top social

Selasa, 27 Desember 2016

Madah dan Maulid Nabi; Syirik atau Sunnah?

Alkisah, hiduplah sepasang saudara Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma dan adiknya Bujair. Mereka berdua adalah anak dari Zuhair bin Abu Sulma. Zuhair sendiri adalah penyair ternama pada masanya. Termasuk dalam penyair kondang periode pertama bersama Imru al Qais dan al Nabighah al Dzubyani. Zuhair, ayah dari kedua bersaudara ini terkenal sebagai penyair Arab jahiliyah kawakan. Dalam syair-syairnya, Zuhair dikenal bijak dan menjauhi kata kasar. Syairnya acap mengandung hikmah, amtsal dan ijaznya bagus, tidak suka memakai kata berlebih, sedikit kata banyak makna. Syair Zuhair juga dikenal karena bagusnya madah dan kejujurannya, selain juga kehalusan kata yang digunakan.

Tentang Zuhair ini, Umar bin Khattab pernah berkata, ”Zuhair adalah penyair yang tidak bertele-tele dalam ungkapannya, menghindari syair yang rumit dan tidak memuji kecuali apa adanya”. Zuhair tumbuh dalam keluarga yang mencintai dan menggeluti sastra. Ayahnya Rabi’ah bin Rabah adalah penyair. Pamandanya Basyamah ibn al Ghadir juga penyair terkenal. Pun begitu kedua saudarinya, adalah penyair kenamaan, Salma dan Khanza. Semasa hidupnya, walau tak sempat bertemu dengan Nabi Muhammad Saw, Zuhair juga mempercayai hari akhir dan hari pembalasan, itu terekam dalam syair-syairnya. Syair-syair Zuhair yang indah ini, kerap diperdengarkan di istana-istana para raja, kepala suku dan para hartawan karena keindahannya menggugah nurani dan menenangkan, menghibur dan menggambarkan keindahan sastra yang luar biasa.

Maka tak heran jika kedua anaknya, Kaab bin Zuhair dan Bujair meneruskan tradisi kesusasteraan dan menjadi penyair ternama meneruskan tradisi besar keluarganya. Baik Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma, maupun Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma pun menjadi penyair yang disegani. Yah, walau mendapati julukan jahiliyah, senyatanya orang Arab pra Islam mempunyai tingkat dan kemampuan kesusasteraan yang begitu tingginya. Sehingga tak heranlah kita mendapati kitab suci Al Qur’an begitu sempurna dan luar biasa susunan dan keindahan kata-katanya. Tentu guna dapat diterima di “alam Arab” yang begitu tinggi tingkat kesusteraannya.

Orang-orang Arab pra Islam seringkali dibagi menjadi dua kategori, yakni Arab Hadhari dan Arab Badawi. Arab Hadhari yakni Arab yang menempati perkotaan-perkotaan dan berdiam diri secara permanen. Sebaliknya, Arab Badawi, adalah golonga suku Arab yang nomaden. Mereka menempati gurun-gurun, yang manakala ada kondisi khusus yang menyebabkan mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan tersebut, maka mereka akan berpindah. Menuju tempat baru yang lebih menjanjikan. Orang-orang Arab Badawi, yang berada dipelosok-pelosok itu biasa bercakap dengan bahasa asli, bahasa fusha yang tinggi tingkat kesusasteraan. Inilah diantara alasan kenapa anak-anak kecil suku Arab biasa dipersusukan kepada kaum wanita pedesaan. Tentu kita mengingat bagaimana Nabi Agung dipersusukan kepada wanita pilihan, Sayyidah Halimah Sa’diyah. Diantara alasannya, adalah agar anak-anak kecil tersebut belajar bahasa Arab yang baik, yang fushah dengan susunan keindahan yang juga luar biasa. Disamping agar anak-anak kecil tersebut dapat menghirup udara yang masih bersih di pedesaan.

Kaab bin Zuhair dan Buhair bin Zuhair bin Abi Sulma adalah sekian dari beberapa orang pilih tanding dalam hal syair dan sastra. Namun dalam suatu kesempatan, ketika mereka menggembala ternaknya dalam sebuah tempat bernama Abroh Al Azzad didekat kota Madinah, Bujair meminta izin kepada kakaknya, Kaab bin Zuhair untuk memasuki kota Madinah. Perginya Bujair ke kota Madinah adalah guna menuntaskan rasa penasarannya atas diri seseorang yang telah mengaku sebagai utusan Tuhan Yang Maha Perkasa. Orang itu tak lain adalah Nabi Muhammad Saw.

Guna memuaskan hasrat penasarannya itu, Bujair pun melangkahkan kaki menuju kota Madinah. Rasa penasaran sudah membuncah, ingin mengetahui lebih dekat, orang yang mengaku Rasulullah dan telah menganjurkan untuk meninggalkan ajaran nenek moyang kaum Arab pagan ketika itu. Sesampainya di kota Madinah, Bujair mendapati seseorang yang rupawan, indah perangai dan tutur katanya. Sosok yang selama ii disifati dengan sifat jelek, ditemuinya bak laksana intan permata. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang bukan hanya sekedar tunduk selaksa penguasa, namun juga mencintainya lebih dari apapun atas diri si Utusan Agung, hingga jangankan harta, nyawa pun akan mereka berikan. Bagaimana mereka bergaul dengan Sang Utusan Agung itu telah menyihir perasaan Bujaih bin Zuhair bin Abi Sulma. Dia tak percaya, manusia biasa akan begitu agung perangai dan pesonanya. Masuklah Bujair kedalam agama yang diserukan oleh Utusan Agung tersebut. Masuklah Bujair dalam agama Islam, agama hanif, agama tauhid yang diserukan sejak dulu melalui bapak manusia, Adam As hingga Ibrahim As dan seterusnya.

