top social

Rabu, 28 Desember 2016

Islam Telolet?

Dahulu sekali, hidup seseorang yang entah bermimpi apa, saat semua pihak ingin memupuk harta dengan segala cara, memperbanyak budak sebagai bukti kekuasaannya. Alih-alih mengikuti, ia mempunyai cita-cita kesejahteraan bersama, kesetaraan sosial dan menghapus perbudakan. Ia orang besar, mempunyai visi yang luar biasa. Dari itu semua, maka ia dikenal dan disebut namanya hingga kini. Ia diagungkan, namanya disebut dengan penuh takdzim. Ia adalah Muhammad anak dari Abdullah, seorang pemuda tampan berwibawa dari kabilah Arab termulia, Quraisy.


Visi yang mulia itu, dikemudian hari dikenal dan disebt sebagai Islam. Salah satu agama besar didunia, agama mulia yang terus berkembang, walau penuh himpitan. Termasuk himpitan yang datang dari internal sendiri.

Islam, mengajarkan keramahan yang sult diperoleh dari agama-agama sejenisnya terdahulu. Ia sebagaimana namanya, bermakna keselamatan, kedamaian. Dan dari itu juga lahirlah ajaran-ajaran yang mulia.

Ia setiap hari menyuapi seorang buta Yahudi dengan roti yang dihaluskannya dahulu. Karena si buta tersebut sudah cukup tua, tak cukup mempunyai gigi yang kuat mengunyah roti gandum yang keras. Padahal dibalik itu, pada saat yang sama, si tua buta sedang mengumpat namanya sebagai penyihir, penipu, dan berbagai cemoohan dan olokan. Maklum, si buta tak tahu yang dicemooh adalah yang sedang menyapinya. Muhammad, makhluk mulia itu maklum. Karena si buta, mungkin banyak mendapat berita dari kabar burung yang ia sendiri sulit memverfikasinya, karena keterbatasannya.

Namun tak lantas Sang Nabi Agung anggap bahwa karena si buta mengoloknya penyihir, maka ia menghina visinya sebagai sihir. Karena si buta menyatakan ia penipu, maka tak lantas mengasosiasikan, bahwa ajarannya adalah tipuan. Dan tak lantas ia marah. Ia santun, ia memang kabar gembira, ia memang rahmat.

Islam adalah ajaran yang menghibur. Bagaimana tidak?. Ia menghibur anak-anak yatim, karena sesiapa mengasihi anak yatim, akan berdekatan dengan Sang Nabi kelak di akhirat. Islam adalah kabar gembira, karena ia menggembirakan bahwa harta sang kaya, tak cukup dinikmati sendiri. Harta tersebut itu harus menjadi kegembiraan pada sang miskin. Itulah zakat. Islam adalah gembira yang menghibur, bagi mereka yang tertindas. Bagi para budak, para janda miskin, para fakir miskin. Dan para mustadhafin yang butuh uluran tangan. Islam rela dengan ikhlas mengulurkan tangan sebagai agama kedamaian dan keselamatan.

Namun, coba kita lihat bagaimana mereka yang mengaku mengamalkan visi dan ajaran mulia Nabi Muhammad SAW hari ini. Mereka menjadikan agama ini begitu menakutkan, penuh dengan kemarahan dan teror. Atas dalih agama, guna meluruskan mereka yang dipandang melenceng dari visi agung, kekerasan dilegalkan. Hingga karena mereka anggap begitu pentingnya menegakkan visi suci ini, sampai-sampai membunuh sesama legal adanya. Agama ini lantas mendapat julukan agama teroris. Diluar bahwa itu adalah skenario barat yang ambigu itu, namun perbuatan beberapa oknum yang memperjuangkan “legalitas” Islam juga seakan menegaskan justifikasi atas stereotip itu.

Ada perkembangan apapun didunia, yang muncul adalah anak muda kemarin sore, yang baru belajar visi suci ini dan kemudian menunjukkan telunjuknya pada siapapun dengan kalimat khas, “Ini kafir, ini syirik, ini bid’ah, ini bukan Islam”. Sehingga sering orang harus mengkernyitkan dahi dengan ulah mereka. Dengan agak berseloroh kadang orang bertanya, “Sejak kapan Tuhan mengirimkan wasit bagi amalan-amalan agama ini?.” Sehingga mereka bisa dengan leluasa menghakimi yang lain kafir, bid’ah dan sesat.

Setelah muncul berjilid-jilid aksi pembelaan Islam yang luar biasa menggetarkan dunia itu. Hanya karena salah satu pembesar negeri ini, kurang bisa “mengerem” mulutnya. Fenomena Islam Indonesia kembali dikejutkan dengan fenomena-fenomena baru. Munculnya fenomena baru,”Om telolet om.” Fenomena ini adalah fenomena, dimana anak-anak kecil meminta sopir bus atau kendaraan lain yang berbunyi khas, telolet. Dan ketika klakson tersebut berbunyi, lantas terdengarlah gelak tawa dan senda gurau mereka. Hiburan yang murah meriah. Ditengah kegalauan ekonomi dan karut marut politik negeri ini.

Bukan luput dari kritikan para islamis pedas itu, kata Om, kemudian diasosiasikan sebagai mantra pemanggil dewa, Om swastiasthu. Mantra pemanggil dewa khas Hindu. Telolet dikatakan sebagai Bahasa Swahili, yang berarti Aku Yahudi. Dus, akhirnya mereka anggap Om telolet Om adalah upaya Hinduisasi dan Yahudinisasi.


Bagi penganut Islam bersumbu pendek, hal ini lantas menjadi broadcast tak beraturan. Dengan niat jihad, melawan Yahudinisasi dan Hiduisasi. Padahal jelas mereka setiap hari memanggil adik dari ayah dan ibunya om. Lantas apakah saudara ibu dan bapaknya adalah dewa sehingga dipanggil om? Ataukah untuk tetap menjaga akidah, kita harus memanggil ami, amati, kholiy dan berbagai panggilan khas Arab?. Disisi yang lain, alih-alih paham dan tahu bahasa Swahili, mereka saja kadang tak tahu Swahili berada dibenua mana? Afrikakah, Eropakah atau Asiakah?. Swahili juga tak begitu terkenal, tak lebih terkenal dari kata swadaya dan swasta. Lantas bagaimana cara mereka percaya. Jawaban sederhananya kadang menggelikan, karena mereka lebih sering baca media sosial daripada al Qur’an. Mereka lebih sering mengaji kepada Google, daripada kepada kyai yang jelas sanad keilmuannya. Mereka lebih sering mempelajari Facebook daripada kitab-kitab tafsir dan hadits. Dan pada saat itu, mereka juga anggap Islam-nyalah yang paling benar.

Lalu kenapa sanad kelimuan perlu?. Karena dalam memperlajari Islam, kita harus mempunyai transmisi keilmuan yang jelas. Karena tak cukup hanya mengaji kitab-kitab, banyak penjelasan yang tak akan tersampaikan hanya dalam kitab. Dan terlebih Islam bukan penemuan, bukan barang baru yang dapat kita cari penafsirannya. Islam adalah visi besar yang dibawa Rasulullah. Jangan selalu mengatakan sunnah Nabi, berslogan kembali pada al Qur’an dan Hadist, namun justru sebenarnya sedang mengadakan penemuan terbaru. Karena tak ada transmisi yang cukup kredible sampai pada Rasulullah SAW.


Terlepas dari semua itu, hari ini kita butuh Islam yang meghibur, yang peduli dan menggembirakan. Yang peduli pada perjuangan petani miskin di Gunung Kendeng di Rembang. Islam yang peduli pada kelestarian alam Papua di Tembagapura Freeport. Islam yang berani bersuara untuk bukit Tumpang. Islam-islam yang menggembirakan bagi para yatim, janda miskin dan fakir miskin walaupun dengan cara yang paling sederhana. Apakah itu Islam Telolet?.


Wallahu A’lam, Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thorieq

Mengaji Pikachu; Monster Pengikat Hati

Bagaimana menceritakan keterpautan dan kelindan manusia, teknologi, kemajuan, peradaban dan nilai?. Apakah manusia mengembangkan teknologi dan peradaban, atau sebaliknya. Teknologi dan perdabankah yang mengembangkan manusia?. Teknologikah yang mengembangkan peradaban, ataukah sebaliknya. Atau duanya adalah sebutan yang berbeda untuk satu entitas yang sama?. Apakah kemajuan itu diciptakan manusia, ataukah diukur dari teknologi dan peradaban?. Lantas bagaimana dengan nilai?. Ia ikut bergerak dengan kemajuan teknologi dan peradaban, ataukah ia merupakan hal yang intrinsik terkandung dalam diri manusia, hingga ia tak berubah.

Nyatanya, deretan-deretan pertanyaan itu seakan terlalu serius atau terlalu picisan untuk dibahas. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu juga perlu penjabaran-penjabaran yang bagi manusia zaman modern seperti sekarang (yang cenderung praktis), merupakan bualan-bualan bak dongeng. Yah, nilai adalah hal absurd yang hanya akan dibahas oleh para agamawan, rohaniawan dan (mungkin) pendidik dan cendekia. Perkembangan teknologi dan peradabankah yang menyebabkan demikian?.

Baiknya jawaban-jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan itu dikesampingkan dahulu. Marilah kita selami realitas kehidupan kekinian yang bukan hanya akan membelalakkan mata, namun setidaknya membukakan kesadaran kita akan sebuah realitas.

Dimulai dari bagaimana kita temukan menjamurnya game-game online yang hari ini dinikmati para generasi penerus kita. Game-game online itu semakin susah dibendung lajunya. Ketika dahulu game online banyak dinikmati oleh penggemarnya melalui warung-warung internet (warnet) atau PC (personal computer) dan laptop dirumah, hari ini game online malah merambah ke gawai (baca: handphone atau gadget) masing-masing individu.

Efeknya jelas sekali, acap kita temui di setiap kesempatan, orang dengan khusyuknya memainkan permainan di perangkat gawai masing-masing. Seakan terasing dan acuh dengan lingkungannya. Ketika dahulu warung kopi menjadi tempat bercengkerama, merajut ikatan sosial dan sebagai media interaksi masyarakat antar semua lapisan. Hari ini semua itu bergeser dengan pasti. Memanfaatkan jaringan wifi (wireless fidelity) dan internet gratis, semua orang menjadi “seakan” anti sosial. Bahkan, interaksi antar mereka pun terbangun dengan semu. Hingga dengan kawan yang bersanding, alih-alih bertegur sapa dalam gurau, mereka hanya akan bertegur sapa di media sosial, seakan mereka berjauhan.

