Alkisah, hiduplah sepasang saudara Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma dan adiknya Bujair. Mereka berdua adalah anak dari Zuhair bin Abu Sulma. Zuhair sendiri adalah penyair ternama pada masanya. Termasuk dalam penyair kondang periode pertama bersama Imru al Qais dan al Nabighah al Dzubyani. Zuhair, ayah dari kedua bersaudara ini terkenal sebagai penyair Arab jahiliyah kawakan. Dalam syair-syairnya, Zuhair dikenal bijak dan menjauhi kata kasar. Syairnya acap mengandung hikmah, amtsal dan ijaznya bagus, tidak suka memakai kata berlebih, sedikit kata banyak makna. Syair Zuhair juga dikenal karena bagusnya madah dan kejujurannya, selain juga kehalusan kata yang digunakan.
Tentang Zuhair ini, Umar
bin Khattab pernah berkata, ”Zuhair adalah penyair yang tidak bertele-tele
dalam ungkapannya, menghindari syair yang rumit dan tidak memuji kecuali apa
adanya”. Zuhair tumbuh dalam keluarga yang mencintai dan menggeluti sastra.
Ayahnya Rabi’ah bin Rabah adalah penyair. Pamandanya Basyamah ibn al Ghadir
juga penyair terkenal. Pun begitu kedua saudarinya, adalah penyair kenamaan,
Salma dan Khanza. Semasa hidupnya, walau tak sempat bertemu dengan Nabi Muhammad
Saw, Zuhair juga mempercayai hari akhir dan hari pembalasan, itu terekam dalam
syair-syairnya. Syair-syair Zuhair yang indah ini, kerap diperdengarkan di
istana-istana para raja, kepala suku dan para hartawan karena keindahannya
menggugah nurani dan menenangkan, menghibur dan menggambarkan keindahan sastra yang
luar biasa.
Maka tak heran jika kedua
anaknya, Kaab bin Zuhair dan Bujair meneruskan tradisi kesusasteraan dan
menjadi penyair ternama meneruskan tradisi besar keluarganya. Baik Kaab bin
Zuhair bin Abi Sulma, maupun Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma pun menjadi
penyair yang disegani. Yah, walau mendapati julukan jahiliyah,
senyatanya orang Arab pra Islam mempunyai tingkat dan kemampuan kesusasteraan
yang begitu tingginya. Sehingga tak heranlah kita mendapati kitab suci Al
Qur’an begitu sempurna dan luar biasa susunan dan keindahan kata-katanya. Tentu
guna dapat diterima di “alam Arab” yang begitu tinggi tingkat kesusteraannya.
Orang-orang Arab pra Islam
seringkali dibagi menjadi dua kategori, yakni Arab Hadhari dan Arab Badawi.
Arab Hadhari yakni Arab yang menempati perkotaan-perkotaan dan berdiam diri
secara permanen. Sebaliknya, Arab Badawi, adalah golonga suku Arab yang
nomaden. Mereka menempati gurun-gurun, yang manakala ada kondisi khusus yang menyebabkan
mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi lingkungan tersebut, maka mereka akan
berpindah. Menuju tempat baru yang lebih menjanjikan. Orang-orang Arab Badawi,
yang berada dipelosok-pelosok itu biasa bercakap dengan bahasa asli, bahasa fusha
yang tinggi tingkat kesusasteraan. Inilah diantara alasan kenapa anak-anak
kecil suku Arab biasa dipersusukan kepada kaum wanita pedesaan. Tentu kita
mengingat bagaimana Nabi Agung dipersusukan kepada wanita pilihan, Sayyidah
Halimah Sa’diyah. Diantara alasannya, adalah agar anak-anak kecil tersebut
belajar bahasa Arab yang baik, yang fushah dengan susunan keindahan yang
juga luar biasa. Disamping agar anak-anak kecil tersebut dapat menghirup udara
yang masih bersih di pedesaan.
Kaab bin Zuhair dan Buhair
bin Zuhair bin Abi Sulma adalah sekian dari beberapa orang pilih tanding dalam
hal syair dan sastra. Namun dalam suatu kesempatan, ketika mereka menggembala
ternaknya dalam sebuah tempat bernama Abroh Al Azzad didekat kota Madinah,
Bujair meminta izin kepada kakaknya, Kaab bin Zuhair untuk memasuki kota
Madinah. Perginya Bujair ke kota Madinah adalah guna menuntaskan rasa
penasarannya atas diri seseorang yang telah mengaku sebagai utusan Tuhan Yang
Maha Perkasa. Orang itu tak lain adalah Nabi Muhammad Saw.
Guna memuaskan hasrat
penasarannya itu, Bujair pun melangkahkan kaki menuju kota Madinah. Rasa
penasaran sudah membuncah, ingin mengetahui lebih dekat, orang yang mengaku
Rasulullah dan telah menganjurkan untuk meninggalkan ajaran nenek moyang kaum
Arab pagan ketika itu. Sesampainya di kota Madinah, Bujair mendapati seseorang
yang rupawan, indah perangai dan tutur katanya. Sosok yang selama ii disifati
dengan sifat jelek, ditemuinya bak laksana intan permata. Dikelilingi oleh
sahabat-sahabat yang bukan hanya sekedar tunduk selaksa penguasa, namun juga
mencintainya lebih dari apapun atas diri si Utusan Agung, hingga jangankan
harta, nyawa pun akan mereka berikan. Bagaimana mereka bergaul dengan Sang
Utusan Agung itu telah menyihir perasaan Bujaih bin Zuhair bin Abi Sulma. Dia
tak percaya, manusia biasa akan begitu agung perangai dan pesonanya. Masuklah
Bujair kedalam agama yang diserukan oleh Utusan Agung tersebut. Masuklah Bujair
dalam agama Islam, agama hanif, agama tauhid yang diserukan sejak dulu melalui
bapak manusia, Adam As hingga Ibrahim As dan seterusnya.