Kabar masuknya Bujair kedalam agama Islam, sudah didengar oleh kakaknya, Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma. Maka ketika Bujair datang menghadap sang kakak, sang kakak pun murka luar biasa. Ia mencaci maki Bujair tak alang kepalang. Walau Bujair berusaha mendeskripsikan bagaimana perangai Rasulullah yang bagi Bujair luar biasa itu, bagi Kaab itu hanya omong kosong. Ketika Bujair menceritakan akhlak dan kebaikan sang Rasul yang tiada duanya didunia, yang tak mungkin dimiliki manusia biasa, Kaab menanggapinya sebagai bujukan yang tak berdasar. Pecahlah persaudaraan, pecahlah ikatan darah, yang bagi kaum Arab ketika itu adalah segala-galanya. Keduanya berpisah. Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma kembali ke Madinah, untuk meneguk manisnya pembelajaran dari sang Manusia Utama, Muhammad Saw. sedangkan Kaab tetap menjadi bagian kaum pagan yang menyembah berhala dan kembali pada kaumnya.

Ternyata masuknya Bujair dalam agama Islam, meninggalkan luka yang luar biasa bagi Kaab. Adik yang disayangi telah keluar dari agama nenek  moyangnya, telah berani mengkhianatinya. Mengkhianati kepercayaan yang sudah turun temurun dipercayai dan mempercayai kepercayaan baru yang telah lama mereka hindari, caci maki dan jauhi. Adiknya lebih memilih dan mempercayai orang baru, Muhammad yang ketika itu telah membangun kekuatan di Madinah.

Sebagaimana layaknya penyair, Kaab juga memceritakan kekalutan hatinya atas nasib adiknya dalam syair-syair. Namun ketika kekalutan dan kebencian dalam hatinya membuncah, syair Kaab berubah menjadi cacian dan fitnah baik kepada adiknya, kepada Nabi Muhammad Saw ataupun kepada Abu Bakar Ra, orang yang dianggap sebagai tangan kanan Muhammad Saw. bahkan pernah dalam syairnya, Kaab menceritakan bahwa Bujair setiap malam diajak Muhammad Saw untuk berpesta dan mengingkari agama nenek moyangnya. Kebencian dan kekalutan Kaab menambah amunisi bagi kaum kafir, terutama kaum kafir Quraisy di Mekkah. Syair-syair Kaab acap didendangkan hanya untuk menghina kaum muslimin dan Nabi Muhammad Saw.

Lambat laun, syair-syair Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma, terdengar dimana-mana sebagai bahan umpatan, caci maki dan penghinaan bagi Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar dan kaum muslimin pada umumnya. Bahkan beberapa syairnya dirubah dan dibuat sedramatis mungkin, guna mendapatkan penghinaan yang lebih kejam bagi Muhammad Saw. syair-syair Kaab dibuat semakin dahsyat ejekan, cemoohan dan hinaan serta caci makinya pada Rasulullah Saw. Hal ini juga akhirnya sampai pada Bujair bin Zuhair, adiknya serta sampa pada pendengaran Rasulullah Saw. Melihat penghinaan dan caci maki serta fitnah yang dibuat Kaab bin Zuhair, bahkan Rasulullah Muhammad Saw, sempat menghalalkan darah Kaab bin Zuhair, atas penghinaan dan provokasi serta fitnah yang cenderung keji tersebut.

Tibalah pada kejayaan Islam, sekira tahun ke 8 Hijriyah, kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Ketika peperangan memasuki Thaif, Bujair bin Zuhair melihat bagaimana banyak penyair arab yang kerap memusuhi Nabi Muhammad Saw berkalang tanah, mereka yang melawan dan berusaha untuk menyerang kaum muslimin kalah dan mati. Banyak diantara mereka yang selama ini melontarkan fitnah keji, caci maki dan umpatan kepada kaum muslimin, tidak mempunyai kekuatan untuk melawan kaum muslimin yang dadanya dipenuhi oleh gelora seemangat memerangi kebathilan. Para pendamping Nabi Muhammad Saw yang biasanya ramah dan santun itu, ketika berlaga dimedan perang, bak singa-singa Allah yang dilepaskan. Mereka tak dapat dibendung, tidak takut mati apalagi sakit. Kemenangan yang gilang gemilang itu menggembirakan kaum muslimin, tidak luput pula Bujair bin Zuhair. Namun dibalik kegembiraannya, Bujair sedih mengingat nasib kakandanya tercinta yang menjadi incaran kaum muslim.

Melihat kondisi yang sedemikian itu, Bujair berinisiatif melayangkan surat kepada kakaknya tecinta, Kaab bin Zuhair. Dalam suratnya Bujair memberikan deskripsi tentang keadaan yang berlaku, bagaimana kaum kafir telah dipecundangi oleh kaum muslim. Kaum kafir yang secara jumlah berlipat ganda jumlahnya dari kaum muslim, mengalami kekalahan telak dengan sergapan dari kaum muslim, kaum kafir itu dijadikan bulan-bulanan oleh pejuang-pejuang muslim yang gagah perkasa. Selain itu, Bujair juga menggambarkan bagaimana akhlak Rasulullah, dan bagaimana baginda Rasulullah Saw memaafkan pihak-pihak yang selama ini memusuhinya dan bertindak adil pada mereka yang mau masuk Islam.