Harapan dahulu, bahwa teknologi adalah media mendekatkan yang jauh dan mempunyai efek menjadi media silaturrahim, hari ini patut disangsikan dan dipertanyakan kembali. Perkembangan alat komunikasi seperti gawai atau ponsel pintar (smartphone) dan media sosial, acap malah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Terbaru, dunia online ditambah dengan permainan-permainan virtual, yang bukan hanya menantang, namun juga menjadi gaya hidup pada akhirnya.

Teknologi telah hadir dan meruyak dalam kehidupan setiap manusia modern. Yah, manusia modern, sebuah terma yang hadir untuk menggambarkan manusia yang “dipenuhi” dengan kemajuan teknologi. Maka permainan untuk sekelas anak kecil pun berevolusi, jikalau dahulu anak-anak akrab dengan permainan semacam gobak sodor, petak umpet dan sejenisnya. Bisa dipastikan hari ini sebagian besar anak-anak kecil kita asing dengan nama-nama permainan tersebut. Mereka akan lebih akrab dengan permainan-permainan virtual didunia daring.

Pelbagai ragam permainan tersuguh dalam permainan virtual didunia daring, dari permainan yang mengasah ketrampilan berbahasa, sampai pada permainan yang menjurus pada ajaran kekerasan. Ragam permainan yang demikian variatif ini selain sebagian bisa menjadi sangat bermanfaat dalam pembelajaran, dapat juga menjadi virus yang mengajarkan anak pada pola pikir yang dekat dengan kekerasan dan keburukan lain. Seperti permainan-permainan yang mensyaratkan pada peperangan dan sejenisnya. Tak kurang permainan itu menampilkan pertumpahan darah dengan dalih permainan strategi. Maka kecerdasan dan kecermatan serta perhatian orang tua, pendidik serta beberapa pihak yang concern pada masa depan pendidikan serta generasi muda, mutlak diperlukan.

Jikalau dahulu kita mewaspadai perjudian berkedok permainan seperti dingdong dan sejenisnya, hari ini perkembangan hal serupa berkembang semakin canggih dan lebih sulit dikendalikan serta diawasi. Perjudian didunia daring seperti judi bola, jelas telah menggejala dengan hebatnya, walau penegakan hukum terus dikebut untuk memberantasnya. Namun, seperti kebanyakan kejahatan lainnya, perjudian semacam ini selalu mencari celah hukum dan berevolusi dengan cerdiknya.

Bagi generasi tahun 90-an permainan canggih yang pernah dimainkan mungkin hanya gameboard, itupun harus sewa karena terbilang mahal, dan tentu dimainkan bergantian. Pada era ini dikenal permainan paling populer, tetris. Setidaknya ketika kita merunut sejarah game pada 1952 ketika A. S Douglas dari University of Cambridge menciptakan game Tic Tac Toe yang diprogram pada komputer EDSAC vacuum-tube dengan layar CRT (Cathode Ray Tube). Sebelumnya pada 1940-an permainan video game diciptakan dari tabung sinar katoda berbasis pertahanan peluru kendali. Permainan sederhana ini diciptakan oleh Thomas T. Goldsmith Jr dan Estle Ray Mann. Game-game sederhana ini kemudian diadaptasi pada permainan-permainan lainnya.  Pada tahun-tahun ini belum dikenal game konsol, hanya dikenal video game. Yakni permainan elektronik yang menampilkan gambar bergerak.

Pada 1958,ahli Fisika William Higinbotham menciptakan game Tennis For Two, yang menggunakan osiloskop. Game ini diciptakan dengan mengambil view disamping meja tenis, yang juga disetting seakan bola tenis terpengaruh oleh gaya gravitasi dan harus melewati net. Pada tahun 1961, Steve Russel seorang siswa MIT, merilis sebuah game berjudul Spacewar. Terinspirasi dari karya fiksi ilmiah karangan Edward E Smith berjudul Skylark. Game ini dibuat dengan memanfaatkan komputer mainframe MIT PDP-1 yang biasa dipakainya untuk perhitungan statistika. Diciptakan dari komputer, yang tentu merupakan barang langka nan mahal dimasanya, Steve berhasil membuat game interaktif pertama.  Pada 1966-an game juga berkembang lebih jauh, ketika banyak mahasiswa memanfaatkan fasilitas dikampusnya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan beberapa game.

Pada tahun 1971, Nolan Bushnell dan Ted Dabney membuat game Spacewar versi Arcade berjudul Computer Space. Pada era pertama game ini, sebuah perusahaan bernama Magnavox meluncurkan game pertama, Odyssey. Tepatnya pada 1972, Magnavox berhasil mengembangkan game ini sebagai game rumahan yang dapat dihubungkan dengan televisi.  Yang tak lama setelah itu disusul munculnya permainan game Arcade legendaris Atari, perusahaan yang didirikan oleh Bushnell dan Dabney.

Atari mengembangkan game legendaris berjudul Pong. Game ini bertema permainan tenis. Atari merilis permainan Pong dalam alat permainan ding dong bernama Sears. Magnavox 1975 berhenti memproduksi Odyssey karena berhasil menemukan mikroprosesor berbasis konsol game. Mereka berganti memproduksi Odyssey 100, game konsol yang khusus menyajikan game Pong.

Generasi kedua dunia game, dikenal sebagai era 8 bit atau lebih kurang 4 bit. Generasi ini berjalan sekira tahun 1976 sampai 1983. Primadona game konsol pada era ini adalah Atari dengan berbagai varian produknya. Muncul pula Fairchild, perusahaan yang berusaha menghidupkan kembali dunia game. Karya yang diluncurkan adalah VES (Video Entertainment System). Beberapa game yang diproduksi dan menjadi primadona pada era ini diantaranya adalah, Fairchild Channel F, Magnavox Odyssey versi 2, Atari 2600 dan Atari 5200. Fairchild dengan VES-nyalah yang memperkenalkan game dengan kaset magnetik yang disebut dengan kartrid (cartride), yang kemudian disebut sebagai game konsol. Yang kemudian diikuti oleh beberapa produsen game lainnya.

Pada tahun 1980 banyak muncul berbagai produsen game yang menjadikan Atari 2600 sebagai basis produksi game-nya. Dunia industri game pun berkembang dengan pesat. Perkembangan dunia game era ini juga ditandai dengan munculnya game Arcade 3D pertama buatan Atari yakni Battlezone, Pacman keluaran Namco, Game & Watch seri video game-handheld keluaran Nintendo, serta APF yang mengeluarkan Imagination Machine. Terakhir ini merupakan add-on komputer untuk video game rumahan APF MP-100.

Pasca 1983, dunia industri game mengalami kelesuhan akibat kurangnya kreatifitas. Sehingga game tidak berhasil memikat orang untuk meliriknya. Akibatnya bisa ditebak, beberapa perusahaan game ambruk dan bangkrut. Fairchild dan RCA gulung tikar, menyisakan Atari dan Magnavox yangmasih bertahan didunia industri video gameGame konsol sepi peminat. Apalagi saat itu perkembangan komputer atau PC semakin canggih. Hal ini mengakibatkan banyak orang beralih membeli PC daripada konsol game. PC dipandang lebih produktif dan berguna bagi masyarakat dari konsol game. Namun ada juga PC ber-game, dipelopori oleh Commodore 64. PC yang sekaligus juga konsol dengan tampilan grafis 16 warna. PC ini juga memiliki kapasitas memori yang lebih mumpuni dari konsol video game.

Generasi  selanjutnya, tepatnya pada 1983 dimulai ketika dipasarkan Jepang Familiy Computer, atau FAMICOM yang pada akhirnya lebih dikenal dengan nama  Nintendo. Dengan konsol bernama Nintendo Entertainment System atau NES, Nintendo dikenal karena memperkenalkan konsol game dengan gambar dan resolusi tinggi.

Nintendo mempunyai chip pengaman pada cartridge sehingga semua game yang dirilis harus dengan lisensi resmi dari FAMICOM atau Nintendo. Nintendo pula yang membidani kelahirang game yang terkenal Super Mario. Karena Super Mario yang cepat booming luar biasa itulah, banyak perusahaan game baik perusahaan software ataupun hardware yang terpaksa menutup usahanya. Nintendo pun memperluas usaha game dengan merangsek ke pasar Amerika, yang pada akhirnya menyebabkan perang konsol game antara Nintendo dan SEGA.

Generasi game selanjutnya dikenal dengan generasi 16 bit yang membawa perubahan pada tata suara dan grafik.  Nintendo mendapatkan sambutan hangat, sedangkan SEGA merilis Sega Mega Drive. Persaingan sengit pun terjadi. Walau gambar dan animasi game SEGA lebih baik dan halus, namun belum mampu menandingi kedigdayaan Nintendo.

Walaupun banyak pesaing seperti NEC dan SNK, pada tahun 1990 Nintendo merilis SNES (Super Nintendo Entertainment System). Pada tahun yang sama, SEGA merilis game Sonic yang menarik perhatian dan menjadi lawan sepadan dari game Super Mario rilisan Nintendo. Kualitas game Sonic besutan SEGA ini kualitasnya jauh lebih baik.  Namun tetap Nintendo menjadi idola dan menempati peringkat pertama dalam penjualan.

Pada tahun 1994 The Entertainment SoftwareRatings Board (ESRB) dibentuk oleh pemerintah federal Amerika Serikat. Badan ini dibentuk untuk melakukan rating terhadap video game. Atari kembali meluncurkan konsol untuk mematahkan dominasi SEGA dan Nintendo pada tahun 1994 ini pula. Atari Jaguar dihadirkan dalam rangka menyaingi kecanggihan SNES dan Mega Drive. Namun, penggunaannya yang sulit membuat game ini kurang mendapat sambutan para pecinta game. Disamping saat itu Sony pada saat yang sama menghadirkan game berbasis CD pertama yang luar biasa legendaris. Generasi game 32 bit yang diluncurkan oleh Sony itu begitu legendarisnya dan bertajuk PlayStation. Sebuah game fenomenal hingga hari ini.