Kabar masuknya Bujair
kedalam agama Islam, sudah didengar oleh kakaknya, Kaab bin Zuhair bin Abi
Sulma. Maka ketika Bujair datang menghadap sang kakak, sang kakak pun murka
luar biasa. Ia mencaci maki Bujair tak alang kepalang. Walau Bujair berusaha
mendeskripsikan bagaimana perangai Rasulullah yang bagi Bujair luar biasa itu,
bagi Kaab itu hanya omong kosong. Ketika Bujair menceritakan akhlak dan
kebaikan sang Rasul yang tiada duanya didunia, yang tak mungkin dimiliki
manusia biasa, Kaab menanggapinya sebagai bujukan yang tak berdasar. Pecahlah
persaudaraan, pecahlah ikatan darah, yang bagi kaum Arab ketika itu adalah
segala-galanya. Keduanya berpisah. Bujair bin Zuhair bin Abi Sulma kembali ke
Madinah, untuk meneguk manisnya pembelajaran dari sang Manusia Utama, Muhammad
Saw. sedangkan Kaab tetap menjadi bagian kaum pagan yang menyembah berhala dan
kembali pada kaumnya.
Ternyata masuknya Bujair dalam
agama Islam, meninggalkan luka yang luar biasa bagi Kaab. Adik yang disayangi
telah keluar dari agama nenek moyangnya,
telah berani mengkhianatinya. Mengkhianati kepercayaan yang sudah turun temurun
dipercayai dan mempercayai kepercayaan baru yang telah lama mereka hindari,
caci maki dan jauhi. Adiknya lebih memilih dan mempercayai orang baru, Muhammad
yang ketika itu telah membangun kekuatan di Madinah.
Sebagaimana layaknya
penyair, Kaab juga memceritakan kekalutan hatinya atas nasib adiknya dalam
syair-syair. Namun ketika kekalutan dan kebencian dalam hatinya membuncah,
syair Kaab berubah menjadi cacian dan fitnah baik kepada adiknya, kepada Nabi
Muhammad Saw ataupun kepada Abu Bakar Ra, orang yang dianggap sebagai tangan
kanan Muhammad Saw. bahkan pernah dalam syairnya, Kaab menceritakan bahwa
Bujair setiap malam diajak Muhammad Saw untuk berpesta dan mengingkari agama
nenek moyangnya. Kebencian dan kekalutan Kaab menambah amunisi bagi kaum kafir,
terutama kaum kafir Quraisy di Mekkah. Syair-syair Kaab acap didendangkan hanya
untuk menghina kaum muslimin dan Nabi Muhammad Saw.
Lambat laun, syair-syair
Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma, terdengar dimana-mana sebagai bahan umpatan,
caci maki dan penghinaan bagi Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar dan kaum muslimin
pada umumnya. Bahkan beberapa syairnya dirubah dan dibuat sedramatis mungkin,
guna mendapatkan penghinaan yang lebih kejam bagi Muhammad Saw. syair-syair
Kaab dibuat semakin dahsyat ejekan, cemoohan dan hinaan serta caci makinya pada
Rasulullah Saw. Hal ini juga akhirnya sampai pada Bujair bin Zuhair, adiknya
serta sampa pada pendengaran Rasulullah Saw. Melihat penghinaan dan caci maki
serta fitnah yang dibuat Kaab bin Zuhair, bahkan Rasulullah Muhammad Saw,
sempat menghalalkan darah Kaab bin Zuhair, atas penghinaan dan provokasi serta
fitnah yang cenderung keji tersebut.
Tibalah pada kejayaan
Islam, sekira tahun ke 8 Hijriyah, kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang
gilang gemilang. Ketika peperangan memasuki Thaif, Bujair bin Zuhair melihat
bagaimana banyak penyair arab yang kerap memusuhi Nabi Muhammad Saw berkalang
tanah, mereka yang melawan dan berusaha untuk menyerang kaum muslimin kalah dan
mati. Banyak diantara mereka yang selama ini melontarkan fitnah keji, caci maki
dan umpatan kepada kaum muslimin, tidak mempunyai kekuatan untuk melawan kaum
muslimin yang dadanya dipenuhi oleh gelora seemangat memerangi kebathilan. Para
pendamping Nabi Muhammad Saw yang biasanya ramah dan santun itu, ketika berlaga
dimedan perang, bak singa-singa Allah yang dilepaskan. Mereka tak dapat
dibendung, tidak takut mati apalagi sakit. Kemenangan yang gilang gemilang itu
menggembirakan kaum muslimin, tidak luput pula Bujair bin Zuhair. Namun dibalik
kegembiraannya, Bujair sedih mengingat nasib kakandanya tercinta yang menjadi
incaran kaum muslim.
Melihat kondisi yang
sedemikian itu, Bujair berinisiatif melayangkan surat kepada kakaknya tecinta,
Kaab bin Zuhair. Dalam suratnya Bujair memberikan deskripsi tentang keadaan
yang berlaku, bagaimana kaum kafir telah dipecundangi oleh kaum muslim. Kaum
kafir yang secara jumlah berlipat ganda jumlahnya dari kaum muslim, mengalami
kekalahan telak dengan sergapan dari kaum muslim, kaum kafir itu dijadikan
bulan-bulanan oleh pejuang-pejuang muslim yang gagah perkasa. Selain itu,
Bujair juga menggambarkan bagaimana akhlak Rasulullah, dan bagaimana baginda
Rasulullah Saw memaafkan pihak-pihak yang selama ini memusuhinya dan bertindak
adil pada mereka yang mau masuk Islam.