Diakhir suratnya, Bujair menyarankan dan memberikan dua pilihan kepada kakaknya. Antara menyerahkan diri, masuk Islam dan hidup dalam indahnya perlindungan Islam yang begitu luar biasa. Atau melarikan diri dengan menghindari kaum muslim dengan pergi jauh. Keduanya bagi Kaab mengandung konsekwensi masing-masing. Keduanya sama beratnya, dan itu disadari baik oleh Kaab maupun Bujair, sang adik.

Melihat surat dan kondisi sedemikian itu, Kaab berinisiatif mencari perlindungan dari para sahabat-sahabatnya yang dulu menyanjungnya karena berani membuat syair yang digunakan melemahkan dan menghina kaum muslim. Namun, harapan Kaab haruslan pupus, dalam kondisi sedemikian itu, setiap orang hanya berfikir tentang keselamatan diri sendiri dan keluarganya saja. Sahabat-sahabat yang dulu mengelu-elukan dirinya, hari ini menolak melindunginya, bahkan menghindari dirinya. Yah, Kaab bin Zuhair, penyair dan sastrawan kenamaan yang dulu digunakan dan diunggulkan guna menghina Nabi Muhammad Saw, hari ini terlunta-lunta. Semua sadar, akibat perbuatannya itu, Kaab bin Zuhair hari ini tidak lebih adalah buronan yang dicari-cari oleh kaum muslimin.

Dunia serasa sempit bagi Kaab, tak ada persembunyian, tak ada saudara yang melindungi, tak ada teman yang mau diajak berkompromi. Maka bagi Kaab bin Zuhair, pengampunan Rasulullah Saw, adalah satu-satunya jalan dan cara untuk selamat. Dan dia masih belum percaya, orang yang terus disakitinya, dihina dan dimakinya dengan segala syairnya, difitnah dengan segala karya sastranya, akan mengampuni dia. Pilihan ini juga tentu mengandung resiko yang besar, belum lagi jalan yang harus dia tempuh untuk sampai dihadapan Rasulullah, jangan-jangan sebelum sampai dihadapan Rasulullah, dia sudah ditemui para pecinta Rasulullah, dan pasti celakalah yang dia temui.

Digelapnya malam, Kaab menyelinap kedalam Madinah, menemui seseorang yang dia kenal, dan mengutarakan maksudnya. Mendapati keterangan bagaimana kebiasaan Sang Utusan Allah itu bercengkerama, mengajari dan memberikan siraman hikmah pada para sahabat-sahabat mulianya setelah sholat Subuh dipelataran Masjid Nabawi. Dalam dinginnya udara dini hari, Kaab menyelinap dan menunggu saat yang tepat, dengan memakai penutup wajah merah, khas para Arab Badui.

Dalam satu kesempatan, Kaab mendekati Rasulullah. Dalam hal ini ada riwayat yang berbeda, sebagian riwayat menyatakan bahwa Kaab meminta diislamkan dahulu oleh Rasulullah Saw, sebelum akhirnya membuka rahasia siapa dirinya. Namun, dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa Kaab bertanya kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, andai orang yang bernama Kaab bin Zuhair menemuimu, apa engkau akan maafkan dia?”. “Ya, aku akan maafkan dia!”, jawab Rasulullah. “Jika Kaab bin Zuhair menyatakan akan memeluk agamamu, dan ikut menjadi pengikutmu, apakah akan engkau percayai?”, lanjut Kaab. “Ya, aku akan percaya!”, jawab Rasulullah Saw.

Maka, dibukalah penutup wajah Kaab bin Zuhair seraya mengatakan, “Ya Muhammad, akulah Kaab bin Zuhair”. Sontak saja, sekian sahabat yang ada didekat Rasulullah Saw menghunus pedang dan berniat membunuh Kaab, orang yang dianggap telah menghina Rasulullah, kalau saja tidak Rasulullah buru-buru menghalau dan mencagah mereka. “Bukankah engkau yang melantunkan syair seperti ini”, lantas nabi Muhammad meminta Abu Bakar membacakan syair-syair Kaab yang menghina Rasulullah. Ketika Abu Bakar membaca syair itu, pada beberapa bagian Kaab mengkoreksi, karena syairnya salah diucapkan, dimengerti atau telah diganti. “Benar ya Rasulullah, itu adalah syair-syairku”, jawab Kaab. Ketika itu barisan para sahabat disekitar Rasulullah semakin merangsek, sehingga Rasulullah mencegah denga mengatakan, “Dia telah meninggalkan masa lalunya dan berniat bertaubat, maka terimalah dia”, ujar Nabi yang mulia.

Melihat bagaimana ketinggian budi, akhlak dan perangai orang yang selama ini dia musuhi, tertunduklah Kaab bin Zuhair, dia minta segera diislamkan. Setelah menyatakan keislaman dihadapan Nabi Muhammad Saw, dan getaran aneh yang menyelusup dalam relung hati, dalam sumsum tulangnya, telah menjadikan ia tertunduk lunglai. Ada getaran dahsyat, akan kerinduan dan kecintaan yang menelungkup menjadi satu karena sentuhan lembut ditangannya. Keindahan tatapan dan senyuman itu telah menggelorakan rasa cinta kepada manusia termulia, Muhammad bin Abdullah Saw. Sadarlah dia, bagaiman kecintaan yang menylimuti jiwa itu, bisa membuat para sahabat Muhammad Saw, rela menukar nyawa demi sang manusia mulia.