Konsol besutan Sony yang berbasis CD ini menuai sukses luar biasa dalam debutnya. Bahkan menjadi game terlaris dalam sejarah industri game sepanjang masa. Tak tinggal diam, Nintendo pun meluncurkan Nintendo 64 sedangkan SEGA mempersiapkan SEGA Saturn.

Pada tahun 1996, demam game pet virtual atau permainan hewan peliharaan virtual bernama Tamagotchi  melanda Jepang dan Amerika Serikat, sebelum akhirnya menyebar ke beberapa negara. Termasuk Indonesia. Sedangkan tahun 1997 PlayStation mencapai puncaknya. Dan pada tahun berikutnya SEGA memperkenalkan game Dreamcast di Jepang. Konsol ini bekerja pada Microsoft Windows CE. Konsol ini diluncurkan dengan tujuan mematahkan dominasi PlayStation. Namun kembali gagal. Pada tahun 1998 ini pula menandai jatuhnya Nintendo dan SEGA. Pada tahun ini pula SEGA mengundurkan diri sebagai produsen konsol game.

Pada tahun 2000 Sony kembali meluncurkan PlayStation 2. Semenjak dirilis di Amerika, PlayStation 2 menjadi fenomena tersendiri. Sony memperkenalkan teknologi baru dalam dunia game, dengan merilis PlayStation 2 yang berbasis DVD. Pada tahun ini pula game The Sims dirilis dan langsung menjadi game terpopuler. Nintendo pun kembali tidak tinggal diam, Nintendo berusaha melawan dominasi Sony dengan mengeluarkan konsol game bertajuk GameCube. Namun tidak seperti biasa, GameCube tidak menggunakan DVD 12 cm biasa, namun menggunakan DVD yang berukuran lebih kecil, yakni DVD 8 cm. dan mungkin karena ukurannya yang nyeleneh ini pula, GameCube tidak mampu sepopuler PlayStation 2.

Satu-satunya usaha perlawanan terhadap dominasi Sony PlayStation yang bisa dianggap “lumayan mengganggu” hanya game Xbox. Sebuah konsol game besutan Microsoft yang muncul dan menggebrak dengan tampilan visual yang lebih tajam dan berkualitas dibanding PlayStation 2. Walau game-game Xbox tidak mampu menjadi sepopuler game-game PlayStation 2. Xbox yang muncul pada tahun 2001 dengan built-in hardrive dan port ethernet.

Pada tahun 2004, Sony kembali melakukan inovasi dengan meluncurkan PSP, sebuah konsol portable beresolusi tinggi. Pada tahun yang hampir sama, Xbox 360 diluncurkan oleh Microsoft untuk bersaing dengan Sony. Konsol ini merupakan lompatan besar Microsoft, dengan memanfaatkan media HD-DVD. Sedangkan pada saat yang hampir bersamaan Sony masih melakukan riset untuk konsol terbaru dengan media Blu-Ray.

Xbox hadir dengan berbagai fitur istimewa, mulai dari grafis yang mumpuni sampai munculnya game-game yang terkenal. Disamping juga Xbox Live yang yang semakin disempurnakan, menjadikan Xbox mendapat sambutan hangat yang luar biasa dari para penikmat game. Ini menandai keterlambatan Sony.

Hingga pada November 2006, PlayStation 3 resmi diluncurkan dan menempati posisi yang sulit. Ini terjadi karena Xbox telah terlebih dahulu terkenal dan seminggu setelah PlayStation diluncurkan, Nintendo pun mengeluarkan terobosannya yakni Nintendo Wii. Nintendo Wii mempunyai keunggulan dengan fitur “motion sensitive”, sebuah inovasi pada stik control game Nintendo Wii. Disamping itu “kegagalan” PlayStation 3, bisa jadi terletak pada harganya yang lebih mahal ketimbang dua pesaingnya. Alhasil penjualan PlayStation 3 lebih rendah dari Xbox 360. Namun harus diakui, bahwa PlayStation merupakan legenda game yang masih “hidup” hingga sekarang dan terus berevolusi.

Perkembangan game, berkembang sejurus perkembangan perangkat lain seperti PC dan Internet. Perkembangan pesat jaringan komputer  dari yang berskala kecil (small local network) sampai menjadi internet dan terus bertumbuh kembang. Pada 1969 game online atau permainan daring mulai dikembangkan dengan maksud membantu dunia pendidikan. Permainan dikembangkan antara dua orang untuk mengembangkan dunia pendidikan.

Dilanjutkan pada 1970, jaringan computer berbasis paket (packet based computer networking) mulai muncul. Tidak terbatas LAN saja, bahkan sudah mencakup WAN dan menjadi internet. Sebuah system dengan kemampuan time sharing yang disebut Plato pun diciptakan guna memudahkan siswa belajar secara online, dimana beberapa pengguna dapat mengakses komputer secara bersamaan menurut waktu yang diperlukan

Dua tahun setelah itu muncul Plato IV, yang mempunyai daya grafis lebih mumpuni dan digunakan untuk mencipta multiplayer games. Permainan yang memungkinkan beberapa pemain bermain sekaligus.

Permainan daring setelah 1995 mengalami perkembangan yang pesat. Manakala NSFNET (National Science Foundation Network) dihapuskan dan semakin memperbesar akses ke domain internet. Permainan daring sebenarnya adalah jenis permainan komputer yang memanfaatkan jaringan komputer, baik LAN ataupun internet sebagai media.

Di Indonesia, game online pertama adalah Nexia game online RPG karya BolehGame. Muncul pada bulan Maret 2001 dengan grafik sederhana berbasis 2D. Pada saat itu, Nexia bisa dimainkan di computer dengan spesifikasi  rendah, termasuk Pentium 2  dengan graphic card minimal 3D. Nexia merupakan game produksi Nexus, perusahaan berbasis di Korea yang mudah diinstall di computer-komputer warung-warung internet (warnet) yang spesifikasinya waktu itu masih sangat rendah. Game ini “dibunuh” pada tahun 2004 karena lisensinya tidak diperpanjang.

Pada tahun 2008, Indonesia sempat menarik perhatian penggemar dunia game dalam gelaran Ragnarok World Championship (RWC) dengan menyabet juara 3. Prestasi itu ditorehkan oleh game Guild Vongola yang bersaing dengan peserta dari 13 negara lainnya.

Merunut pada data Ligagame melalui lamannya ligagames.com, game online muncul kali pertama di Indonesia adalah Nexia yang kemudian disusul oleh beberapa game lain. Game yang beredar juga dari beberapa genre, mulai dari action, sport sampai RPG (role playing game). Tercatat tak kurang dari 20 game online telah masuk menyusul Nexia dan kini berkembang bak cendawan dimusim hujan. Ini menandai bagaimana antusiasnya penggemar game di Indonesia terhadap game online.

Dari segi tipe permainan, game setidaknya terbagi lebih kurang lima bagian. Pertama, first person shooter atau FPS. Game ini mengambil angle pandangan orang pertama, sehingga terkesan pemain game berada sendirian dalam dunia game. Biasanya game ini mengambil latar peperangan action. Diantara yang terkenal adalah Point Blank. Kedua, real time story. Yakni game yang membutuhkan kemampuan bermain strategi pemainnya. Biasanya dapat memainkan beberapa karakter. Diantara game yang terkenal adalah Ragnarok.

Ketiga, cross platform online. Merupakan game yang dimainkan melalui pelbagai platform hardware yang berbeda. Misalnya, salah satu pemain menggunakan PC sementara yang lain menggunakan Xbox 360 yang terkoneksi dengan internet. PES 2011 dan PES 2012 adalah beberapa contoh permainan jenis ini.

Keempat, browser games. Game ini dimainkan melalui aplikasi browser internet. Seperti Mozilla Firefox, Opera, Internet Explorer dan sejenisnya. Browser yang bisa memainkan game jenis ini hany a disyaratkan sudah mendukung javascript, php maupun flash. Travian, eRepublik adalah contoh game jenis ini.

Kelima, massive multiplayer online games, adalah game yang dimainkan dalam skala besar. Lebih kurang 100 orang pemain bisa bermain dalam permainan ini. Setiap pemain dapat berinteraksi dengan pemain lainnya seperti didunia nyata. Seperti game Ragnarok dan Seal.

Pembagian game dalam teknologi grafisnya pun bermacam-macam. Ada yang 2 dimensi dan adapula yang 3 dimensi. Untuk klasifikasi game dengan teknologi 3 dimensi, jelas dibutuhkan teknologi komputer yang lebih mumpuni. Game-game ini mempunyai kemampuan merubah angle kamera dalam skala 360 derajat.

Game berdasarkan cara pembayarannya terbagi setidaknya dalam 3 klasifikasi. Pertama, pay per item. Pembayaran game jenis ini dilakukan jika pemain ini menginginkan dengan cepat menaikkan level permainannya. Sedangkan untuk instalasi, game ini biasanya tak berbayar. Gunbound, Ghost Online adalah contoh jenis permainan ini.

Kedua, pay per play. Berbeda dengan sebelumnya, game ini harus diinstall dan dimainkan secara legal dengan cara membelinya. Jika diinstall dan dimainkan dengan game bajakan, bisa dipastikan akan diblokir oleh sistem, karena game ini langsung mendaftarkan pemain ke koneksi internet. Ketiga, adalah pay per time. Game ini dibeli dan dihitung berdasarkan masa. Artinya walau tidak dimainkan, dengan jangka waktu tertentu game akan habis masa pakainya. Pembayaran sistem ini bisa dikatakan sangat merugikan. Contoh dari game ini adalah Point Blank.

Setelah didedahkan perjalanan sejarah game dengan segala perangkatnya, kita akhirnya akan memahami bahawa game, baik game konsol maupun game online tak lebih adalah produk industrialisasi. Bisa jadi pada awalnya game atau dalam bahasa Indonesia kita sebut permainan adalah hal remeh, hanya sekedar pelepas letih, dan bersifat senda gurau. Tapi disisi lain kita juga harus menyadari, bahwa game atau permainan tersebut adalah hal “serius” dalam hal industrialisasi.

Hal “serius” itulah yang nampaknya kurang kita fahami. Sebagai sebuah proses industrialisasi, produsen acap hanya mengejar keuntungan. Tanpa memperdulikan efek negatif, alih-alih soal moral. Keuntungan adalah hal paling dikejar dan dicari dalam dunia seperti ini. Menyadari itu, sebagai konsumen kita dituntut cerdas dan cerdik. Kita tidak boleh larut dan menegasikan dampak negatif yang timbul dari sebuah dunia “gurau” permainan terhadap dunia nyata kita.

