Percakapan ini terjadi, antara tiga orang pedagang kakilima. Penjual es buah, penjual pentol dan penjual batagor. Benar-benar nyata terjadi diperempatan pasar baru Lamongan ketika mengantri membeli es buah. Sekedar untuk melepas lelah ketika maghrib tiba. Percakapan biasa, senda gurau yang nyatanya mampu menggelitik saya, pendengar mereka.
Perkataan penjual es buah inilah yang menggelitik. Pembicaraan
secuil tentang selera itu nyatanya benar adanya. Selama ini kita mungkin sulit
menempatkan selera sebagaimana mestinya. Karena kadang locus dan tempus kita,
terutama ego dan gengsi kita, menggiring pada satu selera yang sama. Hal itu
terutama dipicu oleh perkembangan teknologi dan media, media social utamanya.
Media sosial dan teknologi yang berkembang pesat, acap
membawa dan memaksa kita untuk menjadi satu selera. Yang ada dipelosok
Lamongan, Gresik harus melihat dan takluk pada selera mereka yang duduk di
pojok seven eleven di Jakarta. Atau yang berada jauh di penjuru pulau Seram, Ambon
dan Bintan harus mengekor pada selera kaum urban Jakarta. Setidaknya untuk
disebut gaul, kekinian dan update. Demam
ini terutama mengganyang kaum muda kita, kaum yang paling aktif dalam dunia
media sosial.
Selera yang menjadi
satu ini, setidaknya menggambarkan jelas bahwa soal selera juga menentukan
siapa pemenang dan siapa yang kalah. Dalam perang symbol, semua ini bisa
menjadi ukuran. Gilanya, masyarakat kita sering menjadi pihak yang “kalah”. Gagapnya
kita mengekor pada selera barat, dalam hal pakaian, gaya hidup dan terutama cara
berfikir adalah bukti telak “kekalahan” kita.
Dipihak lain selera kita yang berubah seiring berubahnya
zaman, kita juga harus mengetahui bahwa persoalan kebenaran dilain pihak adalah
persoalan penafsiran yang kemudian bisa disesuaikan dengan selera. Dalam banyak
kasus kita selalu menafsirkan sesuatu sesuai selera. Selera itu dalam banyak
hal mempengaruhi secara mendalam hasil pandangan kita. Memandang Archandra
Tahar yang berpaspor Amerika Serikat itu, yang secara mendadak diangkat menjadi
menteri dan mendadak pula diberhentikan, hingga mencetak rekor menteri dengan
masa tugas terpendek. Kita akan terpecah pada bagaimana selera dibawa. Lepas dari
peraturan yang ada, ada yang mengatakan bahwa Archandra adalah putera negeri
yang ingin ikut memajukan negeri. Dilain pihak tak sedikit yang mengatakan, bagaimana
mungkin orang yang berpaspor Amerika Serikat menjadi menteri di tanah air?.
Kita kemudian sebagaimana biasa, akan menggoreng masalah ini
menjadi sekian berita, sekian isu, sekian masalah, dan sekian analisa. Tak luput
selera kita. Bagi sebagian orang masalah ini terlalu simple. Bagaimana mungkin
anak negeri yang ingin berpartisipasi membangun negerinya kita persoalkan?. Namun
bagi sebagian yang lain, pendapat ini terlalu naïf. Manalah mungkin orang yang
berpaspor Amerika Serikat tahu tentang nasionalisme? Ini jelas ada hidden agenda dan penyusupan tingkat tinggi. Bagi kalangan ini, dunia
tidak seperti nampak diluarnya. Semua jelas ada agendanya, ada strateginya. Dan
dunia tidak “sejujur” kelihatannya. Apalah itu “klaim cinta tanah air” bagi mentu
ereka yang sudah menyerahkan identitasnya pada negara seberang?.
Dunia memang tidak “sejujur” penampakannya. Namun juga tidak
sepicik pikiran kita. Kita acap menjadi cermin ketika menghadapi liyan. Kita anggap
orang jelas tidak jujur dalam klaimnya, karena kita terbiasa begitu. Kita tidak
sehalus dan seperti kelihatannya, karena kita memang seperti itu. Dunia memang tidak sederhana, namun terlalu
rumit juga kita membuat rumit hidup yang sudah sedemikian ruwetnya ini. Kadang kita
perlu menengok selera kita, dan selera orang lain secara pas.
Bangsa ini sudah menjadi bangsa hoax, banyak informasi yang
tak pasti. Bahkan sudah menjadi bangsa petasan, selalu gaduh, mudah tersulut dan
lambat laun menghancurkan diri sendiri.
Selera, bisa jadi berpengaruh pada sudut pandang
kita tentang kebenaran yang subyektif. Maka, seharusnya hukum menjadi panglima.
Karena kita senyatanya hanya dapat menghakimi yang nampak. Dan takkan ada satupun
makanan yang dapat memuaskan selera semua orang.






semoga menjadi sesuatu yang bermanfaat
BalasHapus