia ini, sekalipun mereka
bernama dinas pertanian. Sebangsa dengan petani.
Setelah semua itu, paska panen petani juga
tetap harus bersabar. Ketika dengan pelbagai alasan, dari adanya tengkulak dan sampai
ketidak mampuan BULOG lembaga pemerintah urusan logistic menyerap hasil
pertanian, harga hasil pertanian harus dihargai tidak sepadan. Bahkan untuk
setitik keringatnya. Harga gabah yang anjlok misalnya, tidak akan membuat
petani sakit jantung. Karena memang hal ini biasa terjadi dan rutin. Panen adalah
masa jatuhnya harga gabah. Ada alasan pemerintah?. Kalaupun tak ada tetap harus
dicarikan alasan yang logis, karena petani adalah profesi paling mudah menerima
alasan. Setidaknya begitu pola pikir instansi yag berkaitan dengan petani. Hingga
ditemui, seorang pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah yang meminta dalam
status dimedia sosialnya agar petani bersabar, berdikari dan mandiri. Tidak menggantungkan
diri pada pemerintah. Bukankah selama ini hal itu sudah juga terjadi. Bukankah selama
ini petani selalu sabar ketika pemerintah abai, ketika negara tak pernah hadir
dalam kehidupannya?. Apakah pernyataan seperti itu adalah indikasi keberpihakan
pada petani?.
Melihat semua itu, maka tak heran jika banyak
lahan pertanian yang beralih fungsi. Dijual ketika ada tawaran yang
menggiurkan. Yang mempertahankan lahannya, biasanya karena terpaksa, memandang
itu adalah warisan turun temurun atau karena tak tahu lagi apa yang bisa
dilakukan selain bertani. Akan jarang ditemui pihak yang mempertahankan
lahannya karena menganggap pertanian adalah pekerjaan yang memilik masa depan
dan prospek yang baik. Itu pula yang menjadikan generasi muda memandang bahwa
profesi yang menarik untuk ditekuni. Lihat saja bagaimana anak-anak petani
berebut menjadi buruh pabrik. Atau lihat saja bagaimana mereka berebut masuk
dalam fakultas pendidikan dan keguruan, daripada fakultas pertanian. Karena guru
adalah profesi yang menjanjikan dengan tunjangan professional dan terlebih guru
adalah pekerjaan professional yang tersertifikasi. Sementara pertanian adalah
pekerjaan remeh temeh yang tak menjanjikan. Setidaknya itu yang ada dikepala
kebanyakan generasi petani.
Adalah memalukan, negara yang menggemborkan gemah ripah loh jinawi¸namun gula, beras
dan jagung saja harus didatangkan dengan impor. Adalah memalukan menjadi negara
yang tanahnya tersedia lapang dan luas, harus mengimpor dari negara yang bahkan
lebih sempit lahan pertaniannya. Adalah memalukan menjadi negara yang bahkan
tak menghargai siapa yang setiap hari mengusahakan agar kita tetap bisa makan
nasi. Nasi yang tak pernah bisa digantikan oleh makanan apapun, begitulah ciri
khas bangsa kita. Namun, jikalau kita sudah dengan sengaja memutus urat malu
kita. Setidaknyalah kita befikir, bahwa kita takkan pernah menjadi bangsa
hebat, tanpa berdikari di bidang pangan. Tak juga menjadi bangsa dengan
ketahanan nasional, jikalau petani kita tak kuat. Dan akhirnya, ketahanan
nasional takkan pernah dicapai, jika pemerintah hanya sibuk gaduh dalam
perdebatan-perdebatan tak penting dan hiruk pikuk politik belaka. Butuh tindakan
nyata dari sekedar himbauan sabar. Petani adalah soko guru bangsa, tiang
kemandirian yang tak pernah dilihat sesuai porsinya.






0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...