Dalam kajian pendidikan misalnya, permainan memang bisa dijadikan sebuah media untuk memudahkan proses pembelajaran. Namun harus pula disadari, bahwa permainan tidak boleh menyeret seseorang keluar dari dunia nyatanya. Permainan tidak boleh menjadikan anak didik menjadi sosok yang anti sosial. Hal ini penting disadari, bukan hanya oleh pendidik. Namun, kesadaran orang tua juga sama pentingnya.

Berapa banyak kita lihat disekeliling kita, anak kecil yang dimanjakan dengan gadget yang seharusnya belum layak mereka terima. Hanya dengan dalih pengenalan teknologi dan agar anak tidak melakukan kegiatan diluar rumah. Namun, ironisnya disisi lain kita juga harus mengelurkan budget tambahan untuk melatih perkembangan psikomotorik, kerjasama kelompok, dan interaksi soSial mereka. Yang artinya, disatu sisi kita meredam “kenakalan” dan keaktifan anak dengan “menyogok” mereka gadget yang lumayan mahal. Namun disisi lain kita mengembangkan keaktifan mereka dengan cara berbeda.

Aktifitas luar rumah, seperti bermain dengan kawan sebaya yang seharusnya bisa memupuk kepekaan dan solidaritas sosial mereka seringkali kita hilangkan. Dan menyebut aktifitas-aktifitas itu sebagai bentuk kenakalan. Padahal permainan “kuno” seperti gobak sodor, petak umpet, egrang dan lainnya, jelas merupakan pembelajaran yang alami dan berguna. Kita hanya harus mendampingi, agar permainan-permainan yang cenderung “keras” itu tetap aman. Dan tentu membawa nilai positif lebih pada anak kita.

Senyatanya hasil pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pendidikan di sekolah. Rumah tangga dan lingkungan pun ikut menentukan. Setidaknya begitu yang disampaikan Prof. Suyanto, Ph.D dalam buku Pendidikan Karakter, Teori dan Aplikasi. Masih dalam buku yang sama, Suyanto juga menyampaikan tentang bagaimana pentingnya moralitas. Suyanto sebagaimana mengutip Lickona menekankan tiga komponen penting dalam pembentukan karakter yang baik. Yakni, moral knowing, pengetahuan tentang moral. Moral feeling, perasaan tentang moral. Dan moral action, atau perbuatan yang bermoral.

Dunia game, jelas tidak bisa menjlentrehkan ketiga aspek tersebut. Bahkan mempunyai kans untuk menghancurkan ketiganya. Pengetahuan tentang moral, hanya akan didapat manakala pendidikan diberikan didunia nyata dengan benar.

Permainan acapkali menegasikan pengetahuan moral, apalagi perasaan bermoral. Dan manakala perlu harus diperjelas, dalam pergulatan industrialisasi yang seperti itu moral terpenting dalam industri adalah keuntungan.

Dalam psikologi pendidikan, sebagaimana dijelaskan dalam buku Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru karya Muhibbin Syah, masa anak-anak (late childhood) berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun dengan beberapa ciri. Yakni, memiliki dorongan untuk keluar rumah dan bermain dengan teman sebaya (peer group). Keadaan fisik yang mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan jasmani. Dan memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol dan komunikasi yang luas.

Ketiga dorongan ini merupakan keperluan kodrati. Bersifat alami dan manusiawi. Namun dengan perkembangan lingkungan yang sedemikian kacau, ketiga kebutuhan tersebut acap tidak terpenuhi atau bahkan dinegasikan oleh ego orang tua. Tidak jarang orang tua lebih nyaman melihat anaknya sibuk bermain game online dengan gadgetnya, daripada sang anak harus keluar rumah bermain dengan teman sebayanya, tentu dengan berbagai alas an. Keamanan, misalnya.

Dunia kembali dikejutkan dengan kehadiran game yang langsung menjadi favorit para gamer, Pokemon Go. Seakan menguasai dunia, permainan ini menyita perhatian masyarakat kebanyakan. Game online ini menjadi berita dan perbincangan hangat dimana-mana. Permainan ini berbasis augmented reality . Augmented reality atau yang disebut dengan realitas tertambah adalah teknologi yang menggabungkan benda-benda maya (baik berdimensi 2 dan atau berdimensi 3) dan benda-benda nyata ke dalam sebuah lingkungan nyata berdimensi 3, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata agar terintegrasi dan berjalan secara interaktif dalam dunia nyata.

Pokemon Go langsung saja menjadi permainan favorit. Pokemon Go menjadikan permainan menyatu dengan dunia nyata. Namun tidak dapat dipungkiri, walaupun nyatanya Pokemon Go mampu mengajak para gamer mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Namun, ia tetap akan asyik dalam dunia virtual. Beberapa kejadian membuktikan itu. Dari yang mulai hendak dicopet, kecelakaan dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan, bahwa walaupun game ini bersifat augmented reality, namun kesadaran pemain tetap didominasi dunia virtual dan lupa akan kehidupan sosial nyatanya.

Maka bisa dipahami jika Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memutuskan bahwa hukum bermain Pokemon Go adalah makruh, mendekati haram. Karena permainan ini berpotensi membuat orang lalai akan tanggung jawab dan kewajibannya. Hasil ini diperoleh setelah diadakan kajian dalam forum bahtsul masail rapat pleno PBNU hari Senin (25/07/2016) di Cirebon. Hukum itu dicapai dengan menganalogikan (qiyas) permainan Pokemon Go dengan permainan catur.

Ditelurkannya hukum ini paling tidak sebagai upaya preventif sekaligus sebagai peringatan dini (early warning system) agar permainan ini kita sadari dampak negatifnya. Augmented reality seperti Pokomen Go, bisa saja mengajak para pemainnya untuk mengeksplorasi lingkungannya tapi dengan lengah. Dampaknya, keamanan pemain dan lingkungan juga menjadi rentan.  Disamping itu, keasyikan Pokemon Go pun berpretensi menjadikan orang melupakan orang akan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukannya.

Pokemon yang merupakan singkatan dari Pocket Monster, merupakan permainan yang mengharuskan pemainnya untuk mendapatkan monster dengan berbagai nama di berbagai tempat berbasis GPS (Global Positioning System). Pemain diharuskan berkeliling ke berbagai tempat untuk mendapatkan monster, dan setelah itu diadu.

Pemerintah pun merespons munculnya permainan ini dengan berbagai cara. Terutama untuk aparatur sipil Negara (ASN) yang seharusnya bertugas sebagai pelayan masyarakat. Agar pelayanan tetap dalam standar pelayanan yang prima, para abdi negara dilarang bermain game virtual berbasis GPS di instansi pemerintahan. Larangan ini diterbitkan dalam surat edaran (SE) Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara pada tanggal 20 Juli 2016.

Surat edaran B/2555/M.PANbjRB/07/2016 ini dengan tegas memberitahukan kepada segenap pimpinan instansi pemerintahan untuk melarang ASN dilingkungan kerja masing-masing. ASN dimaksud, adalah sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang nomor 5 tentang aparatur sipil negara, yakni pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintahan dengan perjanjian kontrak. Sanksi yang disiapkan pun bermacam-macam, mulai dari yang paling ringan hingga terberat dengan pemecatan.

Efek negatif permainan augmented reality diantaranya adalah, acuhnya beberapa orang atas hak privasi yang harusnya dihargai. Beberapa orang dengan keasyikannya bermain permainan berbasis ini, akan “tergoda” untuk memasuki wilayah properti orang lain. Padahal jika ini dilakukan dengan “paksaan”. Maka pelaku dapat dikenakan hukuman sesuai pasal 167 KUHP. Dengan hukuman pidana penjara paling lama sembilan bulan.

Diantara efek negatif lainnya yang dapat terjadi adalah merusak ketertiban umum dan mengemudi sambil memainkan permainan ini, yang tentu bukan hanya merugikan diri pemain, namun juga membahayakan nyawa orang lain.

Maka, seyogyanya kita menggunakan semua kemajuan teknologi dengan bijak dan wajar. Ketidakmampuan kita mengelola kemajuan teknologi, acap menjadikan seseorang bukan lagi penikmat kemajuan teknologi, namun budak teknologi. Jika sudah begini, bisa dipastikan bahwa kita tak akan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Dan seperti dinyatakan Allah SWT dalam firmannya, bukannya kehidupan ini juga permainan dan senda gurau belaka?. Wallahu a’lam. Wa ilaa Allah turjaul umuur.


(Pernah dimuat sebagai editorial dalam Majalah Al Fikrah Pondok Pesantren Mambaus Sholihin edisi 93)

Selasa, 27 Desember 2016

Madah dan Maulid Nabi; Syirik atau Sunnah?

Alkisah, hiduplah sepasang saudara Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma dan adiknya Bujair. Mereka berdua adalah anak dari Zuhair bin Abu Sulma. Zuhair sendiri adalah penyair ternama pada masanya. Termasuk dalam penyair kondang periode pertama bersama Imru al Qais dan al Nabighah al Dzubyani. Zuhair, ayah dari kedua bersaudara ini terkenal sebagai penyair Arab jahiliyah kawakan. Dalam syair-syairnya, Zuhair dikenal bijak dan menjauhi kata kasar. Syairnya acap mengandung hikmah, amtsal dan ijaznya bagus, tidak suka memakai kata berlebih, sedikit kata banyak makna. Syair Zuhair juga dikenal karena bagusnya madah dan kejujurannya, selain juga kehalusan kata yang digunakan.

Tentang Zuhair ini, Umar bin Khattab pernah berkata, ”Zuhair adalah penyair yang tidak bertele-tele dalam ungkapannya, menghindari syair yang rumit dan tidak memuji kecuali apa adanya”. Zuhair tumbuh dalam keluarga yang mencintai dan menggeluti sastra. Ayahnya Rabi’ah bin Rabah adalah penyair. Pamandanya Basyamah ibn al Ghadir juga penyair terkenal. Pun begitu kedua saudarinya, adalah penyair kenamaan, Salma dan Khanza. Semasa hidupnya, walau tak sempat bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, Zuhair juga mempercayai hari akhir dan hari pembalasan, itu terekam dalam syair-syairnya. Syair-syair Zuhair yang indah ini, kerap diperdengarkan di istana-istana para raja, kepala suku dan para hartawan karena keindahannya menggugah nurani dan menenangkan, menghibur dan menggambarkan keindahan sastra yang luar biasa.