Diakhir suratnya, Bujair
menyarankan dan memberikan dua pilihan kepada kakaknya. Antara menyerahkan
diri, masuk Islam dan hidup dalam indahnya perlindungan Islam yang begitu luar
biasa. Atau melarikan diri dengan menghindari kaum muslim dengan pergi jauh.
Keduanya bagi Kaab mengandung konsekwensi masing-masing. Keduanya sama
beratnya, dan itu disadari baik oleh Kaab maupun Bujair, sang adik.
Melihat surat dan kondisi
sedemikian itu, Kaab berinisiatif mencari perlindungan dari para
sahabat-sahabatnya yang dulu menyanjungnya karena berani membuat syair yang
digunakan melemahkan dan menghina kaum muslim. Namun, harapan Kaab haruslan
pupus, dalam kondisi sedemikian itu, setiap orang hanya berfikir tentang
keselamatan diri sendiri dan keluarganya saja. Sahabat-sahabat yang dulu
mengelu-elukan dirinya, hari ini menolak melindunginya, bahkan menghindari
dirinya. Yah, Kaab bin Zuhair, penyair dan sastrawan kenamaan yang dulu
digunakan dan diunggulkan guna menghina Nabi Muhammad Saw, hari ini
terlunta-lunta. Semua sadar, akibat perbuatannya itu, Kaab bin Zuhair hari ini
tidak lebih adalah buronan yang dicari-cari oleh kaum muslimin.
Dunia serasa sempit bagi
Kaab, tak ada persembunyian, tak ada saudara yang melindungi, tak ada teman
yang mau diajak berkompromi. Maka bagi Kaab bin Zuhair, pengampunan Rasulullah
Saw, adalah satu-satunya jalan dan cara untuk selamat. Dan dia masih belum
percaya, orang yang terus disakitinya, dihina dan dimakinya dengan segala
syairnya, difitnah dengan segala karya sastranya, akan mengampuni dia. Pilihan
ini juga tentu mengandung resiko yang besar, belum lagi jalan yang harus dia
tempuh untuk sampai dihadapan Rasulullah, jangan-jangan sebelum sampai
dihadapan Rasulullah, dia sudah ditemui para pecinta Rasulullah, dan pasti
celakalah yang dia temui.
Digelapnya malam, Kaab
menyelinap kedalam Madinah, menemui seseorang yang dia kenal, dan mengutarakan
maksudnya. Mendapati keterangan bagaimana kebiasaan Sang Utusan Allah itu
bercengkerama, mengajari dan memberikan siraman hikmah pada para
sahabat-sahabat mulianya setelah sholat Subuh dipelataran Masjid Nabawi. Dalam
dinginnya udara dini hari, Kaab menyelinap dan menunggu saat yang tepat, dengan
memakai penutup wajah merah, khas para Arab Badui.
Dalam satu kesempatan, Kaab
mendekati Rasulullah. Dalam hal ini ada riwayat yang berbeda, sebagian riwayat
menyatakan bahwa Kaab meminta diislamkan dahulu oleh Rasulullah Saw, sebelum
akhirnya membuka rahasia siapa dirinya. Namun, dalam sebuah riwayat lain
disebutkan bahwa Kaab bertanya kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, andai orang
yang bernama Kaab bin Zuhair menemuimu, apa engkau akan maafkan dia?”. “Ya, aku
akan maafkan dia!”, jawab Rasulullah. “Jika Kaab bin Zuhair menyatakan akan
memeluk agamamu, dan ikut menjadi pengikutmu, apakah akan engkau percayai?”,
lanjut Kaab. “Ya, aku akan percaya!”, jawab Rasulullah Saw.
Maka, dibukalah penutup
wajah Kaab bin Zuhair seraya mengatakan, “Ya Muhammad, akulah Kaab bin Zuhair”.
Sontak saja, sekian sahabat yang ada didekat Rasulullah Saw menghunus pedang
dan berniat membunuh Kaab, orang yang dianggap telah menghina Rasulullah, kalau
saja tidak Rasulullah buru-buru menghalau dan mencagah mereka. “Bukankah engkau
yang melantunkan syair seperti ini”, lantas nabi Muhammad meminta Abu Bakar
membacakan syair-syair Kaab yang menghina Rasulullah. Ketika Abu Bakar membaca
syair itu, pada beberapa bagian Kaab mengkoreksi, karena syairnya salah
diucapkan, dimengerti atau telah diganti. “Benar ya Rasulullah, itu adalah
syair-syairku”, jawab Kaab. Ketika itu barisan para sahabat disekitar
Rasulullah semakin merangsek, sehingga Rasulullah mencegah denga mengatakan,
“Dia telah meninggalkan masa lalunya dan berniat bertaubat, maka terimalah dia”,
ujar Nabi yang mulia.
Melihat bagaimana
ketinggian budi, akhlak dan perangai orang yang selama ini dia musuhi,
tertunduklah Kaab bin Zuhair, dia minta segera diislamkan. Setelah menyatakan
keislaman dihadapan Nabi Muhammad Saw, dan getaran aneh yang menyelusup dalam
relung hati, dalam sumsum tulangnya, telah menjadikan ia tertunduk lunglai. Ada
getaran dahsyat, akan kerinduan dan kecintaan yang menelungkup menjadi satu
karena sentuhan lembut ditangannya. Keindahan tatapan dan senyuman itu telah
menggelorakan rasa cinta kepada manusia termulia, Muhammad bin Abdullah Saw. Sadarlah
dia, bagaiman kecintaan yang menylimuti jiwa itu, bisa membuat para sahabat
Muhammad Saw, rela menukar nyawa demi sang manusia mulia.
