Kenapa orang mau bunuh diri dengan cara meledakkan dirinya, serta melukai orang yang bahkan tak ia kenal perangainya?. Kenapa orang tega melakukan kekerasan dengan menembak membabi buta, padahal ia tak punya dendam atas korbannya?. Pertanyaan itu kerap menggelayut dibenak kita. Beberapa jawaban pun sering diberikan dari mulai pakar terorisme, sosiolog sampai psikolog sampai politisi. Tentu dengan perspektif dan analisa masing-masing. Namun apakah Islam adalah satu-satunya entitas yang harus dicurigai? Atau lebih dari itu, apakah Islam mengajarkan kekerasan serupa itu?
Dalam media-media mainstream, radikalisme
seringkali dikaitkan dengan Islam. Atas feonomena ini beberapa pihak yang
selalu berkutat dengan teori konspirasi selalu menjawab hal ini dengan jawaban
standar mereka. Bahwa semua berita radikalisme, terorisme dan sebangsanya
adalah konspirasi dari Amerika, Israel dan Zionis. Radikalisme sendiri dalam
arti asalnya adalah faham yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sosial
politik dengan cara kekerasan atau drastis.
Radikalisme dan fundamentalisme sering dikatakan
bersamaan untuk menyebut satu entitas, walau nyatanya memiliki arti yang
berbeda. Paska ledakan besar dua menara kembar WTC pada 11 September 2011 di
Amerika Serikat, bertambahlah lagi kata terorisme untuk menyebut
gerakan-gerakan radikal yang bermotif keagamaan. Semenjak Presiden George W.
Bush menabuh gendering perang, dan bertekad menumpas gerakan terorisme.
Radikalisme, fundamentalisme dan terorisme seakan menjadi identik, bahkan
cenderung menjadi sinonim.
Radikalisme dan fundamentalisme, adalah fenomena
keberagamaan yang ada dihampir semua agama. Bukan monopoli Islam an sich. Bisa kita sebut semua agama,
dan disana pasti ada fenomena radikalisme. Hindu misalnya, kita mengenal
gerakan Bajrang Dal atau Rashtriya Svayam Sevak (RSS), gerakan Hindu radikal
yang terkenal setelah membunuh Mahatma Gandhi. Disamping gerakan Sri Rama Sene
dan Tamil Eelam yang tak kalah radikal. Sedangkan di agama Budha kita mengenal
Ashin Wirathu, bikhu Budha radikal yang membakar dan mengusir minoritas Muslim
Rohingya di wilayah Rakhine, Myanmar. Disamping itu ada juga Sikh radikal di
India selatan, Yahudi Ultra Ortodoks yang juga radikal di Israel. Katolik
radikal yang dalam sejarahnya pernah melakukan pengejaran besar-besaran kepada
kaum protestan, karena dianggap kaum heresy, murtad. Pun tak kurang akan
ditemukan protestan radikal dikawasan Amerika dan Shinto radikal yang ada di
Jepang. Yang tak jarang melakukan kekerasan kepada sesama.
Islam radikal mengemuka, tentu akibat serangan
11/11 di Amerika yang kemudian menjadikan Islam identik dengan radikalisme dan
tentu, terorisme. Stereotip bahwa radikalisme identik dengan kekerasan dan
lebih spesifik bahwa Islam radikal adalah penyebab berbagai kerusakan dan teror
yang terjadi belakangan, kadung menjadi pakem. Seakan terorisme dan
fundamentalisme adalah domain dan wilayah Islam saja. Begitulah gambaran media
barat hari ini.
Kelompok-kelompok radikal dalam Islam menurut
penelitian Hamami Zada, selalu mempunyai setidaknya empat persamaan. Pertama, perjuangan penegakan ajaran
Islam yang kaffah. Yang juga setidaknya menurut penafsiran mereka termasuk
pendirian negara Islam, misalnya. Kedua,
mendasarkan faham dan praktek keberagamaan selayaknya zaman generasi salaf al salihin. Dengan segala wujud
dan persepktif mereka. Ketiga,
memusuhi negara-negara barat yang dianggap sebagai perwujudan setan besar dan
pasukan salibis. Serta keempat,
memusuhi para Islam liberal yang lebih dianggap sebagai agen salib, zionis,
penghianat dan musuh dalam selimut.