Dan dengan tidak bisa menghindari panggilan jiwa sebagai sastrawan dan penyair, mengalirlah bait demi bait syair kecintaannya kepada Muhammad Saw. Qasidah itu dikenal sampai hari ini, yang dikenal dengan qasidah “Baanat Suad”. Ketika sampai pada satu bait yang memuji Rasulullah dengan indahnya, nabi Muhammad Saw bangkit dan memberikan burdah, selimutnya, ada yang mengatakan selempang dan atau sejenisnya kepada Kaab. Maka inilah sebenarnya qasidah burdah itu, sebelum Qasidah Burdah yang lebih dikenal dikaryakan oleh Imam Bushiri.

Konon, sepeninggal Rasulullah Saw, burdah atau baju yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Kaab itu ditawar oleh khalifah pertama, Abu Bakar. Namun Kaab bin Zuhair menolaknya, dan mnejadikan jubah itu sebagai kebanggaan. Kaab merawat jubah itu dengan segenap hatinya. Seakan itulah bukti kecintaan Nabi Muhammad Saw kepadanya dan sebaliknya, bukti kecintaanya kepada sang kekasih mulia, Muhammad Saw. Kecintaan yang bukan hanya menenggelamkan kebencian, juga menenggelamkan segala-galanya. Sepeninggal Kaab, jubah pemberian Rasulullah diwariskan kepada keturunannya, jubah yang bahkan membuat iri sahabat-sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam, karena diberikan kepada manusia utama, Muhammad Saw. Pada periode pemerintahan Muawiyah, Muawiyah menebus jubah itu dengan sepuluh ribu dirham dan dijadikan pakaian kebesaran.

Cerita tentang Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan secara lengkap oleh al-Hakim dalam al Mustadrok ‘Ala As-Shohihain, cerita yang sama juga disebutkan dalam Al-Ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan Usdul Ghobah karya Ibnul Atsir.

Selanjutnya, Imam Bushiri yang sempat disinggung diatas, bernama asli Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin bin Abdullah bin Shanhaji bin Hilal Ash-Shanhaji.  Beliau menganut madzhab Syafii dan bertarekat Syadziliy. Lahir di Dalash pada hari Selasa bulan Syawwal tahun 608 H, atau 1211 M. Sebagian berpendapat penyematan laqob Bushiri adalah karena ayah ibunya berasal dari Bushir, sebuah daerah di Mesir. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa karena Imam Bushiri kemudian tumbuh berkembang didaerah Bushir. Beliau berasal dari suku Habnun, salah satu suku didaerah Maghrib atau Maroko.

Imam Bushiri sejak kecil, belajar langsung dari sang ayah tercinta. Sudah menghafalkan al Qur’an sejak usia dini, begitupula mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab dibawah bimbingan sang ayah tercinta.

Setelah dewasa, Bushiri muda berpindah ke Kairo dan menyerap serta mempelajari berbagai ilmu dari banyak ulama disana. Mempelajari tata bahasa Arab, kesusasteraan Arab dan pengetahuan lainnya. Rihlah ilmiahnya di Kairo telah menjadikannya telah menjadikannya dikenal sebagai penyair dan sastrawan ulung. Selain bahwa beliau juga terkenal akan keindahan tulisannya atau ilmu kaligrafinya. Bahkan menurut Syaikhul Islam Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami dalam Syarh Burdah menyatakan dalam seminggu tak kurang seribu orang menimba ilmu dari Imam Bushiri tentang ilmu khat atau kaligrafi ini.

Sejak awal, imam Bushiri memang terkenal erat sekali kehidupannya dalam dunia tasawwuf. Dia memilih dan terkenal menjalani kehidupan yang wara’, disiplin dan penuh dengan akhlak mulia. Ketika ditawari menjadi pegawai dalam pemerintahan Mesir ketika itu, imam Bushiri menolak karena merasa tidak sepakat secara prinsip dengan model para pegawai pemerintahan ketika itu. Beliau juga pernah menjadi guru tulis menulis untuk para kelompok pembelajaran didaerah Bilbis. Sebelum akhirnya meninggalkan kesenangan duniawi dan pergi menyendiri dan belajar ke Iskandariyah atau yang kita kenal Alexandria.

Di Alexandria beliau berguru kepada Al Quthb Abul Abbas Al Mursi. Disinilah Al Bushiri digembleng dan dibentuk menjadi sosok yang mumpuni. Ditangan guru beliau Al Quthb Al Mursi ini lahir dua ulama besar yang kita kenang hingga saat ini. Yakni Imam Al Bushiri yang kita kenal melalui syair atau nazhamnya yang dikenal dibelahan bumi manapun. Pun begitu saudara seperguruan beliau yang terkenal melalui prosa (natsar), yakni Al Imam Ibnu Athaillah As Sakandariy, pengarang kitab Al Hikam. Dari bimbingan Syaikh Al Mursi-lah, pancaran keilmuan imam Al Bushiri nampak cemerlang dan terpancar kemana-mana.

Diantara karangan beliau yang terkenal adalah Sholawat Mudhoriyah, dimana sholawat ini dikenal sebagai Mudhoriyah karena dalam sholawat tersebut dinisbatkan pada datuk Nabi Muhammad Saw, Mudhor. Diantara karya besarnya adalah Sholawat Al Hamziyah wa Kawakib Ad Duriyah, atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai Qosidah Burdah Al Madih.