Dan dengan tidak bisa
menghindari panggilan jiwa sebagai sastrawan dan penyair, mengalirlah bait demi
bait syair kecintaannya kepada Muhammad Saw. Qasidah itu dikenal sampai hari
ini, yang dikenal dengan qasidah “Baanat Suad”. Ketika sampai pada satu bait
yang memuji Rasulullah dengan indahnya, nabi Muhammad Saw bangkit dan
memberikan burdah, selimutnya, ada yang mengatakan selempang dan atau
sejenisnya kepada Kaab. Maka inilah sebenarnya qasidah burdah itu, sebelum Qasidah
Burdah yang lebih dikenal dikaryakan oleh Imam Bushiri.
Konon, sepeninggal
Rasulullah Saw, burdah atau baju yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Kaab
itu ditawar oleh khalifah pertama, Abu Bakar. Namun Kaab bin Zuhair menolaknya,
dan mnejadikan jubah itu sebagai kebanggaan. Kaab merawat jubah itu dengan
segenap hatinya. Seakan itulah bukti kecintaan Nabi Muhammad Saw kepadanya dan
sebaliknya, bukti kecintaanya kepada sang kekasih mulia, Muhammad Saw. Kecintaan
yang bukan hanya menenggelamkan kebencian, juga menenggelamkan segala-galanya. Sepeninggal
Kaab, jubah pemberian Rasulullah diwariskan kepada keturunannya, jubah yang
bahkan membuat iri sahabat-sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam, karena diberikan
kepada manusia utama, Muhammad Saw. Pada periode pemerintahan Muawiyah,
Muawiyah menebus jubah itu dengan sepuluh ribu dirham dan dijadikan pakaian
kebesaran.
Cerita tentang
Ka’ab bin Zuhair diriwayatkan secara lengkap oleh al-Hakim dalam al Mustadrok ‘Ala
As-Shohihain, cerita yang sama juga disebutkan dalam Al-Ishobah karangan Ibnu
Hajar al-Asqollani dan Usdul Ghobah karya Ibnul Atsir.
Selanjutnya, Imam Bushiri yang
sempat disinggung diatas, bernama asli Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Hammad bin Muhsin
bin Abdullah bin Shanhaji bin Hilal Ash-Shanhaji. Beliau menganut madzhab Syafii
dan bertarekat Syadziliy. Lahir di Dalash pada hari Selasa bulan Syawwal tahun
608 H, atau 1211 M. Sebagian berpendapat penyematan laqob Bushiri adalah karena
ayah ibunya berasal dari Bushir, sebuah daerah di Mesir. Sedangkan sebagian
lagi berpendapat bahwa karena Imam Bushiri kemudian tumbuh berkembang didaerah
Bushir. Beliau berasal dari suku Habnun, salah satu suku didaerah Maghrib atau
Maroko.
Imam Bushiri sejak kecil,
belajar langsung dari sang ayah tercinta. Sudah menghafalkan al Qur’an sejak
usia dini, begitupula mempelajari ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab dibawah
bimbingan sang ayah tercinta.
Setelah dewasa, Bushiri
muda berpindah ke Kairo dan menyerap serta mempelajari berbagai ilmu dari
banyak ulama disana. Mempelajari tata bahasa Arab, kesusasteraan Arab dan
pengetahuan lainnya. Rihlah ilmiahnya di Kairo telah menjadikannya telah
menjadikannya dikenal sebagai penyair dan sastrawan ulung. Selain bahwa beliau
juga terkenal akan keindahan tulisannya atau ilmu kaligrafinya. Bahkan menurut Syaikhul
Islam Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami dalam Syarh Burdah menyatakan
dalam seminggu tak kurang seribu orang menimba ilmu dari Imam Bushiri tentang
ilmu khat atau kaligrafi ini.
Sejak awal, imam Bushiri
memang terkenal erat sekali kehidupannya dalam dunia tasawwuf. Dia memilih dan
terkenal menjalani kehidupan yang wara’, disiplin dan penuh dengan akhlak
mulia. Ketika ditawari menjadi pegawai dalam pemerintahan Mesir ketika itu,
imam Bushiri menolak karena merasa tidak sepakat secara prinsip dengan model
para pegawai pemerintahan ketika itu. Beliau juga pernah menjadi guru tulis
menulis untuk para kelompok pembelajaran didaerah Bilbis. Sebelum akhirnya
meninggalkan kesenangan duniawi dan pergi menyendiri dan belajar ke
Iskandariyah atau yang kita kenal Alexandria.
Di Alexandria beliau
berguru kepada Al Quthb Abul Abbas Al Mursi. Disinilah Al Bushiri digembleng
dan dibentuk menjadi sosok yang mumpuni. Ditangan guru beliau Al Quthb Al Mursi
ini lahir dua ulama besar yang kita kenang hingga saat ini. Yakni Imam Al
Bushiri yang kita kenal melalui syair atau nazhamnya yang dikenal dibelahan
bumi manapun. Pun begitu saudara seperguruan beliau yang terkenal melalui prosa
(natsar), yakni Al Imam Ibnu Athaillah As Sakandariy, pengarang kitab Al
Hikam. Dari bimbingan Syaikh Al Mursi-lah, pancaran keilmuan imam Al Bushiri
nampak cemerlang dan terpancar kemana-mana.
Diantara karangan beliau
yang terkenal adalah Sholawat Mudhoriyah, dimana sholawat ini dikenal sebagai
Mudhoriyah karena dalam sholawat tersebut dinisbatkan pada datuk Nabi Muhammad
Saw, Mudhor. Diantara karya besarnya adalah Sholawat Al Hamziyah wa Kawakib Ad
Duriyah, atau yang sekarang lebih kita kenal sebagai Qosidah Burdah Al Madih.