Penyebutan radikalisme dan fundamentalisme dalam
Islam juga bukan tanpa perdebatan. Problem penyebutan itu sudah sering dibahas
dan diulas. Fundamentalisme sendiri, sebenarnya berasal dari sejarah kristiani
di Inggris. Fundamentalisme merupakan kata dalam Inggris lampau yang
menggambarkan orang dengan corak pemikiran.bahwa Al Kitab harus ditafsirkan secara
harfiah disertai keyakinan bahwa tidak ada kesalahan sedikitpun. Serta keyakinan
siapa yang terlibat dalam gerakan Kristen modern, bukanlah Kristen sejati. Dan
karena itulah Robert N. Bellah dan William Lidle, lebih suka memakai istilah
skripturalisme. Merujuk pada pemahaman mereka yang skriptural dan literal.
Didalam Islam sendiri beberapa pihak menerima penyebutan radikalisme dan
fundamentalisme, namun tak kurang beberapa pihak menolak karena menganggap
penyebutan itu tak relevan. Diantara pihak yang menerima penyebutan itu ialah,
Fazlurrahman, Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid dan sebagainya. Walaupun
Fazlurrahman lebih cenderung memakai istilah revivalisme, untuk menandai
gerakan mereka yang cenderung kembali kepada ajaran lama. Sedangkan Riffat
Hassan, Hosein Nasr dan lain-lain menolaknya.
Dalam agama protestan sendiri, istilah
fundamentalisme sendiri lebih berkonotasi pada hinaan. Merujuk pada misonaris
dan penginjil yang skriptural, statis dan ekstrem. Fundamentalisme dalam
protestan merupakan “jawaban” atas munculnya gerakan-gerakan keagamaan yang
cenderung modern dan liberal yang melahirkan tafsir-tafsir pembaharuan yang
kontekstual. Gerakan ini lahir untuk melakukan perlawanan dalam kerangka
mempertahankan “kebenaran” tafsir yang tekstual guna membentengi pemikiran dari
pembaharuan.
Dalam Islam, istilah fundamentalisme juga
dipakai sebagai istilah media barat untuk melakukan propaganda hitam terhadap
gerakan-gerakan yang membahayakan dominasi barat. Fundamentalisme dan
ekstremisme pernah dilekatkan pada gerakan-gerakan tarekat di Indonesia ketika
memperjuangkan kemerdekaannya. Pun hal yang sama dilekatkan pada
gerakan-gerakan di Iran, ketika para Mullah bergerak untuk menggulingkan syah
Iran yang didukung oleh militer dan kekuatan barat.
Ketika gerakan Mullah yang hanya didukung rakyat
jelata minus militer berhasil menggulingkan kekuasaan rezim Syah Iran yang
didukung militer dan barat. Para Mullah yang semula dikenal sebagai ahli agama
saja, dalam sekejap dapat menggulingkan kekuasaan Syah yang kuat dan
menggantikan kekuasannya. Negara yang sebelumnya sekuler, menjadi negara yang
teo-demokratik. Ini membuktikan bahwa Islam bukan hanya ajaran agama yang
kokoh, namun mampu menjadi ikatan sosial yang dominan dan menjadi spirit
perubahan. Barat tersentak dan menyadari ancaman itu bernama Islam.
Labelisasi radikalisme Islam, sebenarnya juga
bisa dirunut sebagai upaya generalisasi Islam. Islam diidentikkan dengan
kekerasan, teror dan berbagai tindakan tak manusiawi lain. Ini tak lebih adalah
bentuk lain dari kegalauan barat atas berkembangnya Islam dimuka bumi. Islam dipilih
sebagai “musuh” bukan tanpa sebab. Karena Islam selain daya tahannya yang luar
biasa. Ajaran yang tumbuh dinegara yang tidak sama sekali memiliki peradaban
setinggi Mesopotamia maupun Byzantium, nyatanya mampu menjadi agama yang begitu
besar didunia. Bahkan mampu menaklukkan keduanya. Ini bukan hanya kilasan
sejarah, namun juga peringatan akan kebesaran sebuah agama atau ideologi.
