top social

Rabu, 17 Agustus 2016

Selera Kebenaran

Percakapan ini terjadi, antara tiga orang pedagang kakilima. Penjual es buah, penjual pentol dan penjual batagor. Benar-benar nyata terjadi diperempatan pasar baru Lamongan ketika mengantri membeli es buah. Sekedar untuk melepas lelah ketika maghrib tiba. Percakapan biasa, senda gurau yang nyatanya mampu menggelitik saya, pendengar mereka.


Hasil gambar untuk selera kebenaranSi penjual pentol, sepeninggal penjual batagor mengatakan dengan nyinyir tentang penjual batagor yang lebih memilih istri yang tak begitu cantik, padahal pacar terdahulunya selalu cantik jelita. Dengan bijak penjual buah berkata, “Itulah yang dinamakan dengan selera”. “Selera masing-masing orang jelas berbeda, dan karena berbeda itulah manusia jadi bisa hidup dengan tenteram. Karena kalau semua seleranya sama maka akan terjadi kekacauan karena mereka berebut hal yang sama,”lanjutnya. 
Perkataan penjual es buah inilah yang menggelitik. Pembicaraan secuil tentang selera itu nyatanya benar adanya. Selama ini kita mungkin sulit menempatkan selera sebagaimana mestinya. Karena kadang locus dan tempus kita, terutama ego dan gengsi kita, menggiring pada satu selera yang sama. Hal itu terutama dipicu oleh perkembangan teknologi dan media, media social utamanya.
Media sosial dan teknologi yang berkembang pesat, acap membawa dan memaksa kita untuk menjadi satu selera. Yang ada dipelosok Lamongan, Gresik harus melihat dan takluk pada selera mereka yang duduk di pojok seven eleven di Jakarta. Atau yang berada jauh di penjuru pulau Seram, Ambon dan Bintan harus mengekor pada selera kaum urban Jakarta. Setidaknya untuk disebut gaul, kekinian dan update. Demam ini terutama mengganyang kaum muda kita, kaum yang paling aktif dalam dunia media sosial. 
 Selera yang menjadi satu ini, setidaknya menggambarkan jelas bahwa soal selera juga menentukan siapa pemenang dan siapa yang kalah. Dalam perang symbol, semua ini bisa menjadi ukuran. Gilanya, masyarakat kita sering menjadi pihak yang “kalah”. Gagapnya kita mengekor pada selera barat, dalam hal pakaian, gaya hidup dan terutama cara berfikir adalah bukti telak “kekalahan” kita.
Dipihak lain selera kita yang berubah seiring berubahnya zaman, kita juga harus mengetahui bahwa persoalan kebenaran dilain pihak adalah persoalan penafsiran yang kemudian bisa disesuaikan dengan selera. Dalam banyak kasus kita selalu menafsirkan sesuatu sesuai selera. Selera itu dalam banyak hal mempengaruhi secara mendalam hasil pandangan kita. Memandang Archandra Tahar yang berpaspor Amerika Serikat itu, yang secara mendadak diangkat menjadi menteri dan mendadak pula diberhentikan, hingga mencetak rekor menteri dengan masa tugas terpendek. Kita akan terpecah pada bagaimana selera dibawa. Lepas dari peraturan yang ada, ada yang mengatakan bahwa Archandra adalah putera negeri yang ingin ikut memajukan negeri. Dilain pihak tak sedikit yang mengatakan, bagaimana mungkin orang yang berpaspor Amerika Serikat menjadi menteri di tanah air?.
Kita kemudian sebagaimana biasa, akan menggoreng masalah ini menjadi sekian berita, sekian isu, sekian masalah, dan sekian analisa. Tak luput selera kita. Bagi sebagian orang masalah ini terlalu simple. Bagaimana mungkin anak negeri yang ingin berpartisipasi membangun negerinya kita persoalkan?. Namun bagi sebagian yang lain, pendapat ini terlalu naïf. Manalah mungkin orang yang berpaspor Amerika Serikat tahu tentang nasionalisme? Ini jelas ada hidden agenda dan penyusupan tingkat tinggi. Bagi kalangan ini, dunia tidak seperti nampak diluarnya. Semua jelas ada agendanya, ada strateginya. Dan dunia tidak “sejujur” kelihatannya. Apalah itu “klaim cinta tanah air” bagi mentu ereka yang sudah menyerahkan identitasnya pada negara seberang?.
Dunia memang tidak “sejujur” penampakannya. Namun juga tidak sepicik pikiran kita. Kita acap menjadi cermin ketika menghadapi liyan. Kita anggap orang jelas tidak jujur dalam klaimnya, karena kita terbiasa begitu. Kita tidak sehalus dan seperti kelihatannya, karena kita memang seperti itu.  Dunia memang tidak sederhana, namun terlalu rumit juga kita membuat rumit hidup yang sudah sedemikian ruwetnya ini. Kadang kita perlu menengok selera kita, dan selera orang lain secara pas.
Bangsa ini sudah menjadi bangsa hoax, banyak informasi yang tak pasti. Bahkan sudah menjadi bangsa petasan, selalu gaduh, mudah tersulut dan lambat laun menghancurkan diri sendiri.
Selera, bisa jadi berpengaruh pada sudut pandang kita tentang kebenaran yang subyektif. Maka, seharusnya hukum menjadi panglima. Karena kita senyatanya hanya dapat menghakimi yang nampak. Dan takkan ada satupun makanan yang dapat memuaskan selera semua orang.

1 komentar:

Harap berkomentar demi perbaikan...