Imam Al Bushiri hidup pada
masa transisi dan pergolakan politik yang luar biasa, yakni ketika pergantian
dari kekuasaan Dinasti Ayyubiyah ke Dinasti Mamalik Bahriyah. Dan sebagaimana
masa transisi pada umumnya, masa itu dipenuhi dengan pergolakan tak
henti-henti, akhlak dan etika sosial masyarakat yang merosot, sementara
pejabat-pejabat pemerintahan mengejar memuaskan nafsu duniawinya. Dalam keadaan
tersebutlah lahir karya monumental Qoshidah Burdah, yang berusaha meredam
kesulitan ketika itu.
Dalam meredam kesesatan
berfikir yang mendahulukan nafsu keduniawian para pembesar dan rakyat yang merajalela
ketika itu, Qoshidah Burdah pun menyelipak pembahasan tentang nafsu dalam
beberapa bagiannya. Qoshidah Burdah sendiri terdiri atas 160 bait syair atau
nadhom. Terdiri atas pembukaan 12 bait, menerangkan tentang nafsu 16 bait, 30
bait berisi tentang pujian kepada baginda Rasulullah Saw, 19 bait menerangkan
tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw, 1 bait berisi doa Imam Bushiri, 17 bait
pujian akan keutamaan al Qur’an, 13 bait Mi’raj Nabi Saw, 22 bait tentang
perjuangan Nabi Saw, 14 bait menerangkan tentang istighfar, 9 bait tentang
munajat Imam Bushiri. Dan beberapa tema lain yang begitu menyentuh hati.
Tentang penamaan Burdah
ini, ada sebuah kisah yang karib ditelinga kaum pesantren. Bahwa Syaikh Al
Bushiri pernah dilanda penyakit yang menyebabkan kesulitan untuk menggerakkan
badannya. Ini menyulitkan Syaikh Bushiri untuk melakukan aktifitas
sehari-harinya. Dalam keadaan yang sedemikian ini, Syaikh Al Bushiri bermunajat
dalam keheningan doa.
Dalam keadaan antara jaga
dan tertidur, Syaikh Al Bushiri didatangi oleh Nabi Muhammad Saw ketika Imam
Bushiri melantunkan qoshidah yang berisi madah dan pujian kepada baginda
yang mulia Muhammad Saw. qoshidah itu mengalir dari mulut indah Imam Bushiri
untuk memuji dan mengagungkan manusia termulia sepanjang masa. Nabi Agung
Muhammad Saw yang mendengar pujian itu merasa senang dan bahagia sehingga mengusap
bagian tubuh Imam Bushiri yang sakit. Sebagian cerita mengatakan bahwa Nabi
Mulia Muhammad Saw juga memberikan selimut atau selendang yang disebut dengan
burdah. Sehingga ketika Imam Bushiri bangun, sang imam merasakan bahwa bagian
tubuhnya yang sakit sudah sembuh. Bahkan merasa lebih sehat dari semula. Maka
sebagian orang mengatakan, bahwa qoshidah ini sebenarnya bernama qoshidah
bur’ah, yang berarti kesembuhan, bukan qoshidah burdah. Karena
qoshidah burdah lebih pada qoshidah Kaab bin Zuhair. Namun ketika dinisbatkan
pada ceritera mimpi Imam Bushiri, maka tak salah juga menamakan qoshidah ini
sebagai qoshidah burdah.
Pada waktu paginya, tetiba
ada seseorang yang menemuinya dan memintanya untuk membacakan qoshidah yang
memuji Nabi Muhammad Saw dengan madah yang indah itu. Sang Imam pun kebingungan
tentang qoshidah yang dimaksud, sampai sang penanya menyatakan, “Bacakanlah
qoshidah yang dimulai dengan, amin tadzakuri jironim bi dzi salami..”, terang
sang penanya. Sadarlah Imam Bushiri tentang qoshidah yang dimaksud.
Sesampai Imam Bushiri di
masjid setelah berjamaah, sang guru pun menyatakan keinginan yang sama, agar
Imam Bushiri membacakan qoshidah yang dikarang semalam. Dan sejak saat itulah
qoshidah burdah menjadi qoshidah yang terkenal dan menyebar ke seantero negeri.
Semakin lama dalam perkembangannya, Qoshidah Burdah ini menjadi primadona dalam
sekian majlis dibelahan dunia manapun. Banyak rutinan yang digelar untuk
melakukan pembacaan qoshidah ini, qoshidah ini juga dibaca setelah sholat
dibeberapa tempat, atau juga dibaca untuk mengawali majlis, ketika menunggu
majlis dzikir atau majlis ilmu dimulai.
Sebenarnya Imam Al Bushiri
adalah ulama besar yang cukup menguasai dibidang ilmu fikih, ilmu khat atau
kaligrafi, dan dalam ilmu tafsir serta hadits. Namun kebesaran nama qoshidah
burdah, telah menenggelamkan nama besar Imam Bushiri dibidang lain, bahkan terkadang
nama Imam Bushiri sendiri. Terlalu banyak orang yang mengumandangkan qoshidah
burdah tanpa tahu siapa pengarangnya. Imam Bushiri wafat pada tahunn 696 H,
dimakamkan di Iskandariyah tidak jauh dari makam sang guru Abu Abbas Al Mursi.
Pada makamnya yang bersambung dengan Masjid Jami’ ditulis beberapa bait
Qoshidah Burdah dengan tulisan yang indah, dan makamnya pun ramai diziarahi.
Diluar Qoshidah Burdah,
juga kita temui kitab-kitab maulid baik yang berbentuk prosa maupun syair
(nadhom). Diantaranya yang terkenal dan seringkali diperdengarkan diberbagai
kesempatan adalah, Maulid Al Diba’i, Maulid Al Barzanji, Maulid Al Azab, Maulid
Simtudh Dhuror, Maulid Dhiyaul Lami’. Walaupun ada banyak kitab maulid yang
dikarang oleh ulama-ulama lain yang tak kalah hebat. Kitab-kitab maulid sendiri
sebenarnya merupakan kitab sirah, atau sejarah Nabi Muhammad Saw, namun dalam
perkembangannya, kitab maulid mempunyai kekhasan tersendiri, yakni penulisannya
yang berima, sehingga mudah dihafalkan dan merdu didengar.