Paska runtuhnya Uni Soviet dan sosialismenya serta
hanya tersisa China dan Korea Utara yang memegang erat sosialisme walaupun pada
prakteknya kadang mengadopsi perekonomian kapitalistik. Praktis hanya Islam,
yang tersisa sebagai kekuatan perimbangan barat dengan kapitalismenya. Islam
menyeruak menjadi kekuatan yang juga sudah dibayangkan sebelumnya. Adalah
Huntington yang jauh hari memperingatkan adanya tabrakan kebudayaan atau yang
diistilahkannya dengan class of
civilization. Tesis Samuel Huntington ini disusun, bukan hanya sebagai
sebuah peringatan ilmiah, tapi bisa dimaknai sebagai keresahan barat atas maju
dan berkembangnya Islam. Bayangkan saja bagaimana perkembangan Islam di Asia,
terutama Asia Tenggara dengan Indonesia dan Malaysia sebagai pionirnya. Belum
lagi perkembangan Islam didunia barat sendiri.
Tentulah hal tesebut tidak akan disambut dengan
gegap gempita tepuk tangan dan pelukan mesra. Barat dengan simbol Kristen
ditambah dengan modernitas, kapitalisme dan sekulerismenya. Tentu tidak akan
diam dan begitu saja pasrah tergusur. Hal ini pula yang dialami oleh Bikhu
Ashin Wirathu yang menganggap Islam sebagai ancaman. Bikhu ini mencontohkan
Indonesia, yah kenyataan bahwa Indonesia yang dulu menjadi pusat penyebaran
dan pengajaran Hindu-Budha, kini adalah negara Islam terbesar yang baginya
adalah gambaran yang perlu diwaspadai. Ini adalah gambaran, bahwa upaya barat,
Ashin dan radikalisme Islam, senyatanya punya motif yang sama. Mempertahankan
diri.
Islam dipandang sebagai satu-satunya ancaman
atas ideologi barat. Ideologi yang mampu bertahan dan bahkan sanggup menjadi
“musuh utama” barat. Islam sebagai agama bukan hanya bersifat esoterik dan
asketik, namun berkembang menjadi spirit sosial yang luar biasa. Bahkan spirit
revolusi, seperti gambaran revolusi Islam Iran, misalnya. Ia mampu bahkan
menjadi penggerak yang massif dan berhasil. Bahkan menjadi kekuatan pembebas,
pembebasan Afghanistan dari cengkeraman Rusia oleh kaum Muslim adalah bukti
nyatanya. Kemampuan Islam dalam bermetamorfosa dan beradaptasi bukan hanya
dengan locus yang berbeda-beda, namun
juga kekuatannya menghadapi modernisasi yang merupakan anak dari kapitalisme
dan materalisme. Merupakan alarm terbuka atas kecongkakan barat dengan klaim
kemajuan dan modernitasnya. Barat tersentak dan merasa terancam dengan kekuatan
Islam yang seakan semakin merangsek manakala barat sedang dalam upaya
mendiktekan dominasinya didunia.
Islam dan barat hari ini tentu sulit untuk
disatukan dalam bingkai yang indah. Barat dengan modernisme dan kapitalisme
melahirkan sekularisme, yang mengajarkan pemisahan hal-hal duniawi dan
keagamaan, akan bertentangan hebat dengan Islam. Yang bukan saja menjadi ajaran
keagamaan berbentuk ritus semata, ia adalah ajaran yang mumpuni dan menyeluruh
disemua aspek kehidupan. Bahkan dalam konsep ekonominya. Kapitalisme yang
melahirkan materialisme tentu tidak sejalan dengan konsep Islam yang
menghendaki keadilan sosial dalam ekonomi, walau tak sepenuhnya setuju dengan
komunisme. Namun, pertumbuhan Islam yang cukup siginifikan dibarat, justru
menggambarkan bagaimana Islam menjadi isu yang seksi dan menarik. Ajaran-ajarannya
yang dipandang asketik disatu sisi, namun mampu menjadi pengungkit perubahan sosial
disisi lain, adalah jawaban bagi sebagian manusia modern barat yang mengalami
kekeringan spiritual.