Maka tak heran jika kedua anaknya, Kaab bin Zuhair dan Bujair meneruskan tradisi kesusasteraan dan menjadi penyair ternama meneruskan tradisi besar keluarganya. Baik Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma, maupun Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma pun menjadi penyair yang disegani. Yah, walau mendapati julukan jahiliyah, senyatanya orang Arab pra Islam mempunyai tingkat dan kemampuan kesusasteraan yang begitu tingginya. Sehingga tak heranlah kita mendapati kitab suci Al Qur’an begitu sempurna dan luar biasa susunan dan keindahan kata-katanya. Tentu guna dapat diterima di “alam Arab” yang begitu tinggi tingkat kesusteraannya.

Orang-orang Arab pra Islam seringkali dibagi menjadi dua kategori, yakni Arab Hadhari dan Arab Badawi. Arab Hadhari yakni Arab yang menempati perkotaan-perkotaan dan berdiam diri secara permanen. Sebaliknya, Arab Badawi, adalah golonga suku Arab yang nomaden. Mereka menempati gurun-gurun, yang manakala ada kondisi khusus yang menyebabkan mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan tersebut, maka mereka akan berpindah. Menuju tempat baru yang lebih menjanjikan. Orang-orang Arab Badawi, yang berada dipelosok-pelosok itu biasa bercakap dengan bahasa asli, bahasa fusha yang tinggi tingkat kesusasteraan. Inilah diantara alasan kenapa anak-anak kecil suku Arab biasa dipersusukan kepada kaum wanita pedesaan. Tentu kita mengingat bagaimana Nabi Agung dipersusukan kepada wanita pilihan, Sayyidah Halimah Sa’diyah. Diantara alasannya, adalah agar anak-anak kecil tersebut belajar bahasa Arab yang baik, yang fushah dengan susunan keindahan yang juga luar biasa. Disamping agar anak-anak kecil tersebut dapat menghirup udara yang masih bersih di pedesaan.

Kaab bin Zuhair dan Buhair bin Zuhair bin Abi Sulma adalah sekian dari beberapa orang pilih tanding dalam hal syair dan sastra. Namun dalam suatu kesempatan, ketika mereka menggembala ternaknya dalam sebuah tempat bernama Abroh Al Azzad didekat kota Madinah, Bujair meminta izin kepada kakaknya, Kaab bin Zuhair untuk memasuki kota Madinah. Perginya Bujair ke kota Madinah adalah guna menuntaskan rasa penasarannya atas diri seseorang yang telah mengaku sebagai utusan Tuhan Yang Maha Perkasa. Orang itu tak lain adalah Nabi Muhammad Saw.

Guna memuaskan hasrat penasarannya itu, Bujair pun melangkahkan kaki menuju kota Madinah. Rasa penasaran sudah membuncah, ingin mengetahui lebih dekat, orang yang mengaku Rasulullah dan telah menganjurkan untuk meninggalkan ajaran nenek moyang kaum Arab pagan ketika itu. Sesampainya di kota Madinah, Bujair mendapati seseorang yang rupawan, indah perangai dan tutur katanya. Sosok yang selama ii disifati dengan sifat jelek, ditemuinya bak laksana intan permata. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang bukan hanya sekedar tunduk selaksa penguasa, namun juga mencintainya lebih dari apapun atas diri si Utusan Agung, hingga jangankan harta, nyawa pun akan mereka berikan. Bagaimana mereka bergaul dengan Sang Utusan Agung itu telah menyihir perasaan Bujaih bin Zuhair bin Abi Sulma. Dia tak percaya, manusia biasa akan begitu agung perangai dan pesonanya. Masuklah Bujair kedalam agama yang diserukan oleh Utusan Agung tersebut. Masuklah Bujair dalam agama Islam, agama hanif, agama tauhid yang diserukan sejak dulu melalui bapak manusia, Adam As hingga Ibrahim As dan seterusnya.

Kabar masuknya Bujair kedalam agama Islam, sudah didengar oleh kakaknya, Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma. Maka ketika Bujair datang menghadap sang kakak, sang kakak pun murka luar biasa. Ia mencaci maki Bujair tak alang kepalang. Walau Bujair berusaha mendeskripsikan bagaimana perangai Rasulullah yang bagi Bujair luar biasa itu, bagi Kaab itu hanya omong kosong. Ketika Bujair menceritakan akhlak dan kebaikan sang Rasul yang tiada duanya didunia, yang tak mungkin dimiliki manusia biasa, Kaab menanggapinya sebagai bujukan yang tak berdasar. Pecahlah persaudaraan, pecahlah ikatan darah, yang bagi kaum Arab ketika itu adalah segala-galanya. Keduanya berpisah. Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma kembali ke Madinah, untuk meneguk manisnya pembelajaran dari sang Manusia Utama, Muhammad Saw. sedangkan Kaab tetap menjadi bagian kaum pagan yang menyembah berhala dan kembali pada kaumnya.

Ternyata masuknya Bujair dalam agama Islam, meninggalkan luka yang luar biasa bagi Kaab. Adik yang disayangi telah keluar dari agama nenek  moyangnya, telah berani mengkhianatinya. Mengkhianati kepercayaan yang sudah turun temurun dipercayai dan mempercayai kepercayaan baru yang telah lama mereka hindari, caci maki dan jauhi. Adiknya lebih memilih dan mempercayai orang baru, Muhammad yang ketika itu telah membangun kekuatan di Madinah.

Sebagaimana layaknya penyair, Kaab juga memceritakan kekalutan hatinya atas nasib adiknya dalam syair-syair. Namun ketika kekalutan dan kebencian dalam hatinya membuncah, syair Kaab berubah menjadi cacian dan fitnah baik kepada adiknya, kepada Nabi Muhammad Saw ataupun kepada Abu Bakar Ra, orang yang dianggap sebagai tangan kanan Muhammad Saw. bahkan pernah dalam syairnya, Kaab menceritakan bahwa Bujair setiap malam diajak Muhammad Saw untuk berpesta dan mengingkari agama nenek moyangnya. Kebencian dan kekalutan Kaab menambah amunisi bagi kaum kafir, terutama kaum kafir Quraisy di Mekkah. Syair-syair Kaab acap didendangkan hanya untuk menghina kaum muslimin dan Nabi Muhammad Saw.

Lambat laun, syair-syair Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma, terdengar dimana-mana sebagai bahan umpatan, caci maki dan penghinaan bagi Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar dan kaum muslimin pada umumnya. Bahkan beberapa syairnya dirubah dan dibuat sedramatis mungkin, guna mendapatkan penghinaan yang lebih kejam bagi Muhammad Saw. syair-syair Kaab dibuat semakin dahsyat ejekan, cemoohan dan hinaan serta caci makinya pada Rasulullah Saw. Hal ini juga akhirnya sampai pada Bujair bin Zuhair, adiknya serta sampa pada pendengaran Rasulullah Saw. Melihat penghinaan dan caci maki serta fitnah yang dibuat Kaab bin Zuhair, bahkan Rasulullah Muhammad Saw, sempat menghalalkan darah Kaab bin Zuhair, atas penghinaan dan provokasi serta fitnah yang cenderung keji tersebut.

Tibalah pada kejayaan Islam, sekira tahun ke 8 Hijriyah, kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Ketika peperangan memasuki Thaif, Bujair bin Zuhair melihat bagaimana banyak penyair arab yang kerap memusuhi Nabi Muhammad Saw berkalang tanah, mereka yang melawan dan berusaha untuk menyerang kaum muslimin kalah dan mati. Banyak diantara mereka yang selama ini melontarkan fitnah keji, caci maki dan umpatan kepada kaum muslimin, tidak mempunyai kekuatan untuk melawan kaum muslimin yang dadanya dipenuhi oleh gelora seemangat memerangi kebathilan. Para pendamping Nabi Muhammad Saw yang biasanya ramah dan santun itu, ketika berlaga dimedan perang, bak singa-singa Allah yang dilepaskan. Mereka tak dapat dibendung, tidak takut mati apalagi sakit. Kemenangan yang gilang gemilang itu menggembirakan kaum muslimin, tidak luput pula Bujair bin Zuhair. Namun dibalik kegembiraannya, Bujair sedih mengingat nasib kakandanya tercinta yang menjadi incaran kaum muslim.

Melihat kondisi yang sedemikian itu, Bujair berinisiatif melayangkan surat kepada kakaknya tecinta, Kaab bin Zuhair. Dalam suratnya Bujair memberikan deskripsi tentang keadaan yang berlaku, bagaimana kaum kafir telah dipecundangi oleh kaum muslim. Kaum kafir yang secara jumlah berlipat ganda jumlahnya dari kaum muslim, mengalami kekalahan telak dengan sergapan dari kaum muslim, kaum kafir itu dijadikan bulan-bulanan oleh pejuang-pejuang muslim yang gagah perkasa. Selain itu, Bujair juga menggambarkan bagaimana akhlak Rasulullah, dan bagaimana baginda Rasulullah Saw memaafkan pihak-pihak yang selama ini memusuhinya dan bertindak adil pada mereka yang mau masuk Islam.

Diakhir suratnya, Bujair menyarankan dan memberikan dua pilihan kepada kakaknya. Antara menyerahkan diri, masuk Islam dan hidup dalam indahnya perlindungan Islam yang begitu luar biasa. Atau melarikan diri dengan menghindari kaum muslim dengan pergi jauh. Keduanya bagi Kaab mengandung konsekwensi masing-masing. Keduanya sama beratnya, dan itu disadari baik oleh Kaab maupun Bujair, sang adik.

Melihat surat dan kondisi sedemikian itu, Kaab berinisiatif mencari perlindungan dari para sahabat-sahabatnya yang dulu menyanjungnya karena berani membuat syair yang digunakan melemahkan dan menghina kaum muslim. Namun, harapan Kaab haruslan pupus, dalam kondisi sedemikian itu, setiap orang hanya berfikir tentang keselamatan diri sendiri dan keluarganya saja. Sahabat-sahabat yang dulu mengelu-elukan dirinya, hari ini menolak melindunginya, bahkan menghindari dirinya. Yah, Kaab bin Zuhair, penyair dan sastrawan kenamaan yang dulu digunakan dan diunggulkan guna menghina Nabi Muhammad Saw, hari ini terlunta-lunta. Semua sadar, akibat perbuatannya itu, Kaab bin Zuhair hari ini tidak lebih adalah buronan yang dicari-cari oleh kaum muslimin.