Maulid yang juga masyhur
ditanah Jawa adalah Maulid Diba’ yang dikarang oleh Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin
Umar bin Ali bin Yusuf bin Ahmad bin Umar Ad Diba`i Asy Syaibaniy. Beliau
dikenal sebagai Ibnu Diba’ yang sebenarnya merupakan laqob atau julukan
dari kakek beliau, yang dalam bahasa Sudan berarti putih.
Lahir pada 4 Muharram 866 H, dikota Zabid, Yaman Utara. Beliau wafat pada
hari Jumat tanggal 26 Rajab 944 Hijriyah. Kota Zabid dahulu dikenal juga
sebagai kota Hushoib. Terletak dilembah Zabid yang terletak 40 kilometer dari
Laut Merah. Kota ini sudah dikenal semenjak zaman Nabi Muhammad Saw, tepatnya
pada kisaran tahun 8 Hijriyah. Adalah Abu Musa Al Asy’ari, sahabat nabi yang
berasal dari suku Asy’ariyah yang berasal dari kota Zabid. Ramainya keilmuan di
kota Zabid, adalah berkah dari doa Nabi Muhammad Saw yang mendoakan keberkahan
kota Zabid karena gembiranya atas kehadiran Abu Musa dan rombongan untuk
memeluk dan belajar Islam ke Madinah Al Munawwaroh.
Ibnu Diba’i sendiri semenjak kecil tidak pernah bertemu dengan ayahnya,
karenaketika lahir, ayahnya dalam perjalanan dan meninggal didataran India.
Ibnu Diba’i mampu menghafal al Qur’an pada usia 10 tahun dibawah bimbingan
Syekh Nuruddin Ali bin Abu Bakar. Beliau juga berguru pada mufti Zabid, Syekh
Jamaluddin Muhammad Atthoyyib, yang merupakan pamannya sendiri. Pada pamannya
ini pula, Ibnu Diba’i mengkaji ilmu faroidh, Nadzom Syatibiyah, gramatikal
bahasa Arab dan sebagainya. Atas arahan pamannya pula ia mengaji kitab Nadzom
Zubad, syair yang berisi kajian fikih ala madzhab Imam Syafii pada Syeikh Umar
bin Muhammad Fata Al Asy’ari.
Pengembaraan keilmuannya semakin hari semakin meluas, ketika berbekal uang
warisan ayahnya, beliau berangkat menunaikan haji dan menimba ilmu disana. Sepulang
dari Mekkah pun beliau tetap melakukan pengembaraan intelektualnya dengan
mengkaji kitab-kitab hadits pada ulama-ulama terkemuka di kota Zabid. Mulai
dari kitab Shohihain Bukhori Muslim, Sunan Tirmidzi sampau kitab Muwattho’
karangan Imam Malik. Kajian hadits ini ditekuni dibawah bimbingan Syeikh
Zainuddin Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy, seorang ulama hadits tersohor kala itu. Disamping juga mengkaji kitab
hadits pada Syeikh Burhanuddin bin Jaghman. Pada saat itu pula Imam Ad Diba’i juga mengarang kitab Ghoyatul Mathlub.
Dalam bidang fikih, kitab Minhajutttholibin dan Hawi Shogir dikajinya dari Syeikh
Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman.
Pada 896 Hijriyah, Imam Ad Diba’i mengunjungi Mekkah kembali untuk berhaji
kali keduanya dan menuntut ilmu disana untuk beberapa waktu. Termasuk mengkaji
hadits pada ulama hadits tersohor ketika itu, Syeikh
Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Assyakhowi. Kebiasaan membaca hadits dan mengkaji ilmu terutama dalam hadits yang
dilakukan oleh Imam Ad Diba’i ini merupakan kebiasaan ulama-ulama untuk
mengambil sanad keilmuan dan sanad hadits dari berbagai sumber. Sanad merupakan
sebuah alur transmisi keilmuan yang menyatakan keabsahan sebuah ilmu, jaminan
akan kebenaran pemahaman. Sanad sangat penting dan merupakan bagian yang vital
dalam kajian keislaman, terutama bagi mereka yang ingin mempelajari hadits.
Sepulang dari Mekkah beliau mengarang kitab Kasyful Kirbah dan Bughyatul
Mustafid. Dan menjadi ulama yang disegani, bukan hanya karena keluasan ilmunya,
namun juga keindahan tutur kata dan budi pekertinya. Banyak ulama-ulama dan
pelajar yang mendatanginya guna belajar hadits dan mendapatkan sanad hadits
dari beliau. Maka tak heran, jika kemudian karangan beliau disamping kitab
Bughyatul Mustafid yang terkenal itu, beliau juga lebih dikenang dengan
karangannya yang berisi madah, pujian kepada Nabi Muhammad Saw, yakni Maulid Ad
Diba’i.
Dalam
pembahasan maulid dan karangan yang memuat madah kepada Rasulullah Saw, kita
juga akan mengenal Maulid Al Barzanji. Yang dikarang oleh Syaikh Ja’far Al
Barzanji. Lahir hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 di
Madinah Al Munawwaroh. Beliau
juga wafat di Madinah Al Munawwaroh pada Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun
1177 H dan dimakamkan di Jannatul Baqi’.
Nama asli beliau dengan pernasabannya adalah Sayid Ja’far
ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn
Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn
Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah
ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam
Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali
Ra. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad Saw dari jalur sa’adah Al Barzanji
yang terkenal. Nama Barzanji diambil dari nama kota Barzanj di Irak.
