top social

Minggu, 06 Maret 2016

Membaca Radikalisme Dalam Islam


Hasil gambar untuk terorisKenapa orang mau bunuh diri dengan cara meledakkan dirinya, serta melukai orang yang bahkan tak ia kenal perangainya?. Kenapa orang tega melakukan kekerasan dengan menembak membabi buta, padahal ia tak punya dendam atas korbannya?. Pertanyaan itu kerap menggelayut dibenak kita. Beberapa jawaban pun sering diberikan dari mulai pakar terorisme, sosiolog sampai psikolog sampai politisi. Tentu dengan perspektif dan analisa masing-masing. Namun apakah Islam adalah satu-satunya entitas yang harus dicurigai? Atau lebih dari itu, apakah Islam mengajarkan kekerasan serupa itu?



Dalam media-media mainstream, radikalisme seringkali dikaitkan dengan Islam. Atas feonomena ini beberapa pihak yang selalu berkutat dengan teori konspirasi selalu menjawab hal ini dengan jawaban standar mereka. Bahwa semua berita radikalisme, terorisme dan sebangsanya adalah konspirasi dari Amerika, Israel dan Zionis. Radikalisme sendiri dalam arti asalnya adalah faham yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sosial politik dengan cara kekerasan atau drastis.



Radikalisme dan fundamentalisme sering dikatakan bersamaan untuk menyebut satu entitas, walau nyatanya memiliki arti yang berbeda. Paska ledakan besar dua menara kembar WTC pada 11 September 2011 di Amerika Serikat, bertambahlah lagi kata terorisme untuk menyebut gerakan-gerakan radikal yang bermotif keagamaan. Semenjak Presiden George W. Bush menabuh gendering perang, dan bertekad menumpas gerakan terorisme. Radikalisme, fundamentalisme dan terorisme seakan menjadi identik, bahkan cenderung menjadi sinonim.



Radikalisme dan fundamentalisme, adalah fenomena keberagamaan yang ada dihampir semua agama. Bukan monopoli Islam an sich. Bisa kita sebut semua agama, dan disana pasti ada fenomena radikalisme. Hindu misalnya, kita mengenal gerakan Bajrang Dal atau Rashtriya Svayam Sevak (RSS), gerakan Hindu radikal yang terkenal setelah membunuh Mahatma Gandhi. Disamping gerakan Sri Rama Sene dan Tamil Eelam yang tak kalah radikal. Sedangkan di agama Budha kita mengenal Ashin Wirathu, bikhu Budha radikal yang membakar dan mengusir minoritas Muslim Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar. Disamping itu ada juga Sikh radikal di India selatan, Yahudi Ultra Ortodoks yang juga radikal di Israel. Katolik radikal yang dalam sejarahnya pernah melakukan pengejaran besar-besaran kepada kaum protestan, karena dianggap kaum heresy, murtad. Pun tak kurang akan ditemukan protestan radikal dikawasan Amerika dan Shinto radikal yang ada di Jepang. Yang tak jarang melakukan kekerasan kepada sesama.



Islam radikal mengemuka, tentu akibat serangan 11/11 di Amerika yang kemudian menjadikan Islam identik dengan radikalisme dan tentu, terorisme. Stereotip bahwa radikalisme identik dengan kekerasan dan lebih spesifik bahwa Islam radikal adalah penyebab berbagai kerusakan dan teror yang terjadi belakangan, kadung menjadi pakem. Seakan terorisme dan fundamentalisme adalah domain dan wilayah Islam saja. Begitulah gambaran media barat hari ini.



Kelompok-kelompok radikal dalam Islam menurut penelitian Hamami Zada, selalu mempunyai setidaknya empat persamaan. Pertama, perjuangan penegakan ajaran Islam yang kaffah. Yang juga setidaknya menurut penafsiran mereka termasuk pendirian negara Islam, misalnya. Kedua, mendasarkan faham dan praktek keberagamaan selayaknya zaman generasi salaf al salihin. Dengan segala wujud dan persepktif mereka. Ketiga, memusuhi negara-negara barat yang dianggap sebagai perwujudan setan besar dan pasukan salibis. Serta keempat, memusuhi para Islam liberal yang lebih dianggap sebagai agen salib, zionis, penghianat dan musuh dalam selimut.



