top social

Sabtu, 12 Maret 2016

Generasi Petani dan Masa Depan Ketahanan Nasional

Dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan atau civic education, kerap dikenal istilah ketahanan nasional. Ketahanan nasional dimaksud diartikan dalam pengertian kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahanan nasional atau Tannas berisi keuletan dan ketangguhan yag mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta pejuangan mencapai tujuan nasionalnya (Sumarsono dkk, 2007:106).

Hasil gambar untuk petani cantikKetahanan nasional sebagaimana dimaksud mempunyai asas kesejahteraan dan keamanan, asas komprehensif integral, asas mawas ke dalam dan ke luar, serta asas kekeluargaan. Sifat dari ketahanan nasional adalah mandiri, dinamis, wibawa, konsultasi dan kerjasama.
Dalam hal ketahanan pada aspek ekonomi, sistem ekonomi Indonesia sebagaimana disebutkan dalam Pancasila menghendaki keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Merujuk pada undang-undang negara juga menjamin hak-hak warganegara di bidang ekonomi. Secara makro sistem ekonomi didunia tidak lagi ada yang murni. Kapitalisme menyerap beberapa bagian sosialisme pun sebaliknya, beberapa negara komunis muncul sebagai wajah baru kapitalis dengan modifikasi seperlunya, China misalnya.
Pertarungan ideologi kini seakan tak berarti lagi, warga dunia sama dituntut untuk terbuka dengan ideologi-ideologi liyan. Pertarungan terkini adalah pertarungan teknologi dan ekonomi. Berlakulah hukum seperti kata seorang ilmuwan, yang kuatlah yang akan bertahan. Bukan lagi kuat secara fisik, namun negara dan personal yang kuat secara keilmuan, teknologi dan penguasaan ekonomi akan eksis. Disisi lain, kaum yang lemah dibidang itu, silahkan undur diri dari pertarungan dunia.
Diluar itu semua, sebuah kitab klasik berjudul Fathul Muin karya Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al Malibari, murid dari Ibnu hajar al Haitamiy yang kerap dikaji kalangan pesantren, menyatakan sebuah pernyataan bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah petani, lalu industri kreatif dan kemudian perdagangan. Hal itu dijelaskan dalam bab yang menerangkan tentang haji. Entah alasan apa yang melatarbelakangi pernyataan ini maupun kenapa hal ini disebutkan dalam bab haji. Namun jelas ini mengindikasikan bagaimana petani begitu mulia dalam pandangan pengarang kitab ini.
Hasil gambar untuk petaniDalam hal ketahanan nasional, pertanian harusnya menempati posisi yang strategis. Karena dalam pertanian selain ditumpukan dalam ketahanan ekonomi juga terdapat ketahanan pangan. Dan tak akan ada pasukan yang gagah, jika dalam keadaan kelaparan. Dapat ditengok bagaimana blokade-blokade terhadap pasokan pangan telah menyebabkan kejatuhan pasukan-pasukan pemberani diseluruh dunia. Tak ada yang sanggup melawan kelaparan. Yang artinya negara dengan kemandirian panganlah sesungguhnya negara yang memiliki kekuatan hebat. Maka tak heran, jika ketahanan pangan dan persedian logistik juga kadang digunakan dalam pertimbangan pemberian peringkat kekuatan militer sebuah negara, disamping ketahanan energi, kekuatan prajurit dan persenjataan. Karena senjata sehebat apapun, tentara sekuat apapun, akan menjadi lemah manakala ketahanan energi dan pangannya lemah.
Namun, pemerintah Indonesia seakan abai atau setidaknya kurang peduli pada kenyataan ini. Negara agraris hanya sebatas slogan dan proyek semata. Pembangunan dibidang ini terbilang tertinggal jauh dibanding bidang lain. Kesejahteraan petani yang telah memberi “nyawa” pada kehidupan bagsa ini, seakan tak pernah digubris. Memang, petani bukanlah seperti profesi lain seperti guru, buruh, perangkat desa yang acap melakukan unjuk rasa didepan istana presiden. Para petani lebih sering berjuang dalam sepi, menikmati penindasan dalam kesenyapan. Tegas benar penyiksaan dan absennya negara dalam kehidupan petani. Sebagai anak petani dan siapapun yang pernah menjadi anak petani pasti merasakan hal itu.
Pertanian harusnya dibangun dari hulu dan hilirnya. Dihulu, bibit yang unggul, ketersediaan pupuk dan tetek bengek lainnya adalah masalah petani yang kerap diabaikan. Petani harus berfikir dan berusaha sendiri. Kementerian pertanian dan dinas-dinas pertanian, jarang sekali dirasakan kehadirannya. Bahkan mungkin sejak republik berdiri, petani merasa mereka tetap harus melanjutkan perjuangan yang belum usai. Dinas pertanian didaerah-daerah lebih sibuk mengurus kertas-kertas dikantor, alih-alih turun bersama petani dan melihat persoalan diladang, sawah, kebun dan tambak para petani. Mereka lebih suka berpakaian necis, daripada berjibaku dalam lumpur disawah bersama petani yang harusnya mereka layani. Jikalau mereka benar abdi dan pelayan masyarakat, maka mereka lebih sebagai abdi dan pelayan yang abai.