Imam Al Bushiri hidup pada masa transisi dan pergolakan politik yang luar biasa, yakni ketika pergantian dari kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik Bahriyah. Dan sebagaimana masa transisi pada umumnya, masa itu dipenuhi dengan pergolakan tak henti-henti, akhlak dan etika sosial masyarakat yang merosot, sementara pejabat-pejabat pemerintahan mengejar memuaskan nafsu duniawinya. Dalam keadaan tersebutlah lahir karya monumental Qoshidah Burdah, yang berusaha meredam kesulitan ketika itu.

Dalam meredam kesesatan berfikir yang mendahulukan nafsu keduniawian para pembesar dan rakyat yang merajalela ketika itu, Qoshidah Burdah pun menyelipak pembahasan tentang nafsu dalam beberapa bagiannya. Qoshidah Burdah sendiri terdiri atas 160 bait syair atau nadhom. Terdiri atas pembukaan 12 bait, menerangkan tentang nafsu 16 bait, 30 bait berisi tentang pujian kepada baginda Rasulullah Saw, 19 bait menerangkan tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw, 1 bait berisi doa Imam Bushiri, 17 bait pujian akan keutamaan al Qur’an, 13 bait Mi’raj Nabi Saw, 22 bait tentang perjuangan Nabi Saw, 14 bait menerangkan tentang istighfar, 9 bait tentang munajat Imam Bushiri. Dan beberapa tema lain yang begitu menyentuh hati.

Tentang penamaan Burdah ini, ada sebuah kisah yang karib ditelinga kaum pesantren. Bahwa Syaikh Al Bushiri pernah dilanda penyakit yang menyebabkan kesulitan untuk menggerakkan badannya. Ini menyulitkan Syaikh Bushiri untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Dalam keadaan yang sedemikian ini, Syaikh Al Bushiri bermunajat dalam keheningan doa.

Dalam keadaan antara jaga dan tertidur, Syaikh Al Bushiri didatangi oleh Nabi Muhammad Saw ketika Imam Bushiri melantunkan qoshidah yang berisi madah dan pujian kepada baginda yang mulia Muhammad Saw. qoshidah itu mengalir dari mulut indah Imam Bushiri untuk memuji dan mengagungkan manusia termulia sepanjang masa. Nabi Agung Muhammad Saw yang mendengar pujian itu merasa senang dan bahagia sehingga mengusap bagian tubuh Imam Bushiri yang sakit. Sebagian cerita mengatakan bahwa Nabi Mulia Muhammad Saw juga memberikan selimut atau selendang yang disebut dengan burdah. Sehingga ketika Imam Bushiri bangun, sang imam merasakan bahwa bagian tubuhnya yang sakit sudah sembuh. Bahkan merasa lebih sehat dari semula. Maka sebagian orang mengatakan, bahwa qoshidah ini sebenarnya bernama qoshidah bur’ah, yang berarti kesembuhan, bukan qoshidah burdah. Karena qoshidah burdah lebih pada qoshidah Kaab bin Zuhair. Namun ketika dinisbatkan pada ceritera mimpi Imam Bushiri, maka tak salah juga menamakan qoshidah ini sebagai qoshidah burdah.

Pada waktu paginya, tetiba ada seseorang yang menemuinya dan memintanya untuk membacakan qoshidah yang memuji Nabi Muhammad Saw dengan madah yang indah itu. Sang Imam pun kebingungan tentang qoshidah yang dimaksud, sampai sang penanya menyatakan, “Bacakanlah qoshidah yang dimulai dengan, amin tadzakuri jironim bi dzi salami..”, terang sang penanya. Sadarlah Imam Bushiri tentang qoshidah yang dimaksud.

Sesampai Imam Bushiri di masjid setelah berjamaah, sang guru pun menyatakan keinginan yang sama, agar Imam Bushiri membacakan qoshidah yang dikarang semalam. Dan sejak saat itulah qoshidah burdah menjadi qoshidah yang terkenal dan menyebar ke seantero negeri. Semakin lama dalam perkembangannya, Qoshidah Burdah ini menjadi primadona dalam sekian majlis dibelahan dunia manapun. Banyak rutinan yang digelar untuk melakukan pembacaan qoshidah ini, qoshidah ini juga dibaca setelah sholat dibeberapa tempat, atau juga dibaca untuk mengawali majlis, ketika menunggu majlis dzikir atau majlis ilmu dimulai.

Sebenarnya Imam Al Bushiri adalah ulama besar yang cukup menguasai dibidang ilmu fikih, ilmu khat atau kaligrafi, dan dalam ilmu tafsir serta hadits. Namun kebesaran nama qoshidah burdah, telah menenggelamkan nama besar Imam Bushiri dibidang lain, bahkan terkadang nama Imam Bushiri sendiri. Terlalu banyak orang yang mengumandangkan qoshidah burdah tanpa tahu siapa pengarangnya. Imam Bushiri wafat pada tahunn 696 H, dimakamkan di Iskandariyah tidak jauh dari makam sang guru Abu Abbas Al Mursi. Pada makamnya yang bersambung dengan Masjid Jami’ ditulis beberapa bait Qoshidah Burdah dengan tulisan yang indah, dan makamnya pun ramai diziarahi.