Beliau adalah orang yang
alim lagi berkepribadian sholeh. Bukti kesholehannya ini sampai-sampai terdapat
cerita bahwa suatu ketika pada musim kemarau, di saat beliau sedang
menyampaikan khutbah Jum’at, seseorang meminta beliau beristisqa’ (memohon
hujan). Dalam khutbahnya itu, beliau pun berdoa memohon hujan, dan serta merta
doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya hingga seminggu lamanya.
Maka pada saat itu, para ulama memujinya dengan syair yang menggambarkan bahwa
kejadian itu hampir sama dengan ketika sayyidina Umar dan sayyidina Abbas yang
meminta hujan dan langsung diijabahi.
Prof. Dr. al-Muhaddits
al-‘Alim al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki
dalam Haul Ihtifaal bi Dzikra al-Maulid an-Nabawiy
asy-Syarif menulis, Al-‘Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja’far
bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji adalah Mufti Syafi’iyyah di Kota Madinah
al-Munawwarah.
Imam Al Barzanji menguasai
begitu banyak fan ilmu, beliau adalah lautan ilmu yang tak bertepi, mulai dari Shorof,
Nahwu, Ma’ani, Bayan, Manthiq, ‘Arudh, Adab, Fiqh, Qiraat, Ushul Fiqh, Hisab,
Ushuluddin, Ushul Hadits, Hadits, Mustholahul Hadits, Rijal Hadits, Tafsir,
Hikmah, Kalam, Lughat, Sirah, Suluk,
Faraidh, Tasawwuf.
Kitab maulid Al Barzanji
sebenarnya merupakan pemenang sebuah sayembara menulis sejarah atau sirah Nabi
Muhammad Saw yang diadakan oleh Shalahuddin Al Ayyubi. Sayembara ini diadakan untuk memperingati
dan memeriahkan maulid Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, mental kaum muslimin
sedang benar-benar tergundang paska kekalahan dalam perang salib yang
menyebabkan Masjid Al Aqsha dikuasai pasukan salib dan dijadikan gereja. Maka
atas inisiatif Shalahuddin Al Ayyubi, diprakarsai peringatan Maulid Nabi untuk
menandingi peringatan natal dan meningkatkan spirit perjuangan kaum muslimin.
Dalam rangka meramaikan perayaan Maulid itu juga diadakan sayembara
penulisan sirah nabawiyah, ceritera perjuangan nabi. Para sastrawan, ulama dan
cerdik cendekia diundang untuk membuat karya yang bertujuan meningkatkan rasa
cinta kepada baginda Rasulullah Saw. Karena dengan kecintaan kepada Allah dan
Rasulullah jualah, kesatuan umat akan mudah diwujudkan.
Dan benarlah adanya, setelah perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw yang
digelar dengan meriah, semangat mereka dengan meneladani bagaimana kehidupan
nabi yang mereka dengan dari pembacaan maulid, mental kaum muslimin kembali
bangkit. Hingga Yerussalem dapat direbut kembali dan Masjid Al Aqsha
dikembalikan fungsinya sebagai masjid hingga sekarang ini.
Sarjana Jerman peneliti Islam Annemarie Schimmel pada 1991 pernah mengarang
buku berjudul Muhammad Adalah Utusan Allah; Penghormatan Kepada Nabi Saw Dalam
Islam menerangkan, bahwa karya asli Al Barzanji sebenarnya berbentu prosa atau
natsar, namun kemudian diolah oleh beberapa ulama sehingga menjadi syair,
nadzhom atau eulogy yang indah guna memadah pribadi yang termulia, Muhammad
Saw.
Karya ini terbagi dua macam, nadhom dan
natsar. Bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian
yang memuat 205 untaian syair, dengan diakhiri rima “nun”. Sedangkan untuk Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang
memuat 355 syair, dengan rima akhir bunyi “ah” . Seluruhnya menuturkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari menjelang beliau dilahirkan, kecil, tumbuh
kembang hingga masa-masa tatkala menjelang dan pasca mendapat tugas kenabian.
Nama asli kitab ini adalah
‘Iqdul Jawahir, yang berarti kalung permata atau selengkapnya bernama ‘Iqdul
Jauhar fi Maulid An Nabiyyil Azhar. Dalam Maulid Al Barzanji diceritakan
sejarah tumbuh dan perjuangan manusia mulia, Muhammad Saw. Banyak ulama yang
telah mensyarahi atau memberi penjelasan atas kitab ini, diantaranya adalah
ulama keturunan Indonesia, Sayyidul Ulamail Hijaz, Syaikh Muhammad Nawawi
Al-Bantani Al-Jawi. Atau yang kita kenal Syaikh Nawawi Banten.
Lalu apa guna kita
memperingati maulid, mengingati perjalanan kehidupan manusia mulia ini.
Sebgaian pihak dengan lantang menuding kebiasaan ini adalah bid’ahn memuji nabi
adalah ghulluw dan sebagainya. Perlulah kita mengingat, bagaimana
kejadian Kaab bin Zuhair ketika memuji nabi Saw. Apakah Nabi Muhammad
memberikan ia batasan bagaimana Kaab sang penyair itu harus memuji dirinya.
Secara tak langsung diamnya nabi, dan pemberian hadiah oleh nabi kepada Kaab
bin Zuhair adalah bentuk dukungan dan persetujuan, memuji nabi adalah sunnah
taqririyah. Ketika nabi kita yang mulia, Muhammad ibn Abdillah Saw, begitu
senang ketika umatnya memujinya seperti ketika Kaab memuji beliau, akankah
beliau marah ketika kita memujinya selepas ia tiada?.