Penyebutan radikalisme dan fundamentalisme dalam Islam juga bukan tanpa perdebatan. Problem penyebutan itu sudah sering dibahas dan diulas. Fundamentalisme sendiri, sebenarnya berasal dari sejarah kristiani di Inggris. Fundamentalisme merupakan kata dalam Inggris lampau yang menggambarkan orang dengan corak pemikiran.bahwa Al Kitab harus ditafsirkan secara harfiah disertai keyakinan bahwa tidak ada kesalahan sedikitpun. Serta keyakinan siapa yang terlibat dalam gerakan Kristen modern, bukanlah Kristen sejati. Dan karena itulah Robert N. Bellah dan William Lidle, lebih suka memakai istilah skripturalisme. Merujuk pada pemahaman mereka yang skriptural dan literal. Didalam Islam sendiri beberapa pihak menerima penyebutan radikalisme dan fundamentalisme, namun tak kurang beberapa pihak menolak karena menganggap penyebutan itu tak relevan. Diantara pihak yang menerima penyebutan itu ialah, Fazlurrahman, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid dan sebagainya. Walaupun Fazlurrahman lebih cenderung memakai istilah revivalisme, untuk menandai gerakan mereka yang cenderung kembali kepada ajaran lama. Sedangkan Riffat Hassan, Hosein Nasr dan lain-lain menolaknya.



Dalam agama protestan sendiri, istilah fundamentalisme sendiri lebih berkonotasi pada hinaan. Merujuk pada misonaris dan penginjil yang skriptural, statis dan ekstrem. Fundamentalisme dalam protestan merupakan “jawaban” atas munculnya gerakan-gerakan keagamaan yang cenderung modern dan liberal yang melahirkan tafsir-tafsir pembaharuan yang kontekstual. Gerakan ini lahir untuk melakukan perlawanan dalam kerangka mempertahankan “kebenaran” tafsir yang tekstual guna membentengi pemikiran dari pembaharuan.



Dalam Islam, istilah fundamentalisme juga dipakai sebagai istilah media barat untuk melakukan propaganda hitam terhadap gerakan-gerakan yang membahayakan dominasi barat. Fundamentalisme dan ekstremisme pernah dilekatkan pada gerakan-gerakan tarekat di Indonesia ketika memperjuangkan kemerdekaannya. Pun hal yang sama dilekatkan pada gerakan-gerakan di Iran, ketika para Mullah bergerak untuk menggulingkan syah Iran yang didukung oleh militer dan kekuatan barat.



Ketika gerakan Mullah yang hanya didukung rakyat jelata minus militer berhasil menggulingkan kekuasaan rezim Syah Iran yang didukung militer dan barat. Para Mullah yang semula dikenal sebagai ahli agama saja, dalam sekejap dapat menggulingkan kekuasaan Syah yang kuat dan menggantikan kekuasannya. Negara yang sebelumnya sekuler, menjadi negara yang teo-demokratik. Ini membuktikan bahwa Islam bukan hanya ajaran agama yang kokoh, namun mampu menjadi ikatan sosial yang dominan dan menjadi spirit perubahan. Barat tersentak dan menyadari ancaman itu bernama Islam.



Labelisasi radikalisme Islam, sebenarnya juga bisa dirunut sebagai upaya generalisasi Islam. Islam diidentikkan dengan kekerasan, teror dan berbagai tindakan tak manusiawi lain. Ini tak lebih adalah bentuk lain dari kegalauan barat atas berkembangnya Islam dimuka bumi. Islam dipilih sebagai “musuh” bukan tanpa sebab. Karena Islam selain daya tahannya yang luar biasa. Ajaran yang tumbuh dinegara yang tidak sama sekali memiliki peradaban setinggi Mesopotamia maupun Byzantium, nyatanya mampu menjadi agama yang begitu besar didunia. Bahkan mampu menaklukkan keduanya. Ini bukan hanya kilasan sejarah, namun juga peringatan akan kebesaran sebuah agama atau ideologi.