Dunia serasa sempit bagi Kaab, tak ada persembunyian, tak ada saudara yang melindungi, tak ada teman yang mau diajak berkompromi. Maka bagi Kaab bin Zuhair, pengampunan Rasulullah Saw, adalah satu-satunya jalan dan cara untuk selamat. Dan dia masih belum percaya, orang yang terus disakitinya, dihina dan dimakinya dengan segala syairnya, difitnah dengan segala karya sastranya, akan mengampuni dia. Pilihan ini juga tentu mengandung resiko yang besar, belum lagi jalan yang harus dia tempuh untuk sampai dihadapan Rasulullah, jangan-jangan sebelum sampai dihadapan Rasulullah, dia sudah ditemui para pecinta Rasulullah, dan pasti celakalah yang dia temui.

Digelapnya malam, Kaab menyelinap kedalam Madinah, menemui seseorang yang dia kenal, dan mengutarakan maksudnya. Mendapati keterangan bagaimana kebiasaan Sang Utusan Allah itu bercengkerama, mengajari dan memberikan siraman hikmah pada para sahabat-sahabat mulianya setelah sholat Subuh dipelataran Masjid Nabawi. Dalam dinginnya udara dini hari, Kaab menyelinap dan menunggu saat yang tepat, dengan memakai penutup wajah merah, khas para Arab Badui.

Dalam satu kesempatan, Kaab mendekati Rasulullah. Dalam hal ini ada riwayat yang berbeda, sebagian riwayat menyatakan bahwa Kaab meminta diislamkan dahulu oleh Rasulullah Saw, sebelum akhirnya membuka rahasia siapa dirinya. Namun, dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa Kaab bertanya kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, andai orang yang bernama Kaab bin Zuhair menemuimu, apa engkau akan maafkan dia?”. “Ya, aku akan maafkan dia!”, jawab Rasulullah. “Jika Kaab bin Zuhair menyatakan akan memeluk agamamu, dan ikut menjadi pengikutmu, apakah akan engkau percayai?”, lanjut Kaab. “Ya, aku akan percaya!”, jawab Rasulullah Saw.

Maka, dibukalah penutup wajah Kaab bin Zuhair seraya mengatakan, “Ya Muhammad, akulah Kaab bin Zuhair”. Sontak saja, sekian sahabat yang ada didekat Rasulullah Saw menghunus pedang dan berniat membunuh Kaab, orang yang dianggap telah menghina Rasulullah, kalau saja tidak Rasulullah buru-buru menghalau dan mencagah mereka. “Bukankah engkau yang melantunkan syair seperti ini”, lantas nabi Muhammad meminta Abu Bakar membacakan syair-syair Kaab yang menghina Rasulullah. Ketika Abu Bakar membaca syair itu, pada beberapa bagian Kaab mengkoreksi, karena syairnya salah diucapkan, dimengerti atau telah diganti. “Benar ya Rasulullah, itu adalah syair-syairku”, jawab Kaab. Ketika itu barisan para sahabat disekitar Rasulullah semakin merangsek, sehingga Rasulullah mencegah denga mengatakan, “Dia telah meninggalkan masa lalunya dan berniat bertaubat, maka terimalah dia”, ujar Nabi yang mulia.

Melihat bagaimana ketinggian budi, akhlak dan perangai orang yang selama ini dia musuhi, tertunduklah Kaab bin Zuhair, dia minta segera diislamkan. Setelah menyatakan keislaman dihadapan Nabi Muhammad Saw, dan getaran aneh yang menyelusup dalam relung hati, dalam sumsum tulangnya, telah menjadikan ia tertunduk lunglai. Ada getaran dahsyat, akan kerinduan dan kecintaan yang menelungkup menjadi satu karena sentuhan lembut ditangannya. Keindahan tatapan dan senyuman itu telah menggelorakan rasa cinta kepada manusia termulia, Muhammad bin Abdullah Saw. Sadarlah dia, bagaiman kecintaan yang menylimuti jiwa itu, bisa membuat para sahabat Muhammad Saw, rela menukar nyawa demi sang manusia mulia.

Dan dengan tidak bisa menghindari panggilan jiwa sebagai sastrawan dan penyair, mengalirlah bait demi bait syair kecintaannya kepada Muhammad Saw. Qasidah itu dikenal sampai hari ini, yang dikenal dengan qasidah “Baanat Suad”. Ketika sampai pada satu bait yang memuji Rasulullah dengan indahnya, nabi Muhammad Saw bangkit dan memberikan burdah, selimutnya, ada yang mengatakan selempang dan atau sejenisnya kepada Kaab. Maka inilah sebenarnya qasidah burdah itu, sebelum Qasidah Burdah yang lebih dikenal dikaryakan oleh Imam Bushiri.

Konon, sepeninggal Rasulullah Saw, burdah atau baju yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Kaab itu ditawar oleh khalifah pertama, Abu Bakar. Namun Kaab bin Zuhair menolaknya, dan mnejadikan jubah itu sebagai kebanggaan. Kaab merawat jubah itu dengan segenap hatinya. Seakan itulah bukti kecintaan Nabi Muhammad Saw kepadanya dan sebaliknya, bukti kecintaanya kepada sang kekasih mulia, Muhammad Saw. Kecintaan yang bukan hanya menenggelamkan kebencian, juga menenggelamkan segala-galanya. Sepeninggal Kaab, jubah pemberian Rasulullah diwariskan kepada keturunannya, jubah yang bahkan membuat iri sahabat-sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam, karena diberikan kepada manusia utama, Muhammad Saw. Pada periode pemerintahan Muawiyah, Muawiyah menebus jubah itu dengan sepuluh ribu dirham dan dijadikan pakaian kebesaran.

Cerita tentang Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan secara lengkap oleh al-Hakim dalam al Mustadrok ‘Ala As-Shohihain, cerita yang sama juga disebutkan dalam Al-Ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan Usdul Ghobah karya Ibnul Atsir.

Selanjutnya, Imam Bushiri yang sempat disinggung diatas, bernama asli Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shanhaji bin Hilal Ash-Shanhaji.  Beliau menganut madzhab Syafii dan bertarekat Syadziliy. Lahir di Dalash pada hari Selasa bulan Syawwal tahun 608 H, atau 1211 M. Sebagian berpendapat penyematan laqob Bushiri adalah karena ayah ibunya berasal dari Bushir, sebuah daerah di Mesir. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa karena Imam Bushiri kemudian tumbuh berkembang didaerah Bushir. Beliau berasal dari suku Habnun, salah satu suku didaerah Maghrib atau Maroko.

Imam Bushiri sejak kecil, belajar langsung dari sang ayah tercinta. Sudah menghafalkan al Qur’an sejak usia dini, begitupula mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab dibawah bimbingan sang ayah tercinta.

Setelah dewasa, Bushiri muda berpindah ke Kairo dan menyerap serta mempelajari berbagai ilmu dari banyak ulama disana. Mempelajari tata bahasa Arab, kesusasteraan Arab dan pengetahuan lainnya. Rihlah ilmiahnya di Kairo telah menjadikannya telah menjadikannya dikenal sebagai penyair dan sastrawan ulung. Selain bahwa beliau juga terkenal akan keindahan tulisannya atau ilmu kaligrafinya. Bahkan menurut Syaikhul Islam Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami dalam Syarh Burdah menyatakan dalam seminggu tak kurang seribu orang menimba ilmu dari Imam Bushiri tentang ilmu khat atau kaligrafi ini.

Sejak awal, imam Bushiri memang terkenal erat sekali kehidupannya dalam dunia tasawwuf. Dia memilih dan terkenal menjalani kehidupan yang wara’, disiplin dan penuh dengan akhlak mulia. Ketika ditawari menjadi pegawai dalam pemerintahan Mesir ketika itu, imam Bushiri menolak karena merasa tidak sepakat secara prinsip dengan model para pegawai pemerintahan ketika itu. Beliau juga pernah menjadi guru tulis menulis untuk para kelompok pembelajaran didaerah Bilbis. Sebelum akhirnya meninggalkan kesenangan duniawi dan pergi menyendiri dan belajar ke Iskandariyah atau yang kita kenal Alexandria.

Di Alexandria beliau berguru kepada Al Quthb Abul Abbas Al Mursi. Disinilah Al Bushiri digembleng dan dibentuk menjadi sosok yang mumpuni. Ditangan guru beliau Al Quthb Al Mursi ini lahir dua ulama besar yang kita kenang hingga saat ini. Yakni Imam Al Bushiri yang kita kenal melalui syair atau nazhamnya yang dikenal dibelahan bumi manapun. Pun begitu saudara seperguruan beliau yang terkenal melalui prosa (natsar), yakni Al Imam Ibnu Athaillah As Sakandariy, pengarang kitab Al Hikam. Dari bimbingan Syaikh Al Mursi-lah, pancaran keilmuan imam Al Bushiri nampak cemerlang dan terpancar kemana-mana.

Diantara karangan beliau yang terkenal adalah Sholawat Mudhoriyah, dimana sholawat ini dikenal sebagai Mudhoriyah karena dalam sholawat tersebut dinisbatkan pada datuk Nabi Muhammad Saw, Mudhor. Diantara karya besarnya adalah Sholawat Al Hamziyah wa Kawakib Ad Duriyah, atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai Qosidah Burdah Al Madih.

Imam Al Bushiri hidup pada masa transisi dan pergolakan politik yang luar biasa, yakni ketika pergantian dari kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik Bahriyah. Dan sebagaimana masa transisi pada umumnya, masa itu dipenuhi dengan pergolakan tak henti-henti, akhlak dan etika sosial masyarakat yang merosot, sementara pejabat-pejabat pemerintahan mengejar memuaskan nafsu duniawinya. Dalam keadaan tersebutlah lahir karya monumental Qoshidah Burdah, yang berusaha meredam kesulitan ketika itu.