Diluar Qoshidah Burdah, juga kita temui kitab-kitab maulid baik yang berbentuk prosa maupun syair (nadhom). Diantaranya yang terkenal dan seringkali diperdengarkan diberbagai kesempatan adalah, Maulid Al Diba’i, Maulid Al Barzanji, Maulid Al Azab, Maulid Simtudh Dhuror, Maulid Dhiyaul Lami’. Walaupun ada banyak kitab maulid yang dikarang oleh ulama-ulama lain yang tak kalah hebat. Kitab-kitab maulid sendiri sebenarnya merupakan kitab sirah, atau sejarah Nabi Muhammad Saw, namun dalam perkembangannya, kitab maulid mempunyai kekhasan tersendiri, yakni penulisannya yang berima, sehingga mudah dihafalkan dan merdu didengar.

Maulid yang juga masyhur ditanah Jawa adalah Maulid Diba’ yang dikarang oleh  Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy. Beliau dikenal sebagai Ibnu Diba’ yang sebenarnya merupakan laqob atau julukan dari kakek beliau, yang dalam bahasa Sudan berarti putih.

Lahir pada 4 Muharram 866 H, dikota Zabid, Yaman Utara. Beliau wafat pada hari Jumat tanggal 26 Rajab 944 Hijriyah. Kota Zabid dahulu dikenal juga sebagai kota Hushoib. Terletak dilembah Zabid yang terletak 40 kilometer dari Laut Merah. Kota ini sudah dikenal semenjak zaman Nabi Muhammad Saw, tepatnya pada kisaran tahun 8 Hijriyah. Adalah Abu Musa Al Asy’ari, sahabat nabi yang berasal dari suku Asy’ariyah yang berasal dari kota Zabid. Ramainya keilmuan di kota Zabid, adalah berkah dari doa Nabi Muhammad Saw yang mendoakan keberkahan kota Zabid karena gembiranya atas kehadiran Abu Musa dan rombongan untuk memeluk dan belajar Islam ke Madinah Al Munawwaroh.

Ibnu Diba’i sendiri semenjak kecil tidak pernah bertemu dengan ayahnya, karenaketika lahir, ayahnya dalam perjalanan dan meninggal didataran India. Ibnu Diba’i mampu menghafal al Qur’an pada usia 10 tahun dibawah bimbingan Syekh Nuruddin Ali bin Abu Bakar. Beliau juga berguru pada mufti Zabid, Syekh Jamaluddin Muhammad Atthoyyib, yang merupakan pamannya sendiri. Pada pamannya ini pula, Ibnu Diba’i mengkaji ilmu faroidh, Nadzom Syatibiyah, gramatikal bahasa Arab dan sebagainya. Atas arahan pamannya pula ia mengaji kitab Nadzom Zubad, syair yang berisi kajian fikih ala madzhab Imam Syafii pada Syeikh Umar bin Muhammad Fata Al Asy’ari.

Pengembaraan keilmuannya semakin hari semakin meluas, ketika berbekal uang warisan ayahnya, beliau berangkat menunaikan haji dan menimba ilmu disana. Sepulang dari Mekkah pun beliau tetap melakukan pengembaraan intelektualnya dengan mengkaji kitab-kitab hadits pada ulama-ulama terkemuka di kota Zabid. Mulai dari kitab Shohihain Bukhori Muslim, Sunan Tirmidzi sampau kitab Muwattho’ karangan Imam Malik. Kajian hadits ini ditekuni dibawah bimbingan Syeikh Zainuddin Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy, seorang ulama hadits tersohor kala itu. Disamping juga mengkaji kitab hadits pada Syeikh Burhanuddin bin Jaghman. Pada saat itu pula Imam Ad Diba’i juga mengarang kitab Ghoyatul Mathlub. Dalam bidang fikih, kitab Minhajutttholibin dan Hawi Shogir dikajinya dari Syeikh Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman.

Pada 896 Hijriyah, Imam Ad Diba’i mengunjungi Mekkah kembali untuk berhaji kali keduanya dan menuntut ilmu disana untuk beberapa waktu. Termasuk mengkaji hadits pada ulama hadits tersohor ketika itu, Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Assyakhowi. Kebiasaan membaca hadits dan mengkaji ilmu terutama dalam hadits yang dilakukan oleh Imam Ad Diba’i ini merupakan kebiasaan ulama-ulama untuk mengambil sanad keilmuan dan sanad hadits dari berbagai sumber. Sanad merupakan sebuah alur transmisi keilmuan yang menyatakan keabsahan sebuah ilmu, jaminan akan kebenaran pemahaman. Sanad sangat penting dan merupakan bagian yang vital dalam kajian keislaman, terutama bagi mereka yang ingin mempelajari hadits.

Sepulang dari Mekkah beliau mengarang kitab Kasyful Kirbah dan Bughyatul Mustafid. Dan menjadi ulama yang disegani, bukan hanya karena keluasan ilmunya, namun juga keindahan tutur kata dan budi pekertinya. Banyak ulama-ulama dan pelajar yang mendatanginya guna belajar hadits dan mendapatkan sanad hadits dari beliau. Maka tak heran, jika kemudian karangan beliau disamping kitab Bughyatul Mustafid yang terkenal itu, beliau juga lebih dikenang dengan karangannya yang berisi madah, pujian kepada Nabi Muhammad Saw, yakni Maulid Ad Diba’i.

Dalam pembahasan maulid dan karangan yang memuat madah kepada Rasulullah Saw, kita juga akan mengenal Maulid Al Barzanji. Yang dikarang oleh Syaikh Ja’far Al Barzanji. Lahir hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126  di Madinah Al Munawwaroh. Beliau juga wafat di Madinah Al Munawwaroh pada Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun 1177 H dan  dimakamkan di Jannatul Baqi’.