Paska runtuhnya Uni Soviet dan sosialismenya serta hanya tersisa China dan Korea Utara yang memegang erat sosialisme walaupun pada prakteknya kadang mengadopsi perekonomian kapitalistik. Praktis hanya Islam, yang tersisa sebagai kekuatan perimbangan barat dengan kapitalismenya. Islam menyeruak menjadi kekuatan yang juga sudah dibayangkan sebelumnya. Adalah Huntington yang jauh hari memperingatkan adanya tabrakan kebudayaan atau yang diistilahkannya dengan class of civilization. Tesis Samuel Huntington ini disusun, bukan hanya sebagai sebuah peringatan ilmiah, tapi bisa dimaknai sebagai keresahan barat atas maju dan berkembangnya Islam. Bayangkan saja bagaimana perkembangan Islam di Asia, terutama Asia Tenggara dengan Indonesia dan Malaysia sebagai pionirnya. Belum lagi perkembangan Islam didunia barat sendiri.



Tentulah hal tesebut tidak akan disambut dengan gegap gempita tepuk tangan dan pelukan mesra. Barat dengan simbol Kristen ditambah dengan modernitas, kapitalisme dan sekulerismenya. Tentu tidak akan diam dan begitu saja pasrah tergusur. Hal ini pula yang dialami oleh Bikhu Ashin Wirathu yang menganggap Islam sebagai ancaman. Bikhu ini mencontohkan Indonesia, yah kenyataan bahwa  Indonesia yang dulu menjadi pusat penyebaran dan pengajaran Hindu-Budha, kini adalah negara Islam terbesar yang baginya adalah gambaran yang perlu diwaspadai. Ini adalah gambaran, bahwa upaya barat, Ashin dan radikalisme Islam, senyatanya punya motif yang sama. Mempertahankan diri.



Islam dipandang sebagai satu-satunya ancaman atas ideologi barat. Ideologi yang mampu bertahan dan bahkan sanggup menjadi “musuh utama” barat. Islam sebagai agama bukan hanya bersifat esoterik dan asketik, namun berkembang menjadi spirit sosial yang luar biasa. Bahkan spirit revolusi, seperti gambaran revolusi Islam Iran, misalnya. Ia mampu bahkan menjadi penggerak yang massif dan berhasil. Bahkan menjadi kekuatan pembebas, pembebasan Afghanistan dari cengkeraman Rusia oleh kaum Muslim adalah bukti nyatanya. Kemampuan Islam dalam bermetamorfosa dan beradaptasi bukan hanya dengan locus yang berbeda-beda, namun juga kekuatannya menghadapi modernisasi yang merupakan anak dari kapitalisme dan materalisme. Merupakan alarm terbuka atas kecongkakan barat dengan klaim kemajuan dan modernitasnya. Barat tersentak dan merasa terancam dengan kekuatan Islam yang seakan semakin merangsek manakala barat sedang dalam upaya mendiktekan dominasinya didunia.



Islam dan barat hari ini tentu sulit untuk disatukan dalam bingkai yang indah. Barat dengan modernisme dan kapitalisme melahirkan sekularisme, yang mengajarkan pemisahan hal-hal duniawi dan keagamaan, akan bertentangan hebat dengan Islam. Yang bukan saja menjadi ajaran keagamaan berbentuk ritus semata, ia adalah ajaran yang mumpuni dan menyeluruh disemua aspek kehidupan. Bahkan dalam konsep ekonominya. Kapitalisme yang melahirkan materialisme tentu tidak sejalan dengan konsep Islam yang menghendaki keadilan sosial dalam ekonomi, walau tak sepenuhnya setuju dengan komunisme. Namun, pertumbuhan Islam yang cukup siginifikan dibarat, justru menggambarkan bagaimana Islam menjadi isu yang seksi dan menarik. Ajaran-ajarannya yang dipandang asketik disatu sisi, namun mampu menjadi pengungkit perubahan sosial disisi lain, adalah jawaban bagi sebagian manusia modern barat yang mengalami kekeringan spiritual.