Lihatlah bagaimana para ulama
kita, orang-orang alim yang bahkan ilmunya tak dapat ditakar dengan lautan,
yang kedalaman ilmunya tak dapat disangkakan pada kedalaman samudera, tak mampu
menahan rasa cintanya kepada manusia mulia. Hingga kidung cinta meluncur untuk
mengurangi beban derita rindunya.
Kekerdilan berfikir yang
menghinggapi sebagian umat Islam hari ini, adalah bentuk pendangkalan berfikir.
Memanglah Kaab diberi hadiah karena kelihaiannya membuat syair yang lahir dari
kedalaman bathinnya, akibat sinaran cahaya cinta nabi. Yang menelusup jauh
kedalam sanubari Kaab dan membuatnya jatuh cinta tak terperi. Memanglah daya
tarik luar biasa juga, yang menghinggapi Imam Bushiri hingga ia mampu
melantunkan syair madah sedemikain hebatnya. Daya tarik dari seseorang yang
paling mulia, yang bahkan bumi dan langit, Jibril dan Mikail, merasa begitu
rendah dihadapannya. Bukankah, hanya karena kecintaan yang luar biasa yang
mampu menggerakkan pena-pena Ad Dibai dan Al Barzanji, untuk memuji sang
pujaan, yang memang harus kita cintai lebih dari dunia ini. Sedangkan kita yang
miskin kata-kata dan makna, haruskah kita kehiangan pujian pada diri yang
begitu mulia?.
Bukan tanpa alasan
bagaimana masyarakat begitu mencintai syair-syair madah kepada manusia mulia
ini, sederhana saja. Bahwa mereka yang tak punya begitubanyak kata-kata emas untuk memuji manusia agung ini,
dengan kelemahannya, mereka meminjam kata-kata para penyair yang handal itu,
guna mengungkapkan cintanya. Padahal senyatanya, cinta mereka tetap tak
terwakili kata-kata. Apa daya?.
Bagaimana kita
mengungkapkan cinta dan kekaguman pada pribadi yang nantinya akan memberikan
pertolongan, manakala harta, jabatan, kedudukan bahkan anak dan orang tua tak
mampu memberikan pertolongan?. Bagaimana mungkin mengungkapkan kecintaan dan
kekaguman pada jiwa yang telah menyelamatkan kita dari kejahiliyahan dan
kepicikan, bisa dianggap sebagai berlebih-lebihan?
Ingat dan simaklah
bagaimana Al Bushiri menyangkal ini dengan berkata, “Tinggalkanlah sebutan yang
dipakai oleh kaum Nasrani pada nabinya (yesus anak tuhan.red), dan pujilah dia
(Muhammad Saw) sesuka hatimu.”
Asalkan kita tak
menganggap nabi sekedudukan dengan Tuhan Robbi Izzati, maka sebenarnya pujian
apapun layak disandang oleh yang mulia Muhammad Saw. Bukankah Allah sendiri
bahkan rela memuji dan memberikan namaNya kepada Muhammad Saw, yakni Ar Rouf,
Ar Rahim?. Lalu pujian apa yang tidak layak kita berikan, sementara kita hanya
makhluk yang lemah?.
Imam Nawawi menyatakan
peringatan Maulid adalah sunnah, ini diperkuat oleh Imam Al Atsqolaniy. Beliau
menjelaskan dengan kuat, bahwa meperingati maulid nabi mendapatkan pahala. Imam
Taqiyyudin As Subki, menulis kitab khusus mengenali kemuliaan dan keagungan
Nabi Saw, dan menyatakan barangsiapa menghadiri majis yang didalamnya terdapat
pujian-pujian kepada Nabi Saw akan mendapat ganjaran pahala. Ima Ibnu Hajar Al
Haitsami juga sedemikan menulis kitab serupa, dan menuturkan bahwa maulid
adalah hari besar yang perlu dirayakan. Imam Al Jauzy Al Hambali juga
mengatakan manfaat yang istimewa dari perayaan maulid Nabi Saw.
Lalu apa manfaat dari kita
memadah nabi agung Muhammad Saw. Dr. Sa’id Ramadlan Al-Bûthi menulis dalam
Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar
mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan
aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi
Muhammad saw.”
Yang mengherankan pada
kurun-kurun waktu ini adalah, bagaimana beberapa orang menghormati guru-guru
dan pembesarnya dengan menyebutnya dengan berbagai macam sanjungan dalam pidato
dan berbagai macam kesempatan, sayyidi, tuanku, yang kami hormati,
pedoman kami, qudwah kami, sementara ketika orang lain menambahkan kata
sayyidina pada manusia mulia Muhammad Saw, mereka melarangnya. Mereka memuji
orang lain yang bahkan mungkin tak akan memberi manfaat kelak di Hari
Pertanggungan, sementara enggan memuji pada penyelamat, nabi mulia Muhammad
Saw.
Semogalah kerinduan kami
yang tak sempurna, rindu kami yang terlalu banyak cela, cukup menjadi penebus
kami kelak ketika ajal menjemput kami wahai kekasih hati. Kiranya takdzim yang
tak terbatas ini, yang walaupun diikuti dengan segala nafsu dan kotoran dunia,
mampu menyelamatkan kami dan keluarga kami, ketika dihadapan Tuhan Yang Maha
Mulia. Karena kami yakin, tatkala ruh sucimu telah keluar, engkau masih
mengingati kami dengan perkataan, ummati, ummati, ummati. Begitu cinta
dan kasihnya engkau pada kami, padahal kami jelas hina dina penuh noda. Dan
kami yakin, cinta Tuhanmu dan cintamu, lebih besar dari cinta hina kami. Dan
cukuplah cintamu menjadi penebus kami, wahai junjungan kami, cinta kami,
Muhammad ibnu Abdillah.
(Pernah dimuat sebagai editorial Majalah Al Fikrah, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin)







0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...