Dahulu sekali, hidup seseorang yang entah bermimpi apa, saat semua pihak ingin memupuk harta dengan segala cara, memperbanyak budak sebagai bukti kekuasaannya. Alih-alih mengikuti, ia mempunyai cita-cita kesejahteraan bersama, kesetaraan sosial dan menghapus perbudakan. Ia orang besar, mempunyai visi yang luar biasa. Dari itu semua, maka ia dikenal dan disebut namanya hingga kini. Ia diagungkan, namanya disebut dengan penuh takdzim. Ia adalah Muhammad anak dari Abdullah, seorang pemuda tampan berwibawa dari kabilah Arab termulia, Quraisy.
Visi yang mulia itu,
dikemudian hari dikenal dan disebt sebagai Islam. Salah satu agama besar
didunia, agama mulia yang terus berkembang, walau penuh himpitan. Termasuk himpitan
yang datang dari internal sendiri.
Islam, mengajarkan
keramahan yang sult diperoleh dari agama-agama sejenisnya terdahulu. Ia sebagaimana
namanya, bermakna keselamatan, kedamaian. Dan dari itu juga lahirlah
ajaran-ajaran yang mulia.
Ia setiap hari menyuapi
seorang buta Yahudi dengan roti yang dihaluskannya dahulu. Karena si buta
tersebut sudah cukup tua, tak cukup mempunyai gigi yang kuat mengunyah roti
gandum yang keras. Padahal dibalik itu, pada saat yang sama, si tua buta sedang
mengumpat namanya sebagai penyihir, penipu, dan berbagai cemoohan dan olokan. Maklum,
si buta tak tahu yang dicemooh adalah yang sedang menyapinya. Muhammad, makhluk
mulia itu maklum. Karena si buta, mungkin banyak mendapat berita dari kabar
burung yang ia sendiri sulit memverfikasinya, karena keterbatasannya.
Namun tak lantas Sang Nabi
Agung anggap bahwa karena si buta mengoloknya penyihir, maka ia menghina
visinya sebagai sihir. Karena si buta menyatakan ia penipu, maka tak lantas
mengasosiasikan, bahwa ajarannya adalah tipuan. Dan tak lantas ia marah. Ia santun,
ia memang kabar gembira, ia memang rahmat.
Islam adalah ajaran yang
menghibur. Bagaimana tidak?. Ia menghibur anak-anak yatim, karena sesiapa
mengasihi anak yatim, akan berdekatan dengan Sang Nabi kelak di akhirat. Islam adalah
kabar gembira, karena ia menggembirakan bahwa harta sang kaya, tak cukup
dinikmati sendiri. Harta tersebut itu harus menjadi kegembiraan pada sang
miskin. Itulah zakat. Islam adalah gembira yang menghibur, bagi mereka yang
tertindas. Bagi para budak, para janda miskin, para fakir miskin. Dan para mustadhafin
yang butuh uluran tangan. Islam rela dengan ikhlas mengulurkan tangan sebagai
agama kedamaian dan keselamatan.
Namun, coba kita lihat
bagaimana mereka yang mengaku mengamalkan visi dan ajaran mulia Nabi Muhammad
SAW hari ini. Mereka menjadikan agama ini begitu menakutkan, penuh dengan
kemarahan dan teror. Atas dalih agama, guna meluruskan mereka yang dipandang
melenceng dari visi agung, kekerasan dilegalkan. Hingga karena mereka anggap
begitu pentingnya menegakkan visi suci ini, sampai-sampai membunuh sesama legal
adanya. Agama ini lantas mendapat julukan agama teroris. Diluar bahwa itu
adalah skenario barat yang ambigu itu, namun perbuatan beberapa oknum yang
memperjuangkan “legalitas” Islam juga seakan menegaskan justifikasi atas stereotip
itu.
Ada perkembangan apapun
didunia, yang muncul adalah anak muda kemarin sore, yang baru belajar visi suci
ini dan kemudian menunjukkan telunjuknya pada siapapun dengan kalimat khas, “Ini
kafir, ini syirik, ini bid’ah, ini bukan Islam”. Sehingga sering orang harus
mengkernyitkan dahi dengan ulah mereka. Dengan agak berseloroh kadang orang
bertanya, “Sejak kapan Tuhan mengirimkan wasit bagi amalan-amalan agama ini?.” Sehingga
mereka bisa dengan leluasa menghakimi yang lain kafir, bid’ah dan sesat.