Nama asli beliau dengan pernasabannya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali Ra. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad Saw dari jalur sa’adah Al Barzanji yang terkenal. Nama Barzanji diambil dari nama kota Barzanj di Irak.

Beliau adalah orang yang alim lagi berkepribadian sholeh. Bukti kesholehannya ini sampai-sampai terdapat cerita bahwa suatu ketika pada musim kemarau, di saat beliau sedang menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon hujan). Dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya. Maka pada saat itu, para ulama memujinya dengan syair yang menggambarkan bahwa kejadian itu hampir sama dengan ketika sayyidina Umar dan sayyidina Abbas yang meminta hujan dan langsung diijabahi.

Prof. Dr. al-Muhaddits al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy asy-Syarif menulis, Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah al-Munawwarah. 

Imam Al Barzanji menguasai begitu banyak fan ilmu, beliau adalah lautan ilmu yang tak bertepi, mulai dari Shorof, Nahwu, Ma’ani, Bayan, Manthiq, ‘Arudh, Adab, Fiqh, Qiraat, Ushul Fiqh, Hisab, Ushuluddin, Ushul Hadits, Hadits, Mustholahul Hadits, Rijal Hadits, Tafsir, Hikmah,  Kalam, Lughat, Sirah, Suluk, Faraidh, Tasawwuf.

Kitab maulid Al Barzanji sebenarnya merupakan pemenang sebuah sayembara menulis sejarah atau sirah Nabi Muhammad Saw yang diadakan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Sayembara ini diadakan untuk memperingati dan memeriahkan maulid Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, mental kaum muslimin sedang benar-benar tergundang paska kekalahan dalam perang salib yang menyebabkan Masjid Al Aqsha dikuasai pasukan salib dan dijadikan gereja. Maka atas inisiatif Shalahuddin Al Ayyubi, diprakarsai peringatan Maulid Nabi untuk menandingi peringatan natal dan meningkatkan spirit perjuangan kaum muslimin.

Dalam rangka meramaikan perayaan Maulid itu juga diadakan sayembara penulisan sirah nabawiyah, ceritera perjuangan nabi. Para sastrawan, ulama dan cerdik cendekia diundang untuk membuat karya yang bertujuan meningkatkan rasa cinta kepada baginda Rasulullah Saw. Karena dengan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah jualah, kesatuan umat akan mudah diwujudkan.

Dan benarlah adanya, setelah perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw yang digelar dengan meriah, semangat mereka dengan meneladani bagaimana kehidupan nabi yang mereka dengan dari pembacaan maulid, mental kaum muslimin kembali bangkit. Hingga Yerussalem dapat direbut kembali dan Masjid Al Aqsha dikembalikan fungsinya sebagai masjid hingga sekarang ini.

Sarjana Jerman peneliti Islam Annemarie Schimmel pada 1991 pernah mengarang buku berjudul Muhammad Adalah Utusan Allah; Penghormatan Kepada Nabi Saw Dalam Islam menerangkan, bahwa karya asli Al Barzanji sebenarnya berbentu prosa atau natsar, namun kemudian diolah oleh beberapa ulama sehingga menjadi syair, nadzhom atau eulogy yang indah guna memadah pribadi yang termulia, Muhammad Saw.

Karya ini terbagi dua macam, nadhom dan natsar. Bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair, dengan diakhiri rima “nun”. Sedangkan untuk Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 syair, dengan rima akhir bunyi “ah” . Seluruhnya menuturkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari menjelang beliau dilahirkan, kecil, tumbuh kembang hingga masa-masa tatkala menjelang dan pasca mendapat tugas kenabian.

Nama asli kitab ini adalah ‘Iqdul Jawahir, yang berarti kalung permata atau selengkapnya bernama ‘Iqdul Jauhar fi Maulid An Nabiyyil Azhar. Dalam Maulid Al Barzanji diceritakan sejarah tumbuh dan perjuangan manusia mulia, Muhammad Saw. Banyak ulama yang telah mensyarahi atau memberi penjelasan atas kitab ini, diantaranya adalah ulama keturunan Indonesia, Sayyidul Ulamail Hijaz, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. Atau yang kita kenal Syaikh Nawawi Banten.

Lalu apa guna kita memperingati maulid, mengingati perjalanan kehidupan manusia mulia ini. Sebgaian pihak dengan lantang menuding kebiasaan ini adalah bid’ahn memuji nabi adalah ghulluw dan sebagainya. Perlulah kita mengingat, bagaimana kejadian Kaab bin Zuhair ketika memuji nabi Saw. Apakah Nabi Muhammad memberikan ia batasan bagaimana Kaab sang penyair itu harus memuji dirinya. Secara tak langsung diamnya nabi, dan pemberian hadiah oleh nabi kepada Kaab bin Zuhair adalah bentuk dukungan dan persetujuan, memuji nabi adalah sunnah taqririyah. Ketika nabi kita yang mulia, Muhammad ibn Abdillah Saw, begitu senang ketika umatnya memujinya seperti ketika Kaab memuji beliau, akankah beliau marah ketika kita memujinya selepas ia tiada?.

Lihatlah bagaimana para ulama kita, orang-orang alim yang bahkan ilmunya tak dapat ditakar dengan lautan, yang kedalaman ilmunya tak dapat disangkakan pada kedalaman samudera, tak mampu menahan rasa cintanya kepada manusia mulia. Hingga kidung cinta meluncur untuk mengurangi beban derita rindunya.