Keresahan itu kemudian dimanipulasi dengan polesan-polesan indah yang penuh intrik. Dengan dalih menurunkan rezim yang otoriter dan penyebaran demokrasi misalnya, barat telah memporakporandakan Irak dan Afghanistan, disusul kemudian beberapa negara arab. Disinyalir arab spring dan beberapa kerusuhan di Arab juga merupakan skenario besar negara-negara barat. Bosnia dan Chechnya juga diperlakukan sama atas nama membela hak azasi manusia.



Kekerasan yang dilakukan oleh barat dengan berbagai macam dalih, bisa disebut sebagai salah satu pemicu lahirnya radikalisme Islam. Walaupun sebagai agama, seperti agama-agama lain. Potensi dan fenomena radikalisme senyatanya ada sebelum  itu. Namun, radikalisme Islam kala itu sering hanya bersifat radikalisme potensial, radikalisme yang berbentuk wacana. Dan menemukan momentumnya untuk menjadi radikalisme yang bersifat aktual, manakala kaum-kaum radikal itu merasa bahwa himpitan “imperialisme” barat sudah pada tahap “tidak bisa dimaafkan”. Mereka merasa bahwa Islam sudah terancam oleh barat, bukan hanya melalui perang ideologi seperti sebelumnya. Namun juga sudah pada tahapan harus membalas “serupa atau lebih kejam” dari yang sudah dilakukan barat terhadap Islam.



Disinilah kita bisa merunut bagaimana kemunculan radikalisme aktual Islam. Tindakan ini menemukan pembenaran dengan penjajahan-penjahan atas Islam dengan kekerasan oleh barat. Maka tindakan mereka ini, dianggap sebagai pembalasan, sebagai kontra kekerasan. Dan term yang mereka gunakan adalah jihad, term yang dalam Islam dipandang sakral, suci dan penuh dengan kemuliaan. Karena ini demi menjaga marwah Islam.



Radikalisme dan terorisme, memang acapkali melandasi basis tindakannya dengan ayat-ayat jihad. Hal ini kemudian disusul dengan pembenaran jihad, demi melawan thogut barat yang telah menindas Islam. Penafsiran yang skriptural dan leksikal ditambah dengan “dendam” atas penjajahan menjadikan “perang” ini bukan hanya rumit, namun juga digemari oleh beberapa kalangan. Solidaritas Islam yang bernama ukhuwwah menjadi bumbu pemanis yang tak usang. Dipenghujung pembenarannya, radikalisme ini juga tak ragu membumbui dengan iming-iming yang tak main-main bagi kaum muslim, surga. Dalam ajaran Islam, surga adalah imbalan yang setimpal bagi kebaikan-kebaikan tingkat tinggi.



Selain itu, radikalisme juga tumbuh dengan pemicu ketidakadilan yang merata disemua aspek kehidupan. Ketidakadilan sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Ketidakadilan yang nyata dan nampak itu, juga menimbulkan potensi radikalisme yang tak bisa ditampik. Radikalisme struktural yang ditampilkan dalam media-media dan pengetahuan barat yang mendiskreditkan Islam, seringkali juga menyulut radikalisme serupa. Kekerasan berbentuk struktural seperti itu, seakan malah meyakinkan kaum radikal, bahwa radikalisme harus dimanifestasikan dalam tindakan aktual. Ketidakadilan juga kita temui dalam arusutama pemberitaan tentang Islam. Dalam beberapa kasus penembakan mambabi buta di Amerika Serikat misalnya, jika pelaku adalah non-muslim. Acapkali akan dikatakan sebagai kriminal biasa, bahkan cenderung pelaku akan digambarkan mengalami gangguan kejiwaan, psikopat, introvert dan lain sebagainya. Namun jika pelakunya muslim, akan secara otomatis dikaitkan dengan faham keagamaannya. Bukan tak mungkin akan dikaitkan dengan jaringan Islam radikal dan kelompok Islam tertentu. Maka kekerasan yang timbul dari radikalisme Islam, cenderung adalah jawaban atas arogansi barat yang sedemikian rupa mengungkung dunia.