Keresahan itu kemudian dimanipulasi dengan
polesan-polesan indah yang penuh intrik. Dengan dalih menurunkan rezim yang
otoriter dan penyebaran demokrasi misalnya, barat telah memporakporandakan Irak
dan Afghanistan, disusul kemudian beberapa negara arab. Disinyalir arab spring dan beberapa kerusuhan di
Arab juga merupakan skenario besar negara-negara barat. Bosnia dan Chechnya
juga diperlakukan sama atas nama membela hak azasi manusia.
Kekerasan yang dilakukan oleh barat dengan
berbagai macam dalih, bisa disebut sebagai salah satu pemicu lahirnya
radikalisme Islam. Walaupun sebagai agama, seperti agama-agama lain. Potensi
dan fenomena radikalisme senyatanya ada sebelum
itu. Namun, radikalisme Islam kala itu sering hanya bersifat radikalisme
potensial, radikalisme yang berbentuk wacana. Dan menemukan momentumnya untuk
menjadi radikalisme yang bersifat aktual, manakala kaum-kaum radikal itu merasa
bahwa himpitan “imperialisme” barat sudah pada tahap “tidak bisa dimaafkan”.
Mereka merasa bahwa Islam sudah terancam oleh barat, bukan hanya melalui perang
ideologi seperti sebelumnya. Namun juga sudah pada tahapan harus membalas
“serupa atau lebih kejam” dari yang sudah dilakukan barat terhadap Islam.
Disinilah kita bisa merunut bagaimana kemunculan
radikalisme aktual Islam. Tindakan ini menemukan pembenaran dengan penjajahan-penjahan
atas Islam dengan kekerasan oleh barat. Maka tindakan mereka ini, dianggap
sebagai pembalasan, sebagai kontra kekerasan. Dan term yang mereka gunakan
adalah jihad, term yang dalam Islam dipandang sakral, suci dan penuh dengan
kemuliaan. Karena ini demi menjaga marwah Islam.
Radikalisme dan terorisme, memang acapkali
melandasi basis tindakannya dengan ayat-ayat jihad. Hal ini kemudian disusul
dengan pembenaran jihad, demi melawan thogut
barat yang telah menindas Islam. Penafsiran yang skriptural dan leksikal
ditambah dengan “dendam” atas penjajahan menjadikan “perang” ini bukan hanya
rumit, namun juga digemari oleh beberapa kalangan. Solidaritas Islam yang
bernama ukhuwwah menjadi bumbu pemanis yang tak usang. Dipenghujung
pembenarannya, radikalisme ini juga tak ragu membumbui dengan iming-iming yang
tak main-main bagi kaum muslim, surga. Dalam ajaran Islam, surga adalah imbalan
yang setimpal bagi kebaikan-kebaikan tingkat tinggi.
Selain itu, radikalisme juga tumbuh dengan
pemicu ketidakadilan yang merata disemua aspek kehidupan. Ketidakadilan sosial,
ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Ketidakadilan yang nyata dan nampak itu,
juga menimbulkan potensi radikalisme yang tak bisa ditampik. Radikalisme
struktural yang ditampilkan dalam media-media dan pengetahuan barat yang
mendiskreditkan Islam, seringkali juga menyulut radikalisme serupa. Kekerasan
berbentuk struktural seperti itu, seakan malah meyakinkan kaum radikal, bahwa
radikalisme harus dimanifestasikan dalam tindakan aktual. Ketidakadilan juga
kita temui dalam arusutama pemberitaan tentang Islam. Dalam beberapa kasus
penembakan mambabi buta di Amerika Serikat misalnya, jika pelaku adalah
non-muslim. Acapkali akan dikatakan sebagai kriminal biasa, bahkan cenderung
pelaku akan digambarkan mengalami gangguan kejiwaan, psikopat, introvert dan
lain sebagainya. Namun jika pelakunya muslim, akan secara otomatis dikaitkan
dengan faham keagamaannya. Bukan tak mungkin akan dikaitkan dengan jaringan
Islam radikal dan kelompok Islam tertentu. Maka kekerasan yang timbul dari
radikalisme Islam, cenderung adalah jawaban atas arogansi barat yang sedemikian
rupa mengungkung dunia.
