top social

Minggu, 17 Juli 2016

Ikhlas Menerima Kebenaran

Tulisan ini terinspirasi dari perjalanan di sebuah desa. Sayup terdengar mulut-mulut mungil dari sebuah sekolah anak usia dini yang sedang belajar menghafal do’a yang akrab terdengar, “ Allahumma arina al haq, haq. Warzuqna ittiba’a. wa arina al bathil, bathil. Warzuqna ijtinaba”. Kurang lebih artinya: Ya Allah Tunjukilah kami yang benar, itu benar. Dan berikan petunjuk untuk mengikutinya. Dan tunjukilah yang salah, itu salah. Dan berikan kekuatan untuk menjauhinya".

Hasil gambar untuk kebenaranDo’a tersebut memang sederhana, bahkan bagi kita umat Islam, mungkin acapkali kita gaungkan. Sebuah do’a penuh kepasrahan, penerimaan akan kebenaran. Permohonan mulia kepada Yang Maha Agung akan sebuah lentera kebenaran dalam hidup yang semakin pekat dengan hitamnya lumpur “ketidak benaran”. Seperti itu pula acapkali kita dengan kepasrahan total dalam do’a yang larut, agar hidup kita selalu diberi petunjuk kebenaran dari Yang Maha Benar. Namun dibalik itu semua kita sesungguhnya mahluk yang penuh ironi. Memohon dengan khusyu’ dan tunduk kepala yang dalam. Namun seperti itu pula kita sering tidak siap ketika do’a tersebut dikabulkan. Kita lebih sering gamang untuk menerima kebenaran itu ketika datang dengan jelas didepan mata kita. Kita pasrah ketika ketidak benaran itu merenggut jiwa kita, mengalahkan kebenaran yang jelas didepan mata, seperti yang biasa kita pinta. Ironis!.
Dimasa kecil kita, para guru kita setidaknya mengajarkan kita. Bahwa puasa seperti yang kita lakukan seperti biasa di bulan Ramadhan, adalah agar kita merasakan laparnya orang miskin. Tepatnya agar sensitifitas sosial kita bertambah. Lalu, mengapa kaum miskin pun juga berkewajiban berpuasa? Lapar siapa yang harus mereka rasakan? Sensitifitas apalagi yang harus mereka asah?. Bukankah akan lebih sering kita temui justru orang yang kaya, bergelimang harta melupakan puasa, dari para miskin yang memang setiap hari terpaksa harus berpuasa?.
Beberapa pertanyaan diatas, setidaknya akan sedikit mendekatkan kita pada hakikat perintah puasa. Adapun hadist yang sering dikutip para khotib, bahwa kebanyakan orang yang berpuasa tak mendapatkan apapun kecuali lapar dan haus juga akan menjadi penegas. Bahwa bukan hanya persoalan lapar dan dahaga yang menjadi parameter keberhasilan puasa. Karena sesungguhnya lapar dan dahaga itu hanya akibat tidak adanya asupan makanan dan minuman ke dalam perut kita. Tak lebih dari itu.
Dalam kedalaman ibadah puasa, kita sesungguhnya sedang menjalankan upaya sederhana untuk melatih kesiapan kita menerima dan menjalankan kebenaran. Puasa sangat berbeda dengan ibadah ritual lain. Sholat, zakat dan haji misalnya. Dalam sholat, semua gerakan kita akan mudah terpantau oleh orang lain. Maka, tidaklah heran jika muncul istilah ahli ibadah dan orang sholih, dari ukuran ibadah ini. Pun begitu zakat, seringkali memunculkan stereotip dermawan dan kikir misalnya. Dari ukuran sering tidaknya seseorang mengeluarkan zakat dan sodaqoh. Bahkan ibadah haji mempunyai panggilan untuk orang yang telah melaksanakannya.
Puasa mempunyai sisi yang sama sekali berbeda. Ia hanya ibadah yang dijalankan berdasarkan kepasrahan dan keikhlasan. Ia hanya akan menjadi rahasia antara Tuhan dengan hamba yang menjalankannya. Bukankah dengan jelas bahwa puasa itu bukan hanya lapar dan dahaga sahaja?. Ia ibadah yang mensyaratkan adanya penekanan pada nafsu keduniawian. Makanan dan minuman serta hasrat seksual hanya sekian kecil diantaranya. Nafsu lain yang lebih munkar dari ketiga nafsu tersebut diatas nyatanya masih lebih banyak menikam dan mengintai kita setiap saat.