Ketegangan antar Islam dan barat yang Kristen, sebenarnya layak kita lacak dalam ajaran keduanya. Jika Kristen memiliki ajaran misionaris untuk menarik orang lain menjadi Kristen. Islam punya dakwah yang juga bertujuan sama. Keduanya pun sama-sama menegasikan, Kristen tak akan pernah menerima Islam. Pun begitu Islam, takkan pernah menerima Kristen. Namun, ditengah-tengah ketegangan itu, keduanya bahkan seluruh agama selalu saja mengajarkan kedamaian, kesejahteraan dan ketenangan bagi pemeluknya. Terutama Islam. Bagaimana mungkin, ajaran yang dibawa oleh seseorang yang melampaui zamannya dalam tatakrama dan kesantunan serta kesabaran, mengajarkan kekerasan. Islam pada waktu munculnya di jazirah Arab, juga mengalami apa yang dialami Islam hari ini. Bahkan Sayyiduna Muhammad  SAW, dihimpit dengan penindasan baik verbal maupun non-verbal.



Tak kurang cerita yang kita fahami dalam sejarah nabi SAW, beliau ditindih batu dan dilempari kotoran unta. Beliau dikejar-kejar dan berusaha dibunuh. Adapula pengikutnya yang disiksa bahkan dibunuh, cerita Sumayyah binti Khubbath, hamba sahaya perempuan yang dibunuh dengan keji memberikan gambaran jelas bagi kita, bagaimana terjalnya perjuangan Islam dimula kemunculannya. Islam dengan kemuliaannya memang menghadapi terjalnya ujian, bahkan sampai hari ini. Karena sesuatu yang mulia takkan pernah diraih dengan mudahnya. Namun pada saat itu, rasulullah SAW tak sekalipun meminta seseorang dari sahabatnya untuk masuk ke mekkah membawa pedang, membunuhi para kafir itu membabi buta dan agar mati syahid ditangan mereka.



Pertunjukkan kesholehan dan keagungan Islam, ditunjukkan dalam parade penaklukan Mekkah. Ketika Islam menjadi mayoritas, tak ada dendam yang disimpan atas perlakuan kaum kafir sebelumnya. Mereka yang pernah disiksa seperti Bilal, tak hendak diperintahkan untuk menuntut balas. Pun tak ada satupun kaum kafir yang disakiti, sepanjang tidak melakukan perlawanan. Gelombang kedatangan kaum Muslimin kala itu juga tak lantas membakar rumah, pohon dan menghancurkan tatanan sosial di Mekkah. Semua berjalan dengan lemah lembut. Hingga berduyun-duyunlah kaum kafir masuk Islam. Dan dengan kesadaran mereka sendiri, berhala-berhala sesembahan mereka, mereka hancurkan.



Menilik dari sejarah ini, kekerasan yang dilakukan beberapa orang dengan alasan kontra kekerasan adalah hal yang tak bisa diterima Islam. Penafsiran yang leksikal, skriptural dan jumud seperti ini mengakibatkan Islam jauh dari cita-citanya menjadi rahmat bagi alam. Tekanan dan penindasan barat yang berupa media dan pengetahuan, harus dihadapi dengan pola pikir sehat dan “waras”. Watak Islam dalam sejarah itu, dapat kita ketahui dengan jelas. Islam tak menjadi keras ketika dalam posisi minoritas, namun juga bukan ajaran yang lalim ketika menjadi mayoritas. Islam adalah ajaran yang toleran dan menghargai setinggi-tingginya kemanusiaan.