Ketegangan antar Islam dan barat yang Kristen,
sebenarnya layak kita lacak dalam ajaran keduanya. Jika Kristen memiliki ajaran
misionaris untuk menarik orang lain menjadi Kristen. Islam punya dakwah yang
juga bertujuan sama. Keduanya pun sama-sama menegasikan, Kristen tak akan
pernah menerima Islam. Pun begitu Islam, takkan pernah menerima Kristen. Namun,
ditengah-tengah ketegangan itu, keduanya bahkan seluruh agama selalu saja
mengajarkan kedamaian, kesejahteraan dan ketenangan bagi pemeluknya. Terutama
Islam. Bagaimana mungkin, ajaran yang dibawa oleh seseorang yang melampaui
zamannya dalam tatakrama dan kesantunan serta kesabaran, mengajarkan kekerasan.
Islam pada waktu munculnya di jazirah Arab, juga mengalami apa yang dialami
Islam hari ini. Bahkan Sayyiduna Muhammad
SAW, dihimpit dengan penindasan baik verbal maupun non-verbal.
Tak kurang cerita yang kita fahami dalam sejarah
nabi SAW, beliau ditindih batu dan dilempari kotoran unta. Beliau dikejar-kejar
dan berusaha dibunuh. Adapula pengikutnya yang disiksa bahkan dibunuh, cerita
Sumayyah binti Khubbath, hamba sahaya perempuan yang dibunuh dengan keji memberikan
gambaran jelas bagi kita, bagaimana terjalnya perjuangan Islam dimula
kemunculannya. Islam dengan kemuliaannya memang menghadapi terjalnya ujian,
bahkan sampai hari ini. Karena sesuatu yang mulia takkan pernah diraih dengan
mudahnya. Namun pada saat itu, rasulullah SAW tak sekalipun meminta seseorang
dari sahabatnya untuk masuk ke mekkah membawa pedang, membunuhi para kafir itu
membabi buta dan agar mati syahid ditangan mereka.
Pertunjukkan kesholehan dan keagungan Islam,
ditunjukkan dalam parade penaklukan Mekkah. Ketika Islam menjadi mayoritas, tak
ada dendam yang disimpan atas perlakuan kaum kafir sebelumnya. Mereka yang
pernah disiksa seperti Bilal, tak hendak diperintahkan untuk menuntut balas.
Pun tak ada satupun kaum kafir yang disakiti, sepanjang tidak melakukan
perlawanan. Gelombang kedatangan kaum Muslimin kala itu juga tak lantas
membakar rumah, pohon dan menghancurkan tatanan sosial di Mekkah. Semua
berjalan dengan lemah lembut. Hingga berduyun-duyunlah kaum kafir masuk Islam.
Dan dengan kesadaran mereka sendiri, berhala-berhala sesembahan mereka, mereka
hancurkan.
Menilik dari sejarah ini, kekerasan yang
dilakukan beberapa orang dengan alasan kontra kekerasan adalah hal yang tak
bisa diterima Islam. Penafsiran yang leksikal, skriptural dan jumud seperti ini
mengakibatkan Islam jauh dari cita-citanya menjadi rahmat bagi alam. Tekanan
dan penindasan barat yang berupa media dan pengetahuan, harus dihadapi dengan
pola pikir sehat dan “waras”. Watak Islam dalam sejarah itu, dapat kita ketahui
dengan jelas. Islam tak menjadi keras ketika dalam posisi minoritas, namun juga
bukan ajaran yang lalim ketika menjadi mayoritas. Islam adalah ajaran yang
toleran dan menghargai setinggi-tingginya kemanusiaan.