Setelah muncul
berjilid-jilid aksi pembelaan Islam yang luar biasa menggetarkan dunia itu. Hanya
karena salah satu pembesar negeri ini, kurang bisa “mengerem” mulutnya. Fenomena
Islam Indonesia kembali dikejutkan dengan fenomena-fenomena baru. Munculnya fenomena
baru,”Om telolet om.” Fenomena ini adalah fenomena, dimana anak-anak kecil
meminta sopir bus atau kendaraan lain yang berbunyi khas, telolet. Dan ketika
klakson tersebut berbunyi, lantas terdengarlah gelak tawa dan senda gurau
mereka. Hiburan yang murah meriah. Ditengah kegalauan ekonomi dan karut marut
politik negeri ini.
Bukan luput dari kritikan
para islamis pedas itu, kata Om, kemudian diasosiasikan sebagai mantra
pemanggil dewa, Om swastiasthu. Mantra pemanggil dewa khas Hindu. Telolet
dikatakan sebagai Bahasa Swahili, yang berarti Aku Yahudi. Dus, akhirnya mereka
anggap Om telolet Om adalah upaya Hinduisasi dan Yahudinisasi.
Bagi penganut Islam
bersumbu pendek, hal ini lantas menjadi broadcast tak beraturan. Dengan niat
jihad, melawan Yahudinisasi dan Hiduisasi. Padahal jelas mereka setiap hari
memanggil adik dari ayah dan ibunya om. Lantas apakah saudara ibu dan bapaknya
adalah dewa sehingga dipanggil om? Ataukah untuk tetap menjaga akidah, kita
harus memanggil ami, amati, kholiy dan berbagai panggilan khas Arab?. Disisi
yang lain, alih-alih paham dan tahu bahasa Swahili, mereka saja kadang tak tahu
Swahili berada dibenua mana? Afrikakah, Eropakah atau Asiakah?. Swahili juga
tak begitu terkenal, tak lebih terkenal dari kata swadaya dan swasta. Lantas bagaimana
cara mereka percaya. Jawaban sederhananya kadang menggelikan, karena mereka
lebih sering baca media sosial daripada al Qur’an. Mereka lebih sering mengaji
kepada Google, daripada kepada kyai yang jelas sanad keilmuannya. Mereka lebih
sering mempelajari Facebook daripada kitab-kitab tafsir dan hadits. Dan pada
saat itu, mereka juga anggap Islam-nyalah yang paling benar.
Lalu kenapa sanad kelimuan
perlu?. Karena dalam memperlajari Islam, kita harus mempunyai transmisi
keilmuan yang jelas. Karena tak cukup hanya mengaji kitab-kitab, banyak
penjelasan yang tak akan tersampaikan hanya dalam kitab. Dan terlebih Islam
bukan penemuan, bukan barang baru yang dapat kita cari penafsirannya. Islam adalah
visi besar yang dibawa Rasulullah. Jangan selalu mengatakan sunnah Nabi, berslogan
kembali pada al Qur’an dan Hadist, namun justru sebenarnya sedang mengadakan
penemuan terbaru. Karena tak ada transmisi yang cukup kredible sampai
pada Rasulullah SAW.
Terlepas dari semua itu,
hari ini kita butuh Islam yang meghibur, yang peduli dan menggembirakan. Yang peduli
pada perjuangan petani miskin di Gunung Kendeng di Rembang. Islam yang peduli
pada kelestarian alam Papua di Tembagapura Freeport. Islam yang berani bersuara
untuk bukit Tumpang. Islam-islam yang menggembirakan bagi para yatim, janda
miskin dan fakir miskin walaupun dengan cara yang paling sederhana. Apakah itu
Islam Telolet?.
Wallahu A’lam, Wallahul
Muwafiq Ilaa Aqwamith Thorieq








0 komentar:
Posting Komentar
Harap berkomentar demi perbaikan...