Dimasa kecil kita, para guru kita setidaknya
mengajarkan kita. Bahwa puasa seperti yang kita lakukan seperti biasa di bulan
Ramadhan, adalah agar kita merasakan laparnya orang miskin. Tepatnya agar
sensitifitas sosial kita bertambah. Lalu, mengapa kaum miskin pun juga
berkewajiban berpuasa? Lapar siapa yang harus mereka rasakan? Sensitifitas
apalagi yang harus mereka asah?. Bukankah akan lebih sering kita temui justru
orang yang kaya, bergelimang harta melupakan puasa, dari para miskin yang
memang setiap hari terpaksa harus berpuasa?.
Beberapa pertanyaan diatas, setidaknya akan
sedikit mendekatkan kita pada hakikat perintah puasa. Adapun hadist yang sering
dikutip para khotib, bahwa kebanyakan orang yang berpuasa tak mendapatkan
apapun kecuali lapar dan haus juga akan menjadi penegas. Bahwa bukan hanya
persoalan lapar dan dahaga yang menjadi parameter keberhasilan puasa. Karena
sesungguhnya lapar dan dahaga itu hanya akibat tidak adanya asupan makanan dan
minuman ke dalam perut kita. Tak lebih dari itu.
Dalam kedalaman ibadah puasa, kita sesungguhnya
sedang menjalankan upaya sederhana untuk melatih kesiapan kita menerima dan
menjalankan kebenaran. Puasa sangat berbeda dengan ibadah ritual lain. Sholat,
zakat dan haji misalnya. Dalam sholat, semua gerakan kita akan mudah terpantau
oleh orang lain. Maka, tidaklah heran jika muncul istilah ahli ibadah dan orang
sholih, dari ukuran ibadah ini. Pun begitu zakat, seringkali memunculkan
stereotip dermawan dan kikir misalnya. Dari ukuran sering tidaknya seseorang
mengeluarkan zakat dan sodaqoh. Bahkan ibadah haji mempunyai panggilan untuk
orang yang telah melaksanakannya.
Puasa
mempunyai sisi yang sama sekali berbeda. Ia hanya ibadah yang dijalankan
berdasarkan kepasrahan dan keikhlasan. Ia hanya akan menjadi rahasia antara
Tuhan dengan hamba yang menjalankannya. Bukankah dengan jelas bahwa puasa itu
bukan hanya lapar dan dahaga sahaja?. Ia ibadah yang mensyaratkan adanya
penekanan pada nafsu keduniawian. Makanan dan minuman serta hasrat seksual
hanya sekian kecil diantaranya. Nafsu lain yang lebih munkar dari ketiga nafsu
tersebut diatas nyatanya masih lebih banyak menikam dan mengintai kita setiap
saat.
Nafsu berkuasa
misalnya. Seringkali menjebak kita pada usaha-usaha yang hitam pekat penuh
dengan dosa. Seringkali nafsu ini menjerumuskan kita pada sebuah usaha pintas.
Untuk itulah puasa tidak seperti sholat yang membutuhkan strata, imam dan
makmun. Semua dari kita diajari untuk menjadi imam bagi diri kita
masing-masing. Imam bagi diri kita agar jujur, toh seandainya kita tak berpuasa dan mengaku berpuasa, yang tahu
hanya kita dan Tuhan. Maka berpuasa melatih kita untuk sensitif dengan
kebenaran tindakan kita sendiri.
Jika kita
berposisi sebagai penguasa, maka dengan puasa kita harus meredam nafsu untuk
berbuat sewenang-wenang. Ingatlah bahwa kita punya kewajiban untuk
menyejahterakan rakyat kita. Kesewenangan kita harusnya tertahan oleh sebuah
perasaan ketawadhu’an. Toh walau
berkuasa, kita tak mampu meredam lapar dan dahaga hanya karena tidak adanya
asupan makanan dan minuman. Bukankah itu membuktikan bahwa sekuasa-kuasanya
kita, kita tak lebih hebat dari siapapun, karena nyatanya kita tak mampu
menaklukkan kebutuhan kita akan makanan dan minuman dan tan mampu bertahan dari
serangan lapar dan dahaga.
Pun juga dalam
berpuasa, kita akan diajari untuk sedikit meredam nafsu akan harta duniawi. Bagi
orang kaya, puasa merupakan ajang untuk melatih sensitifitas sosialnya. Meredam
sedikit “keserakahannya”, baik atas rezeki yang jelas-jelas halal. Apalagi
untuk hal-hal yang jelas haram. Memang sebagian kecil dari umat ini, ada yang
karena desakan keadaan, menjadi selalu permisif untuk memakan barang haram.
Tapi sejauh mana “desakan keadaan” tersebut menjadi pembenar yang sah untuk
melakukan hal itu juga menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan kejernihan
hati dan nurani. Pembesar dan penguasa yang masih memiliki modal untuk membuat
usaha memperkaya diri dengan hal yang halal, jelas takkan menemukan satu
jalanpun pembenar untuk memakan barang haram. Apalagi memakan hak orang miskin
dengan jalan apapun, atau dengan alasan apapun. Maka, puasa secara tegas
sebenarnya mengajari kita untuk tidak menjadi penguasa yang korup.
Selain dari
itu, kita juga diajarkan untuk menaruh empati kepada orang-orang yang setiap
hari harus berpuasa karena terpaksa oleh keadaan. Puasa meneguhkan kembali
ajaran untuk berbagi. Jika selama ini, kita selalu abai dengan ajaran untuk
berbagi, maka puasa sebenarnya hanya “alarm” pengingat bahwa kelaparan itu
seringkali dirasakan saudara-saudara kita yang kekurangan. Bukankah kita selalu
mempunyai alasan, jika mau berbagi dengan sesama. Bahkan jauh hari, Allah SWT
telah menyindir kita dengan firman suci di Q.S Yaasin ayat 47:
“Jika dikatakan kepada mereka, berbagilah
kamu atas rezeki yang diberikan Allah. Maka kaum yang kuffur itu berkata kepada
kaum yang beriman, apakah kami harus memberi makan kepada orang yang jika Allah
menghendaki memberi makan mereka, maka Dia akan memberi makan. Tiadalah kamu
melainkan dalam kesesatan yang nyata”.
Maka,
sesungguhnya berbagi itu adalah kebenaran yang nyata, sedang bertindak kikir
sama sekali kesesatan yang nyata. Pun begitu dengan tindakan korup dan
kebathilan lain, sesungguhnya sangatlah nyata. Seperti juga bertindak benar
adalah nyata, namun butuh keikhlasan untuk menerimanya sebagai kebenaran.
Setidaknya itu sedikit hikmah ibadah puasa, ibadah yang menjadi rahasia kita dan
Tuhan.
Muhammad
Asrori, tinggal di Asrori_gresik24@yahoo.co.id
(Pernah dimuat dalam Majalah Rato Ebhu PNPM MPd Sampang)
(Pernah dimuat dalam Majalah Rato Ebhu PNPM MPd Sampang)






0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...