Nafsu berkuasa misalnya. Seringkali menjebak kita pada usaha-usaha yang hitam pekat penuh dengan dosa. Seringkali nafsu ini menjerumuskan kita pada sebuah usaha pintas. Untuk itulah puasa tidak seperti sholat yang membutuhkan strata, imam dan makmun. Semua dari kita diajari untuk menjadi imam bagi diri kita masing-masing. Imam bagi diri kita agar jujur, toh seandainya kita tak berpuasa dan mengaku berpuasa, yang tahu hanya kita dan Tuhan. Maka berpuasa melatih kita untuk sensitif dengan kebenaran tindakan kita sendiri.
Jika kita berposisi sebagai penguasa, maka dengan puasa kita harus meredam nafsu untuk berbuat sewenang-wenang. Ingatlah bahwa kita punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyat kita. Kesewenangan kita harusnya tertahan oleh sebuah perasaan ketawadhu’an. Toh walau berkuasa, kita tak mampu meredam lapar dan dahaga hanya karena tidak adanya asupan makanan dan minuman. Bukankah itu membuktikan bahwa sekuasa-kuasanya kita, kita tak lebih hebat dari siapapun, karena nyatanya kita tak mampu menaklukkan kebutuhan kita akan makanan dan minuman dan tan mampu bertahan dari serangan lapar dan dahaga.
Pun juga dalam berpuasa, kita akan diajari untuk sedikit meredam nafsu akan harta duniawi. Bagi orang kaya, puasa merupakan ajang untuk melatih sensitifitas sosialnya. Meredam sedikit “keserakahannya”, baik atas rezeki yang jelas-jelas halal. Apalagi untuk hal-hal yang jelas haram. Memang sebagian kecil dari umat ini, ada yang karena desakan keadaan, menjadi selalu permisif untuk memakan barang haram. Tapi sejauh mana “desakan keadaan” tersebut menjadi pembenar yang sah untuk melakukan hal itu juga menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan kejernihan hati dan nurani. Pembesar dan penguasa yang masih memiliki modal untuk membuat usaha memperkaya diri dengan hal yang halal, jelas takkan menemukan satu jalanpun pembenar untuk memakan barang haram. Apalagi memakan hak orang miskin dengan jalan apapun, atau dengan alasan apapun. Maka, puasa secara tegas sebenarnya mengajari kita untuk tidak menjadi penguasa yang korup.
Selain dari itu, kita juga diajarkan untuk menaruh empati kepada orang-orang yang setiap hari harus berpuasa karena terpaksa oleh keadaan. Puasa meneguhkan kembali ajaran untuk berbagi. Jika selama ini, kita selalu abai dengan ajaran untuk berbagi, maka puasa sebenarnya hanya “alarm” pengingat bahwa kelaparan itu seringkali dirasakan saudara-saudara kita yang kekurangan. Bukankah kita selalu mempunyai alasan, jika mau berbagi dengan sesama. Bahkan jauh hari, Allah SWT telah menyindir kita dengan firman suci di Q.S Yaasin ayat 47:
Jika dikatakan kepada mereka, berbagilah kamu atas rezeki yang diberikan Allah. Maka kaum yang kuffur itu berkata kepada kaum yang beriman, apakah kami harus memberi makan kepada orang yang jika Allah menghendaki memberi makan mereka, maka Dia akan memberi makan. Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.
Maka, sesungguhnya berbagi itu adalah kebenaran yang nyata, sedang bertindak kikir sama sekali kesesatan yang nyata. Pun begitu dengan tindakan korup dan kebathilan lain, sesungguhnya sangatlah nyata. Seperti juga bertindak benar adalah nyata, namun butuh keikhlasan untuk menerimanya sebagai kebenaran. Setidaknya itu sedikit hikmah ibadah puasa, ibadah yang menjadi rahasia kita dan Tuhan.
Muhammad Asrori, tinggal di Asrori_gresik24@yahoo.co.id

(Pernah dimuat dalam Majalah Rato Ebhu PNPM MPd Sampang)

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...