Serangan bom bunuh diri, jelas kehilangan makna intrinsik dan tujuan awalnya. Bagaimana mungkin, mereka berjuang untuk Islam jika ujungnya hanya untuk mati?. Padahal disisi lain, kita butuh kekuatan yang besar untuk memperjuangkan agama ini. Himpitan kekerasan barat, harusnya direspon sesuai zamannya. Peperangan terbesar abad ini, adalah perang pengetahuan dan teknologi. Penguasaan atas pengetahuan dan teknologi, mutlak diperlukan untuk menang. Menafsirkan jihad hari ini hanya dengan bom dan peluru, ibarat memakai unta dijalanan tol. Bukan hanya ketinggalan zaman, namun juga membahayakan orang lain dan diri sendiri. Perjuangan jihad, harus diarahkan dengan manhaj, metode dan thoriqoh yang benar.



Semakin kentara melencengnya jihad dalam term kaum radikal ini, manakala kita menilik bagaimana manifestasi gerakan mereka hari ini. Peledakan dan teror yang bukan saja menyasar barat, namun sudah secara acak mereka lakukan, bahkan untuk kaum muslim yang tak sepaham dengan mereka. Terbaru, bom Sarinah yang diledakkan guna menyasar aparat negara, yang juga seiman, dijalanan ramai yang juga dipenuhi oleh orang-orang seiman, adalah bukti kegagalan mereka memahami jihad. Bagaimana mungkin mereka menegakkan Islam dengan cara “menyakiti” umat Islam?.



Dalam al Qur’an, Islam menegaskan dengan kalimat gamblang. Bahwa membunuh seorang manusia, seakan-akan membunuh manusia seluruhnya. Lantas bagaimana mungkin kaum-kaum radikal, mampu menolak ayat al Qur;an dan membanding ini dengan ayat jihad yang ditafsirkan secara serampangan?.



Jelas, bahwa ketidakmampuan mereka membaca sejarah, ditambah dengan ideologi radikal yang bukan saja anti barat, namun sudah terjerumus pada anti-kritik dan anti perbedaan telah membawa mereka pada ideologi kekerasan yang dilabeli agama. Peledakan dinegeri muslim seperti Indonesia adalah contoh jelas, bahwa senyatanya mereka bukan lagi membela ajaran Islam. Radikalisme sudah berkembang jauh kearah politis. Penguasaan dan pendirian negara-negara yang mereka inginkan dengan selubung negara Islam. Ini sesungguhnya bukanlah jihad. Ini adalah kekeliruan penafsiran ajaran keagamaan yang berujung kekerasan semata. Imbas yang langsung dirasakan adalah peyorasi makna jihad, yang dulunya agung, kini identik dengan kekerasan semata.



Dus, kita tak harus terseret pada radikalisme Islam sebagaimana term media barat. Sebagaimapun juga kita tak usah mengikuti ajaran-ajaran kekerasan yang alih-alih menjaga marwah Islam, malah menyudutkan Islam. Kita harus memenangkan “perang” didunia modern dengan pengetahuan. Pesantren sebagai elan vital arusutama keberagamaan di Indonesia juga harus segera ambil peran strategisnya. Pesantren memiliki genealogi keilmuan yang jelas. Islam harus difahami dari sumber yang jelas agar penafsirannya tidak serampangan. Karena Islam yang benar harus kita fahami dan pelajari dari sumber utama yakni, Rasulullah, dengan transmisi yang dapat dipercaya yakni para ulama. Dan nyata, lihatlah bagaimana Nahdlatul Ulama misalnya, dengan transmisi keilmuan yang terpercaya, hari ini mampu menjaga citra Islam yang bukan hanya baik dan shalih, namun mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin.



Wallahu A’lam bi showab, wa ila Allah turjaul umuur…


(Pernah dimuat sebagai editorial dalam majalah Al Fikrah Pondok Pesantren Mambaus Sholihin edisi 89)

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...