Dalam meredam kesesatan berfikir yang mendahulukan nafsu keduniawian para pembesar dan rakyat yang merajalela ketika itu, Qoshidah Burdah pun menyelipak pembahasan tentang nafsu dalam beberapa bagiannya. Qoshidah Burdah sendiri terdiri atas 160 bait syair atau nadhom. Terdiri atas pembukaan 12 bait, menerangkan tentang nafsu 16 bait, 30 bait berisi tentang pujian kepada baginda Rasulullah Saw, 19 bait menerangkan tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw, 1 bait berisi doa Imam Bushiri, 17 bait pujian akan keutamaan al Qur’an, 13 bait Mi’raj Nabi Saw, 22 bait tentang perjuangan Nabi Saw, 14 bait menerangkan tentang istighfar, 9 bait tentang munajat Imam Bushiri. Dan beberapa tema lain yang begitu menyentuh hati.

Tentang penamaan Burdah ini, ada sebuah kisah yang karib ditelinga kaum pesantren. Bahwa Syaikh Al Bushiri pernah dilanda penyakit yang menyebabkan kesulitan untuk menggerakkan badannya. Ini menyulitkan Syaikh Bushiri untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Dalam keadaan yang sedemikian ini, Syaikh Al Bushiri bermunajat dalam keheningan doa.

Dalam keadaan antara jaga dan tertidur, Syaikh Al Bushiri didatangi oleh Nabi Muhammad Saw ketika Imam Bushiri melantunkan qoshidah yang berisi madah dan pujian kepada baginda yang mulia Muhammad Saw. qoshidah itu mengalir dari mulut indah Imam Bushiri untuk memuji dan mengagungkan manusia termulia sepanjang masa. Nabi Agung Muhammad Saw yang mendengar pujian itu merasa senang dan bahagia sehingga mengusap bagian tubuh Imam Bushiri yang sakit. Sebagian cerita mengatakan bahwa Nabi Mulia Muhammad Saw juga memberikan selimut atau selendang yang disebut dengan burdah. Sehingga ketika Imam Bushiri bangun, sang imam merasakan bahwa bagian tubuhnya yang sakit sudah sembuh. Bahkan merasa lebih sehat dari semula. Maka sebagian orang mengatakan, bahwa qoshidah ini sebenarnya bernama qoshidah bur’ah, yang berarti kesembuhan, bukan qoshidah burdah. Karena qoshidah burdah lebih pada qoshidah Kaab bin Zuhair. Namun ketika dinisbatkan pada ceritera mimpi Imam Bushiri, maka tak salah juga menamakan qoshidah ini sebagai qoshidah burdah.

Pada waktu paginya, tetiba ada seseorang yang menemuinya dan memintanya untuk membacakan qoshidah yang memuji Nabi Muhammad Saw dengan madah yang indah itu. Sang Imam pun kebingungan tentang qoshidah yang dimaksud, sampai sang penanya menyatakan, “Bacakanlah qoshidah yang dimulai dengan, amin tadzakuri jironim bi dzi salami..”, terang sang penanya. Sadarlah Imam Bushiri tentang qoshidah yang dimaksud.

Sesampai Imam Bushiri di masjid setelah berjamaah, sang guru pun menyatakan keinginan yang sama, agar Imam Bushiri membacakan qoshidah yang dikarang semalam. Dan sejak saat itulah qoshidah burdah menjadi qoshidah yang terkenal dan menyebar ke seantero negeri. Semakin lama dalam perkembangannya, Qoshidah Burdah ini menjadi primadona dalam sekian majlis dibelahan dunia manapun. Banyak rutinan yang digelar untuk melakukan pembacaan qoshidah ini, qoshidah ini juga dibaca setelah sholat dibeberapa tempat, atau juga dibaca untuk mengawali majlis, ketika menunggu majlis dzikir atau majlis ilmu dimulai.

Sebenarnya Imam Al Bushiri adalah ulama besar yang cukup menguasai dibidang ilmu fikih, ilmu khat atau kaligrafi, dan dalam ilmu tafsir serta hadits. Namun kebesaran nama qoshidah burdah, telah menenggelamkan nama besar Imam Bushiri dibidang lain, bahkan terkadang nama Imam Bushiri sendiri. Terlalu banyak orang yang mengumandangkan qoshidah burdah tanpa tahu siapa pengarangnya. Imam Bushiri wafat pada tahunn 696 H, dimakamkan di Iskandariyah tidak jauh dari makam sang guru Abu Abbas Al Mursi. Pada makamnya yang bersambung dengan Masjid Jami’ ditulis beberapa bait Qoshidah Burdah dengan tulisan yang indah, dan makamnya pun ramai diziarahi.

Diluar Qoshidah Burdah, juga kita temui kitab-kitab maulid baik yang berbentuk prosa maupun syair (nadhom). Diantaranya yang terkenal dan seringkali diperdengarkan diberbagai kesempatan adalah, Maulid Al Diba’i, Maulid Al Barzanji, Maulid Al Azab, Maulid Simtudh Dhuror, Maulid Dhiyaul Lami’. Walaupun ada banyak kitab maulid yang dikarang oleh ulama-ulama lain yang tak kalah hebat. Kitab-kitab maulid sendiri sebenarnya merupakan kitab sirah, atau sejarah Nabi Muhammad Saw, namun dalam perkembangannya, kitab maulid mempunyai kekhasan tersendiri, yakni penulisannya yang berima, sehingga mudah dihafalkan dan merdu didengar.

Maulid yang juga masyhur ditanah Jawa adalah Maulid Diba’ yang dikarang oleh  Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy. Beliau dikenal sebagai Ibnu Diba’ yang sebenarnya merupakan laqob atau julukan dari kakek beliau, yang dalam bahasa Sudan berarti putih.

Lahir pada 4 Muharram 866 H, dikota Zabid, Yaman Utara. Beliau wafat pada hari Jumat tanggal 26 Rajab 944 Hijriyah. Kota Zabid dahulu dikenal juga sebagai kota Hushoib. Terletak dilembah Zabid yang terletak 40 kilometer dari Laut Merah. Kota ini sudah dikenal semenjak zaman Nabi Muhammad Saw, tepatnya pada kisaran tahun 8 Hijriyah. Adalah Abu Musa Al Asy’ari, sahabat nabi yang berasal dari suku Asy’ariyah yang berasal dari kota Zabid. Ramainya keilmuan di kota Zabid, adalah berkah dari doa Nabi Muhammad Saw yang mendoakan keberkahan kota Zabid karena gembiranya atas kehadiran Abu Musa dan rombongan untuk memeluk dan belajar Islam ke Madinah Al Munawwaroh.

Ibnu Diba’i sendiri semenjak kecil tidak pernah bertemu dengan ayahnya, karenaketika lahir, ayahnya dalam perjalanan dan meninggal didataran India. Ibnu Diba’i mampu menghafal al Qur’an pada usia 10 tahun dibawah bimbingan Syekh Nuruddin Ali bin Abu Bakar. Beliau juga berguru pada mufti Zabid, Syekh Jamaluddin Muhammad Atthoyyib, yang merupakan pamannya sendiri. Pada pamannya ini pula, Ibnu Diba’i mengkaji ilmu faroidh, Nadzom Syatibiyah, gramatikal bahasa Arab dan sebagainya. Atas arahan pamannya pula ia mengaji kitab Nadzom Zubad, syair yang berisi kajian fikih ala madzhab Imam Syafii pada Syeikh Umar bin Muhammad Fata Al Asy’ari.

Pengembaraan keilmuannya semakin hari semakin meluas, ketika berbekal uang warisan ayahnya, beliau berangkat menunaikan haji dan menimba ilmu disana. Sepulang dari Mekkah pun beliau tetap melakukan pengembaraan intelektualnya dengan mengkaji kitab-kitab hadits pada ulama-ulama terkemuka di kota Zabid. Mulai dari kitab Shohihain Bukhori Muslim, Sunan Tirmidzi sampau kitab Muwattho’ karangan Imam Malik. Kajian hadits ini ditekuni dibawah bimbingan Syeikh Zainuddin Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy, seorang ulama hadits tersohor kala itu. Disamping juga mengkaji kitab hadits pada Syeikh Burhanuddin bin Jaghman. Pada saat itu pula Imam Ad Diba’i juga mengarang kitab Ghoyatul Mathlub. Dalam bidang fikih, kitab Minhajutttholibin dan Hawi Shogir dikajinya dari Syeikh Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman.

Pada 896 Hijriyah, Imam Ad Diba’i mengunjungi Mekkah kembali untuk berhaji kali keduanya dan menuntut ilmu disana untuk beberapa waktu. Termasuk mengkaji hadits pada ulama hadits tersohor ketika itu, Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Assyakhowi. Kebiasaan membaca hadits dan mengkaji ilmu terutama dalam hadits yang dilakukan oleh Imam Ad Diba’i ini merupakan kebiasaan ulama-ulama untuk mengambil sanad keilmuan dan sanad hadits dari berbagai sumber. Sanad merupakan sebuah alur transmisi keilmuan yang menyatakan keabsahan sebuah ilmu, jaminan akan kebenaran pemahaman. Sanad sangat penting dan merupakan bagian yang vital dalam kajian keislaman, terutama bagi mereka yang ingin mempelajari hadits.

Sepulang dari Mekkah beliau mengarang kitab Kasyful Kirbah dan Bughyatul Mustafid. Dan menjadi ulama yang disegani, bukan hanya karena keluasan ilmunya, namun juga keindahan tutur kata dan budi pekertinya. Banyak ulama-ulama dan pelajar yang mendatanginya guna belajar hadits dan mendapatkan sanad hadits dari beliau. Maka tak heran, jika kemudian karangan beliau disamping kitab Bughyatul Mustafid yang terkenal itu, beliau juga lebih dikenang dengan karangannya yang berisi madah, pujian kepada Nabi Muhammad Saw, yakni Maulid Ad Diba’i.

Dalam pembahasan maulid dan karangan yang memuat madah kepada Rasulullah Saw, kita juga akan mengenal Maulid Al Barzanji. Yang dikarang oleh Syaikh Ja’far Al Barzanji. Lahir hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126  di Madinah Al Munawwaroh. Beliau juga wafat di Madinah Al Munawwaroh pada Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H dan  dimakamkan di Jannatul Baqi’.

Nama asli beliau dengan pernasabannya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali Ra. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad Saw dari jalur sa’adah Al Barzanji yang terkenal. Nama Barzanji diambil dari nama kota Barzanj di Irak.