Kekerdilan berfikir yang menghinggapi sebagian umat Islam hari ini, adalah bentuk pendangkalan berfikir. Memanglah Kaab diberi hadiah karena kelihaiannya membuat syair yang lahir dari kedalaman bathinnya, akibat sinaran cahaya cinta nabi. Yang menelusup jauh kedalam sanubari Kaab dan membuatnya jatuh cinta tak terperi. Memanglah daya tarik luar biasa juga, yang menghinggapi Imam Bushiri hingga ia mampu melantunkan syair madah sedemikain hebatnya. Daya tarik dari seseorang yang paling mulia, yang bahkan bumi dan langit, Jibril dan Mikail, merasa begitu rendah dihadapannya. Bukankah, hanya karena kecintaan yang luar biasa yang mampu menggerakkan pena-pena Ad Dibai dan Al Barzanji, untuk memuji sang pujaan, yang memang harus kita cintai lebih dari dunia ini. Sedangkan kita yang miskin kata-kata dan makna, haruskah kita kehiangan pujian pada diri yang begitu mulia?.

Bukan tanpa alasan bagaimana masyarakat begitu mencintai syair-syair madah kepada manusia mulia ini, sederhana saja. Bahwa mereka yang tak punya begitubanyak  kata-kata emas untuk memuji manusia agung ini, dengan kelemahannya, mereka meminjam kata-kata para penyair yang handal itu, guna mengungkapkan cintanya. Padahal senyatanya, cinta mereka tetap tak terwakili kata-kata. Apa daya?.

Bagaimana kita mengungkapkan cinta dan kekaguman pada pribadi yang nantinya akan memberikan pertolongan, manakala harta, jabatan, kedudukan bahkan anak dan orang tua tak mampu memberikan pertolongan?. Bagaimana mungkin mengungkapkan kecintaan dan kekaguman pada jiwa yang telah menyelamatkan kita dari kejahiliyahan dan kepicikan, bisa dianggap sebagai berlebih-lebihan?

Ingat dan simaklah bagaimana Al Bushiri menyangkal ini dengan berkata, “Tinggalkanlah sebutan yang dipakai oleh kaum Nasrani pada nabinya (yesus anak tuhan.red), dan pujilah dia (Muhammad Saw) sesuka hatimu.”

Asalkan kita tak menganggap nabi sekedudukan dengan Tuhan Robbi Izzati, maka sebenarnya pujian apapun layak disandang oleh yang mulia Muhammad Saw. Bukankah Allah sendiri bahkan rela memuji dan memberikan namaNya kepada Muhammad Saw, yakni Ar Rouf, Ar Rahim?. Lalu pujian apa yang tidak layak kita berikan, sementara kita hanya makhluk yang lemah?.

Imam Nawawi menyatakan peringatan Maulid adalah sunnah, ini diperkuat oleh Imam Al Atsqolaniy. Beliau menjelaskan dengan kuat, bahwa meperingati maulid nabi mendapatkan pahala. Imam Taqiyyudin As Subki, menulis kitab khusus mengenali kemuliaan dan keagungan Nabi Saw, dan menyatakan barangsiapa menghadiri majis yang didalamnya terdapat pujian-pujian kepada Nabi Saw akan mendapat ganjaran pahala. Ima Ibnu Hajar Al Haitsami juga sedemikan menulis kitab serupa, dan menuturkan bahwa maulid adalah hari besar yang perlu dirayakan. Imam Al Jauzy Al Hambali juga mengatakan manfaat yang istimewa dari perayaan maulid Nabi Saw.

Lalu apa manfaat dari kita memadah nabi agung Muhammad Saw. Dr. Sa’id Ramadlan Al-Bûthi menulis dalam Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.”

Yang mengherankan pada kurun-kurun waktu ini adalah, bagaimana beberapa orang menghormati guru-guru dan pembesarnya dengan menyebutnya dengan berbagai macam sanjungan dalam pidato dan berbagai macam kesempatan, sayyidi, tuanku, yang kami hormati, pedoman kami, qudwah kami, sementara ketika orang lain menambahkan kata sayyidina pada manusia mulia Muhammad Saw, mereka melarangnya. Mereka memuji orang lain yang bahkan mungkin tak akan memberi manfaat kelak di Hari Pertanggungan, sementara enggan memuji pada penyelamat, nabi mulia Muhammad Saw.

Semogalah kerinduan kami yang tak sempurna, rindu kami yang terlalu banyak cela, cukup menjadi penebus kami kelak ketika ajal menjemput kami wahai kekasih hati. Kiranya takdzim yang tak terbatas ini, yang walaupun diikuti dengan segala nafsu dan kotoran dunia, mampu menyelamatkan kami dan keluarga kami, ketika dihadapan Tuhan Yang Maha Mulia. Karena kami yakin, tatkala ruh sucimu telah keluar, engkau masih mengingati kami dengan perkataan, ummati, ummati, ummati. Begitu cinta dan kasihnya engkau pada kami, padahal kami jelas hina dina penuh noda. Dan kami yakin, cinta Tuhanmu dan cintamu, lebih besar dari cinta hina kami. Dan cukuplah cintamu menjadi penebus kami, wahai junjungan kami, cinta kami, Muhammad ibnu Abdillah.


 (Pernah dimuat sebagai editorial Majalah Al Fikrah, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin)

0 komentar:

Posting Komentar

Harap berkomentar demi perbaikan...