Serangan bom bunuh diri, jelas kehilangan makna
intrinsik dan tujuan awalnya. Bagaimana mungkin, mereka berjuang untuk Islam
jika ujungnya hanya untuk mati?. Padahal disisi lain, kita butuh kekuatan yang
besar untuk memperjuangkan agama ini. Himpitan kekerasan barat, harusnya
direspon sesuai zamannya. Peperangan terbesar abad ini, adalah perang
pengetahuan dan teknologi. Penguasaan atas pengetahuan dan teknologi, mutlak
diperlukan untuk menang. Menafsirkan jihad hari ini hanya dengan bom dan
peluru, ibarat memakai unta dijalanan tol. Bukan hanya ketinggalan zaman, namun
juga membahayakan orang lain dan diri sendiri. Perjuangan jihad, harus
diarahkan dengan manhaj, metode dan thoriqoh yang benar.
Semakin kentara melencengnya jihad dalam term
kaum radikal ini, manakala kita menilik bagaimana manifestasi gerakan mereka
hari ini. Peledakan dan teror yang bukan saja menyasar barat, namun sudah
secara acak mereka lakukan, bahkan untuk kaum muslim yang tak sepaham dengan
mereka. Terbaru, bom Sarinah yang diledakkan guna menyasar aparat negara, yang
juga seiman, dijalanan ramai yang juga dipenuhi oleh orang-orang seiman, adalah
bukti kegagalan mereka memahami jihad. Bagaimana mungkin mereka menegakkan
Islam dengan cara “menyakiti” umat Islam?.
Dalam al Qur’an, Islam menegaskan dengan kalimat
gamblang. Bahwa membunuh seorang manusia, seakan-akan membunuh manusia
seluruhnya. Lantas bagaimana mungkin kaum-kaum radikal, mampu menolak ayat al
Qur;an dan membanding ini dengan ayat jihad yang ditafsirkan secara
serampangan?.
Jelas, bahwa ketidakmampuan mereka membaca
sejarah, ditambah dengan ideologi radikal yang bukan saja anti barat, namun
sudah terjerumus pada anti-kritik dan anti perbedaan telah membawa mereka pada ideologi
kekerasan yang dilabeli agama. Peledakan dinegeri muslim seperti Indonesia
adalah contoh jelas, bahwa senyatanya mereka bukan lagi membela ajaran Islam.
Radikalisme sudah berkembang jauh kearah politis. Penguasaan dan pendirian
negara-negara yang mereka inginkan dengan selubung negara Islam. Ini
sesungguhnya bukanlah jihad. Ini adalah kekeliruan penafsiran ajaran keagamaan
yang berujung kekerasan semata. Imbas yang langsung dirasakan adalah peyorasi
makna jihad, yang dulunya agung, kini identik dengan kekerasan semata.
Dus, kita tak
harus terseret pada radikalisme Islam sebagaimana term media barat. Sebagaimapun
juga kita tak usah mengikuti ajaran-ajaran kekerasan yang alih-alih menjaga
marwah Islam, malah menyudutkan Islam. Kita harus memenangkan “perang” didunia
modern dengan pengetahuan. Pesantren sebagai elan vital arusutama keberagamaan
di Indonesia juga harus segera ambil peran strategisnya. Pesantren memiliki
genealogi keilmuan yang jelas. Islam harus difahami dari sumber yang jelas agar
penafsirannya tidak serampangan. Karena Islam yang benar harus kita fahami dan
pelajari dari sumber utama yakni, Rasulullah, dengan transmisi yang dapat
dipercaya yakni para ulama. Dan nyata, lihatlah bagaimana Nahdlatul Ulama
misalnya, dengan transmisi keilmuan yang terpercaya, hari ini mampu menjaga
citra Islam yang bukan hanya baik dan shalih,
namun mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Wallahu A’lam bi showab, wa ila Allah turjaul umuur…
(Pernah dimuat sebagai editorial dalam majalah Al Fikrah Pondok Pesantren Mambaus Sholihin edisi 89)






0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...