Kemiskinan adalah hal yang akrab bagi petani. Sementara mereka harus mencukupi asupan pangan seluruh bangsa, mereka kerap hanya sebagai “semut pekerja”. Yang impian kesejahteraan, kemandirian dan kekayaan memanglah hanya impian belaka. Petani adalah profesi yang vital tanpa sertfikasi, maka petani bukanlah pekerjaan yang professional. Setidaknya begitu menurut para penguasa negeri ini. Disaat sekian profesi harus tersertifikasi dengan tetek bengek tunjangan, petani tetaplah petani. Profesi yang kasar, berlumpur dan dipandang sebelah mata. Seakan penguasa negeri ini tak sadar, bahwa dari pertanianlah kehidupan mereka tetap berjalan, dari tangan berlumpur itulah kehidupan mereka dipastikan tetap berjalan, dari tangan-tangan kasar itulah mereka setiap hari merasakan tidur nyaman dalam kondisi kenyang.
Petani adalah sosok tepat untuk menggambarkan kesabaran, kesabaran yang kerap dikhotbahkan oleh siapapun. Mulai dari penyedian bibit unggul, kerap petani harus berusaha sendiri, ketika hama menyerang, mereka harus melakukan trial and error. Mencoba dari satu pestisida ke pestisida yang lain, adalah pekerjaan biasa dan rutin. Ketika tikus, wereng dan beberapa hama menyerbu, kesabaran dan keuletan petanilah yang menolong diri mereka sendiri. Dinas pertanian adalah mahluk asing yang tak akan masuk pada dunia ini, sekalipun mereka bernama dinas pertanian. Sebangsa dengan petani.
Setelah semua itu, paska panen petani juga tetap harus bersabar. Ketika dengan pelbagai alasan, dari adanya tengkulak dan sampai ketidak mampuan BULOG lembaga pemerintah urusan logistic menyerap hasil pertanian, harga hasil pertanian harus dihargai tidak sepadan. Bahkan untuk setitik keringatnya. Harga gabah yang anjlok misalnya, tidak akan membuat petani sakit jantung. Karena memang hal ini biasa terjadi dan rutin. Panen adalah masa jatuhnya harga gabah. Ada alasan pemerintah?. Kalaupun tak ada tetap harus dicarikan alasan yang logis, karena petani adalah profesi paling mudah menerima alasan. Setidaknya begitu pola pikir instansi yag berkaitan dengan petani. Hingga ditemui, seorang pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah yang meminta dalam status dimedia sosialnya agar petani bersabar, berdikari dan mandiri. Tidak menggantungkan diri pada pemerintah. Bukankah selama ini hal itu sudah juga terjadi. Bukankah selama ini petani selalu sabar ketika pemerintah abai, ketika negara tak pernah hadir dalam kehidupannya?. Apakah pernyataan seperti itu adalah indikasi keberpihakan pada petani?.
Melihat semua itu, maka tak heran jika banyak lahan pertanian yang beralih fungsi. Dijual ketika ada tawaran yang menggiurkan. Yang mempertahankan lahannya, biasanya karena terpaksa, memandang itu adalah warisan turun temurun atau karena tak tahu lagi apa yang bisa dilakukan selain bertani. Akan jarang ditemui pihak yang mempertahankan lahannya karena menganggap pertanian adalah pekerjaan yang memilik masa depan dan prospek yang baik. Itu pula yang menjadikan generasi muda memandang bahwa profesi yang menarik untuk ditekuni. Lihat saja bagaimana anak-anak petani berebut menjadi buruh pabrik. Atau lihat saja bagaimana mereka berebut masuk dalam fakultas pendidikan dan keguruan, daripada fakultas pertanian. Karena guru adalah profesi yang menjanjikan dengan tunjangan professional dan terlebih guru adalah pekerjaan professional yang tersertifikasi. Sementara pertanian adalah pekerjaan remeh temeh yang tak menjanjikan. Setidaknya itu yang ada dikepala kebanyakan generasi petani.
Hasil gambar untuk petani
Adalah memalukan, negara yang menggemborkan gemah ripah loh jinawi¸namun gula, beras dan jagung saja harus didatangkan dengan impor. Adalah memalukan menjadi negara yang tanahnya tersedia lapang dan luas, harus mengimpor dari negara yang bahkan lebih sempit lahan pertaniannya. Adalah memalukan menjadi negara yang bahkan tak menghargai siapa yang setiap hari mengusahakan agar kita tetap bisa makan nasi. Nasi yang tak pernah bisa digantikan oleh makanan apapun, begitulah ciri khas bangsa kita. Namun, jikalau kita sudah dengan sengaja memutus urat malu kita. Setidaknyalah kita befikir, bahwa kita takkan pernah menjadi bangsa hebat, tanpa berdikari di bidang pangan. Tak juga menjadi bangsa dengan ketahanan nasional, jikalau petani kita tak kuat. Dan akhirnya, ketahanan nasional takkan pernah dicapai, jika pemerintah hanya sibuk gaduh dalam perdebatan-perdebatan tak penting dan hiruk pikuk politik belaka. Butuh tindakan nyata dari sekedar himbauan sabar. Petani adalah soko guru bangsa, tiang kemandirian yang tak pernah dilihat sesuai porsinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...