Beliau adalah orang yang alim lagi berkepribadian sholeh. Bukti kesholehannya ini sampai-sampai terdapat cerita bahwa suatu ketika pada musim kemarau, di saat beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon hujan). Dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya. Maka pada saat itu, para ulama memujinya dengan syair yang menggambarkan bahwa kejadian itu hampir sama dengan ketika sayyidina Umar dan sayyidina Abbas yang meminta hujan dan langsung diijabahi.

Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif menulis, Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah. 

Imam Al Barzanji menguasai begitu banyak fan ilmu, beliau adalah lautan ilmu yang tak bertepi, mulai dari Shorof, Nahwu, Ma’ani, Bayan, Manthiq, ‘Arudh, Adab, Fiqh, Qiraat, Ushul Fiqh, Hisab, Ushuluddin, Ushul Hadits, Hadits, Mustholahul Hadits, Rijal Hadits, Tafsir, Hikmah,  Kalam, Lughat, Sirah, Suluk, Faraidh, Tasawwuf.

Kitab maulid Al Barzanji sebenarnya merupakan pemenang sebuah sayembara menulis sejarah atau sirah Nabi Muhammad Saw yang diadakan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Sayembara ini diadakan untuk memperingati dan memeriahkan maulid Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, mental kaum muslimin sedang benar-benar tergundang paska kekalahan dalam perang salib yang menyebabkan Masjid Al Aqsha dikuasai pasukan salib dan dijadikan gereja. Maka atas inisiatif Shalahuddin Al Ayyubi, diprakarsai peringatan Maulid Nabi untuk menandingi peringatan natal dan meningkatkan spirit perjuangan kaum muslimin.

Dalam rangka meramaikan perayaan Maulid itu juga diadakan sayembara penulisan sirah nabawiyah, ceritera perjuangan nabi. Para sastrawan, ulama dan cerdik cendekia diundang untuk membuat karya yang bertujuan meningkatkan rasa cinta kepada baginda Rasulullah Saw. Karena dengan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah jualah, kesatuan umat akan mudah diwujudkan.

Dan benarlah adanya, setelah perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw yang digelar dengan meriah, semangat mereka dengan meneladani bagaimana kehidupan nabi yang mereka dengan dari pembacaan maulid, mental kaum muslimin kembali bangkit. Hingga Yerussalem dapat direbut kembali dan Masjid Al Aqsha dikembalikan fungsinya sebagai masjid hingga sekarang ini.

Sarjana Jerman peneliti Islam Annemarie Schimmel pada 1991 pernah mengarang buku berjudul Muhammad Adalah Utusan Allah; Penghormatan Kepada Nabi Saw Dalam Islam menerangkan, bahwa karya asli Al Barzanji sebenarnya berbentu prosa atau natsar, namun kemudian diolah oleh beberapa ulama sehingga menjadi syair, nadzhom atau eulogy yang indah guna memadah pribadi yang termulia, Muhammad Saw.

Karya ini terbagi dua macam, nadhom dan natsar. Bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair, dengan diakhiri rima “nun”. Sedangkan untuk Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 syair, dengan rima akhir bunyi “ah” . Seluruhnya menuturkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari menjelang beliau dilahirkan, kecil, tumbuh kembang hingga masa-masa tatkala menjelang dan pasca mendapat tugas kenabian.

Nama asli kitab ini adalah ‘Iqdul Jawahir, yang berarti kalung permata atau selengkapnya bernama ‘Iqdul Jauhar fi Maulid An Nabiyyil Azhar. Dalam Maulid Al Barzanji diceritakan sejarah tumbuh dan perjuangan manusia mulia, Muhammad Saw. Banyak ulama yang telah mensyarahi atau memberi penjelasan atas kitab ini, diantaranya adalah ulama keturunan Indonesia, Sayyidul Ulamail Hijaz, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. Atau yang kita kenal Syaikh Nawawi Banten.

Lalu apa guna kita memperingati maulid, mengingati perjalanan kehidupan manusia mulia ini. Sebgaian pihak dengan lantang menuding kebiasaan ini adalah bid’ahn memuji nabi adalah ghulluw dan sebagainya. Perlulah kita mengingat, bagaimana kejadian Kaab bin Zuhair ketika memuji nabi Saw. Apakah Nabi Muhammad memberikan ia batasan bagaimana Kaab sang penyair itu harus memuji dirinya. Secara tak langsung diamnya nabi, dan pemberian hadiah oleh nabi kepada Kaab bin Zuhair adalah bentuk dukungan dan persetujuan, memuji nabi adalah sunnah taqririyah. Ketika nabi kita yang mulia, Muhammad ibn Abdillah Saw, begitu senang ketika umatnya memujinya seperti ketika Kaab memuji beliau, akankah beliau marah ketika kita memujinya selepas ia tiada?.

Lihatlah bagaimana para ulama kita, orang-orang alim yang bahkan ilmunya tak dapat ditakar dengan lautan, yang kedalaman ilmunya tak dapat disangkakan pada kedalaman samudera, tak mampu menahan rasa cintanya kepada manusia mulia. Hingga kidung cinta meluncur untuk mengurangi beban derita rindunya.

Kekerdilan berfikir yang menghinggapi sebagian umat Islam hari ini, adalah bentuk pendangkalan berfikir. Memanglah Kaab diberi hadiah karena kelihaiannya membuat syair yang lahir dari kedalaman bathinnya, akibat sinaran cahaya cinta nabi. Yang menelusup jauh kedalam sanubari Kaab dan membuatnya jatuh cinta tak terperi. Memanglah daya tarik luar biasa juga, yang menghinggapi Imam Bushiri hingga ia mampu melantunkan syair madah sedemikain hebatnya. Daya tarik dari seseorang yang paling mulia, yang bahkan bumi dan langit, Jibril dan Mikail, merasa begitu rendah dihadapannya. Bukankah, hanya karena kecintaan yang luar biasa yang mampu menggerakkan pena-pena Ad Dibai dan Al Barzanji, untuk memuji sang pujaan, yang memang harus kita cintai lebih dari dunia ini. Sedangkan kita yang miskin kata-kata dan makna, haruskah kita kehiangan pujian pada diri yang begitu mulia?.

Bukan tanpa alasan bagaimana masyarakat begitu mencintai syair-syair madah kepada manusia mulia ini, sederhana saja. Bahwa mereka yang tak punya begitubanyak  kata-kata emas untuk memuji manusia agung ini, dengan kelemahannya, mereka meminjam kata-kata para penyair yang handal itu, guna mengungkapkan cintanya. Padahal senyatanya, cinta mereka tetap tak terwakili kata-kata. Apa daya?.

Bagaimana kita mengungkapkan cinta dan kekaguman pada pribadi yang nantinya akan memberikan pertolongan, manakala harta, jabatan, kedudukan bahkan anak dan orang tua tak mampu memberikan pertolongan?. Bagaimana mungkin mengungkapkan kecintaan dan kekaguman pada jiwa yang telah menyelamatkan kita dari kejahiliyahan dan kepicikan, bisa dianggap sebagai berlebih-lebihan?

Ingat dan simaklah bagaimana Al Bushiri menyangkal ini dengan berkata, “Tinggalkanlah sebutan yang dipakai oleh kaum Nasrani pada nabinya (yesus anak tuhan.red), dan pujilah dia (Muhammad Saw) sesuka hatimu.”

Asalkan kita tak menganggap nabi sekedudukan dengan Tuhan Robbi Izzati, maka sebenarnya pujian apapun layak disandang oleh yang mulia Muhammad Saw. Bukankah Allah sendiri bahkan rela memuji dan memberikan namaNya kepada Muhammad Saw, yakni Ar Rouf, Ar Rahim?. Lalu pujian apa yang tidak layak kita berikan, sementara kita hanya makhluk yang lemah?.

Imam Nawawi menyatakan peringatan Maulid adalah sunnah, ini diperkuat oleh Imam Al Atsqolaniy. Beliau menjelaskan dengan kuat, bahwa meperingati maulid nabi mendapatkan pahala. Imam Taqiyyudin As Subki, menulis kitab khusus mengenali kemuliaan dan keagungan Nabi Saw, dan menyatakan barangsiapa menghadiri majis yang didalamnya terdapat pujian-pujian kepada Nabi Saw akan mendapat ganjaran pahala. Ima Ibnu Hajar Al Haitsami juga sedemikan menulis kitab serupa, dan menuturkan bahwa maulid adalah hari besar yang perlu dirayakan. Imam Al Jauzy Al Hambali juga mengatakan manfaat yang istimewa dari perayaan maulid Nabi Saw.

Lalu apa manfaat dari kita memadah nabi agung Muhammad Saw. Dr. Sa’id Ramadlan Al-Bûthi menulis dalam Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.”

Yang mengherankan pada kurun-kurun waktu ini adalah, bagaimana beberapa orang menghormati guru-guru dan pembesarnya dengan menyebutnya dengan berbagai macam sanjungan dalam pidato dan berbagai macam kesempatan, sayyidi, tuanku, yang kami hormati, pedoman kami, qudwah kami, sementara ketika orang lain menambahkan kata sayyidina pada manusia mulia Muhammad Saw, mereka melarangnya. Mereka memuji orang lain yang bahkan mungkin tak akan memberi manfaat kelak di Hari Pertanggungan, sementara enggan memuji pada penyelamat, nabi mulia Muhammad Saw.

Semogalah kerinduan kami yang tak sempurna, rindu kami yang terlalu banyak cela, cukup menjadi penebus kami kelak ketika ajal menjemput kami wahai kekasih hati. Kiranya takdzim yang tak terbatas ini, yang walaupun diikuti dengan segala nafsu dan kotoran dunia, mampu menyelamatkan kami dan keluarga kami, ketika dihadapan Tuhan Yang Maha Mulia. Karena kami yakin, tatkala ruh sucimu telah keluar, engkau masih mengingati kami dengan perkataan, ummati, ummati, ummati. Begitu cinta dan kasihnya engkau pada kami, padahal kami jelas hina dina penuh noda. Dan kami yakin, cinta Tuhanmu dan cintamu, lebih besar dari cinta hina kami. Dan cukuplah cintamu menjadi penebus kami, wahai junjungan kami, cinta kami, Muhammad ibnu Abdillah.


 (Pernah dimuat sebagai editorial Majalah Al Fikrah, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin)